
Odd menyipitkan kedua matanya, mata makhluk supranatural berjenis Peri itu menangkap sosok Winter yang mulai berenang ke daratan, buru-buru Odd menghampiri gadis itu dan membantunya dengan memegangi kedua tangan Winter.
"Ya ampun Winter!!!" Maki Odd kesal. "Kau tidak tahu, betapa aku sangat mengkhawatirkan mu!"
"Hehehe, maaf Odd...."
"Jangan tertawa!! Kau membuatku sangat ketakutan, aku takut kau tidak akan selamat" suara Odd terdengar melemah saat ini.
Winter tersenyum, ia bersyukur memiliki teman yang memperhatikannya dengan baik. "Winter bertemu Ryn, dia yang membawa Winter pergi"
"Apa?" Odd terkejut, namun wajahnya menandakan bahwa ia senang. "Apa katamu?? Coba ulangi lagi!" Pinta Odd memohon.
"Winter bertemu dengan Ryn..." Winter lantas mengeluarkan sesuatu di celana jeans yang ia kenakan. "Ini..."
Di telapak tangan Winter terdapat sebuah bola kristal kecil berwarna merah, benda itu lebih mirip dengan permen ketimbang batu. Odd mengerutkan dahinya, ia bingung kenapa Winter menunjukkanya benda aneh tersebut.
"Ini darah Tribrid, Ryn yang memberikannya" ucap Winter menjelaskan. "Ryn bilang, kita akan memerlukannya"
"Darah Tribrid yang kabarnya bisa menyembuhkan luka itu?" Tanya Odd tak percaya. "Wah! I--ini keren"
"Benar kan?! Winter juga berpikir ini keren!"
Odd terdiam, ia menatap ke arah belakang. Ke jalanan dimana awal mula mereka datang, wajahnya pun kini semakin terlihat kusut kebingungan.
"Uhm..."
"Ada apa Odd?" Tanya Winter yang ikut-ikutan melihat ke arah jalanan yang sepi. "Apa ada masalah?"
"Yahh..." Odd menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal itu. "Sebenarnya, Justin sedang kembali ke Motel untuk mengambil ponselku. Tapi kenapa sampai sekarang belum kembali ya?"
"Justin???" Gumam Winter lirih.
Kedua makhluk supranatural itu saling tatap, seolah memikirkan satu hal yang sama. Tanpa aba-aba, mereka berdua sama-sama berlari untuk kembali ke Motel secepatnya.
"Kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" Odd menoleh ke arah Winter yang sedang berlari di sebelahnya.
"Umm, yaa..." Kedua mata Winter terlihat khawatir. "Semoga Justin tidak melukai para manusia"
"Ya... Bagaimana pun juga, ini sudah cukup larut! Hal apapun bisa saja terjadi"
Langkah kaki keduanya sudah hampir mendekati Motel, namun keduanya berhenti ketika mendapati Motel yang sudah separuh hancur. Kedua mata makhluk itu melotot hampir keluar dari tempatnya, mereka tak percaya dengan apa yang barusan terjadi di penginapan mereka.
Odd yang ditunjuk Landon sebagai ketua tiba-tiba lunglai, kedua kakinya terasa lemas tak berdaya. Ia merasa gagal menjadi ketua, bodohnya! Dia tidak mencari tahu dulu apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Odd?" Winter menepuk bahu Odd dengan lembut. "Ayo kita cari Justin!"
"Apa kau juga berpikir bahwa Justin yang melakukannya?" Odd mulai bangkit berdiri. "Kalau ketemu, aku akan menghajarnya!"
"Eh??" Winter terkejut, "Winter tidak berpikir kesana sih..."
"Hah?! Apa maksudmu?"
Winter menatap bagian depan Motel yang telah hancur, terlihat ada beberapa helai bulu seperti bulu angsa yang berserakan disana. Dan juga, entah kenapa? Hidung Winter yang memiliki penciuman tajam itu, mencium bau orang lain selain Justin.
"Di dalam sana, ada orang lain lagi selain Justin" ujar Winter sambil menunjuk ke arah Motel. "Winter bisa mencium bau nya..."
"Siapa??"
Odd buru-buru menggandeng tangan Winter dan membawanya masuk ke dalam Motel, pria Peri itu sungguh takut kalau-kalau Justin kambuh dan membunuh warga sekitar.
Winter dan Odd sangat berhati-hati ketika masuk ke dalam Motel tersebut, keduanya sama-sama mengendap-endap. Dari mata mereka berdua, mereka melihat cahaya kecil dari lilin pada sebuah kamar. Kamar yang mereka gunakan untuk tidur, dari bayangan cahaya lilin itu terlihat ada tiga orang disana termasuk Justin.
"Kalian???" Ujar Odd yang tak percaya dengan kehadiran Peach dan Arthur.
Kedua mata Winter membulat lebar, yang paling utama ia lihat adalah sosok Arthur di tempat itu. "A-aa...."
Arthur? - Winter.
"Apa yang terjadi?" Melihat Justin yang terbaring lemah dengan wajah sedikit retak, Odd segera menghampiri Vampir itu. Tangan kiri Odd menyentuh dahi Justin, Vampir itu benar-benar terlihat lemah tidak berdaya.
Belum mendapat jawaban akan pertanyaan nya, Odd lantas beralih memandang Arthur. Pria itu hanya diam saja dengan kedua tangan dan kaki yang terikat tali. Wajah Peach juga terlihat seperti habis menangis di mata Odd.
"Apa mereka berkelahi?" Tanya Odd asal.
"Hei, siapa yang kau tuduh berkelahi?!" Maki Arthur kesal. "Tolong lepaskan ikatan ini"
Peach yang melihat Odd dan Winter kembali dengan selamat, segera melepaskan ikatan tali di tubuh Arthur. Gadis penyihir itu lantas berdiri dan berlari menghampiri Winter yang masih terlihat bengong.
"Hiks... Hiks..." Peach menangis lagi, kedua tangan Winter terangkat dan membalas pelukan Peach di tubuhnya.
"Ada apa??" Tanya Winter lembut sembari mengusap punggung Peach.
"Justin..." Peach sesenggukan, dia terlihat sulit berbicara. "Kita harus segera membawanya kembali ke asrama"
"Sebenarnya apa yang terjadi Peach??" Odd yang sedari tadi penasaran mulai melakukan pembicaraan dengan serius. "Tolong ceritakan semuanya...."
________________________________________
Arthur terdiam, dia duduk di sudut ruangan sambil terus terjaga. Yah... Teman-temannya kini telah tertidur, Peach tidur disamping Justin untuk memastikan Vampir itu tetap hidup. Odd tidur menyendiri di sisi lain sambil memegang sebuah kayu di tangannya kalau-kalau makhluk bernama Cupid itu datang kembali. Sedangkan Winter, gadis itu tidur tak jauh dari tempat Arthur duduk, sejak bertemu mereka saling tak mengatakan apapun.
Phoenix itu berdiri dari duduknya, ia hendak melihat-lihat keluar, ia ingin memastikan lingkungan sekitar aman. Winter yang melihat Arthur pergi, diam-diam mengikuti Arthur. Seperti yang sudah di ketahui, Winter sudah tahu bahwa Arthur dan Densha adalah orang yang sama, namun ia masih belum tahu bahwa sosok pria yang dicium oleh Pink di tepi danau itu bukanlah Arthur, melainkan hologram sihir.
"Tidak usah bersembunyi dan memperhatikan aku dari jauh, keluarlah..." Ucap Arthur tanpa menoleh ke belakang.
"Uhm..." Winter keluar dari tempatnya mengintip Arthur. "Maaf..."
"Winter, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan, aku ingin mengakui suatu hal" Arthur menoleh menatap gadis yang kini juga menatapnya. "Tapi, sebelum itu aku ingin meminta maaf..."
"Ingin bicara apa?"
Arthur menghela nafas panjang. Dia sedang mempersiapkan hatinya. "Sebenarnya aku adalah..."
"Arthur?" Winter tersenyum, ia sudah tahu bahwa pria di depannya ini adalah Arthur yang sama tanpa gigi palsu dan kacamata nya. "Winter sudah tahu"
"Eh??" Arthur terkejut, ia berjalan mendekati Winter. "B-bagaimana kau bisa tahu?!"
"Itu..." Winter menyentuh pipi kirinya dengan jari telunjuk, gadis itu terlihat bingung memulai ceritanya. "Waktu itu....."
BERSAMBUNG!!!
Halo, jangan lupa untuk klik tombol Like, Favorit, Vote dan Komentar ya?! Terima kasih sudah membaca! 🙏♥️ Salam sayang...
IG Author : NessaCimolin