
"ASTAGA!!!"
Setelah berteriak seperti itu, Justin lantas mengambil jarak cukup jauh dari Peach. Vampir itu memukuli wajahnya sendiri dengan gemas, rasanya kini ia tak akan sanggup lagi menatap mata Peach.
Apa yang sudah aku perbuat? Apa aku sudah menodai putri profesor? - Justin.
"Justin..."
Di belakang sana, Peach melawan Cupid seorang diri. Berulang kali dirinya memanggil Justin, namun sepertinya Justin malah sibuk dengan pikirannya sendiri.
"JUSTIN!!!" Teriak Peach kesal, dahi Peach mengeluarkan banyak darah karena terbentur benda keras. Nafas penyihir itu tampak ngos-ngosan. "Apa kau sudah gila?! Kau bilang kita harus melawannya bersama-sama kan?"
Eh?? - Justin.
"Dasar bodoh!!!" Peach berlari sekuat tenaga menghampiri si Vampir tampan, gadis itu memeluk tubuh Justin dengan begitu erat, ketika melihat busur dari Cupid melesat ke arah Justin.
Keduanya jatuh terjerembab ke atas lantai yang keras dengan posisi Peach dibagian atas. Wajah Peach terlihat begitu marah jika dilihat dari sudut pandang Justin.
"Kau ini kenapa hah?!" Maki Peach kesal. "Apa kau sebegitu inginnya untuk mati lagi?"
Ya, mati lagi... Karena dulunya Justin adalah manusia yang bangkit kembali menjadi Vampir. Seketika, Justin langsung tersadar dari lamunannya. Ini semua gara-gara dia yang terbawa suasana untuk mencium Peach.
"Um, m-maaf...." Ucap Justin pelan. "Sekarang bisakah kau menyingkir dari atas tubuhku"
Peach segera menyingkir sesuai permintaan Justin, penyihir itu menyentuh dahinya yang terluka. Peach sudah tidak bisa lagi melawan, dia tidak memiliki cadangan sihir di tubuhnya saat ini.
"Hei, manusia bersayap!!" Justin memelototi si Cupid dengan beraninya. "Yang kau cari tidak ada disini"
Setelah mengatakan kebohongan itu, Justin segera memberi pukulan ke wajah Cupid. Bukan hanya itu saja, dia membuat beberapa bulu di sayap Cupid berjatuhan.
"Akan ku cabuti bulu sayapmu ini, sebagai bayaran kau telah menghancurkan penginapan kami"
Bukan! Bukan itu alasan sebenarnya, yang sebenarnya adalah Justin merasa kesal melihat Peach yang terluka, akibat ulah makhluk yang disebut Cupid tersebut.
Sebenarnya ada apa diluar sana? Kenapa berisik sekali? - Arthur.
Di dalam drum, Arthur hanya bisa mendengar suara kegaduhan yang ditimbulkan oleh Justin dan Peach. Pria tampan itu merasa jika dia memang benar-benar tidak boleh keluar saat ini juga.
"Kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini?" Arthur menyentuh dadanya. "Seolah ada rasa takut yang sedang menyerangku"
BRAKK!!!
Kedua mata Arthur membulat, ketika ia merasakan suatu benda yang besar menabrak drum atau tong tempatnya bersembunyi. Phoenix itu yakin, ukurannya lebih besar dari tubuh Justin dan tubuh para Werewolf di asrama mereka.
Ya Tuhan! Lindungi Peach dan Justin - Arthur.
______________________________________
"Gggrrr...."
"Gggrrr...."
Begitu banyak jasad manusia dan binatang berbulu yang tergeletak disana, peperangan yang tidak bisa dihindari, dipicu dari kebencian para manusia kepada makhluk supranatural. Makhluk berkaki empat itu terlihat berlari dalam jumlah kelompok yang tinggal sedikit, salah satu diantaranya seperti menggigit makhluk yang tak berbeda dari dirinya, namun lebih kecil.
Yahh... Itu adalah bayi serigala, yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu. Tak ingin anaknya mati, si ibu lantas membawanya pergi bersama kelompok lain. Meskipun ia tahu, bahwa dia kesulitan dalam membawanya.
"DI SANA!!!" Teriakan seorang pemburu saat melihat beberapa ekor serigala yang mencoba untuk kabur.
Suara tembakan terdengar dimana-mana, mereka membabi buta dalam penyerangan tersebut. Secara brutal, beberapa ekor tertangkap dan langsung di eksekusi pada tempat yang sama.
Ibu serigala melihatnya, mata berwarna cokelat keemasan itu nampak sedih. Terlihat kristal bening yang sepertinya akan jatuh tersebut, bagaimana tidak? Seekor yang tertangkap itu adalah suaminya.
Karena dia yang melamun, salah seorang pemburu melihatnya. Si ibu serigala kehilangan kelompoknya yang lari terlebih dahulu. Dengan membawa si anak di gigitan mulutnya, si ibu segera berlari sekuat tenaga tanpa arah yang jelas, tentu saja dengan kejaran beberapa pemburu yang menunggangi kuda mereka.
DORR!!!
DORR!!!
DORR!!!
Tembakan, demi tembakan diterbangkan. Beruntung tak ada satupun peluru yang mengenainya, hingga tiba saatnya ia terpojok pada suatu kawasan. Tak ada jalan lagi, ia menemui jalan buntu.
Di bawah sana terlihat beberapa air yang telah menjadi es akibat musim dingin yang panjang, si ibu serigala terjebak di suatu jurang yang langsung menuju ke sebuah lautan.
Tentunya, hal itu membuatnya lemah. Beberapa tembakan mengenai bagian dada, kepala, dan kakinya. Dengan tembakan yang brutal itu, ia lantas terdorong ke belakang, yang pada akhirnya membuat si ibu serigala jatuh tercebur ke dalam lautan yang dingin, beserta si bayi yang masih hidup.
Aneh... Beberapa makhluk penghuni laut menyambut kedatangan si bayi serigala, banyak ikan yang mengerubutinya. Membantu si bayi, agar tak tenggelam, membantunya naik ke permukaan. Tak perlu waktu lama, datanglah sosok manusia setengah ikan dengan trisula di tangannya.
Dia adalah putra Poseidon, yang juga Dewa penjaga lautan. Entah mengapa? Sepertinya dia mengenali si bayi berbulu itu, kedatangan Triton di susul dengan gadis cantik bermata biru di belakangnya. Seuntai senyuman terlihat begitu cerah di bibir si gadis duyung.
Kelahiran Fuu memang sudah di ramalkan oleh para Dewa, kini dia telah terlahir kembali namun bukan sebagai sosok Dewi, hanya sebagai makhluk supranatural dalam wujud binatangnya.
"Mengorbankan kedudukannya sebagai Dewi laut, dan datang padaku sebagai benda aneh berbulu!" Gerutu Triton saat melihat bayi serigala yang hampir kehilangan kesadarannya.
Segera, dua sosok duyung itu membawanya kembali ke daratan. Untuk beberapa kalinya, mereka mengunjungi daratan lagi. Mengingat si bayi masih perlu pengobatan, mereka berdua memutuskan untuk merawat si bayi hingga beberap hari.
Dengan titah dari sang Dewa laut, gadis Tribrid itu memberikan darahnya pada bayi mungil itu. Membuat darahnya berubah menjadi sebuah gelang dengan kekuatan sihirnya. Si gadis Tribrid begitu menyayangi si bayi, tak henti-hentinya ia mencium si bayi yang merupakan reinkarnasi sosok yang sangat ia rindukan.
Tak butuh waktu lama, setelah si bayi sehat. Mereka menitipkannya pada sebuah panti asuhan di kota terdekat, sebelum itu tentu saja sang Dewa telah mengunci sihir perubahan si bayi agar tak menimbulkan masalah di kemudian hari, mengingat bahwa bayi tersebut bukanlah bayi manusia.
"Apa ibu akan aman berada di tempat ini?"
Sang Dewa melihat cucunya dengan wajah penuh perhatian. "Tentu saja! Dia tidak bisa tinggal di lautan"
BERSAMBUNG!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, favorit, vote dan beri komentar yang mendukung ya?! Aku sayang kalian... 🙏☺️
IG Author : NessaCimolin