THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
PUTRI AYAH



Gasp!


Arthur terhenti ketika langkahnya dihadang oleh seseorang yang selama ini belum pernah ia ajak bicara. Pria asing yang nyatanya teman satu asrama itu memperhatikan Arthur dari bawah hingga ke bagian ujung kepalanya.


"Kau Arthur kan?" Tanya pria itu dengan nada yang serius.


"Benar, kau siapa?" Arthur mulai memperhatikan pria yang sengaja menghentikan langkahnya. "Melihat dari gayamu, sepertinya kau seorang Werewolf, apa kau kehilangan kelompok mu?"


"Tidak, tapi gadis itu yang kehilangan kelompoknya"


Ucapan pria itu memang penuh teka-teki, tapi entah mengapa pikiran Arthur langsung tertuju pada Winter. Gadis serigala yang baru saja datang ke asrama mereka, Arthur langsung menyeret pria itu untuk masuk ke dalam kamar asrama miliknya.


Setelah mengunci pintu kamar agar tidak ada siapapun yang masuk, Arthur segera mendudukan pria serigala itu ke atas ranjangnya. Tangan lincah Arthur pun segera menarik kursi belajar dan duduk berhadapan dengan pria itu.


"Ada apa?"


"Gadis baru itu..." Pria itu memejamkan matanya untuk beberapa saat. "Ah! Maafkan aku, sebelum itu namaku Ulrich"


Pria itu mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Arthur, dengan senang juga Arthur berkenalan dengan Ulrich yang sepertinya baik itu.


"Bagaimana kau bisa mengenaliku?"


"Aku bertanya pada seorang penyihir bernama Rene sebelum kemari" sahutnya cepat. "Wah, kamar yang rapi untuk seorang pria" puji Ulrich senang.


Dia ingat betul bahwa asrama milik manusia serigala tak begitu rapi, bahkan lebih terlihat seperti sebuah kandang. Apalagi Alpha mereka yang suka sekali mengencani para gadis di sekolah tersebut.


"Terima kasih" jawab Arthur sekenanya. "Ngomong-ngomong kenapa kau mencariku?"


"Ah! Sebelumnya maafkan aku, aku sengaja mencari tahu siapa saja yang dekat dengan gadis baru itu"


"Hmm??" Arthur menaikkan sebelah alisnya curiga. "A-apa maksudnya?"


"Gadis itu terlihat dekat dengan putri kembar profesor, tapi aku tak cukup berani untuk meminta bantuan mereka"


"Kenapa??"


"Oh ayolah bung! Siapa yang tak kenal dengan Peach? Wajahnya yang suram itu membuatku enggan hanya untuk sekedar berdiri di dekatnya, lalu untuk Pink sebenarnya dia gadis yang cantik tapi banyak yang bilang bahwa dia sedikit sombong akan hal itu"


"Bukankah itu tidak baik?" Arthur tertawa kecut mendengar penjelasan Ulrich. "Kau menilai seseorang dengan begitu mudahnya, bahkan ketika kau belum pernah sekalipun mencoba untuk berbicara dengan mereka"


"Hei, aku ini serigala! Aku tak punya cukup waktu untuk bergaul dengan penyihir, vampire dan peri" ceplos Ulrich begitu saja.


"Dan sekarang kau punya cukup waktu untuk menemui aku??"


Ulrich memejamkan kedua matanya dengan jengkel, ia tidak tahu dengan siapa dirinya berbicara saat ini. Arthur bukanlah pria bodoh yang akan kehabisan kata-kata jika lawannya tak cukup pintar seperti Ulrich.


"Sudahlah! Hentikan!" Bantah Ulrich tegas. "Aku kesini untuk memberitahumu bahwa Ren merencanakan hal buruk untuk gadis itu"


"Siapa itu Ren?"


"Dia adalah Alpha di kelompok kami" ucap Ulrich datar. "Dia sepertinya tidak suka dengan sikap gadis baru itu yang tak mau mendekati kelompoknya terlebih dahulu"


Ya Tuhan! Kenapa aku baru menyadarinya? - Arthur.


"Kenapa kau tidak mengatakannya kepada profesor?" Arthur mencengkram kerah kaos yang digunakan oleh Ulrich.


"Terus, kau ingin aku mati di tangan Alpha begitu?"


"Cih!" Arthur melepaskan cengkraman nya, pria itu berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir di depan Ulrich.


"Memangnya apa yang harus dilakukan oleh Winter ketika akan masuk ke dalam kelompok?" Timpal Arthur dengan nada khawatir.


"Hmm? Siapa??"


"Winter! Gadis baru itu namanya Winter!" Arthur melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap tajam ke arah Ulrich.


"Oh, namanya Winter?" Ulrich manggut-manggut. "Biasanya, Alpha akan memintanya untuk bertarung dengan salah satu serigala"


"Bertarung?"


Arthur menyentuh dagunya sendiri perlahan, dia sedang memikirkan Winter yang sekarang entah dimana. "Jika dia kalah? Apa yang akan terjadi?"


"Apa maksudmu kalah ini adalah tewas?"


Kedua mata Arthur mendelik, dia mengorek-ngorek kedua telinganya yang tak kotor itu dengan jarinya. "Kau bilang apa? Tewas??"


"Apa kau tidak pernah melihat pertarungan manusia serigala sebelum ini? Lalu untuk apa profesor membuat area pemakaman jauh di tengah hutan?"


•••••


Arthur berjalan tergopoh-gopoh menuju ruangan profesor Shagasemi, kalimat Ulrich mengenai pertandingan antara manusia serigala benar-benar membuat pikirannya kacau. Pria itu mendapati Peach yang berdiri tepat di depan pintu kantor profesor dengan berbagai buku di kedua tangannya.


"Kenapa burung api ini kesini?" Ledek Peach kesal.


"Ck! Sudahlah Peach! Aku sedang tidak ingin cari ribut denganmu" bantah Arthur sopan dan segera membuka pintu kantor profesor tanpa mengetuknya terlebih dahulu, tentu saja hal itu membuat Peach dan Landon terkejut dengan tingkah Arthur yang tak seperti biasanya.


"Arthur??" Gumam Landon lirih.


"Kau harus menjelaskan sesuatu kepadaku!" Arthur menggebrak meja kantor Landon dengan penuh semangat. "Apa benar kau membuat area pemakaman di tengah hutan?"


"Ah! Makam itu...." Landon mengingat-ingat sebuah perkuburan di tengah hutan yang ia buat ratusan tahun yang lalu. "Aku sudah lama membuatnya"


"Untuk apa?" Kedua mata Arthur melotot menatap Landon.


"Yah, kau tahu kan?!" Landon mengangkat bahunya dengan santai. "Kita memang makhluk abadi, tapi terkadang kita punya kelemahan masing-masing yang bisa membuat kita pada akhirnya benar-benar tiada"


"Berapa banyak serigala yang terkubur disana?"


"Apa??" Landon terkejut mendengar pertanyaan dari Arthur.


Peach memasuki ruangan ayahnya dengan begitu santai, ia mendengar semua pembicaraan ayahnya dengan Arthur. Takut akan ada orang lain yang mendengarnya, Peach segera menutup pintu kantor ayahnya.


"Apa setiap penyihir baru di asrama ini akan di adu? Apa setiap Vampir di asrama ini akan di uji coba ketahanan kulitnya pada sinar matahari? Apa setiap peri di asrama ini akan diminta untuk mengabulkan permohonan setiap orang?"


"Arthur! Kau ini sedang bicara apa?" Landon mempertegas pertanyaannya kepada pria Phoenix di depannya.


"Apa ada pertandingan antara Phoenix?"


"Tidak ada, karena kau adalah satu-satunya Phoenix di asrama ini, mungkin juga di dunia ini"


"LALU KENAPA ADA PERTANDINGAN YANG MEMBUAT SERIGALA KEHILANGAN NYAWANYA??" Teriak Arthur kesal. "Kenapa kau mengijinkan hal-hal buruk seperti itu?"


Landon terdiam, sepertinya Arthur sudah mengetahui betul apa yang akan terjadi pada Winter jika gadis itu tinggal di asrama ini. Landon sendiri tak bisa memutuskan hal itu seenaknya, meskipun dia adalah kepala sekolah di asrama tersebut.


"Kau tahu! Itu adalah sifat alami serigala"


Arthur menelan ludahnya sendiri mendengar jawaban kurang memuaskan dari Landon, tatapan matanya begitu kesal menatap profesor di depannya. Dengan langkah yang penuh keputusasaan, ia pergi meninggalkan ruangan Landon.


Peach menatap kepergian Arthur dengan wajah yang datar tanpa ekspresi, gadis itu meletakkan buku-buku yang diminta ayahnya ke atas meja.


"Jangan menatapku seperti itu!" Ucap Peach ketika mendapati sang ayah memperhatikan dirinya dengan penuh harapan. "Ayah kan tahu, aku tidak suka mengurusi hal-hal yang menyusahkan, aku bukan tipe yang seperti itu"


"AAARRRGGGGHHH----"


Teriakkan kencang dari arah lorong sekolah membuat Peach dan Landon tersentak kaget, ayah dan anak itu sama-sama menatap ke arah pintu yang baru saja dilalui oleh Arthur, sebelum pada akhirnya mereka berdua saling melempar pandangan. mereka tahu bahwa itu adalah suara Arthur yang sedang tidak bisa mengontrol rasa marah di dalam tubuhnya.


"Oke, aku berubah pikiran! Sepertinya aku harus mencari burung yang lepas" ujar Peach dengan nada kesal.


kata-kata Peach membuat Landon tersenyum, ia tahu bahwa putrinya itu akan dengan senang hati membantu ayahnya. Tentu saja, kalimat Peach berarti bahwa dirinya akan membantu Arthur dalam menghadapi masalahnya.


"Nah, itu baru putri ayah!"


"Tak perlu berterima kasih" sahut Peach cepat dan segera pergi meninggalkan Landon.


...Bersambung!!...


Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya? Terima kasih! 😘😘