
Pink duduk disebuah danau, malam itu ia ditemani cahaya bulan yang bersinar dengan terang. Penyihir cantik itu mendekap Kristal Prisma milik Peach dengan cukup erat ke dadanya, kedua mata Pink terpejam dan tiba-tiba keluarlah cahaya sihir dari dalam prisma itu.
Kini, tepat disamping tempatnya duduk. Pink tersenyum melihat Arthur yang ikut duduk bersamanya, tentu saja itu bukanlah Arthur yang sesungguhnya. Arthur yang saat ini bersama dengan Pink adalah sosok pantulan dari kristal prisma sihir milik Peach.
"Kau memanggilku lagi?" Tanya Arthur lalu tertawa lebar.
"Benar! Ada yang ingin aku tanyakan padamu"
"Apa??" Arthur mendekatkan wajahnya pada Pink, meskipun begitu Pink sama sekali tidak berdebar mengingat bahwa pria yang dihadapannya saat ini hanyalah ilusi atau sebuah hologram yang dibuat senyata mungkin.
Pink menggenggam kristal prisma itu kuat-kuat. "Apa kau tidak pernah menyukaiku sedikitpun di dalam hatimu?"
Arthur terkekeh mendengar pertanyaan dari Pink, pria itu lantas mengambil beberapa batu kerikil dan melemparkannya ke danau secara bergantian.
"Astaga Pink! Apa kau lupa bahwa aku ini hanya ilusi sihir yang kau buat?" Arthur tersenyum tulus. "Aku hanya akan mengatakan apa yang hatimu katakan, aku tidak bisa menjawabnya karena kau sendiri tidak tahu apa jawabannya"
"Begitu ya?"
Pria itu menatap Pink yang sangat murung, lalu dia memberikan sebuah kerikil pada Pink dan memintanya untuk melemparkan kerikil tersebut ke dalam danau.
"Jangan terlalu sedih seperti itu, masih banyak pria tampan di sekolah ini"
"Tapi tidak ada yang seperti dirimu, kau begitu misterius dan kadang konyol" ungkap Pink sambil terus tersenyum. "Aku sangat menyukaimu"
"Aku tahu, tapi kau juga tahu bahwa kau dan aku tidak mungkin bersama!" Arthur mengangkat sebelah alisnya, dia begitu fasih mengatakan hal yang menyakitkan. Tentu saja karena dia hanyalah ilusi sihir yang akan mengatakan apa yang Pink pikirkan. "Aku sudah ditakdirkan untuk bersama dengan Winter"
"Kau benar...." Pink mengangguk pelan.
"Apa sudah selesai?" Arthur menatap Pink serius. "Kau terlalu sering memanggilku, kesempatan untuk memunculkanku melalui prisma itu semakin lemah loh"
"Tunggu! Tetaplah disini" pinta Pink memohon. "Tolong temani aku sebentar saja"
"Uh--- Oke" Arthur memberikan jempolnya pada Pink, dan menyetujui ajakan Pink.
•••••
Winter kembali meneruskan gambarannya, ia tersenyum ketika melihat hasil karya yang sudah berjam-jam ia buat. Bahkan dia tidak menyadari bahwa hari sudah semakin gelap, kedua mata Winter terbuka lebar ketika menatap hasil gambarnya sendiri. Gadis itu buru-buru mencari sebuah penghapus, dengan rasa penasaran yang tinggi, Winter menghapus beberapa bagian pada wajah culun Arthur.
"Bagaimana jadinya jika Arthur menjadi pria yang keren?" Gumam Winter lirih.
Pertama-tama, Winter menghapus kaca mata tebal yang biasa digunakan oleh Arthur dari gambarnya. Gadis itu juga menghapus gigi tonggos Arthur dan mengubah gaya rambut Arthur yang terlalu kuno. Tak disangka-sangka, gadis itu begitu terkejut hingga jatuh terjungkal ke atas lantai.
Buku itu jatuh ke atas lantai karena saking terkejutnya, Winter sampai melempar buku tersebut. Gadis cantik itu lantas memungut kembali buku dengan hasil gambarannya di dalam sana.
Kedua pupil mata Winter bergetar mengamati sosok pada gambar yang ia buat, meskipun gambar itu tak begitu bagus tapi bisa dipastikan bahwa setelah menghapus beberapa bagian konyol pada tubuh Arthur terciptalah sosok Densha yang keren.
"B--bagaimana bisa begini?"
Winter memejamkan kedua matanya, ia mengingat setiap kalimat Densha yang ia lontarkan pada dirinya. Dan dia juga mengingat kalimat Arthur yang ia katakan ketika Winter mengungkapkan isi hatinya.
Mereka berdua sama-sama mengatakan kalimat yang sama, yang seharusnya Winter sudah bisa menebaknya kala itu. Arthur dan Densha adalah orang yang sama, itu sebabnya Densha tidak pernah memberitahu makhluk apakah dia sebenarnya, mengingat hanya ada satu Phoenix di sekolah itu dengan nama Arthur.
Satu-satunya orang yang ingin ia temui adalah Densha, tidak! Maksudnya adalah Arthur. Dia ingin mendapatkan penjelasan, apakah dugaannya benar atau salah. Jika tidak bertemu dengan Arthur, bertemu dengan salah satu putri kembar Profesor juga tidak masalah karena mereka berdua pasti juga mengetahui sesuatu.
Setelah berlari cukup jauh, tiba juga Winter di depan gerbang asrama. Sayangnya gerbang tersebut telah terkunci dan tidak ada salah seorangpun yang melintas. Tidak habis akal, Winter mengingat sebuah selokan air yang cukup besar. Tempat dimana dia dulu pernah masuk ke dalam sana dan berakhir di hutan belakang asrama, gadis itu segera mencari jalan masuk dari gorong-gorong tersebut dan menemukannya.
Winter berjalan tanpa mengenakan alas kaki apapun karena terburu-buru, dengan rasa senang di dalam hatinya dia memeluk buku gambarnya. Gadis itu tidak sabar ingin bertemu dengan Arthur dan mengatakan bahwa dia menyukai semua bagian dari diri pria Phoenix tersebut.
Setelah beberapa menit berjalan, Winter sudah sampai di hutan belakang asrama. Dia sudah hafal jalanan itu karena dia juga pernah tinggal disana untuk sementara. Disaat telah berhasil melintasi hutan buatan, sampailah Winter di tepi danau. Dia berhenti sejenak di tempat itu, dirinya mengingat kembali bagaimana Arthur mencoba untuk bunuh diri disana.
"Bolehkah aku menciummu?"
Telinga Winter menangkap suara seseorang yang cukup jauh dari tempatnya berdiri, buru-buru gadis itu bersembunyi pada sebuah pohon yang cukup besar. Untungnya, Winter adalah seorang Werewolf, dia bisa mendengar dan melihat dengan jelas pada malam hari.
Gadis cantik itu memicingkan kedua matanya dan mencari-cari sumber suara tersebut berasal. Kedua mata Winter terbuka lebar, refleks kedua tangannya membungkam bibirnya yang ingin berteriak kesal.
Cemburu? Tentu saja! Dengan kedua matanya, ia melihat Pink dan Arthur bercium*n di tepi danau. Kedua mata gadis itu berkaca-kaca melihat pandangan di depannya, buku gambar yang ia bawa sampai terjatuh ke atas tanah.
Jadi, ini sebabnya kenapa Arthur meminta Winter untuk mengenalnya lebih jauh? - Winter.
Winter memaki dirinya sendiri, seharusnya dia sudah sadar bahwa Arthur mendekatinya dengan sosok yang culun hanya untuk menghancurkan nya. Lalu kenapa disaat mereka bertemu tadi, seolah Arthur memberikannya harapan? Dua fakta yang ia tahu pada malam itu, fakta pertama bahwa Arthur dan Densha adalah orang yang sama. Lalu fakta kedua adalah, bahwa Arthur tidak benar-benar menyukainya.
"Arthur bodoh!" Maki Winter pelan, air mata gadis itu membasahi pipinya. Dia memungut buku gambarnya lagi dan memilih untuk pergi meninggalkan asrama itu.
Disaat Winter tahu bahwa mereka adalah orang yang sama, disaat itu juga Winter tahu bahwa Winter menyukai mereka, karena Winter adalah Fuu - Winter.
Gadis itu pulang dengan terus menyentuh dada kirinya, dia merasakan rasa sakit dibagian sana. Ini pertama kalinya bagi Winter untuk merasakan rasa sakit hati seperti itu, mengingat dia tidak pernah menyukai seseorang sebelumnya.
"Pink??" Peach terkejut melihat saudarinya melakukan hal bodoh dengan sosok ilusi sihir. "Apa yang kau lakukan?"
"Memangnya apa lagi?" Tanya Pink sewot. "Aku tidak bisa mencium yang asli, lalu kenapa aku juga tidak boleh melakukannya kepada yang palsu?"
Dengan petikan jari Peach, sosok Arthur yang dipanggil melalui kristal prisma tersebut menghilang. Peach mengambil paksa kristal miliknya, dan berjalan pergi meninggalkan Pink dengan tatapan kurang menyenangkan.
"Tolong, pikirkan kesehatanmu..." Pesan Peach singkat.
Pink berlari mengejar Peach dan malah mendorong Peach dengan kasar. "Apa kau pikir aku cacat? Aku tidak waras begitu?"
"Kau bercumbu dengan seseorang melalui prisma itu dan ingin aku bilang bahwa kau waras?"
"LALU APA?? APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?! COBA KATAKAN PADAKU PEACH!!" Teriak Pink kesal, bahkan dia sampai menggoncang-goncangkan tubuh saudarinya. "AKU SUDAH MERELAKAN ARTHUR UNTUKNYA, APA AKU JUGA TIDAK BOLEH BERBICARA DENGAN ILUSINYA?"
Peach mengangkat sebelah alisnya, ia terkejut dengan batin Pink yang terluka. Tanpa banyak bicara, Peach memeluk saudari kembarnya yang sedang menangis itu. Dia mengusap punggung Pink dengan lembut dan menenangkannya.
"Hiks... Hiks... Aku hancur Peach..."
...BERSAMBUNG!!!...
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉