THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
PANIK



Hai semuanya! Disini Author akan menjelaskan sedikit mengenai cerita kali ini 😊 Novel ini tidak ada putri duyungnya, mungkin ada sekali-sekali tapi itu hanya akan muncul di ingatan beberapa tokoh dalam Novel ini 🙏 Tidak ada Ryn juga disini (maaf). Karena latar waktu di Novel ini berjarak 120 tahun dari kematian Densha maka cerita akan sedikit lebih banyak adegan kekerasan mengingat moral manusia yang semakin lama semakin rusak (ini fakta). Nah, sekarang pertanyaan saya! Apakah kalian sudah membaca Sinopsis Novel ini? 😊 Di Sinopsis sudah saya ketikkan bahwa Fuu tengah menunggu takdir yang menjemput dirinya. Jadi saya katakan dengan jelas, bahwa disini Fuu telah tiada (Mati) ingatkan? Bahwa Fuu tidak akan bisa bertahan hidup lama tanpa cinta sejatinya. Lalu siapa Winter? Biar alur cerita ini yang menjawab, bukankah tidak akan seru jika kita sudah mengetahui alur ceritanya terlebih dahulu? Dan sekarang... Happy reading! 😘



Kedua mata Winter terbuka ketika matahari sudah berada tepat di tengah-tengah langit, gadis itu berusaha menutupi wajah cantiknya dari sinar terik matahari.


"Astaga!!" Pekik Winter terkejut, ia melihat kedua tangannya yang sudah kembali ke wujud asalnya.


Senyum lebar terpancar dibibir gadis itu, ia berdiri lalu segera memeluk tubuhnya sendiri. Winter pun menepuk-nepuk wajahnya berulang kali untuk membuktikan bahwa ia tak sedang bermimpi.


Beberapa saat yang lalu, ketika Arthur mengusap kepala Winter dalam wujud binatangnya. Gadis itu tertidur, bagaimana tidak? Ia sudah terlalu lelah berjalan mondar-mandir tanpa tujuan selama dua hari, Arthur yang melihat Serigala tersebut berlaku imut pun tak kuasa untuk ikutan berbaring disebelahnya.


O-oh.... - Winter.


Ia melihat Arthur yang tertidur dengan pulas tepat disamping tempatnya berdiri saat ini, kaki mulus Winter berusaha menyentuh Arthur tapi terhenti ketika ia menyadari bahwa dirinya saat ini sedang tak memakai pakaian apapun.


WTF! Aku telanjang? - Winter.


Pelan-pelan Winter membalik tubuh Arthur yang sedang tertidur. Ia melepas kaos dan celana panjang yang dikenakan Arthur, gadis itu hanya menyisakan celana pendek untuk menutupi barang ghaib milik Arthur.


"Maaf ya? Aku harus mencuri pakaianmu seperti ini" ujar Winter dengan nada penuh penyesalan.


Gadis itu kembali memasuki sebuah lubang pipa berukuran besar untuk masuk ke dalam gorong-gorong lagi karena hanya itulah jalan keluar yang ia tahu.


Winter menemukan sebuah pipa yang hanya muat untuk satu orang. Pipa tersebut menuju ke atas lengkap dengan tangga besi yang menempel pada dinding pipa, sepertinya para tukang ledeng atau tukang bersih-bersih got memakai tangga ini untuk menuju ke bawah.


"Wah, aku tak menyangka betapa susah payahnya para manusia yang bertugas membersihkan got yang tersumbat"


Gadis itu menemukan sebuah piringan besi diujung tangga dan memutarnya, benar saja! Winter berada tepat disebuah jalanan trotoar, beruntung tak ada seseorang yang sedang berjalan disekitarnya. Winter keluar dari dalam sana dengan hati-hati, cukup sulit karena ia mengenakan pakaian Arthur yang kedodoran ditubuhnya.


Hidung Winter mengendus-endus baunya sendiri, ia bahkan hampir muntah mencium aroma tubuhnya yang saat ini mirip bau sampah basah.


"Oh my... Berapa lama aku harus mandi jika seperti ini?" Gerutu Winter kesal.


Lain Winter lain Arthur, pria itu terkejut setengah mati ketika mendapati dirinya hanya mengenakan celana pendek ketat ditubuhnya. Arthur menatap sekitar, ia berusaha mencari keberadaan binatang berbulu yang tadinya tidur disebelahnya.


Astaga! Jadi... Dia adalah makhluk supernatural? - Arthur.


Buru-buru Arthur beranjak pergi dari halaman belakang asrama tempatnya tinggal, ia berlari sekuat tenaga menuju asrama ditengah perjalanannya ia tak sengaja menabrak seorang siswa yang bersekolah di asrama tersebut.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja!"


"Lain kali gunakan matamu dengan benar!" Ledek pria itu kesal, ia menatap Arthur yang hanya mengenakan celana pendek. "Dimana pakaianmu? Apa kau tidak tahu? Aku bisa merasakan aliran darahmu dengan jelas saat ini!"


Siswa laki-laki itu bernama Justin, dia adalah seorang Vampir yang sudah mengenakan cincin buatan Peach agar dirinya tak terbakar sinar matahari saat berpergian di pagi dan siang hari, hal itu juga mampu membuatnya berkamuflase di kerumunan manusia agar tak ada yang mencurigai dirinya.


"Oh, ayolah!" Arthur memutar kedua bola matanya dengan kesal. "Mau berapa kali pun kau menghisap darahku, aku tak akan pernah bisa mati. Aku akan hidup lagi, begitu seterusnya"


"Cih! Dasar sombong!" Justin pergi berlalu meninggalkan Arthur. "Aku peringatkan, bukan tak mungkin Phoenix tak memiliki kelemahan"


"Kalau kau menemukan kelemahan Phoenix segera beritahu aku ya?" Teriak Arthur.


_____________________________________


BRAKK!!


Arthur membuka paksa pintu ruangan Landon, sebelum melakukan hal itu ia sudah mampir ke kamarnya sendiri untuk berpakaian dengan benar.


Nafas Arthur terlihat tak beraturan, ia berjalan terburu-buru mendekati Landon sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar jendela.


"Ada apa?" Landon menatap keluar jendela, namun tak ada apapun.


Kebetulan jendela di ruangan Landon menghadap ke arah hutan belakang. Tentu saja itu hanya hutan buatan yang sengaja ia buat kalau-kalau para muridnya yang berstatus manusia serigala ingin meluapkan emosinya disaat bulan purnama tiba.


"Apa??" Landon terkejut mendengar pernyataan Arthur. "A-apa yang kau katakan?!"


"Tadi aku tidur dengannya" ucap Arthur polos.


"KAU APA??" Penyihir itu segera geleng-geleng kepala. "Aku tak menyangka ternyata kau...."


"Tidak! Tunggu dulu!" Cegah Arthur cepat, "Bukan tidur yang seperti itu!!"


"..........."


"A-aku pikir dia binatang yang tersesat, jadi aku ingin menolongnya untuk keluar dari tempat ini tapi ketika aku menyentuh kepalanya dia malah tertidur"


"Lalu??" Landon mengangkat sebelah alisnya.


"Yahh karena dia menggemaskan jadi aku juga tertidur, dan saat aku bangun pakaianku sudah hilang" jelas Arthur dengan pipi yang merona merah. "Berarti dia makhluk supernatural kan?"


"Kenapa Pink dan Peach tidak memberitahuku?"


"Kau bilang si kembar tidak bisa mendeteksi sihirnya!" Arthur mondar-mandir tidak jelas. "Astaga, itu artinya dialah pelaku pembantaian di pesta waktu itu!"


"Kau benar! Ini aneh, kenapa sihir makhluk itu tidak terdeteksi?"


"Aku tidak tahu" pria bergigi tonggos itu mengangkat bahu tidak peduli. "Wujudnya sangat sempurna, benar-benar berwujud binatang berbulu dan berjalan dengan empat kaki bukan dua kaki"


"Apa??" Sekali lagi Landon dibuat kaget. "Sempurna??"


"Benar!" Arthur mengangguk mantap. "Ini pertama kalinya aku melihat yang seperti itu"


Ya Tuhan... - Landon.


Landon segera menelpon putri kembarnya, dengan cepat Pink dan Peach datang ke kantor ayahnya. Kedua gadis itu kebingungan melihat wajah sang ayah yang terlihat cemas.


"Ada apa ayah??" Peach melirik ke arah Arthur sekilas. "Apa Phoenix ini berulah lagi?"


"HEI!!" Maki Arthur kesal.


"Tidak, makhluk yang sedang kita cari sedang berada di sekitar sini kata Arthur, bagaimana mungkin kalian tidak merasakannya??"


"Ayah juga tidak merasakannya kan? Bagaimana mungkin kami merasakannya?" Bantah Peach tegas. "Jangan salahkan kami"


"Mungkinkah dia makhluk yang kita cari 10 tahun lalu?" Pink menatap semua orang di ruangan itu secara bergantian. "Apa aku benar??"


"Aku tidak tahu Pink" Landon duduk di kursinya ia merasakan rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba menyerang. "Mungkin saja kau benar"


Makhluk yang mereka cari 10 tahun yang lalu? - Arthur.


"Hei, kalian tak pernah bercerita tentang hal itu padaku!" Ujar Arthur dengan nada marah.


"Untuk apa kami memberitahumu?" Ceplos Peach yang langsung membuat Arthur sakit hati. "Kau tidak ada urusannya dengan ini"


"Ok, kalian urus saja masalah ini sendiri!"


Arthur bergegas pergi, ia tidak menyukai reaksi Peach terhadapnya. Entah ada dendam apa diantara mereka sampai-sampai keduanya tak pernah terlihat akur.


Dasar penyihir setan! - Arthur.


...Bersambung!!...


Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote, dan Rating bintang 5 ya?? Terima kasih 😘🙏