THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
TAWARAN ODD



Peach berjalan cepat menyusul langkah Odd si Peri. Odd melangkah begitu cepat, hingga Peach harus setengah berlari mengejarnya. Saat dirasa langkah kakinya mulai mendekati Odd, penyihir cantik namun berwajah murung itu lantas mengeluarkan sihirnya, membuat Odd tidak bisa bergerak dan diam seperti patung.


"Maaf Odd, sebelum kau yang bicara padanya, aku ingin bicara lebih dulu padanya" ucap Peach saat melihat Odd membatu.


Gadis penyihir itu lantas kembali berjalan ke kamar Justin, sang Vampir. Kedua kakinya kini telah berdiri di depan pintu kamar Justin, Peach mengangkat tangan kanannya, ia hendak mengetuk pintu. Tapi, entah mengapa ada perasaan aneh di dalam dirinya, ia terlalu malu untuk melakukan itu, sehingga rona merah menyembul di kedua pipinya.


Peach memundurkan diri dua langkah, ia menghela nafas panjang. Kemudian, Peach merentangkan kedua tangannya dan membaca sebuah mantra.


BOOM!!!


Mantra peledak, pintu kamar Justin hancur berkeping-keping. Kepulan asap dan debu berterbangan di sekitar kamar itu, Peach tersenyum menyeringai, gadis itu lantas kembali berjalan dan hendak masuk ke dalam kamar itu.


"Peach??" Guman Justin lirih.


"YA TUHAN!! PEACH?!!" Justin berteriak kencang, "Apa kau tidak tahu bagaimana cara mengetuk pintu?"


Peach tak mendengarkan omelan Justin, gadis itu malah fokus menatap kedua mata Justin dengan harapan, Vampir itu akan menuruti keinginannya.


"Jangan menyetujui permintaan Odd" ujar Peach dengan nada penuh perintah. "Pokoknya, jangan terima tawaran nya"


Peach yang merasa malu karena menghampiri Justin duluan, lantas berbalik badan dan segera pergi meninggalkan kamar itu. Gadis cantik itu lantas berjalan menuju ke tempat ia mengutuk Odd menjadi batu, dengan sekali jentikan Odd yang membatu kini sudah kembali seperti semula.


"Astaga! Apa yang terjadi padaku?" Odd melihat kedua tangannya sendiri yang kini sudah mulai bisa di gerakkan.


"Maaf, Odd..." Sahut Peach tenang, penyihir itu lantas pergi meninggalkan Odd yang masih kebingungan.


Odd menunggu, ia menunggu sampai seluruh badannya bisa bergerak dengan sempurna. Pria berstatus Peri itu kemudian berjalan menuju kamar Justin dengan senang, ia sangat yakin bahwa Justin akan menerima tawarannya. Karena, Justin memang dulu terkenal dekat dengan para gadis di asrama itu.


Kedua mata Odd mendelik, ia terkejut melihat suasana di depan kamar Justin si Vampir. Bagaimana tidak? Banyak puing-puing kayu yang berserakan di depan kamar itu, kamar Justin seperti baru saja terkena badai maha dahsyat.


"Apa Justin ada di dalam ya?" Gumam Odd seorang diri.


Peri itu mengintip, benar saja! Justin ada di dalam sana, Vampir itu tengah membereskan bagian dalam kamarnya yang berantakan. Odd mengetuk pintu kamar Justin yang tersisa sebagian, Peri itu melambaikan tangannya pada Justin dan tersenyum.


"Hai Justin, apa kau sedang renovasi?" Odd menatap ke sekeliling kamar itu.


Justin mendesah, ia meletakkan buku-buku miliknya di atas meja. "Renovasi? Kau tidak tau apa yang baru saja aku alami, dia lebih mengerikan daripada sebuah bencana alam"


"Eh??" Odd menarik kursi kayu yang tak jauh dari ranjang tidur Justin, Peri itu lantas duduk disana. "Siapa?? Apa baru saja ada orang disini?"


Apa perlu aku katakan pada Odd ya? Hmm... Tidak deh - Justin.


"Ah, lupakan saja!" Justin mengambil sapu lantai dan mulai membersihkan debu-debu di lantai kamar itu. "Ada urusan apa kau datang ke kamarku?"


"Ah itu, soal pesta dansa di sekolah" Odd tersenyum lebar. "Apakah kau mau menjadi pangerannya?"


"Pangeran apa?"


Odd menggaruk tengkuk lehernya. "Begini, di dalam acara itu ada kontes kecantikan, dan siapapun gadis yang menang maka dia akan berhak berdansa dengan mu. Bagaimana? Hebat bukan?"


"Kedengarannya menyenangkan" sahut Justin santai. "Tapi, sayang sekali... Aku tidak bisa berdansa"


"Aku akan mengajarimu"


"Tidak" Justin menggeleng. "Kenapa tidak minta Arthur saja? Dia kan nomor satu kalau soal wajah di sekolah ini"


Odd menepuk kedua pipinya dengan gemas. "Kau tidak tau apa yang baru saja aku hadapi, jika bukan karena Peach mungkin aku sudah mati dimakan serigala"


"Hmm?" Justin memiringkan kepalanya, ia menatap Odd, menunggu penjelasan dari peri itu. "Apa maksudmu?"


"Winter tidak mengijinkan Phoenix itu, Arthur juga menolaknya sih dari awal" Odd terlihat murung. "Aku bahkan sudah membujuk Winter, tapi dia malah hampir menyerangku karena cemburu"


Justin berjalan mendekati Odd, ia lalu duduk di ranjang. "Cemburu itu apa sih?"


"Cemburu itu jika salah satu pasangan marah karena pasangan lainnya dekat dengan lawan jenis mereka, yaa kurang lebih begitu" Odd manggut-manggut, "Apa ada seseorang yang kau sukai?"


"Ada" jawab Justin cepat. "Apa cemburu itu bisa menghancurkan sebuah pintu?"


Odd menatap pintu kamar Justin yang masih hancur, pria Peri itu lantas berdiri dan membungkuk kan badannya di depan Justin.


"Eh??" Justin kebingungan melihat aksi Odd.


Odd mengatupkan kedua jemari nya. "Pacarmu saja bisa meledakkan pintu ini saat marah, bagaimana jika dia tau bahwa aku yang memintamu untuk menjadi pangeran? Aku tidak ingin meledak seperti pintu itu"


Odd menunjuk ke arah pintu dengan raut wajah ketakutan, Justin malah tertawa, ia berdiri dan menepuk bahu Odd. Vampir itu ternyata punya rencana lain, untuk membalas kecemburuan Peach.


"Aku menerima tawaranmu sebagai pangeran dalam pesta dansa itu"


"Apa?" Odd terkejut. "Hei, kau tidak harus mau kok! Aku tidak ingin mengambil resiko dengan gadismu yang akan cemburu nantinya"


"Tenang saja, aku akan bilang padanya bahwa ini murni keinginan ku" Justin tersenyum menyeringai.


Kita lihat, seberapa jauh kau menyukaiku - Justin.


"Sungguh??" Odd menatap serius, lalu dengan hitungan detik, bibirnya tertawa lebar. Ia sungguh berterima kasih kepada Justin. "Terima kasih, Justin"


"Hahaha, justru aku yang berterima kasih kepadamu"


"Ngomong-ngomong, siapa gadis itu?" Odd melipat kedua tangannya di depan dada. "Melihat dari pintu kamarmu yang rusak, sspertinya dia dari kalangan penyihir"


"Yaa, kau benar" Justin kembali meneruskan aksi menyapu lantainya. "Dia satu-satunya gadis di asrama yang menarik perhatianku, selain Winter waktu itu"


Odd melangkah pergi, "Ya, semoga sukses dengan gadis penyihirmu! Aku akan sangat senang jika kau memperkenalkan nya padaku suatu saat nanti"


"Pasti akan ku kenalkan" Justin melambaikan tangannya. "Kau akan terkejut"


•••••


BRRAKK!!!


Arthur menjatuhkan beberapa kotak kardus di dalam gudang, ia terus mencari sebuah kotak yang diinginkan oleh Pink. Pria Phoenix itu lantas mencari ke sudut lain.


"Sebenarnya, sebagus apa sih pakaian yang kau cari itu?"


Pink membuka sebuah kotak, namun ia tetap belum menemukan apa yang ia cari. "Gaun itu sangat bagus, ibu ku yang memberikannya padaku"


"Jika memang sebagus itu kenapa kau letakkan di dalam gudang? Apa lemarimu tidak cukup bagus untuk menyimpan pakaian ini?"


Pink melirik ke arah Arthur, penyihir itu lantas membuang muka dengan kesal. "Kalau kau sudah sangat lelah, pergilah! Akan aku cari sendiri"


"Tidak bisa! Aku sudah berjanji akan membantu, aku tidak bisa membatalkan janjiku di tengah jalan seperti ini"


Pink tersenyum, ia senang mendengar kesungguhan Arthur yang ingin menolongnya. "Hei, ku dengar kau akan jadi Juri di acara kontes itu"


"Benar!" Arthur mengangguk.


"Aku akan menjadi peserta di kontes itu, mohon bantuannya ya?" Pink tertawa lebar. Ia menggunakan sihirnya untuk memindah beberapa box barang. "Aku tidak sedang menyogokmu kok, jadi jangan tegang begitu"


"Oh, tentu saja! Aku tidak akan melakukan kecurangan" ucap Arthur sambil tersenyum. "Aku akan bertindak se-adil mungkin"


"Bagus!"


Pink membuka sebuah kotak dengan gambar bunga dibagian atasnya. Penyihir cantik itu tersenyum, ia yakin betul bahwa benar itulah kotak yang ia cari. Dengan sihir, ia membuka kotak itu. Kedua mata Pink bersinar, menemukan gaun yang ia cari.


"Arthur! Lihat" Pink menenteng sebuah gaun cantik dengan warna yang sama dengan namanya. Ia berputar-putar di depan Arthur saking senangnya.


"Wah, kau sudah menemukannya?"


Pink mengangguk, ia segera mengembalikan semua kotak yang dibongkar oleh Arthur ke tempat semula. Tentu saja, menggunakan sihir. Dengan sihir, pekerjaan berat apapun menjadi mudah.


"Sekarang aku akan membersihkan pakaian ini, terima kasih Arthur" ujar Pink lalu pergi, keluar dari gudang disusul dengan Arthur yang berjalan di belakangnya.


BERSAMBUNG!!!


Halo, Terima kasih sayang sudah membaca cerita ini! Beri Author semangat ya?! Dengan cara klik Favorit, Like, Vote dan komentar. Jangan lupa rating bintang 5 nya juga! ☺️🙏