
Kluk!
Kluk!
Kepala Peach terasa begitu berat, gadis itu memaksakan diri agar tetap terjaga di dalam bus. Kedua matanya sudah ingin terpejam saja sejak roda bus membawanya melewati perbatasan kota, Peach melirik ke arah pria di sampingnya, Arthur sang Phoenix dengan santainya tidur begitu saja. Pria itu membungkus kepalanya dengan jaket Hoodie yang ia kenakan.
Bagaimana dia bisa tidur dalam situasi begini? Tidak heran ayah mengirimnya pergi ke sekolah manusia - Peach.
Peach menyandarkan kepalanya ke kaca jendela bus, kedua matanya tetap terbuka dan melihat jalanan yang kosong. Dia tidak menyangka bahwa kota yang akan ia tuju akan terasa sejauh itu, gadis berwajah suram itupun sesekali memutar-mutar kedua jari telunjuknya, hanya untuk sekedar menghibur diri.
•••••
Suara ledakan yang cukup hebat terdengar di seluruh asrama, semua murid supernatural berhamburan menyelamatkan diri dari ledakan tersebut. Landon dan Pink tak kalah paniknya, ayah dan anak itu langsung memeriksa semua murid yang terluka. Merasa ada yang tidak beres, Landon memberanikan diri untuk memasuki bagian asrama yang terkena ledakan.
"Ayah...." Panggil Pink pelan, nadanya terdengar begitu khawatir. "Mau kemana?"
"Tolong kumpulkan para penyihir dan beri mereka perintah untuk mengobati murid-murid yang terluka" pesan Landon singkat.
"Apa ayah akan masuk kesana?" Buru-buru Pink berlari untuk mengejar sang ayah. Penyihir cantik itu membentangkan kedua tangannya sembari menggelengkan kepala di depan Landon. "Tidak boleh!"
"Ayolah Pink, firasat ayah mengatakan ada sesuatu yang tidak beres disana" ujar Landon. "Dimana saudarimu??" Ucapnya seketika, dia baru menyadari bahwa Peach tidak ada di sekitar dirinya dan Pink.
Kedua mata Pink membulat lebar, dia juga baru menyadari bahwa Peach tidak di dekatnya. Tanpa meminta ijin dari Landon, Pink langsung berlari memasuki gedung asrama, gadis itu sangat mengkhawatirkan keadaan saudari kembarnya.
"PINK!!" Teriak Landon yang langsung menyusul putrinya.
Kepulan asap berwarna merah muda menghalangi pengelihatan Landon dan Pink, gadis itu pun mencoba untuk menghilangkan asap tebal tersebut, namun sayang... Sihir yang mengitari sekolah telah rusak akibat serangan itu. Seperti yang di ketahui, penyihir Gemini tidak bisa membuat sihirnya sendiri, mereka perlu menyerap sihir seseorang untuk melakukan sebuah sihir.
"Sihirnya rusak...." Gumam Pink lirih. Landon yang berada di sebelahnya langsung menghapus kepulan asap tersebut dengan sihirnya, pria itu melepas sebuah liontin bulan sabit yang selama ini ia kenakan dan mengenakannya pada Pink.
"Pakailah liontin ayah"
"Eh??" Pink terkejut dan lantas menyentuh liontin tersebut.
Landon mengusap kepala putrinya dengan begitu lembut. "Kau tidak bisa menggunakan sihir tanpa adanya Peach. Liontin itu mengandung sihir, kau bisa menggunakannya jika dalam bahaya"
"........." Pink terdiam sejenak, sebenarnya liontin itu bukanlah liontin milik ayahnya. Liontin tersebut milik orang lain yang bernama Lucy, yang tak lain adalah ibunya. Liontin Landon sendiri telah hancur dan musnah dari muka bumi, akibat sebuah tragedi di masa lalu.
"Kita tidak tahu apa yang sedang menyerang kita saat ini" imbuhnya lagi.
Shut!!!
Pink berteriak kaget ketika tubuhnya dengan cepat ditarik Landon ke pelukannya. Sebuah anak panah melesat dengan cepat, hampir mengenai kepala Pink jika saja Landon tidak menyelamatkan gadis itu. Kedua penyihir itu sampai jatuh tersungkur ke atas lantai akibat serangan mendadak yang diberikan.
Anak panah tersebut menancap dengan kuat pada dinding sekolah. Landon memperhatikan bentuk dan ukiran anak panah tersebut, seketika hatinya merasa tidak tenang. Panah tersebut menghilang dengan sendirinya di depan Landon dan Pink, kedua penyihir itu saling menatap kebingungan.
"A--ayah...."
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Kedua telinga Pink dan Landon berdengung menahan sakit akibat suara yang melengking tinggi. Ternyata bukan hanya mereka, seluruh murid di asrama juga mendengar suara yang menggema dan menyebutkan kata Phoenix berulang kali. Kepakan sepasang sayap yang begitu besar terdengar meninggalkan bagian asrama yang telah hancur, disusul dengan suara lengkingan yang berangsur-angsur menghilang.
Dengan wajah datar dan tatapannya yang kosong, Landon bangkit berdiri. Pria itu memasuki ruangan yang baru saja ditinggal pergi oleh seseorang, terdapat banyak sekali bulu-bulu yang telah patah pada ruangan tersebut. Landon melangkah dan memungut salah satu bulu berwarna putih itu.
Kedua pupil matanya bergetar, Pink yang tidak tahu apapun hanya memasang wajah bingung pada kelakukan sang ayah. Gadis itu juga mencoba mengembalikan ruangan tersebut dengan sihirnya.
"Dimana Arthur...." Gumam Landon lirih.
"Apa??" Pink menoleh ke arah ayahnya. "Aku tidak dengar ayah bicara..."
"Dimana Arthur?" Tanya Landon, kali ini ia berbicara sambil menatap putrinya. Dengan sebuah bulu di tangannya, pria itu berlari meninggalkan Pink. Dia menuju ke arah lapangan asrama dimana semua murid berkumpul. Landon meminta bantuan para penyihir untuk mencari keberadaan Arthur, dan meminta Werewolf untuk mengendus bau Arthur di sekolah itu.
Pria itu menghela nafas lega ketika semua muridnya menjawab bahwa Arthur tidak berada di asrama itu, Pink yang baru saja tiba dibuat bertanya-tanya dengan sikap sang ayah. Gadis cantik itu meminta penjelasan pada Landon tentang apa yang terjadi.
"Ayah, kita harus bicara!"
"Ayah sedang sibuk Pink" jawab Landon sambil terus berjalan menuju kantornya.
"Ada apa ini ayah? Kenapa ayah begitu khawatir? Apa ayah tahu, siapa yang baru saja meledakan asrama?"
"Ya, ayah tahu!" Sahutnya cepat. Landon meletakkan bulu yang lebih mirip dengan bulu angsa tersebut ke sebuah toples. "Bantu ayah mengunci toples ini dengan sihir"
"Baiklah, tapi setelah itu tolong jawab pertanyaanku. Aku juga harus tahu, agar bisa membantu ayah"
"..........." Landon terdiam, dia menatap toples di depannya lalu beralih menatap Pink. Pria itu menghela nafas panjang, dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi, tangan kirinya dengan gusar mengusap wajahnya yang tampan.
"Kau pernah mendengar tentang Cupid??"
"Malaikat cinta yang melempar panahnya ke setiap orang agar mereka saling jatuh cinta?" Jawab Pink sekenanya.
Landon menggeleng, pria itu menerbangkan sebuah buku dan memberikannya pada Pink. "Dalam dunia kita, Cupid bukanlah makhluk seperti yang kau bayangkan"
"Hmm??"
"Ayah khawatir, kedatangannya ke asrama kita akan membawa sebuah petaka bagi seseorang" Kedua mata Landon terpejam, dia ingat betul akan sebuah buku tua mengenai perang Yunani di era kuno. Buku yang baru saja ia tunjukkan pada Justin berminggu-minggu lalu. "Kenapa takdir selalu berputar-putar?"
"Maksud ayah... Phoenix yang disebut oleh makhluk tadi adalah Arthur? Apa makhluk itu sedang mencari Arthur?" Pink menutup buku yang bahkan belum sempat ia baca, penyihir cantik itu melangkah menuju sebuah jendela yang memiliki pemandangan langsung ke arah camp manusia serigala. "Lalu bagaimana dengan gadis itu?"
"Maka dari itu ayah tidak mengerti, jika dikehidupan sebelumnya mereka tidak dipersatukan lalu kenapa dikehidupan ini juga tidak?"
Pink mengerutkan dahinya. Gadis itu tidak setuju dengan kalimat sang ayah. "Bagaimana bisa ayah berbicara seperti itu? Seolah-olah ayah tahu bahwa di akhir cerita nanti Arthur akan mati"
"Entahlah Pink, hanya firasat ayah..."
"Winter tidak akan membiarkan itu terjadi ayah, dia adalah gadis serigala yang kuat dan baik" puji Pink lalu tersenyum, mendengar hal itu langsung dari bibir putrinya membuat Landon bergidik ngeri. Pria itu menutup mulutnya tak percaya sambil menahan senyuman.
"Wah-wah, apa ini? Apa kau benar putri ayah??"
"Dih! Ayah menjengkelkan" ledek Pink kesal.
BERSAMBUNG!!!
Halo terima kasih sudah membaca, jangan lupa tekan tombol Like, berikan komentar dan Vote Author agar semakin semangat menulisnya. Tanpa dukungan kalian, Author bukanlah apa-apa 😁🙏