
Tik!
"AAAWWW!!!" Pekik Arthur keras ketika dengan sengaja Pink menarik rambut pria itu. Arthur mengusap-usap kepalanya yang terasa panas akibat beberapa helai rambut miliknya terlepas dari tempatnya tumbuh.
"Apa kau sudah tidak waras?!"
Pink tertawa nyengir sambil memasukkan helaian rambut Arthur ke dalam kantong plastik bening. Penyihir itu nampak tersenyum senang berkat tingkah lucu Arthur yang kesakitan.
"Maafkan aku Arthur, aku membutuhkan rambutmu untuk penelitian yang aku kerjakan bersama Peach"
"Penelitian apa?" Arthur mendelik kaget, "Apa sekarang para penyihir sedang meneliti Phoenix?"
"Tidak!" Gadis cantik itu menggeleng pelan. "Hanya aku dan Peach yang melakukannya, sebaiknya kau berterima kasih kepadaku jika nanti penelitian ini berhasil"
"Berterima kasih kepadamu?" Arthur mengangkat sebelah alisnya bingung. "Berterima kasih untuk apa?"
Pink hanya tersenyum manis, gadis itu lantas pergi meninggalkan Arthur dan segera menuju ke tempat Peach, saudari kembarnya. "Berterima kasih untuk ide ini, oh iya! Bukankah sebaiknya kau menemui gadis itu? Kau tahu kan? mungkin sekarang dia sedang sibuk berlatih bela diri"
Pupil mata Arthur mengecil, bagaimana mungkin dia melupakan Winter? Gara-gara dirinya yang sibuk mencari tahu seluk beluk Phoenix, dia sampai lupa memperhatikan gadis yang jelas-jelas akan mempertaruhkan nyawanya agar bisa masuk ke dalam kelompok Werewolf. Kedua kaki Arthur lantas bergerak cepat dan mencari keberadaan Winter di asrama tersebut.
Di sela-sela kesibukannya mencari Winter, tanpa sengaja Arthur berpapasan dengan Justin. Tak seperti biasanya, Justin hanya memandang datar ke arah Arthur dan terus berjalan lurus melewatinya. Sepertinya Vampir itu baru saja dari ruangan kepala sekolah yang tak lain adalah Profesor Shagasemi, dilihat dari arah ia datang.
"Hei, apa kau melihat Winter?"
Justin menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke arah Arthur. "Tidak..."
Suara Justin begitu pelan, Arthur berpikir mungkin saja Vampir itu habis kena marah oleh Landon. Bukankah Justin cukup terkenal di asrama sebagai salah satu murid yang bandel? Jadi, bisa saja bahwa hari ini dia baru saja mendapatkan teguran dari Landon.
"Oh, baiklah!"
Selepas kepergian Arthur, Justin perlahan mengintip ke belakang. Ia ingin melihat sosok Phoenix yang diceritakan oleh Profesor Shagasemi kepadanya. Justin sulit mempercayai cerita sang profesor karena dilihat dari segi manapun, Arthur tidak ada keren-keren nya sama sekali.
👉 FLASHBACK ON 👈
Landon menyentuh kepalanya dengan kedua tangan, sebelum pada akhirnya ia menghela nafas yang cukup panjang. Di depannya duduk seorang Vampir yang sudah ia percayai sebagai komite siswa, berkat sifatnya yang sangat peduli kepada makhluk supernatural lain selain Vampir.
"Apa yang kau sembunyikan profesor?"
"Kau hanya bermain Game dan langsung menghujaniku dengan berbagai pertanyaan aneh seperti ini?" Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Yahh... Itulah yang terjadi, berulang kali Landon terlihat tak begitu tenang di depan Justin.
"Melihat anda yang sepertinya tengah gelisah, sepertinya game itu benar adanya" Justin tersenyum menyeringai. "Anda tidak boleh memendam semuanya sendiri, jika ada masalah katakanlah!"
"Aku tak memiliki masalah apapun!" Landon menatap Justin dingin. "Kalian masih anak-anak, biarkan aku yang mengurus semuanya"
"Mengurus apa? Anda juga perlu bantuan, jadi tolong jangan egois dan mengatasi segalanya seorang diri" Omel Justin kesal, Justin bukanlah tipe orang yang akan meninggalkan suatu masalah begitu saja! Apa lagi jika hal tersebut menyangkut teman satu sekolahnya.
Melihat kesungguhan Justin, Landon berdiri dari duduknya. Pria dewasa itu berjalan ke sebuah rak buku di ruangan tersebut. Dengan sedikit mantra dan sihir, Landon mengeluarkan sebuah peti dari bawah lantai yang ia pijak. Peti itu melayang-layang di atas permukaan lantai sampai menemukan posisi yang pas untuk berhenti.
Dari dalam sana, Landon mengeluarkan sebuah buku yang terlihat sangat tua. Bagian depan dan belakang sampul buku itu terlihat robek di sana-sini, bahkan kertasnya yang mungkin saja dulunya berwarna putih sudah berubah menjadi kecoklatan.
"Wow, apa itu?" Justin sampai lupa caranya menutup mulut yang menganga melihat Landon menggunakan sebuah sihir. Kedua matanya tak berkedip sama sekali dan terus menatap lurus ke arah buku tua tersebut.
Landon melirik ke arah Justin yang tertegun melihat buku tua di depannya. "Selama ini aku menyimpan dan melindungi buku ini dengan sebuah sihir"
"Ke--- Kenapa?"
"Aku mencuri buku ini dari reruntuhan kerajaan Yunani kuno"
"Oke, aku tidak mengerti apa maksudnya ini!" Justin mengangkat kedua tangannya dan melangkah mundur ketika Landon mengambil buku tersebut dari dalam peti. "Sebenarnya seberapa tua profesor?"
"Hei, aku mencurinya ketika kerajaannya sudah hancur! Jadi aku tidak setua yang kau bayangkan!"
Landon berjalan mendekati Justin sambil membawa buku tersebut, ia menunjukkan bagian dalam buku tua itu pada Justin. Gelengan demi gelengan dilakukan oleh Justin yang sama sekali tidak bisa membaca kata yang tertuang pada buku itu.
"Aku tidak mengerti...."
"Aku tidak tahu pasti siapa yang menulisnya" gumam Landon lirih. "Tapi disini tertulis sebuah kisah peperangan kerajaan Yunani kuno"
"Lalu? Apa hubungannya dengan pembahasan kita?"
Landon menghela nafas panjang lalu membalik ke halaman paling tengah. "Kau lihat??" Landon menunjukkan sebuah gambar, gambar seekor burung api di bagian halaman tersebut.
"Phoenix??" Ucap Justin dengan kedua mata yang terbuka lebar. "I-ini Phoenix kan??"
"Benar!" Landon menganggukan kepala dengan mantap. "Tidak banyak sejarah yang tertulis mengenai legenda Phoenix, namun dibuku ini jelas tertulis bahwa makhluk itu adalah makhluk yang begitu kuat dan jujur"
".........."
"Aku memang kurang memahaminya, tapi ada suatu negara yang percaya mengenai perang Dewa di masa lalu. Dan kau tahu? Semuanya ingin menaklukkan Phoenix dan membuat makhluk itu menjadi kendaraan perang sang Dewa"
"Kendaraan perang?" Justin mengernyitkan dahinya. "Apa di masa lalu Phoenix adalah seekor binatang?"
"Tentu saja tidak, dia sama dengan Phoenix yang kita miliki sekarang..." Ucap Landon sambil tertawa kecil. "Dia bisa menjadi manusia ataupun menjelma sebagai sosok burung api, tapi aku tidak mengerti kenapa Arthur belum menunjukkan tanda-tanda akan kemampuannya!"
Arthur.... - Justin.
"Dan yang membuatku khawatir, seorang Dewi meminta bantuan kepada seseorang untuk membunuh sang Phoenix. Dewi itu terpaksa melakukannya untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung sangat lama"
"Dewi??"
Landon menutup buku yang ia pegang lalu mengembalikannya ke dalam peti. Pria itu lantas kembali duduk ke kursinya dan mengingatkan Justin untuk duduk juga.
"Pada era perang Dewa di masa lalu, hanya ada satu Phoenix yang hidup. Dan dia mati karena utusan sang Dewi, lalu sekarang Arthur lahir sebagai seorang Phoenix...." Landon tak meneruskan kalimatnya, dia terlihat sangat gusar untuk mengatakan hal yang selama ini ia pendam seorang diri.
"Ya Tuhan...." Kedua pupil mata Justin bergetar, entah mengapa ia sudah paham dengan kelanjutan kalimat dari sang Profesor. "Jadi... Kelahiran Arthur sedang diincar??"
"Oleh siapa??" Lanjut Justin yang panik, mengingat Arthur bukanlah pria yang cukup kuat. Bahkan Justin tak pernah melihat Arthur berkelahi dengan siswa di asrama.
"Aku tidak tahu....."
👉 FLASHBACK END 👈
Derap kaki seekor Serigala terdengar begitu keras, Serigala dengan bulunya yang berwarna abu-abu itu tengah berlari cukup kencang dan terkadang melompat-lompat ke arah pepohonan yang rendah.
Serigala itu adalah Winter, dia sedang dalam wujud binatangnya untuk melatih langkah kaki dan kegesitan tubuhnya. Jujur saja, gadis itu tidak tahu menahu mengenai pertarungan yang akan ia hadapi untuk masuk ke dalam sebuah kelompok.
"Winter??"
Suara seorang pria yang tak jauh dari tempatnya menajamkan kuku terdengar di kedua telinga Winter, gadis itu lantas berlari ke balik pepohonan besar di dekatnya.
Seketika tubuh Winter kembali normal, dia melambaikan tangan kanannya pada Arthur dengan maksud agar pria itu tak berjalan mendekat ke arahnya.
"Winter sedang tak memakai apapun, jadi tolong jangan mendekat"
Sejak kapan dia malu begini? Waktu itu dia berubah wujud seenaknya di depanku! Eh, tapi kalau di ingat-ingat, dia juga memintaku untuk berbalik sih! - Arthur.
"Uh-- Oke"
...BERSAMBUNG!!!...
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉