
Pada malam hari yang dingin, kabut tebal terasa menutupi sebuah wilayah. Wilayah yang sepi dan jarang terjamah oleh manusia. Langit yang gelap diselimuti mendung, seakan semakin mendukung suasana buruk yang akan terjadi.
Winter diam berdiri disebuah jalanan yang gelap, hawa dingin terasa dimana-mana. Gadis itu menatap ke arah dua mobil yang saling berhadap-hadapan, tahu apa yang akan terjadi, Winter segera menutup kedua matanya.
BRAKKK!!!
Tabrakan maut terjadi di depan Winter, gadis itu menangis sejadi-jadinya. Winter mencoba untuk berlari pergi, namun entah mengapa kakinya seakan enggan untuk berlari, hanya berdiam diri di tempat.
"Winter!"
"Winter!"
"Winter!"
Kedua mata Winter terbuka lebar ketika tubuhnya digoncangkan oleh seseorang, saat ia membuka matanya, dia sudah melihat sosok pria tampan yang menatapnya dengan penuh khawatir.
"Mimpi buruk lagi?" Tanya Arthur perhatian, pria itu lantas menarik tubuh Winter ke dalam pelukannya. "Sepertinya kau begitu ketakutan"
Winter membalas pelukan Arthur di tubuhnya, gadis itu mencium bahu Arthur yang terasa hangat. "Um, karena duyung itu membuka ingatan yang terkunci. Sepertinya Winter jadi melihat saat-saat Arthur mati di masa lalu"
"Hei, tenanglah!" Arthur tersenyum manis. "Sekarang semuanya baik-baik saja! Memang dulu aku terlahir sebagai manusia, tapi sekarang aku sudah bereinkarnasi menjadi makhluk sihir"
"Itu bukan berarti sepenuhnya baik-baik saja" Winter melepas pelukan Arthur, gadis itu lantas bangkit dari tidurnya. Winter turun dari ranjang dan mengambil kaos milik Arthur lalu menggunakannya. "Arthur masih harus berurusan dengan Cupid"
Arthur merentangkan tangannya diatas ranjang, pria tampan itu menatap langit-langit kamarnya yang terlihat sedikit gelap karena lampu kamar yang tidak begitu terang.
"Yaa... Kau benar! Entah ada urusan apa Cupid denganku"
Winter menatap Arthur sekilas lalu tersenyum. "Apa Arthur tidak ingin menjenguk Justin?"
"Apa kau juga akan kesana?!" Tanya balik Arthur. "Aku masih ingin bermalas-malasan di ranjangku ini"
"Ya, Winter akan kesana! Mengingat Justin yang belum sadarkan diri hingga sekarang" jelas Winter polos, gadis itu lantas berjalan ke arah kamar mandi Arthur sembari merapikan beberapa pakaian Arthur yang tergeletak di atas lantai. "Kalau Arthur ingin ikut, cepat pakai baju!"
"Hmm..." Pria itu malah tengkurap dan menyembunyikan wajahnya pada bantal. "Saat kau selesai mandi, aku akan memakai pakaianku"
Tuk! Trutuk!
Sebuah benda kecil keras menggelinding dari saku celana Winter, kedua mata Winter membulat lebar, sesaat ia mengingat pesan dari si duyung yang ia temui. Buru-buru Winter mengambil benda kecil itu dan menghampiri Arthur yang malah kembali tidur.
"Arthur!" Winter menepuk punggung Arthur, tubuh Phoenix itu terasa hangat bersentuhan dengan kulit tangan Winter, maklum saja! Bukankah Arthur memang burung api. "Lihat ini!"
"Duh! Aku masih mengantuk, semalaman aku tidak bisa tidur karena kau terus bermimpi buruk"
Winter merengut. "Ma-maaf, Winter kan sudah bilang kalau sebaiknya tidur di kamar Peach! Tapi..."
"Sshhh!!" Jari telunjuk Arthur menempel di bibir Winter, membungkam bibir gadis itu agar tidak bicara terlalu panjang lagi.
"Mulai sekarang, kamar ini juga kamarmu!" Ucap Arthur dengan wajah yang serius, sorot matanya terlihat begitu indah dari pandangan mata Winter. "Aku akan bicara pada profesor tentang ini"
Winter menepis tangan Arthur dari depan wajahnya. Gadis itu lantas menunjukkan sebuah benda kecil yang tak lain adalah darah Tribrid yang diberikan kepadanya waktu itu.
"Ini..."
Arthur memicingkan matanya menatap sebutir kelereng di kedua tangan Winter. "Apa ini?"
"Ini darah Tribrid, Ryn yang memberikannya!"
"Hah?!" Arthur segera bangun dari tidurnya, pria Phoenix itu lantas memakai kaos yang baru saja dirapikan oleh Winter, dia juga segera menyisir rambutnya yang berantakan. "Itu, darah Tribrid yang terkenal bisa menyembuhkan segala macam penyakit kan?"
"Benar!" Winter berdiri dari duduknya. "Apa Arthur memikirkan hal yang sama?"
"Ya! Kita harus menemui Justin"
"Kenapa? Apa kau ingin mandi??"
Winter memberi jawaban dengan menganggukan kepalanya. Gadis itu berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar Arthur, dia tidak bisa pergi keluar begitu saja tanpa mandi. Apalagi statusnya sebagai Werewolf membuat tubuhnya akan lebih bau jika tidak mandi, dan Winter tidak percaya diri akan hal itu.
"Baiklah aku akan menunggumu!"
••••
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan di pintu kamar Arthur, suara itu ditimbulkan oleh Rene si penyihir yang tinggal beberapa kamar dari kamar Arthur. Rene menyapa Arthur dengan senyuman manisnya, gadis berkulit gelap itu pun lantas memberikan selembar kertas yang berisikan undangan.
"Apa ini?"
Rene tertawa ceria, dia merebut kembali selebaran itu dan menunjukkan nya pada Arthur. "Apa kau tidak ingat acara tahunan sekolah kita?"
"Hmm??" Arthur mengangkat sebelah alisnya bingung. "Acara apa?"
"Duh! Pokoknya tahun ini para penyihir sebagai komite sekolah, akan mengadakan pesta dansa, datang ya?! Agar acaranya lebih meriah!" Terang Rene sambil menyerahkan selebaran itu lagi. Gadis itu lantas berjalan ke kamar sebelah lagi untuk membagikan lembaran pengumuman tersebut.
KLAP!!
(Pintu kamar mandi terbuka)
Winter berjalan keluar sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk, ia terlihat sangat cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya yang basah dan jatuh terurai menambah kecantikan gadis itu.
"Kenapa menatap seperti itu?" Ledek Winter yang melihat Arthur terpaku memperhatikan dirinya.
"Ah! Tidak!" Arthur menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pernahkah aku bilang padamu, bahwa kau sangat cantik?!"
"Eh??"
Phoenix itu berjalan mendekati gadis cantik di depannya. "Apa kau memang selalu secantik ini?" Tangan kanan Arthur mulai membelai rambut panjang Winter dengan lembut. Membuat wajah gadis itu memerah dibuatnya.
"Entah mengapa?! Kau jadi semakin cantik setiap harinya" puji Arthur senang. "Yaa... Semenjak hubungan kita semakin dekat, aku jadi tidak ingin mengalihkan pandanganku ini kepada yang lain"
"Duh! Arthur berlebihan!" Winter mendorong tubuh Arthur yang hendak menciumnya, gadis itu tersipu malu dan tidak mau memandang wajah Arthur.
Dasar!!! - Winter.
"Hei, aku mengatakan yang sebenarnya tahu!"
GRAB!!
Arthur terkejut ketika dengan tiba-tiba Winter berlari kepadanya dan memeluk tubuh Pria itu dengan erat, gadis itu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Arthur. Ia sedang menyembunyikan wajah nya yang kini sedang bersemu merah, tanpa bertanya apapun, Arthur membalas pelukan Winter dengan memeluknya lebih erat. Bahagia? Yaa... Tentu saja Arthur bahagia, tidak disangka bahwa gadis yang dulu menuangkan minuman ke wajahnya malah akan sangat dicintai olehnya.
"Arthur bodoh!" Ujar Winter lirih.
"Yaa... Aku juga mencintaimu!" Jawab Arthur sambil mengecup kening gadis itu.
BERSAMBUNG!!
Terima kasih sudah membaca cerita ini, jangan lupa klik Like, Favorit, Vote dan beri komentar yang mendukung! Salam sayang semuanya ☺️♥️🙏
IG Author : NessaCimolin