
"Sekarang dimana Phoenix itu?"
Peach menyusuri setiap lorong untuk mencari keberadaan Arthur, dia berjalan sambil memasuki setiap kelas yang berbaris rapi di koridor sekolah, tetapi tetap saja dirinya tidak bisa menemukan Arthur dimanapun.
Penyihir berwajah suram itu memutar kedua bola matanya dengan kesal setelah menyadari bahwa kemungkinan besar Arthur pasti sedang berada di danau buatan, seperti sikapnya dahulu-dahulu yang suka sekali bunuh diri di tempat itu.
Ck! Sebenarnya aku malas kesana - Peach.
Bibir Peach berdecak kesal, gadis itu lantas memutar langkah kakinya dan menuju ke sebuah tempat favorit bagi Arthur untuk bunuh diri yang sia-sia. Belum lama ia berjalan, Peach dibuat terkejut akan kehadiran Winter yang tanpa sengaja menabrak dirinya.
"Ah! P-peach, aku baru saja ingin menemui Peach..."
"Menemui aku?" Sorot mata Peach menatap ke arah belakang tubuh Winter. Penyihir itu seolah tak mendengarkan ucapan Winter barusan. "T-tapi aku sedang sibuk saat ini...."
"Oh, begitu ya?" Winter menundukkan kepalanya. Ia menyingkir dan memberi Peach ruang kosong untuk meneruskan perjalanannya. "Oke, baik! Peach boleh pergi"
"Maafkan aku Winter, lain kali aku akan mendengarkan mu! Tapi saat ini aku harus mencari Arthur dan berbicara dengannya"
Kedua mata Winter membulat lebar ketika mendengar Peach menyebut nama Arthur, gadis cantik itu segera berbalik badan dan mengejar Peach yang belum lama meninggalkan dirinya. Bukankah memang pria itu yang selama ini ia cari? Seperti hujan yang turun di tengah musim kemarau, Winter merasa sangat bahagia karena pada akhirnya dia akan bertemu dengan Arthur.
"Peach! Tunggu!"
"Winter?? Kenapa??" Peach menghentikan langkah kakinya ketika melihat Winter dengan nafas yang tinggal setengah itu. "Kau mengikutiku?"
"Maaf, Winter hanya ingin bertemu Arthur"
"Kenapa??"
Winter terkejut dengan pertanyaan dari Peach. "Apanya yang kenapa? Ini karena Winter belum menemuinya sama sekali, semenjak Winter datang ke asrama ini"
Bibir Peach terbuka, seolah dirinya sedang menghela nafas begitu panjang dan berat. Dia benar-benar lupa, bahwa Winter tidak tahu wajah Arthur saat tak mengenakan gigi palsu dan kaca matanya. Seketika Peach mencoba mengingat-ingat, apakah tadi pagi Arthur mengenakan atribut tersebut atau tidak.
Rasanya dia mengenakannya deh! - Peach.
"Baiklah, kau boleh ikut!" Ucap Peach senang lalu menggandeng tangan Winter.
Kedua gadis itu hampir sampai ke dekat danau, Peach bisa melihat senyuman Winter yang begitu manis ketika menangkap sosok Arthur dari kejauhan.
"ARTHUR!!!"
Peach yang tadinya terlihat senang tiba-tiba tersentak kaget, ketika melihat wajah panik Winter. Gadis itu berteriak kencang dan sangat panik ketika melihat Arthur yang melompat ke arah danau sambil membawa sebuah batu berukuran besar.
Jantung Winter berdegup dengan amat kencang, kakinya secara cepat berlari menuju sebuah jembatan kayu tempat terakhir dirinya melihat Arthur. Nafas Winter tak beraturan ketika melihat permukaan danau yang semakin tenang dan tidak ada tanda-tanda dari Arthur.
"Ya Tuhan!" Winter menyentuh kepalanya dengan kedua tangan, mata gadis itu terlihat berkaca-kaca.
"Hei, tenanglah...." Pinta Peach yang baru saja tiba di tempat kejadian. "Itu tidak seperti----"
...BYURRR!!!...
Peach melipat kedua tangannya di depan dada, gadis itu menggembungkan sebelah pipinya dengan kesal. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Winter sudah melompat ke dalam danau untuk menyelamatkan Arthur yang seharusnya baik-baik saja itu.
"Baiklah, aku rasa aku harus menunggu mereka berdua disini" Penyihir itu lantas duduk dengan amat anggun pada papan kayu tersebut dan mulai berhitung. "Satu.... Dua.... Tiga.... Empat...."
Di dalam air, kedua mata Winter bersinar dengan indahnya, warna mata gadis itu berubah menjadi lebih cerah dan bercahaya. Dirinya segera mencari keberadaan Arthur di tempat itu, tak jauh dari tempatnya, Winter melihat Arthur yang sudah tidak bernyawa. Tubuh pria itu begitu kaku dengan sebuah batu besar di kedua telapak tangannya, bahkan kedua mata Arthur masih terbuka namun sudah tidak ada cahaya yang terpancar disana.
Gadis cantik itu segera berenang mendekati Arthur, ia menyentuh wajah Arthur yang sudah kaku. Tanpa sadar, Winter menitihkan air matanya di dalam air. Gadis itu segera memeluk tubuh Arthur dengan begitu erat, berbeda dengan Arthur yang seolah melihat sosok gadis yang selama ini hanya ia lihat disaat dirinya mendapati kematiannya.
Bibir Arthur sedikit bergerak dan menyebutkan sebuah nama, nama yang tidak sampai terdengar di kedua telinga Winter. Nama yang sangat singkat jika di ucapkan, Fuu.
...KRAKK!!...
Winter melepas pelukannya pada tubuh Arthur disaat kedua telinganya mendengar sesuatu yang retak, benar saja! Kulit Arthur mengalami keretakan yang semakin lama semakin parah. Disaat bersamaan, muncul kepulan asap putih dari celah-celah yang telah retak.
Apa yang terjadi? - Winter.
...BLAARRR!!!...
Kedua mata Winter terpejam ketika kilatan api mulai membakar tubuh Arthur yang telah mati, dibalik api itu Winter dapat melihat dengan jelas Arthur keluar dari tubuhnya yang telah hancur. Pria itu sangat terkejut ketika mendapati keberadaan Winter di dalam air yang tengah melihatnya.
Winter?? - Arthur.
Tanpa aba-aba, gadis cantik itu segera memeluk tubuh Arthur lagi. Dia tersenyum bahagia begitu melihat Arthur hidup kembali. Arthur yang kebingungan dengan reaksi Winter hanya tertegun tanpa membalas pelukan Winter di tubuhnya.
•••••
"Hah.... Hah.... Hah...."
Kedua makhluk berbeda jenis dan gender itu terlihat kehabisan oksigen ketika sudah mencapai permukaan. Di atas sana, Peach mengulurkan kedua tangannya untuk membantu sepasang kekasih yang memang sudah ditakdirkan untuk bersama tersebut.
Arthur merebahkan tubuhnya pada jembatan kayu dan membiarkan paru-parunya menghirup banyak oksigen. Sedangkan Winter tengah di keringkan oleh Peach menggunakan sihirnya.
"Kenapa Arthur melakukan itu?" Tanya Winter tanpa menatap Arthur, jujur saja gadis itu amat kesal dengan tingkah Arthur.
"Melakukan apa??"
"Kenapa Arthur melompat ke dalam danau, bukankah itu terlalu berbahaya?" Winter merangkak mendekati tubuh Arthur.
Gadis itu kini berada sangat dekat dengan Arthur, bahkan dirinya bisa memandangi wajah Arthur dari tempatnya duduk saat ini.
"Aku baik-baik saja" jawab Arthur santai, ia segera duduk dan melepas kaos yang ia kenakan. "Aku ini Phoenix, aku tidak bisa mati begitu saja"
Mendengar jawaban Arthur yang seakan menyepelekan nyawanya membuat Winter tertunduk sedih. Kedua tangan gadis itu terkepal erat, Peach yang berada di belakang mereka berdua tentu saja bisa melihat bahwa Winter sedang menyembunyikan emosinya.
"Arthur benar! Arthur adalah Phoenix, lalu Arthur pikir berapa banyak nyawa yang tersisa setelah Arthur menggunakannya untuk hal yang sia-sia??"
"Apa??" Terkejut, tentu saja Arthur terkejut. Selama ini dia belum pernah mempelajari seluk beluk tubuhnya yang terlahir sebagai Phoenix itu, pria itu lantas memandang ke arah Peach. Sayangnya Peach hanya mengangkat bahunya tidak peduli atau mengatakan bahwa aku tidak tahu.
"Setiap makhluk abadi pasti memiliki kelemahannya masing-masing" gumam Winter lirih. "Apa Arthur yakin, bahwa kesempatan memulihkan nyawa itu tidak ada batasnya?!"
Kedua mata Winter melotot menatap Arthur yang kebingungan, gadis itu terlihat hampir menangis di depan Arthur. "BODOH!! jangan lakukan itu lagi!" Pinta Winter memohon.
Setelah mengatakan kalimatnya, Winter segera berlari pergi dalam keadaan kesal, meninggalkan Peach dan Arthur yang masih diam disana. Kedua mata Peach mengikuti kemana arah Winter pergi sampai gadis itu tak terlihat sama sekali.
"Gadis itu benar!" Peach bertepuk tangan pelan. "Kau memang bodoh!"
...Bersambung!!...
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉