
Zzz....
Zzz....
Zzz....
Rasa pusing menyerang tubuh seorang pria, pria itu terbangun di suatu tempat yang berpasir. Kedua tangannya meraba tempatnya kini berpijak, semuanya adalah pasir. Ia dikelilingi oleh banyaknya pasir pantai, ketika dia menengadahkan kepalanya untuk menatap langit. Tampak aurora berwarna kehijauan terbentang luas di langit malam yang indah.
Pria itu adalah Landon, dirinya dibangunkan pada suatu tempat yang selama ini ingin ia lupakan. Tempat dimana dia gagal untuk menyelamatkan seorang manusia, siapa lagi? Kalau bukan Densha. Dengan kedua matanya sendiri, Landon menatap dua buah mobil yang telah hancur di tepi jalan atau lebih tepatnya tepi jurang.
Pria itu berlari sekuat tenaga menuju pembatas jalan dan menatap deburan ombak dibawah sana. Kedua matanya memicing, berusaha menemukan siluet pria itu di dalam air.
Hati Landon serasa hancur, ia tak berhasil menemukan pria itu. Pria yang ingin dia selamatkan, dirinya menahan bendungan air mata yang kini siap untuk keluar. Langkah penyihir itu amat gontai, ia berjalan menuju suatu tempat, sendirian.
Di depannya kini berdiri puluhan Hydra yang siap menerkam dirinya. Bukan Landon jika tidak marah akan kematian seseorang yang tak berdosa, penyihir itu mengerahkan seluruh sihir yang ia miliki untuk membantai semua Hydra di depan matanya.
Bahkan ia masih sempat untuk menolong beberapa merman yang terluka. Di tempat paling belakang atau lebih tepatnya di depan pintu sebuah Goa, sesosok Dewa berdiri sambil menatapnya penuh kebingungan. Landon memperkenalkan dirinya sebagai teman dari putri Dewa tersebut, ia sangat menyesal karena datang dengan membawa kabar buruk akan kematian suami dari putrinya.
Penyihir itu dipersilahkan memasuki Goa, di dalamnya ia bisa melihat Fuu yang kini tengah menggendong segumpal daging berkulit berwarna merah muda, tentu saja itu adalah bayi dari Fuu.
"T-tuan penyihir??" Gadis duyung itu tersenyum manis. Meskipun begitu, ia masih saja tidak pandai menutupi rasa sakit di hatinya.
"Maafkan aku...."
"Ini bukan salah tuan, tuan tidak perlu meminta maaf"
"Aku tak banyak membantu, aku sangat menyesal" ujar Landon sekali lagi.
"Fuu yang terlalu banyak meminta bantuan kepada tuan penyihir" Senyum di wajahnya menghilang seketika. "Sekarang... Demi bayi ini, Fuu akan hidup"
"Kau yakin??" Landon mengusap kepala Fuu lembut.
"Fuu tidak tahu"
"Aku bukan peramal, akan tetapi kedua putriku adalah penyihir Gemini"
"A-apa maksud tuan??" Fuu menengadahkan kepalanya. "Fuu tidak mengerti"
"Disaat tertentu, kedua putriku tanpa sadar bisa membaca sebuah masa depan" Penyihir itu mengambil bayi Fuu lalu menggendongnya. "Minggu lalu mereka melihat akan ada satu-satunya manusia yang berhasil ber-reinkarnasi menjadi makhluk supernatural"
"Eh??"
"Benar, apa menurutmu itu adalah suamimu?" Landon mengangkat sebelah alisnya. "Hanya kau yang tahu"
Senyuman tipis terukir di bibir gadis cantik itu. "J-jika, itu benar Densha...."
"Hmm??"
"Tuan penyihir, jika itu benar-benar Densha. Tolong bantu Fuu untuk bertemu dengannya" ujar Fuu memohon.
"Um, aku tak begitu yakin nona duyung" Penyihir itu menggeleng pelan. "Bagaimana caramu bertemu dengannya??"
"Jika nanti Fuu yakin bahwa itu adalah Densha, Fuu akan memohon agar kematian mendatangi Fuu"
"Apa kau tidak waras!!" Sergah Landon kesal. "Kau tidak memikirkan bayi ini?!"
"Ryn akan cukup dewasa untuk memahaminya...."
Ucapan Fuu yang begitu menyayat hati masih teringat jelas di kepala tuan penyihir itu. Landon mengembalikan bayi tersebut ke pangkuan ibunya, si nona duyung. Setelah itu, Landon memandang kedua tangannya sendiri yang terasa sakit, ia melihat kedua tangannya berubah menjadi pasir diikuti dengan Fuu yang tersenyum memandang dirinya.
"Hng...."
Kedua mata Landon terbuka lebar, ia memandang langit-langit kamarnya yang terbuat dari papan kayu.
Mimpi?? - Landon.
"Kenapa aku bermimpi seperti ini?" Landon mengusap wajahnya. "Apa mereka berdua sudah bertemu?"
________________________________________
Arthur yang masih berusaha mati-matian menutupi kedua telinga Winter pun dibuat bingung, dengan tingkah gadis yang berdiri di depannya.
"Kau sedang mencari siapa Winter?"
"Ah! T-tidak, bukan apa-apa" Gadis itu lantas memegang kedua tangan Arthur dan menuntun pria Phoenix itu agar segera pergi.
Kedua mata Arthur melebar ketika Winter dengan sengaja menyentuh kedua tangannya, rasa panas dari dalam diri Arthur seakan ingin keluar. Benar saja! Rasa panas itu keluar dan membuat wajah Arthur memerah.
"Arthur?? Bukankah kau mengenakan jaket dengan Hoodie?" Winter mendongak ke atas untuk menatap wajah Arthur. "Bisakah kau meminjamkannya padaku?"
Tak menjawab, Arthur malah bengong memperhatikan Winter yang terlihat cantik dengan rambut panjangnya yang terurai.
"Hei!!"
"........."
"Arthur!!" Tekan Winter sedikit keras. "Bisakah Winter meminjam jaket Arthur??"
D-dia..... - Arthur.
Nyut!
Kedua mata Winter terbelalak ketika Arthur melepas kedua tangannya dari kepala Winter, segera gadis itu menutupi kedua telinganya dengan tangannya sendiri. Dia melihat Arthur yang seperti menahan rasa sakit di kepalanya.
"W-winter, kau menyebut dirimu sendiri dengan sebuah nama??" Tanya Arthur terbata-bata. "A-apa aku tidak salah dengar??"
Astaga! Apa dia akan membenciku? - Winter.
"T-tidak, kau salah dengar!!" Winter melirik kesana-kemari. "Ada apa dengan kepalamu? Apa kau sakit??"
Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba kepalaku pusing begini? - Arthur.
"..........."
"Baiklah, aku rasa sebagai teman seharusnya tidak ada kebohongan diantara kita" ucap Winter kemudian.
"A-apa maksudmu??" Arthur serius memandang Winter.
"Winter memang menyebut diri sendiri dengan sebuah nama" Winter menunduk sedih, dengan kedua tangan yang masih menutupi kedua telinganya. "Ini adalah Winter yang sesungguhnya, selama ini Winter berusaha untuk merubahnya karena pembullyan yang sering Winter alami"
"Maaf...." Imbuh Winter pelan.
GRAB!!
Kedua mata Winter membulat saat Arthur secara tiba-tiba memeluk dirinya di depan umum, gadis itu merona merah menahan malu tapi entah mengapa di dalam hatinya ia sedikit bahagia akan perlakuan Arthur kepadanya.
Tak jauh dari sana, Peach tersenyum bahagia sambil bertepuk tangan. Segera penyihir itu pergi meninggalkan mereka berdua dan kembali ke asrama.
"Semoga hari ini akan menjadi awal yang baik bagi mereka berdua!" Ucap Peach bahagia.
Setelah sadar bahwa dirinya memeluk Winter tanpa ijin, Arthur segera melepas pelukan tersebut dan membungkukkan badan untuk meminta maaf kepada gadis cantik di depannya.
"M-maaf...." ucap Arthur dengan pipi yang merona.
"Mmm..." Winter tak kalah merona dengan Arthur. "A-arthur tidak membenci Winter? A-atau mungkin jijik kepada Winter?"
"Tidak, untuk apa aku bertingkah seperti itu??" tanya balik Arthur yang hanya mendapat gelengan kepala dari Winter.
'Aku yakin, reinkarnasi ku sekarang ini akan lebih menyukai dirimu yang sebenarnya'. Tiba-tiba saja Winter teringat ucapan Densha pagi tadi terhadapnya.
Densha?? - Winter.
...BERSAMBUNG!!...
Halo, terima kasih! Jangan lupa untuk klik tombol Like, Komentar, Follow, Favorit dan Vote ya? Terima kasih! 😘