
"Ck! Bagaimana ini? Arthur tidak mau datang kesini" ucap Pink sembari mondar-mandir di depan pintu lab. Peach mengamati saudara kembarnya itu sampai jenuh, dipikir bagaimanapun juga Arthur pasti datang karena penelitian mereka berdua ada sangkut pautnya dengan Arthur.
"Dia pasti datang!"
Pink berjalan mendekati Peach, ia menatap kesal dengan mata yang melotot seolah bertanya 'mana?'.
KLAP!!!
(Suara pintu terbuka)
Dibalik pintu yang terbuka sedikit, Arthur memasukkan kepalanya terlebih dahulu sambil celingak-celinguk tanpa memasang wajah yang penuh berdosa. Bukankah dia yang tadi menolak tawaran Pink? Untuk datang dengan alasan sedang sibuk.
"Hehehe, aku datang! Karena kalian berdua membuatku penasaran" ujar Arthur sambil menutup pintu lab pelan-pelan.
Kini giliran Peach yang melempar pelototan matanya kepada Pink, tatapan Peach tersebut dibalas dengan senyuman Pink yang super manis. Gadis penyihir itu lantas menepuk bahu Peach dan mengucapkan kata maaf.
"Nah! Ngomong-ngomong apa yang ingin kalian tunjukan kepadaku?"
"Ah! Soal itu...." Pink menarik pergelangan Arthur dan membawanya ke sebuah meja. "Ini...."
Arthur membungkukan badannya untuk mengamati seekor makhluk berbentuk aneh di dalam aquarium kaca, ukuran makhluk itu tak begitu kecil, kira-kira seukuran dengan binatang landak. Pria itu kembali menatap putri kembar profesor Shagasemi dengan tatapan bingung.
"Uh---- Oke..." Arthur kembali berdiri tegap, ia mengangkat kedua bahunya. "Apa ini?"
"Untuk itu, biar Peach yang menjelaskan! Ini memang ideku, tapi Peach lah yang telah bekerja keras untuk ini" Pink mendorong punggung Peach untuk maju ke depan Arthur. "Ayo Peach, jelaskan padanya!"
"Umm, Ini....."
Penjelasan demi penjelasan diucapkan oleh Peach, awalnya Arthur terlihat bingung menerima penjelasan dari Peach. Namun ketika Peach memperinci kata-katanya dari awal ia dan Pink memulai penelitian tersebut, Arthur mulai menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
"Jadi aku...." Tanpa meneruskan kalimatnya, Arthur menatap kedua putri profesor dengan mata yang bersinar.
"Itu benar!" Jawab Pink dan Peach secara bersamaan. Kedua penyihir itu saling melempar pandangan satu sama lain lalu tersenyum.
_______________________________________
3 days later~
Winter melangkahkan kedua kakinya menuju lapangan, tempat dimana arena pertarungan di selenggarakan. Jantung gadis itu berdegup dengan kencang, entah mengapa kedua kakinya terasa lemas dan enggan menuju ke tempat itu. Seolah dirinya sudah tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir hidupnya.
"Winter!" Peach berlari untuk mengejar Winter yang belum jauh meninggalkan asrama, wajah Peach terlihat sedih ketika tahu bahwa Winter akan menuju arena seorang diri.
Senyuman tipis terukir di bibir ranum milik Winter. "Peach??"
"Astaga! Apa kau akan kesana seorang diri?"
"Memangnya dengan siapa lagi?" Winter menundukkan kepalanya dengan sedih. "Winter tidak punya teman disini, dan lagi Arthur sudah membenci Winter"
"Apa??" Kedua mata Peach membulat lebar. "Kau bicara apa??"
"Malam itu, Winter mengutarakan isi hati Winter...."
"I-isi hati??" Rona merah menyembul di kedua pipi putih Peach. "K-kau?? Menyatakan cinta??"
Winter menganggukkan kepala pelan, "Begitulah... Tapi sepertinya Arthur tidak menyukai Winter"
"I-itu tidak mungkin!"
"Arthur bilang, Winter harus mengenalnya lebih dalam lagi" ucap Winter lirih. "Dia bilang bahwa Winter tidak tahu apapun tentang dirinya"
Peach memutar kedua bola matanya dengan kesal, penyihir itu sedang memaki-maki pria Phoenix di dalam hatinya. Bisa-bisanya Arthur malah main kucing-kucingan seperti ini kepada Winter. Jelas-jelas mereka sudah ditakdirkan untuk bersama, tapi memang sikap Arthur tidak salah juga. Mengingat Winter sendiri yang bilang bahwa dirinya tidak menyukai Densha.
"Oh iya, aku kemari untuk menemanimu" ucap Peach sambil tersenyum.
"Wah! Terima kasih!" Tanpa sungkan, Winter langsung memeluk tubuh Peach dengan begitu erat.
"Ehem!"
Seseorang yang sedang berdeham mengagetkan kedua gadis itu, mereka sangat terkejut dengan kehadiran Pink di dekat mereka berdua. Mata Peach seolah tersenyum mendapati saudari kembarnya berada disana.
Pink mengangkat tangan kanannya, mengisyaratkan agar Peach diam dan tidak banyak bicara. "Aku juga akan ikut menemanimu!"
"A-apa??"
"Sebagai informasi, aku adalah putri dari kepala sekolah di asrama ini. Aku tidak ingin para serigala itu melakukan tindakan curang dalam pertandingan nanti, tapi ini tak berarti bahwa aku peduli padamu"
"Uh---- Oke, baik!"
Pink menatap saudari kembarnya sambil mengangkat sebelah alisnya, gadis itu menunjuk-nunjuk ke arah Winter dengan kedua matanya.
"Oh iya! Hampir lupa" Peach segera merogoh saku jaketnya, penyihir itu menyerahkan sebuah botol kaca kecil kepada Winter. "Ini Winter, minumlah"
Winter kelagapan menerima botol tersebut, pandangannya terlihat membingungkan. Ia menatap ke arah botol kecil di kedua tangannya dan putri kembar profesor secara bergantian.
"A--apa ini??"
"Sudahlah minum saja!" Perintah Pink tegas, gadis itu lantas berjalan melewati Peach dan Winter.
Tak jauh ia melangkahkan kakinya, Pink kembali berbalik. "Oh iya! Apa kau tidak memberitahu Arthur bahwa sekarang kau ada pertandingan untuk masuk ke dalam kelompok?"
"Su-sudah, tapi sepertinya Arthur tidak akan datang"
Apa?? - Pink.
Di dalam kamarnya, Arthur terlihat begitu gelisah. Pria itu duduk bersandar di ranjangnya, kepalanya menatap ke atas langit-langit kamarnya. Kedua tangan Arthur terlihat bergerak-gerak tak karuan, memperlihatkan bahwa dirinya benar-benar tidak tenang.
"Apa aku datang saja ya?" Gumam Arthur seorang diri. "Tidak! Tidak!" Arthur menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Astaga! Apa yang harus aku lakukan?" Rengek Arthur kesal. Pria itu lantas membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tatapan matanya penuh dengan kesedihan, pikirannya saat ini hanya tertuju kepada Winter.
Aku yakin Winter pasti bisa! - Arthur.
Peduli tapi tidak ingin terlihat peduli, itulah Arthur. Pria dengan banyak kekurangan untuk menyampaikan isi hatinya, di dalam hatinya ia juga sangat menyukai Winter apalagi Winter telah digariskan untuk menjadi jodohnya. Arthur kembali berdiri dan mondar-mandir di belakang pintu kamarnya, dia begitu gelisah memikirkan pertandingan yang akan dihadapi Winter hari ini.
•••••
Prok!
Prok!
Prok!
Suara tepuk tangan dan hiruk pikuk penonton di arena pertandingan terdengar memekikkan di telingan Winter, Peach menutup hidungnya rapat-rapat ketika bau-bau khas para pria serigala yang jarang mandi tercium oleh hidungnya.
Pink lantas mengeluarkan sihir untuk mematikan indra penciuman dirinya dan saudari kembarnya. Peach segera bernafas lega tepat setelah sihir itu bekerja ditubuhnya. Ketiga gadis itu memasuki arena, banyak sekali gadis serigala yang menatap ke arah mereka bertiga dengan tatapan tidak menyenangkan.
"Astaga! Siapa yang mengundang para penyihir ini?" Ucap salah seorang.
"Jangan dengarkan anjing menggonggong Peach!" Sahut Pink tak kalah sewotnya. Ia menatap gadis serigala yang meledeknya tadi dengan berani. "Kadang mereka tak menggunakan otaknya saat bicara!"
Mendengar ledekan Pink, gadis serigala itu segera berdiri dan seakan ingin menyerang putri Profesor Shagasemi. Namun amarahnya berhasil diredam oleh seseorang yang duduk bersebelahan dengan dirinya.
"Tenanglah Flo!!" Orang itu lantas menarik temannya agar segera kembali duduk. "Kau adalah pasangan dari Alpha saat ini, kau tidak ingin Alpha mencampakkanmu kan?"
"Ck!!"
Peach hanya tersenyum kecil mendapati gadis itu tak bisa berkutik, sejujurnya ia sedang mengejek si gadis serigala itu. Memangnya apa untungnya menjadi pasangan Alpha yang doyan main panas dengan gadis lain? Ren memang terkenal dengan label suka berganti-ganti pasangan ketika ia sudah dalam puncaknya untuk berhubungan.
"Winter?" Pink menoleh ke arah Winter yang sedari tadi menundukkan kepala. "Tegapkan kepalamu! Menang atau kalah yang penting kau sudah berusaha"
".........."
Sejujurnya... Winter takut untuk mati... - Winter.
...Bersambung!!!...
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉