
Cahaya oranye matahari di sore hari menembus pepohonan hutan yang rindang. Dari posisinya berdiri saat ini, Arthur bisa melihat dengan jelas bayangan tubuh Winter yang tak mengenakan apapun meskipun gadis itu sedang bersembunyi di balik pohon.
Bayangan dada gadis itu yang bulat dan berisi membuat darah di kepala Arthur mendidih, seketika pria itu merasakan sensasi tidak nyaman di tubuhnya. Perasaan ingin dan jantungnya yang berdetak kencang bertolak belakang dengan rasa takut di hatinya.
Ya Tuhan! Apa yang terjadi padaku? - Arthur.
Hal itu wajar, karena sejatinya Arthur adalah remaja pria yang normal. Setelah Winter mengenakan semua pakaiannya, ia muncul dari balik pohon dengan rambutnya yang panjang jatuh terurai.
"Kenapa melihat seperti itu?" Winter mengangkat kedua tangan dan hendak menguncir rambut panjangnya.
"Jangan!" Kata itu keluar begitu saja dari bibir Arthur. "K-kau terlihat cantik saat rambutmu terurai"
Rona merah menyembul di kedua pipi Arthur, bukan hanya dia yang memiliki rona tersebut. Winter tak kalah merahnya dengan Arthur saat ini, gadis itu mengangguk dan membuang ikat rambutnya ke sembarang tempat.
"Jika Arthur bilang begitu, maka Winter tidak akan menggunakan ikat rambut lagi"
"Ah! Ma-maaf, apa itu mengganggumu?"
"Tidak" Winter menggeleng pelan, ia berjalan mendekati Arthur tanpa mengenakan alas kaki. "Kenapa Arthur datang kesini?"
Arthur mengusap belakang lehernya. Sejujurnya ia tidak tahu kenapa dia datang ke tempat itu dan menemui Winter, ia hanya sedang berpikir kalau mungkin saja Winter memerlukan teman dalam melakukan latihannya.
"Aku dengar kau akan masuk ke dalam kelompok, dan untuk itu kau harus melawan salah seorang Werewolf pilihan Alpha" ujar Arthur pelan, pria itu duduk disebuah batu dan meminta Winter untuk duduk di sampingnya. "Apa sekarang kau sedang berlatih?"
Winter tersenyum tipis, ia menengadahkan kepalanya untuk melihat langit yang tertutup ranting-ranting pohon. "Begitulah.... Winter bahkan tidak pernah bertarung dengan sesama serigala sebelumnya"
"Tapi kau pernah menghabisi sekelompok remaja nakal untuk menyelamatkanku" tanpa sengaja Arthur menyentuh bahu Winter, membuat gadis itu tersentak kaget dan menoleh ke arah dirinya. "Ah, maaf...."
"Apa Winter akan mati?"
"Apa??"
Satu pertanyaan dari bibir Winter membuat Arthur benar-benar terkejut dan hampir tidak bisa berkata-kata. Pria itu menatap Winter dengan pandangan bingung dan tidak mengerti.
"Profesor itu bilang bahwa pertarungan ini mempertaruhkan nyawa, jika Winter menang maka Winter akan diterima ke dalam kelompok tapi jika Winter kalah....."
"Kau akan mati" Sahut Arthur, gadis cantik di sampingnya tertunduk sedih memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi menimpa dirinya. "Aku yakin kau bisa Winter, jangan berpikir buruk terlebih dahulu"
"Bagaimana??" Winter menatap Arthur, kedua mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Selama ini Winter memendam apa yang ia pikirkan seorang diri, meskipun perasaannya begitu sakit dia tak pernah membaginya dengan siapapun. Tak ada satupun orang di asrama yang benar-benar bisa diajak berbagi cerita.
"........"
"Tidak bisakah Winter pergi saja dari tempat ini? Winter tidak berniat untuk memasuki kelompok itu, Winter akan lebih baik jika kembali ke kehidupan normal Winter meskipun itu sangat sulit!!" Cerocos Winter tak karuan.
"BAHAYA YANG MENGANCAM??" Winter ikutan berdiri dan menatap kedua mata Arthur sambil melotot. "Satu-satunya bahaya yang Winter hadapi saat ini adalah Werewolf di sekolah ini, jika saja Winter tidak memasuki asrama ini mungkin saja hidup Winter akan baik-baik saja!"
Tenggorokan Arthur tercekat, pria itu menggelengkan kepalanya pelan dengan masih melihat Winter yang kini menangis di depannya. Kedua tangan Arthur terkepal erat, menahan rasa sesak di dadanya.
"Apa kau menyesal bertemu denganku?" Tanya Arthur dengan nada yang begitu berat.
"Apa??" Winter menengadahkan kepalanya memandang pria culun di depannya. "Bu--bukan...."
"BUKAN BAGAIMANA?!" Teriak Arthur kesal. "Awal mula kau bisa berada di asrama ini karena kau mengenalku! Harusnya kau membiarkan para siswa nakal itu memukuliku habis-habisan! Kenapa kau mengijinkan aku berdansa denganmu? Kenapa kau datang untuk menolongku? Dan kenapa kau menciumku waktu itu?!"
Tubuh Arthur terasa panas, dia sadar betul bahwa saat ini emosinya sedang tidak terkendali. Bahkan Arthur bisa merasakan uap panas keluar dari kedua telapak tangannya. Pria itu melangkah pergi dengan melempar tatapan jengkel kepada Winter, gadis yang ditakdirkan untuk bersama dengan dirinya.
"Winter menyukai Arthur...." Gumam Winter lirih, suaranya begitu lirih di tengah hutan buatan yang cukup luas.
Air mata mengalir pelan di kedua pipi mulus Winter, gadis itu tertunduk sedih sambil memandangi kedua kakinya sendiri. Tanpa disadari, langkah kaki Arthur terhenti, sepertinya pria itu mendengar ucapan Winter yang begitu pelan tersebut.
"Apa kau bilang sesuatu?" Tanya Arthur tanpa menoleh ke belakang untuk sekedar menatap gadis di belakangnya.
"Winter menyukai Arthur" ulang Winter sekali lagi.
Kedua mata Winter mendelik, ketika melihat pria itu berbalik dan menampilkan raut wajah yang seakan meremehkan perasaannya. Seringai tipis muncul di bibir Arthur yang membuat Winter semakin berdegup melihatnya.
"Kau salah orang Winter!"
"........."
"Kau tidak benar-benar mengenalku, dan kau tidak benar-benar menyukaiku!" Ujar Arthur tegas. "Kau harus mengenalku terlebih dahulu untuk menyukaiku..."
"T-tapi...."
"Selama ini aku selalu berada di dekatmu, yang kau lihat ini palsu! Jika kau sudah menemukanku, datang dan katakan lagi padaku apakah kau sungguh-sungguh menyukaiku atau tidak!" Dengan wajah yang dingin, Arthur pergi meninggalkan Winter seorang diri.
A-apa maksudnya? - Winter.
Gadis cantik itu berteriak kencang di tengah hutan yang sepi, dia berpikir bahwa dirinya telah ditolak oleh orang yang ia sukai tanpa alasan yang pasti. Winter menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa mengerti maksud dari perkataan Arthur. Gadis itu jatuh terduduk diatas tanah sambil menangis sesenggukan. Winter hanya ingin mengungkapkan perasaannya, mengingat dirinya sebentar lagi akan mempertaruhkan nyawanya dalam permainan yang tidak ia ketahui. Bagaimana jika nantinya dia tidak akan memiliki waktu untuk mengungkapkan rasa sukanya pada Arthur?
Cih! Menyukaiku apanya? Kau bahkan tidak bisa mengenaliku dengan baik tanpa perlengkapan culun ini! Kau bahkan membenci sosok ku sebagai Densha! - Batin Arthur kesal.
...BERSAMBUNG!!...
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉