
"Baiklah! Di sisi kanan sudah ada petarung handal kelompok kami, lalu di sisi kiri..." Seorang pria dengan perawakan gagah memandang Winter hanya dengan sebelah mata. Jelas saja begitu, karena tidak mungkin gadis mungil itu bisa menang melawan lawannya kali ini.
"Hei, siapa nama gadis itu?" Tanyanya dengan nampang tak begitu peduli.
Seseorang yang menjadi lawan Winter berjalan mendekati MC, dia membisikkan sesuatu ke telinga sang MC, sesuatu yang tak lain adalah nama Winter.
"Baiklah... Di sisi kiri kita mempunyai gadis ringkih bernama Winter" ledeknya ketus yang malah mendapatkan sorak-sorai dari para penonton, tentu saja penonton Serigala.
Peach mendecak kesal, dia melipat kedua tangannya di depan dada sambil memelototi sang MC, penyihir itu tidak terima jika temannya menjadi olok-olokan suatu kelompok berbulu tersebut.
"Cih! Kenapa mereka saling meledek satu sama lain? Bukankah mereka adalah makhluk yang sama?"
Pink yang melihat saudari kembarnya jengkel, hanya bisa menggeleng pelan dan menepuk punggung tangan saudaranya. "Karena mereka adalah binatang! Setengah pikiran mereka dikendalikan oleh sifat hewani mereka"
"Aku tidak suka acara seperti ini!" Omel Peach kesal.
"Aku juga" sahut Pink santai. "Tapi kita disini karena kita ingin menyelamatkan nya kan?"
Peach tertegun mendengar jawaban saudarinya, gadis itu merasa bingung dengan sikap Pink yang berubah. Setahu dirinya Pink sangat menyukai Arthur, jika memang ada kesempatan untuk menghilangkan Winter lalu kenapa Pink malah ingin menyelamatkan nya?
PRIIITTTTT!!!!
Peluit panjang tertiup dengan nyaring, tanda pertandingan sudah di mulai. Masing-masing peserta melucuti pakaiannya satu persatu, lawan Winter adalah seorang pria bertubuh gempal, tinggi dan berotot. Gadis cantik itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, sungguh tidak mudah untuk melawan Serigala gemuk seperti itu.
Mereka berdua diberi kesempatan untuk merubah wujud mereka menjadi Serigala sebelum bertarung, di bangku penonton, Pink dan Peach terus memperhatikan Winter sambil berharap-harap cemas. Kedua gadis kembar itu berusaha menyemangati Winter meskipun suara mereka akan kalah keras dengan penyemangat musuh.
"Jangan khawatir Peach" ujar Pink menenangkan.
Pada lain tempat, Arthur berlarian menelusuri lorong asrama. Phoenix itu berubah pikiran dan memutuskan untuk datang ke pertandingan Winter, dengan langkah yang amburadul, Arthur menabrak setiap siswa yang lalu-lalang di tempat itu.
Kali ini, Arthur datang tanpa mengenakan atribut culunnya. Jika nanti Winter memenangkan pertandingan itu, Arthur akan menyatakan identitas aslinya di depan gadis yang merupakan reinkarnasi dari jodohnya di masa lalu.
Akan aku katakan dengan lantang, bahwa aku adalah Densha! Bukan, maksudku aku adalah Arthur... Densha dan Arthur adalah orang yang sama - batin Arthur.
Dari luar, suara tepuk tangan nan meriah terdengar di kedua telinga Arthur. Pria Phoenix itu segera memasuki arena pertandingan, dia mencari-cari keberadaan putri Profesor dan hendak menanyakan kabar Winter. Namun dilain sisi dirinya sudah dikejutkan dengan Auman seekor Serigala berbulu abu-abu.
Arthur jatuh terduduk diatas tanah, kedua matanya menatap nanar ke arah binatang berbulu tersebut. Dia adalah Winter, Serigala cantik yang menarik perhatiannya. Kali ini, binatang itu tak terlihat cantik ketika luka robek pada lehernya terbuka lebar. Kedua mata Serigala itu kehilangan sinarnya, nafasnya sudah terlihat di ujung tanduk. Tubuh binatang malang itu tersungkur diatas tanah dan bersimbah darah di sekujur tubuhnya.
Tak terasa, air mata menetes dari kedua mata Arthur. Tangan kanannnya terangkat dan menyentuh dadanya sendiri, tepat dimana jantung berada. Arthur merasakan rasa sakit yang begitu besar pada seluruh tubuhnya, seolah-olah dia juga ikut merasakan rasa sakit yang di alami oleh Winter.
Kedua mata Arthur berkunang-kunang, seluruh pandangan Phoenix itu terasa buram seketika. Dan dalam hitungan ketiga, Arthur sudah kehilangan keseimbangan tubuhnya.
BRUKKK!!!
Winter.... - Arthur.
______________________________________
Peach dan Pink berdiri diam mematung di depan sebuah jasad, kedua penyihir itu terus menatap ke arah mayat di depannya. Sesekali mereka berdua juga saling melempar pandangan ke satu sama lainnya.
Tak berapa lama, Landon datang menghampiri kedua putrinya. Pria itu menatap heran kepada Pink dan Peach, karena tanpa sepengetahuan nya, kedua putrinya itu sudah melakukan penelitian yang tak ia ketahui.
"Ayah! Bagaimana Arthur??" Pink menghujani Landon dengan satu pertanyaan ketika ayahnya baru saja tiba.
"Aku rasa sebentar lagi...."
Kepulan asap putih menyelimuti tubuh seekor binatang, benar! Binatang itu adalah sosok Serigala dari Winter yang telah tiada beberapa saat yang lalu. Tubuh Winter begitu kaku karena sudah menjadi mayat.
Api mulai muncul dari tubuh Winter, membuat Pink, Peach dan Landon berjalan mundur dari tempatnya sekarang. Ketiga penyihir itu menatap kagum dengan apa yang terjadi di depan mereka.
KRAK!!
KRAK!!
KRAK!!
"Astaga..." Pink membungkam bibirnya sendiri tidak percaya. "Ki--kita berhasil?"
Peach tersenyum bahagia, dia menganggukkan kepala pelan lalu memeluk tubuh Pink dari arah samping, di sisi lain Landon turut senang dengan hasil kinerja kedua putrinya.
"Bagaimana bisa kalian memikirkan cara ini?" Tanya Landon dengan penuh penasaran.
KRAKK!!
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Winter terbatuk-batuk ketika dirinya sudah sadar betul dari keadaannya saat ini, gadis cantik itu melihat ke kanan dan ke kiri lalu menatap ketiga penyihir di depannya.
"A---apa yang terjadi??"
Pertanyaan Winter malah mendapat pelukan dari Pink dan Peach, entah mengapa kedua saudari kembar itu sangat bahagia dengan kebangkitan Winter yang jelas-jelas sudah mati beberapa waktu yang lalu.
Winter memandang bingung kepada dua putri profesor. "T--tunggu! Bukankah Winter sudah mati?? Tadi...."
Belum sempat gadis cantik itu mengutarakan kalimatnya, Pink sudah menutup bibir Winter dengan jari telunjuknya. Penyihir itu menggelengkan kepala pelan lalu menunjukkan sebuah botol ramuan, itu adalah botol yang sama dengan botol ramuan yang diminum Winter sebelum pertandingan dimulai.
"Sebenarnya, di dalam botol ini berisi DNA dari Arthur" ungkap Pink dengan wajah serius. "Aku mendapatkan ide ini setelah aku tahu bahwa rambut Arthur tidak mati walaupun terlepas dari kepalanya"
"?????" Winter mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Maksudku, rambut Arthur tak berubah menjadi batu ataupun hancur setelah aku mengambilnya. Ini berarti bahwa masih ada cara lain untuk menyelamatkan mu dari kematian"
Winter semakin bingung mendapatkan penjelasan dari Pink. "Bukankah Pink tidak menyukai Winter? Lalu kenapa Pink melakukan semua ini?"
"Aku memang tidak menyukaimu" ceplos Pink asal, hal itu membuat Peach dan Landon memandang ke arah dirinya. "Tapi aku tidak suka jika ketidakadilan terjadi di sekolah ini, sekolah yang sudah dibangun oleh ayahku dengan susah payah"
"Dan lagi...." Pink melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak bisa membiarkan saudari kembarku bekerja sendirian memikirkan gadis yang bahkan tidak tahu berterimakasih"
"A--apa?? Winter tidak begitu!"
"Saat ini pasti Arthur juga sudah sadar, apakah kau ingin menemuinya?" Landon menyela obrolan para gadis di depannya.
Gadis cantik itu terdiam sejenak, dia berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir. Dia tahu betul bahwa sebelum ini, Arthur berkata tidak ingin menemui dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa menemui Arthur setelah mendapatkan bantuannya.
"Meskipun Winter kalah... Apakah Winter masih di terima di sekolah ini?"
"Tentu saja!" Sahut Landon tegas. "Tapi mungkin saja kau tidak bisa masuk ke dalam kelompok"
"Kalau begitu sebaiknya Winter pergi" ungkap Winter tenang. "Sudah tidak ada lagi yang perlu Winter lakukan di tempat ini, Winter tidak punya siapapun disini"
"Hei, kau tidak menganggap Peach sebagai temanmu?" Tanya Pink kesal. "Astaga! Gadis ini benar-benar gila!"
"Tidak, bukan begitu! Winter juga tidak ingin menemui Arthur..."
"Kenapa??" Pink dan Peach bertanya secara bersamaan. Bahkan Landon juga terkejut dengan pernyataan dari Winter.
Winter menundukkan kepalanya, kedua tangannya terkepal erat disamping kiri dan kanan badannya. "Sebelum Winter mati, sekilas Winter melihat Densha datang ke tempat itu..."
Itu Arthur bodoh!! - Pink.
"Wajah Densha begitu sedih, Winter ingin belajar menerima Densha" kedua mata Winter menangkap raut terkejut dari ketiga penyihir di depannya. "Itu benar! Maka dari itu, Winter ingin pergi sebentar dan akan datang lagi setelah Winter bisa benar-benar menerima Densha"
Landon menepuk jidatnya dengan kesal, pria penyihir itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Entah apa yang dilakukan para remaja di depannya ini, dia juga merutuki Arthur di dalam hatinya.
Aku bisa benar-benar gila menghadapi kasus percintaan remaja seperti ini! - Landon.
...BERSAMBUNG!!...
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉