
"Aku bukan Tribrid!" Ucap Winter keras, gadis cantik berstatus Werewolf itu kini sedang bermeditasi di dalam sebuah reruntuhan bangunan tua. Yaa benar! Bangunan tua, Winter terjebak di dunia aneh itu sendirian semenjak Justin ditarik kembali oleh Si kembar.
Winter sendiri juga bingung dan tak memiliki alasan yang kuat mengapa dirinya tidak bisa ikut kembali, mungkinkah ada sesuatu dari diri Winter yang diinginkan oleh para makhluk di dunia ini.
"Winter dengarkan aku, carilah tempat aman selagi kami memikirkan cara untuk membawamu kembali!"
Suara Peach terdengar khawatir dari dimensi yang berbeda, Winter membuka kedua matanya menyudahi aksinya berbicara dengan Peach melalui gelombang sihir. Gadis cantik itu menempelkan punggungnya pada dinding, ia menatap sekitar, semuanya gelap dan lembab. Tak disangka ditempat gersang seperti ini, masih ada tempat yang lembab.
Kedua mata Winter tertuju pada gelang yang ia kenakan, gadis itu terhenyak kaget hingga membuat tubuhnya berdiri. Kini ia tahu, mengapa dia tidak bisa kembali? Winter memiliki darah Tribrid pada gelang yang ia kenakan, mungkin hal itu juga yang membuat dirinya tidak bisa memasuki gerbang asrama pada dimensi ini.
"Aku yakin bahwa Arthur ada di tempat itu..." Gumam nya lirih.
KRATAK!!!
TAK!!
Puing-puing kecil bangunan berjatuhan bebarengan dengan suara telapak kaki di atas bangunan kecil itu, mendadak jantung Winter berdegup kencang. Jelas bahwa ini bukan suara langkah kaki seorang manusia, langkah ini terdengar begitu besar dan berat, takut? Itulah yang dirasakan gadis cantik itu saat ini.
"Ya Tuhan... Jadi benar, semua makhluk disini bisa merasakan kehadiran gelang ini"
Langkah kaki yang berat itu samar-samar menghilang, Winter bernafas lega. Jujur saja! Saat ini ia tidak berani keluar, tapi jika dia tidak keluar dari tempat itu, Bagaimana Arthur akan ketemu. Di dalam sana, Winter berjalan kesana kemari memikirkan keputusan yang sangat berat.
Tidak masalah jika dirinya tidak bisa terluka di dunia itu, tapi sayangnya tubuh Winter di dimensi lain ikut terluka jika dirinya terluka di tempat itu. Dan anehnya para makhluk dan Dewa di tempat ini bisa melihat Winter, tidak seperti penjelasan si kembar sebelumnya.
KRAKKKK!!!
Lantai tempat Winter berpijak tiba-tiba terbuka, sepetak lantai itu jatuh ke bawah tanah menampilkan anak tangga menurun dengan cahaya oranye nya. Winter terkejut, tapi rasanya ada seseorang yang sedang ingin menunjukkan sesuatu kepada Winter.
Tanpa pikir panjang, Winter melangkahkan kedua kakinya ke arah tangga menurun itu, terdengar samar-samar suara seseorang yang nampak begitu kasar memanggil namanya. Kedua mata Winter terus terjaga menatap hal sekitarnya, semakin ke bawah ia merasa semakin panas, mungkinkah ini tangga untuk ke Neraka.
Berikan padaku~
Kau memiliki sesuatu yang ku inginkan~
Berikan padaku, maka ku beri puteraku~
Kepala Winter celingak-celinguk kesana-kemari ketika suara-suara itu terdengar di kedua telinganya, Winter mencoba mencari tahu siapa yang sedang bicara padanya lewat bisikan-bisikan tersebut.
Kau tak akan pernah bisa melihatku~
Tapi, aku selalu bisa melihatmu~
Berikan padaku, maka ku beri puteraku~
"Putra apa?!" Ucap Winter kemudian, gadis itu tak meneruskan langkahnya untuk menuruni anak tangga. Dia lebih penasaran dengan kata-kata putera yang di maskud suara tersebut.
Kau tak tahu~
Bagaimana mungkin kau tak menyadarinya~
Bukankah kau penasaran darimana Phoenix itu berasal~
Kedua mata Winter terbuka lebar. "Arthur?!"
Benar~
Dia lah putera dari raja penguasa bawah~
"A-apa maksudnya?" Winter mencoba berbalik arah, namun sayang... Anak tangga itu menghilang, satu-satunya yang bisa Winter lakukan hanyalah menuruni anak tangga yang entah akan membawa dirinya kemana.
Hades adalah ayah kandung dari Phoenix~
Sejarah telah menghapusnya~
Berikan~
Ku mohon, berikan padaku~
"Bisakah kau menjawab pertanyaan ku ini? Jika bisa, maka aku akan memberikan apa yang kau mau" Wajah Winter nampak datar, entah benar atau tidak bertanya pada makhluk itu saat ini. "Jika memang Arthur adalah putera dari Dewa penguasa bawah, lalu bisakah dia dan aku bersama?"
Tak ada suara jawaban, sepersekian detik Winter menunggu. Sudut bibir Winter menungging, ia mencemooh suara yang tadi begitu berisik tiba-tiba hilang begitu saja ketika mendengar pertanyaan darinya.
"Kau tidak bisa menjawabnya?"
Kau adalah kunci dunia bawah~
"Heum? Apa??"
Sedangkan dia adalah putera dunia bawah~
"Sebenarnya kau ini ingin mengatakan apa?!"
KRAKKK!!!
Winter jatuh setelah anak tangga yang ia pijak tiba-tiba runtuh, tubuhnya jatuh di ketinggian yang tidak bisa dikira, kedua mata Winter terpejam, mencoba menerima takdir yang akan menimpanya setelah ini.
Eh? - Winter.
Tubuh Winter melayang-layang sebelum ia mencapai dasar, setelah kedua matanya terbuka, gadis itu jatuh ke atas tanah dengan cukup keras. Beruntung dia dibantu oleh sihir seseorang, sehingga tak terluka parah saat terjatuh.
"Untung aku datang tepat waktu!" Ucap Peach datar. "Aku tidak bisa mengirim Justin, Ayah memerlukan bantuan nya disana"
"Terima kasih Peach!" Winter segera berdiri. "Apa kau mendengar sesuatu sebelum aku terjatuh?"
Peach menyibak rambut panjangnya ke telinga, ia menggeleng pelan setelah berhasil tak mendengar apapun, ia menatap Winter heran. "Mendengar apa?"
"Begini, apa kau tahu jika Arthur adalah putera Hades?"
Peach menggeleng. "I-ini informasi yang harus kita sampaikan pada Ayah, dari dulu yang kami tahu Arthur adalah yatim piatu, sama seperti mu"
"Apa?! Jadi suara itu benar..."
"Suara apa?" Tanya Peach bingung. "Daripada itu, sebenarnya kita ini dimana? Aku tak ingat ada tempat seperti ini di dunia yang aku buat dengan saudariku"
Peach dan Winter menyusuri tempat aneh itu lebih dalam, semakin dalam semakin panas. Sepertinya dugaan Winter benar, bahwa mereka sebenarnya sedang menuju ke dunia bawah, atau lebih tepatnya Neraka tempat Hades tinggal.
"Sebaiknya kita pergi" pinta Peach pelan. "Dunia ini bisa menyakitimu Winter, tidak denganku"
"Kau benar" Winter mengangguk mantap. "Sekarang saja aku sudah merasa sangat dehidrasi, disini sangat panas"
Peach menjentikkan jemarinya, ia membuat sebuah anak tangga menuju ke atas. Entah bagaimana jadinya jika tidak ada penyihir bersama dengan Winter kala itu, gadis Werewolf itu segera menaiki anak tangga dengan tetap menggandeng tangan Peach.
"Arthur ada di dalam asrama itu..."
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Peach heran.
"Ini hanya perasaanku saja, aku sangat yakin dia berada disana"
BERSAMBUNG!!!
HALO, maaf ya! Terima kasih telah membaca dan berkunjung! Jangan lupa dukungan nya !!! dengan cara klik Like, Favorit, Vote, Komentar dan Follow profil Author.