THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
PEACH SUKA WINTER??



Winter dan Arthur duduk di sebuah bangku taman, kedua remaja itu saling melirik satu sama lain sebelum pada akhirnya tersipu malu kembali. Sesaat setelah Winter menunjukkan cara bicaranya yang asli dan seharusnya, Arthur sedikit menaruh hati kepada gadis tersebut.


Sialan! Kenapa jantungku berdegup seperti ini? - Arthur.


Di dalam hatinya, kini Winter sedang bertanya-tanya apakah pria yang kini duduk di sampingnya adalah reinkarnasi dari Densha atau bukan. Gadis itu terlihat menggenggam jaket Arthur yang ia kenakan dengan amat kuat.


Jika Winter menanyakannya kepada Arthur, apakah Arthur akan marah dan menganggap Winter gila?? - Winter.


Hari itu berlalu begitu saja tanpa ada yang mengatakan apapun. Winter pamit pulang terlebih dahulu, tentu saja dengan memakai jaket milik Arthur. Gadis cantik itu menatap kosong ke arah ranjang tidurnya, kemudian beralih memandang pakaian Arthur yang dulu sempat ia ambil.


"Densha??" Panggil Winter lirih. "Oi, Densha? Jika Densha mendengar suara Winter, keluarlah!!"


Panggilan dari Winter tidak dapat mendatangkan bayangan dari Densha, gadis itu membuka pintu kamar mandi dan juga pintu lemari, dia berusaha mencari-cari sosok Densha yang biasanya muncul begitu saja.


Tubuh Winter jatuh lemas ke lantai, gadis itu menarik kedua kakinya sendiri lantas memeluknya. Ia meringkuk sambil memejamkan kedua matanya, di kepalanya saat ini hanya ada spekulasi-spekulasi aneh yang muncul akibat sikap Arthur kepadanya hari ini.


"Apa Arthur itu adalah reinkarnasi dari Densha??" Gumam Winter lirih.


_________________________________________


Dua hari kemudian, Peach datang untuk menjemput Winter. Gadis itu sudah menyiapkan sebuah Goa buatan di belakang asrama, untuk mengurung Winter disana. Peach menunggu kedatangan dari Winter di tempat terakhir mereka berdua bertemu waktu itu.


"Hai, Peach!" Sapa Winter yang menenteng tas di punggungnya.


"Apa kau ingin minggat??"


"Hehe, Winter hanya membawa barang-barang yang menurut Winter perlu" jawab Winter polos.


"Kau tak memerlukan semua barang itu, karena nantinya semua kakimu akan aku rantai" terang Peach jelas. "Setiap hari aku akan datang untuk memberimu makan"


Kedua mata Winter melotot, dia sangat terkejut mendengar penjelasan dari Peach. "Tunggu! Kenapa Winter harus di rantai??"


"Saat kau dalam wujud binatang mu nanti, sinar bulan akan mempengaruhi dirimu dan bisa saja kau akan menjadi ganas"


"Memangnya kenapa dengan itu??" Tanya Winter yang sungguh tak tahu apapun.


Peach menghela nafas berat. "Aku tidak akan membiarkan dirimu menghabisi seluruh penghuni asrama"


Winter manggut-manggut mengerti, gadis itu segera berjalan mengekor di belakang Peach. Sesekali ia merasakan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang dirinya, karena ini merupakan pertama kalinya bagi Winter. Biasannya dia (Winter) akan menjalani siklus purnama seorang diri tanpa bantuan seseorang yang peduli kepadanya, lebih tepatnya tak ada seorangpun yang mempedulikan kehidupan gadis itu.


Jadi, itu sebabnya Winter kehilangan ingatan Winter akan masa-masa itu? - Winter.


"Winter??" Panggil Peach pelan, gadis itu berhenti tepat di depan Winter.


"Y-ya??"


"Aku suka cara bicaramu yang ini" ucap Peach tulus sambil tersenyum tipis. "Memanggil dirimu sendiri dengan sebuah nama, tolong jangan merubah hal itu"


"Eh??" Gadis cantik itu terkejut namun ia senang mendengar pujian dari Peach. "K-kenapa??"


Tentu saja agar Arthur semakin menyukaimu!! - Peach.


"Mmm, kenapa ya??" Peach menggaruk alis kanan nya. "Menurutku hal itu membuatmu berbeda dan menjadikanmu spesial"


Tanpa aba-aba, Winter langsung memundurkan langkah kakinya jauh dari Peach. Hal itu membuat Peach menatap Winter penuh kebingungan.


Ka-kalimat itu kan?? Bukankah Densha pernah mengatakannya?? YA TUHAN!! Apa Peach adalah reinkarnasi dari Densha? - Winter.


Raut wajah Winter mendadak menjadi kurang enak, gadis itu menatap ngeri pada sosok Peach. Winter benar-benar salah paham terhadap kalimat yang dilontarkan oleh Peach.


"Kau ini kenapa??"


Winter tidak mungkin berjodoh dengan Peach kan?? - Winter.


•••••


Tibalah kedua gadis itu di depan pintu Goa, Goa yang terbuat dari batu. Peach sengaja membuatnya dengan sebuah sihir untuk tempat persembunyian dari Winter, gadis itu tersenyum ramah memamerkan hasil karya sihirnya kepada Winter.


"Bagaimana? Bagus kan??" Peach memasuki Goa terlebih dahulu.


"Apa Peach yakin, Winter akan aman di tempat ini??"


"Tentu saja!" Sahut Peach cepat, "Aku tak bilang pada siapapun mengenai dirimu yang berada di tempat ini"


"Terima kasih untuk hal itu, tapi entah mengapa Winter sedikit kurang yakin kalau tempat ini aman"


"Kenapa??" Peach menatap Winter serius. "Padahal aku sudah membangun tempat ini dengan susah payah"


"Bagian mananya yang susah payah?" Winter mendelik memandang Peach. "Peach kan penyihir yang bisa melakukan apapun"


Peach hanya tersenyum lebar, tentu saja membangun Goa seperti ini tidak ada susah-susahnya bagi dia. Apalagi ukuran Goa nya yang kecil, hal itu malah semakin mudah. Bagi Peach membuat sapu terbang di pelajaran fisika lah yang paling sulit, sudah banyak sekali penyihir yang gagal dalam membuat sapu terbang.


Meskipun teori sapu terbang sudah mereka kuasai. Pada kenyataannya ketika ujian praktek di ber-langsungkan, banyak sekali penyihir yang gagal dan mengalami cidera ketika menaiki sapu terbang tersebut.


Peach sudah menyiapkan beberapa rantai dan besi di dalam sana, ia juga menyiapkan beberapa gundukan pasir di sudut Goa kalau-kalau Winter ingin buang air.


"Nah, sekarang lepas bajumu!"


"Hah?" Winter terkejut. "Bukankah sebaiknya Winter berubah wujud secara alami?"


"Melakukannya lebih awal juga tidak masalah" Peach merampas tas ransel milik Winter. "Akan lebih sakit jika kau membiarkan bulan yang melakukannya"


"B-b-begitu ya??" Winter menganggukkan kepala pelan. "Oke, baik!"


Kedua mata Peach mendelik menatap Winter, ia tak terkejut dengan tubuh ideal milik Winter meskipun gadis itu pendek. Yang membuat Peach terkejut adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh Winter.


Astaga! Dia benar-benar gadis itu!! Aku harus segera memberitahu ayah - Peach.


"Peach kenapa tersenyum seperti itu??" Winter mulai melepas kaos yang ia kenakan. "Peach membuat Winter takut, memang sih tak seharusnya Winter percaya begitu saja kepada seseorang. Apalagi seseorang itu adalah penyihir"


"Ya Tuhan!" Peach menepuk jidatnya kuat. "Kalau aku ingin mencelakakan mu, kenapa aku harus menunggu berhari-hari untuk melakukannya?"


"Yah, siapa tahu kan??"


"Sudahlah! Fokus saja kepada perubahan mu!"


Peach mulai mengikat kedua tangan dan kaki Winter, sedangkan Winter mulai memejamkan kedua matanya untuk berkonsentrasi. Gadis cantik itu tengah mengumpulkan semua keinginannya untuk berubah wujud di dalam kepalanya. Melihat wajah Winter yang sudah kelihatan memerah, Peach memundurkan langkah kakinya untuk mencapai jarak aman.


GROWL!!


Astaga! - Peach.


Peach menggelengkan kepala pelan, gadis itu sampai bengong memandang Winter yang kini telah berubah menjadi sesosok Serigala berukuran besar.


"Ini wujud yang sempurna..."


...Bersambung!!...


Halo, berikan cinta dan kasih sayang kalian dengan cara klik tombol Like, Follow, Favorit, Vote dan rating bintang 5 ya?? Terima kasih banyak 😘🙏