THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
JALAN



"SEMUANYA!! KEMBALI KE KAMAR KALIAN MASING-MASING!!"


Teriakkan Landon membuat seluruh murid berlarian kesana-kemari mencari pintu kamar masing-masing. Ucapan Peach benar mengenai Pink yang tengah mengamuk di dalam kamar. Suara perabotan kamar yang rubuh beserta suara pecahan kaca nyaring terdengar di kedua telinga Landon.


Pria itu membuka pintu kamar putrinya, belum sempat ia melangkah masuk, dirinya sudah disambut dengan beberapa pecahan kaca tajam yang melayang siap menusuk leher pria itu. Kedua mata Landon terpejam, ia nyaris saja terbunuh jika Pink tidak segera menghentikan sihirnya.


Tahu bahwa itu adalah Landon, Pink jatuh terduduk diatas lantai sambil memeluk kedua kakinya. Gadis remaja itu menangis keras, wajahnya yang putih berubah menjadi merah seperti sedang menahan emosi yang begitu dalam.


"Bisa katakan apa yang terjadi?" Tanya Landon sambil berjalan mendekati Pink.


"Peach!!" Ucap Pink ketus. "Peach selalu saja menggangguku"


Landon menggembungkan sebelah pipinya, ia mengusap kepala Pink lembut. "Apa yang dilakukan Peach??"


"............" Pink menggeleng, ia mengusap air mata yang tak kunjung berhenti melintasi kedua pipinya.


"?????"


Pink malu mengatakan pada Landon jika dia menyukai Arthur, gadis itu tidak mau mencari masalah dengan ceramah Landon jika dia mengakui permasalahannya saat ini.


Pink menundukkan kepalanya, ia sedang memikirkan jawaban bohong untuk Landon. "D-dia membakar buku harian ku"


"Apa kau berkata jujur?"


"Iya" sahut Pink santai. "Jika ayah menginginkan kejujuran, akan aku katakan bahwa aku sebenarnya tidak menyukai Peach!!"


"Buatlah alasan terbaik jika kau tidak menyukainya"


"Alasan terbaik??" Pink berdiri, ia menatap kedua mata Landon dengan serius. "Alasan terbaiknya karena dia ada, andai saja Peach tidak pernah ada"


"Oh, ayolah Pink!" Landon melangkah mundur, ia menyentuh dahinya. "Jangan membuat drama seperti ini lagi, kau mengatakannya karena kau sedang emosi"


"Terus saja begitu! Ayah selalu membela Peach!!"


"AKU TIDAK MEMBELA SIAPAPUN PINK!!" Bentak Landon kencang.


".............."


Pink tercekat, ia mendelik mendengar bentakan Landon kepadanya. Gadis cantik itu beruraian air mata, ia mengambil jaketnya di dalam lemari dan segera keluar meninggalkan Landon.


"Jangan pergi jika ayah belum selesai bicara!!" Ucap Landon yang mencoba untuk memperingati putrinya.


"Kalau begitu belajarlah untuk bicara dengan baik kepada anak perempuan mu!!"


BRAKK!!!


Landon mengulurkan tangannya seolah tidak ingin Pink pergi, namun sepertinya gadis itu tidak melihat wajah sedih yang terpancarkan dari wajah sang ayah. Dengan penuh emosi Pink membanting pintu kamarnya sekeras mungkin, gadis itu berlari sambil menangis menyusuri lorong asrama.


Di dalam kamar putrinya, Landon berjalan mendekati meja belajar milik Pink. Pria itu menemukan selembar foto yang sudah terbakar, sayangnya ia tidak bisa mengenali siapa orang yang ada di dalam foto itu karena potret kepala orang itu sudah hangus terbakar.


Ini sihir Peach... - batin Landon.


Landon menghela nafas panjang, sepertinya ia tahu persis permasalahan apa yang sedang terjadi diantara kedua putrinya. Pria itu manggut-manggut sambil tersenyum kecut, ia meremas foto itu dan membuangnya begitu saja.


"Sepertinya kedua putriku menyukai satu pria yang sama!" Gumam Landon lirih yang jelas-jelas salah.


•••••


Tap!


Tap!


Tap!


Pink berlari sekencang mungkin, yang ia inginkan hanyalah pergi keluar asrama. Pikirannya tertuju pada sebuah danau, dimana Arthur biasanya menghabiskan waktunya untuk bunuh diri disana. Gadis itu terlalu sibuk menghapus air matanya sampai tidak menyadari ada seseorang yang sedang berjalan di depannya.


Alhasil Pink menabrak orang itu, gadis itu jatuh terduduk ke belakang. Sedangkan orang itu masih tetap berdiri karena Pink menabrak bagian belakang tubuh orang tersebut.


"Pink??"


"Arthur?? Kau kah itu??"


"Benar" Arthur terlihat bingung melihat Pink yang menangis. "Kau kenapa??"


"Mmm" Pink menggelengkan kepala.


Ada apa sih hari ini? Kenapa si kembar sama-sama menangis? - Arthur.


Mengingat Justin yang langsung dibekukan oleh Peach saat berusaha memberinya perhatian, Arthur melepas genggaman tangan yang ia berikan pada Pink. Pria itu lantas geleng-geleng kepala untuk menghapus kemungkinan buruk yang akan terjadi.


"M-maukah kau...." Ujar Pink lirih.


"Ya??" Arthur mendekatkan telinganya pada wajah Pink yang sontak saja membuat Pink gelagapan.


"T-tidak, tidak jadi"


Gadis itu berjalan melewati Arthur yang masih diam mematung. Baru beberapa langkah ia berjalan, Pink membalikkan badannya dan berjalan mendekati Arthur lagi. Pink meninju bagian dada Arthur dengan lembut, gadis itu menengadahkan wajahnya untuk menatap Arthur yang kebingungan.


"Maukah kau menemaniku jalan-jalan sebentar??" Tanya Pink dengan mata penuh pengharapan.


"Uh---" Arthur melirik kesana-kemari untuk memikirkan jawaban terbaiknya. "Sebenarnya aku harus belajar"


"Mm, baiklah" wajah Pink tertekuk, gadis itu terlihat sedih dari sudut pandang Arthur.


"B-baiklah!!"


"Eh??" Kedua mata Pink melebar memandang si Phoenix di depannya. "A-apa??"


"Uh--" Arthur menggaruk belakang kepalanya. "Aku akan meluangkan sedikit waktuku untuk menemanimu"


'Jauhi saudariku!' tiba-tiba saja kalimat Peach terngiang di kepala Arthur, membuat pria itu menghentikan langkah kakinya yang sedang berjalan dibelakang Pink. Kedua tangan Arthur terkepal erat, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa hal yang ia lakukan bukanlah hal yang salah.


Sial! Kenapa perasaanku memburuk? - Arthur.


Kedua makhluk berbeda gender dan jenis itu berjalan beriringan menuju hutan belakang asrama. Arthur mengusap kedua tangannya yang terasa dingin akibat suhu udara yang menurun di kota itu, Pink yang mengetahuinya malah tertawa lebar. Gadis itu menepuk punggung Arthur dengan gemas.


"Kau kan burung api! Kenapa masih merasa kedinginan??"


"Ah!" Arthur sendiri tak tahu harus menjawab apa. "Entahlah, tapi aku tak merasakan rasa panas di dalam tubuhku saat ini"


Pink tersenyum tipis atau lebih tepatnya tersipu malu mendengarkan kalimat Arthur yang lugu, gadis itu memangkas jarak diantara mereka dengan begitu halus. Bahkan Arthur saja tidak menyadarinya, Pink mendekatkan lengan kanannya agar menempel dengan lengan kiri Arthur.


"Astaga!!" Arthur mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi. Dia sangat terkejut ketika kulitnya bersentuhan dengan jaket yang dikenakan Pink.


"M-m-maaf! Aku terkejut" ucap Arthur sopan, ia membuang muka ke arah lain namun tangan kanannya mengusap bagian tubuhnya yang tersentuh oleh Pink.


Sejak kapan aku jadi begini? - Arthur.


Entah ada apa dengan kepala Arthur, ia seolah bisa melihat Winter sedang mengawasi dirinya. Dalam bayangan Arthur, gadis itu terlihat berkacak pinggang sambil terus melotot ke arahnya.


"Hehehe"


Pink menoleh, dia terkejut melihat Arthur yang senyum-senyum sendiri tidak jelas. Gadis itu telah mencoba melambaikan tangannya di depan wajah Arthur tapi pria itu tetap saja tersenyum.


"Arthur??" Panggil Pink lembut. "HEI!!" Teriak Pink kemudian.


"Eh, apa??"


"Kau ini kenapa??" Bibir Pink berkerut dengan lucunya. "Kenapa senyum-senyum sendiri begitu? Apa ada seseorang yang sedang kau pikirkan??"


"Uh-- itu..." Ingin menolak tapi pada akhirnya Arthur menganggukan kepalanya pelan. "Benar"


Siapa yang sedang dia pikirkan? - Pink.


...Bersambung!!...


Halo, terima kasih sudah membaca cerita ini! Saya sangat senang karena kalian mau membaca Novel saya yang ini! Jangan lupa untuk terus mendukung Author ya? Klik tombol Like please 😉