THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
JUSTIN SI VAMPIR



Matahari yang terik tak mematahkan semangat liar Vampir muda bernama Justin, dengan riang gembira dirinya berkeliaran di tengah kota tanpa rasa takut sedikitpun. Lagipula untuk apa ia takut? Bukankah dia sudah menggunakan cincin buatan para penyihir, cincin yang berkhasiat melindungi dirinya dari sinar matahari.


Justin begitu bangga karena secara tidak langsung dirinya bisa dibilang tak memiliki kelemahan apapun, satu-satunya kelemahan yang seharusnya ia hindari adalah sinar matahari. Namun sekarang tidak lagi, berkat cincin terobosan para penyihir di asramanya.


Vampir tampan itu berjalan memasuki area sekolah, sekolah milik anak manusia tepatnya sebuah taman kanak-kanak. Dahulunya, Justin adalah seorang manusia yang memiliki keluarga. Ayah dan ibunya mati karena kecelakaan, hidupnya begitu berat ketika dia harus menjaga adiknya seorang diri.


Berita mengenai keberadaan Vampir di tempat tinggalnya cukup membuat hampir setengah penduduk meninggalkan desa kecilnya, tak ada seorangpun yang berani berkeliaran di malam hari akibat rumor mengenai keluarga Vampir yang tinggal di tempat itu. Hingga suatu ketika, Justin mendapati adiknya telah terbujur kaku di atas tempat tidur dengan seseorang yang tengah semangat menggigit leher adiknya.


Berita tentang Vampir itu benar, dengan sangat disayangkan adiknya tewas di tangan seorang Vampir. Justin hanyalah salah satu korban yang beruntung, dia bangkit dari kematiannya setelah tewas tergigit oleh Vampir tersebut. Tentu saja hal itu baru terjadi setelah dua tahun kematian Justin.


Justin yang tak mengetahui bahwa dirinya bangkit sebagai salah satu makhluk supernatural tetap berkeliaran secara bebas di kerumunan manusia. Sampai suatu waktu dia menjadi beringas begitu melihat darah seorang anak kecil yang tengah terluka, sifat manusia Justin masih menempel pada tubuhnya. Dia menahan mati-matian agar tak menyentuh anak itu, beruntung keluarga Profesor menemukan dirinya dan membawa Justin ke asrama yang kini menjadi tempat tinggal baginya dan para makhluk supernatural yang lainnya.


...KLANG!!...


...KLANG!!...


...KLANG!!...


Kedua mata Justin menangkap siluet anak kecil sedang mendorong sebuah ayunan yang kosong. Rambutnya yang keriting membuat Justin tersenyum, dia adalah anak kecil yang disukai oleh Justin. Bocah laki-laki dari seorang wanita yang pernah menjadi korban Justin, tentu saja! Dia tanpa sadar telah membunuh ibu dari bocah itu. Waktu itu Justin tengah berada dalam rehabilitasi, dia yang tidak boleh meminum darah manusia terpaksa harus kabur dari asrama dan membantai beberapa penduduk kota untuk memenuhi hasratnya.


Sekarang semua telah berubah, Justin sudah bisa mengendalikan nafsunya kepada darah manusia, dia lebih memilih untuk meminum darah kelinci dan rusa yang sudah disiapkan oleh Profesor Shagasemi di asrama tempatnya tinggal. Mengenai bocah laki-laki itu, dirinya telah bersumpah untuk merawat anak itu dengan mengunjunginya setiap ada kesempatan dan memberinya beberapa lembar uang untuk bertahan hidup di panti asuhan.


"Kenapa kau mendorong ayunan kosong seperti itu?"


Bocah laki-laki itu tersentak kaget, segera setelah ia tahu bahwa itu adalah Justin, ia langsung memeluk tubuh Justin dengan begitu erat.


"Hei, sobat! Ada apa??" Vampir itu berlutut di depan sang bocah dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Apa kau ingin sesuatu?"


"Aku sedari tadi menunggumu...." Jawab anak berambut keriting tersebut. "Kau berjanji untuk mengajakku jalan-jalan"


"Apa sekolahmu sudah selesai?"


"Sekarang sudah pukul satu siang Justin, aku pulang sekolah jam sepuluh! Aku sudah lama disini hanya untuk menunggumu" anak itu terus mengomeli Justin, dia berlari kecil ke arah sebuah kursi taman dan mengambil ransel miliknya. "Ayo kita pergi..."


"Oke-oke, memangnya kau mau kemana hari ini?"


"Aku tidak tahu!" Bocah itu menggeleng pelan. "Dulu ibu sering membawaku ke pusat perbelanjaan, disana ada sebuah tempat untuk bermain Game"


Justin memutar kedua bola matanya dengan kesal. "Oh ayolah! Aku tidak mungkin datang ke tempat itu!"


•••••


Dum!


Dum!


Tas!


Dum!


Dum!


Tas!


Dentuman suara-suara ceria dari sebuah mesin permainan berdengung di telinga Justin, Vampir tersebut memasang wajah masam sambil terus mengikuti kemanapun anak itu ingin bermain.


Banyak sekali para wanita yang terpesona dengan wajah dan tubuh Justin, instingnya mengatakan bahwa saat ini pasti banyak sekali pasang mata yang menatap dirinya. Anak laki-laki itu mengajak Justin memasuki sebuah ruang permainan menembak, dia duduk di samping anak itu dan memperhatikan layar di depannya.


Ada-ada saja permainan manusia ini! - Justin.


"Saking senangnya aku sampai kelelahan mencoba semua game di tempat ini!" Ungkap sang bocah lalu tertawa cengengesan. "Benarkan Justin??"


"Benarkah?? Kalau kau lelah, seharusnya kau berkeringat! Aku tidak pernah melihatmu berkeringat meskipun cuaca sedang panas" terang si bocah sambil terus menatap layar permainannya. "Apa kau sedang mengidap suatu penyakit yang tidak bisa membuatmu berkeringat?"


Justin membuang muka ke arah lain, dia merasa bingung dengan kata-kata bocah itu. Tidak mungkin kan Justin menerangkan bahwa dirinya bukanlah seorang manusia. Apa jadinya jika Justin mengatakan bahwa dialah Vampir yang telah membuat ibunya tiada. Lagipula anak itu juga tidak tahu bahwa ibunya mati karena ulah seorang Vampir.


Saking asyiknya bocah itu bermain game, ia tak menyadari bahwa Justin sedang memperhatikan game yang tengah dimainkannya. Di layar kaca itu terlihat jelas bahwa karakter utama dalam permainan tersebut berubah menjadi manusia dengan sayapnya yang terbuat dari api, entah mengapa Justin jadi teringat akan sosok Arthur di kepalanya.


"Apa itu?"


"Hmm??" Anak itu memandang Justin bingung.


Justin menyentuh layar kaca di depannya. "Ini... Kenapa pria ini mengeluarkan sepasang sayap yang terbuat dari api?"


"Ini adalah Game Phoenix, disini aku adalah Phoenix itu!"


"Apa??"


"Kau tidak tahu Phoenix ya?" Anak itu menertawakan Justin yang terlihat bodoh. "Wah-wah, sepertinya kau harus sering membawaku ke tempat seperti ini agar kau bisa bermain game seperti aku"


"Tidak! Bukan itu!" Justin menggeleng pelan. "Apa Phoenix sungguh bisa mengeluarkan sayap seperti ini?"


Bocah laki-laki itu melirik ke arah Justin, dia terlihat bingung dengan pertanyaan orang dewasa yang sudah ia anggap sebagai teman tersebut.


"Mmm, mungkin!" Jawabnya lirih. "Aku tidak tahu Justin, ini hanya game kan?"


Di dalam game, terlihat beberapa orang yang mengenakan pakaian tentara perang Yunani kuno sedang melempar panah-panah mereka ke arah Phoenix tersebut. Sampai pada akhirnya muncul sosok manusia seperti Dewa, bocah laki-laki di samping Justin terlihat sangat kesal saat sosok Dewa di dalam Game itu muncul. Dewa dengan mahkota berbentuk hati itu membawa tiga buah panah emas.


"Astaga! Curang sekali, jelas-jelas kelemahan Phoenix adalah panah emas itu! Kenapa senjata sang musuh malah panah emas!!" Gerutu si bocah dengan kesal.


...!!GAME OVER!!...


Justin dan anak itu sama-sama menghela nafas berat ketika pada akhirnya sang Phoenix di dalam Game dapat dikalahkan dengan mudah oleh sang Dewa, pikiran Justin terpusat pada Arthur satu-satunya Phoenix di sekolahnya. Vampir itu seolah menemukan sebuah jawaban, meskipun yang ia lihat hanyalah sebuah Game tapi bisa saja kan Game itu berasal dari sebuah kisah nyata? Begitu pikirnya.


"Ayo kita pulang!" Ajak anak itu pada Justin yang melamun.


"Hei, siapa Dewa di dalam Game itu??"


"Dia bukan Dewa!" Bantah si anak. "Dia adalah Cupid!"


Hah?? Apa lagi itu? - Justin.


"Tolong jelaskan, aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan!" Justin menggendong bocah laki-laki itu ketika hendak menuruni tangga eskalator.


"Cupid adalah sosok malaikat cinta, katanya dia bisa membuat sepasang manusia jatuh cinta dengan panah yang ia lempar"


"Serius?? Hahaha!!" Vampir itu malah tertawa mendengar penjelasan sang bocah yang terdengar aneh di kedua telinganya. "Lalu kenapa dia muncul untuk menyerang Phoenix?"


"Aku tidak tahu, itu hanya sebuah game kan?"


Game ya?? - Justin.


Perasaan Justin mendadak menjadi begitu aneh, ada suatu dorongan yang seolah menyuruh dirinya untuk memberitahu informasi yang ia temukan kepada profesor Shagasemi. Setelah mengantar anak kecil itu kembali ke panti asuhan nya, Justin berjalan pulang ke asrama dengan perasaan cemas. Dia dibuat pusing mengenai hubungan Cupid dan Phoenix di dalam Game tersebut.


"Aku harus memberitahu profesor mengenai hal ini, apakah benar bahwa kelemahan Phoenix adalah sebuah panah emas?"


...Bersambung!!...


Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like, tinggalkan komentar, Vote yang mendukung agar Author terus semangat! 😘😉