
~Cupid adalah Dewa cinta, busur dan anak panahnya mewakili sumber kekuatan darinya. Siapapun yang terkena anak panahnya, bahkan Dewa sekalipun akan mempunyai hasrat yang tidak terkendali tentang orang yang dicintainya~
~Eros, dalam mitologi Yunani, Eros adalah sosok Dewa cinta dan **** Yunani. Pasangan romawinya adalah Cupid, mereka bersaudara. Dalam cerita paling awalnya, dia adalah Dewa primordial, lalu dalam kisah selanjutnya dia digambarkan sebagai salah satu anak dari Aprhodite dan Ares. Eros dan beberapa saudara kandungnya membentuk pasukan Erotes, pasukan Dewa cinta bersayap~
~Hades, dalam agama dan mitologi Yunani kuno. Hades adalah Dewa kematian dan raja dunia bawah, dia dan saudara-saudaranya, Zeus dan Poseidon melawan generasi ayah mereka para Titan. Dalam kemenangannya, mereka mengklaim atas kekuasaan alam dan membaginya. Zeus yang mendapatkan langit, Poseidon yang mendapatkan air dan lautan, lalu Hades yang mendapat dunia bawah~
~Venus, menurut legenda lahir di ombak laut yang berbusa. Putranya adalah Cupid, dia disebut juga sebagai Dewi Cinta, kecantikan dan kesuburan. Tradisi romawi menjadikan Venus sebagai ibu pelindung pangeran Trojan, Aeneas, nenek moyang orang Romawi~
~Aprhodite adalah Dewi Yunani kuno, dia adalah lambang keindahan, kecantikan, gairah dan cinta. Aprhodite menikah dengan Hephaestus, Dewa api. Dia juga menikah dengan seorang pandai besi, karena sifatnya yang suka menggoda dan menikah dengan beberapa pria, suatu hari dia tertangkap basah melakukan perzinaan dengan Ares, Dewa perang~
••••
Winter duduk termenung di kursi perpustakaan, gadis cantik itu tengah membaca begitu banyak buku. Mengingat penyerangan Cupid waktu itu, Winter mau tak mau harus membaca lebih banyak tentang sosok Dewa dengan panah cinta nya tersebut.
Banyak buku dan literatur yang mengisahkan tentang sosok Cupid, tapi semuanya tertulis tidak cukup jelas. Satu-satunya yang Winter tahu adalah bahwa Cupid memiliki saudara, lalu ibu dari Cupid adalah istri dari saudaranya Poseidon.
"Hah...." Winter menghela nafas panjang ketika menutup sebuah buku yang baru saja selesai ia baca. "Pengetahuan tentang Dewa ini membuat kepala Winter pusing"
Gadis cantik itu tertunduk lesu, ia menempelkan kepalanya pada permukaan buku yang ia letakkan di atas meja. Winter memejamkan kedua matanya sejenak, mencoba untuk berpikir.
"Venus adalah ibu dari Cupid, lalu Eros adalah saudara kandung dari Cupid, lalu orang tua Eros adalah Aprhodite dan Ares. Bagaimana bisa berbeda orang tua itu disebut dengan saudara kandung? Dan siapa suami Venus? Siapa yang memerintah Cupid untuk membunuh Phoenix? Dalam buku profesor mengatakan yang memerintah Cupid adalah seorang Dewi cinta"
Winter mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gemas. "Dewi cinta yang mana? Aprhodite, Venus dan Athena juga semuanya Dewi cinta!!"
Kedua mata Winter membulat lebar, gadis cantik itu lantas segera menegakkan tubuhnya. Winter tersenyum sembari menepuk kedua tangannya.
"Jika Winter ingin mengetahui tentang Cupid, maka Winter harus menemui saudaranya terlebih dahulu" Winter manggut-manggut, ia sedang berpikir untuk meminta bantuan seseorang. "Atau mungkin, bertanya pada Poseidon ya? Di buku tertulis bahwa Venus lahir di ombak yang berbusa, bukankah semua lautan dan air di muka bumi ini dikuasai oleh Poseidon? Tidak mungkin jika Dewa itu tidak mengetahui apapun"
"Kau sedang tidak waras ya?" Maggie, penyihir berkulit gelap yang menjemput Winter dulu dari sekolah manusianya. Gadis berambut keriting itu meletakan beberapa buku dan duduk berhadapan dengan Winter. "Kenapa bicara sendiri begitu?"
"Ah, tidak! Bukan apa-apa" Winter tertawa kecil, ia sangat malu mengetahui bahwa ada yang memperhatikan dirinya sedari tadi. "Winter hanya mencari solusi"
"Solusi apa itu?"
"Begini, Maggie kan seorang penyihir" ucap Winter pelan, disusul dengan Maggie yang menganggukkan kepala. "Apa Maggie bisa mengirim Winter ke suatu tempat dengan sihir itu?"
"Hahahaha" Maggie tertawa meledek Winter. "Kau ini lucu ya? Mana ada hal semacam itu, meskipun kita makhluk supernatural, kita juga masih perlu menggunakan transportasi umum untuk berpergian ke tempat yang jauh"
"Ah... Begitu ya?" Winter melonggarkan bahunya, ia kembali terlihat murung.
"Tapi, si kembar bisa membantumu! Memang bukan teleportasi, tapi mereka bisa membawamu memasuki dunia astral"
Winter mengerutkan dahinya, ini pertama kalinya bagi Winter mendengar pemahaman seperti itu. "Dunia astral? Tempat tinggal hantu??"
"Tunggu! Winter tidak mengerti, memangnya ada apa di dunia itu?"
Maggie melirik kesana-kemari, ia takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. "Kau bisa menemui para Dewa yang ada di buku ini" Maggie tersenyum dan menunjuk pada buku-buku di depan Winter, si gadis Werewolf.
"Tentu saja, tempat itu mengerikan" penyihir itu menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi. "Kau akan melihat dunia yang hancur disana, dan kau harus mencari sendiri siapa yang ingin kau cari, si kembar hanya akan membukakan jalan saja"
Winter menelan ludahnya sendiri, antara siap dan tidak siap. Tapi dia sungguh ingin menemukan jawaban, mengapa dan siapa? Mengapa memerintah Cupid untuk melenyapkan Phoenix? Dan siapa yang memerintah?.
_______________________________________
Pink mencoba gaun yang ia temukan di gudang, gadis itu berputar-putar di depan cermin. Ia mengagumi keindahan gaun pemberian ibunya, baru pertama kali ini Pink memakainya. Selama ini, sengaja ia simpan untuk acara kontes kecantikan tahun ini, karena penyihir itu berpikir bahwa ia akan berdansa dengan Arthur seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Lihat? Cantik bukan?"
Peach berdiri dari duduknya ia berjalan mendekati Pink yang bercermin. "Apa kau masih mengharapkan Phoenix itu?"
"Hmm? Jika aku menang, berdansa dengannya bukan suatu kesalahan kan?"
Peach menatap pantulan wajah Pink di cermin. "Tidak salah, tapi kau tetap tidak akan berdansa dengannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Arthur punya pacar, apa kau lupa?"
Pink memutar kedua bola matanya jengkel, ia berbalik menatap Peach yang membuyarkan moodnya. "Aku ingat dengan jelas, tapi bukankah Arthur juga ingat siapa teman dansa nya selama ini?"
"Kau harus segera melupakannya Pink, itu tidak baik untukmu"
Pink berkacak pinggang menatap saudari kembarnya. Ketika ia tahu bahwa Peach hendak keluar kamar, gadis itu lantas menutup pintu itu dengan sihirnya, dengan begitu Peach tidak bisa keluar kamar, hanya Pink yang bisa membuka sihir itu kembali.
"Aku rasa, kita berdua tidak pernah bicara serius akhir-akhir ini" ujar Pink dengan seringai di bibirnya. "Bagaimana? Saudariku?"
"Kau sinting!" Maki Peach kesal, ia tahu betul apa yang di maksud oleh Pink. Gadis di depannya itu sedang menantang Peach, adu kekuatan sihir. Sudah dipastikan bahwa Pink yang dari dulu selalu menang, karena peraturannya tidak boleh menggunakan sihir gelap, sedangkan tubuh Peach lebih banyak menghasilkan sihir gelap ketimbang sihir pada umumnya.
"Apa kau takut?"
"Aku tidak pernah takut Pink, dulu aku masih sangat polos dan kecil, sehingga aku tidak tahu bahwa peraturan yang kau buat bukanlah demi kebaikanku" Peach menjentikkan jarinya, seketika beberapa benda di kamar itu melayang-layang ke udara. "Tapi, itu demi kebaikan mu kan? Kau takut akan sihir gelap di dalam tubuhku ini, bagaimana kalau sekarang kita bertarung menggunakan kekuatan masing-masing? Tanpa ada peraturan yang memberatkan sebelah pihak"
Kedua mata Pink membulat lebar, ia tak menyangka Peach akan memiliki pikiran seperti itu? Dimana Peach yang selama ini selalu mematuhi perintahnya? Peach yang selalu tunduk pada Pink, meskipun Pink salah maka Peach akan berada di depannya menjadi tameng.
"Bagaimana? Apa sekarang kau yang takut?" Peach ganti meledek Pink dengan senyuman manisnya.
BERSAMBUNG!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa klik Like, Favorit, Vote, Komentar dan Follow ya??? Dukungan kalian sangat berarti loh... ☺️🙏♥️