THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
LEGA



"Jadi begitu?" Tanya Arthur dengan nada yang sedikit terkejut.


Wajah Winter memerah setelah mengatakan segalanya yang ia tahu kepada Arthur, termasuk adegan ciuman yang dilakukan oleh Arthur dan Pink di tepi danau waktu itu. Dengan polosnya, Winter mengatakan semua itu tanpa ada rasa ragu sedikitpun.


"Ehm..." Winter menunduk. "Tidak masalah jika Arthur..."


GRAB!!


Eh?? - Winter.


Belum selesai gadis itu mengucapkan kalimatnya, Arthur sudah lebih dulu memeluknya. Kali ini, ia tak akan segan jika ingin memeluk Winter kapanpun dan dimanapun, pria itu tersenyum senang.


"Tu-tu-tunggu dulu!" Sergah Winter, kedua tangannya mendorong tubuh Arthur pelan. "Ini tidak boleh"


"Kenapa tidak boleh?" Arthur terkekeh melihat penolakan Winter yang tidak sungguh-sungguh. "Aku dan Pink tidak ada hubungan apapaun, waktu itu dia menggunakan sebuah kristal prisma"


"Kristal.... Prisma??" Tanya Winter lirih.


Arthur mengusap dagunya sendiri, "Hm... Bagaimana caraku mengatakannya ya? Jadi begini, Peach itu memiliki benda aneh yang disebut kristal prisma. Dengan benda itu, siapapun yang memiliki sihir bisa memanggil orang-orang yang dia inginkan dalam wujud apapun"


"Ng???" Winter terdiam. "Lalu?"


"Nah, Pink menggunakannya untuk berbicara denganku namun jelas bahwa itu bukanlah aku, kristal tersebut hanya memunculkan wujudnya saja, bisa dibilang itu palsu" jelas Arthur panjang lebar.


Kedua mata Winter terbuka lebar, entah dia harus merasa senang atau bagaimana saat ini? Yang jelas, dia merasa malu karena sudah salah menilai pada Arthur. Dia juga salah paham dan menuduh Arthur yang bukan-bukan semenjak kejadian itu.


"Ma-maaf..." Ucap Winter sambil membungkukkan badannya. "Winter sungguh minta maaf"


"Eh? Kenapa?"


"Setelah tau Arthur dan Pink melakukan itu..." Winter terdiam sejenak. "Winter jadi terus memaki-maki Arthur di dalam hati"


"Hah?! Kau... Apa??"


Segera Winter menatap sosok pria di depannya, gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil memasang raut muka sebal.


"Tapi, itu bukan sepenuhnya salah Winter! Winter kan tidak tahu kalau ada benda seperti kristal prisma itu" bela Winter pada diri sendiri. "Jadi, seharusnya Winter juga tidak perlu minta maaf... Ya kan?"


Tuk!


Arthur menunjuk dahi Winter dengan jari telunjuknya, dia mendekatkan wajahnya pada gadis cantik di depannya. Kedua matanya menatap serius pada Winter. Sikap Arthur yang seperti itu tentu saja membuat Winter salah tingkah, wajah gadis itu bersemu merah, badannya terlihat kikuk merespons sikap dari Arthur.


"Yakin, tidak ingin meminta maaf?" Tanya Arthur dengan nada sedikit menggertak.


"Y-ya??" Winter melirik ke arah lain. "Mu-mungkin...."


"Sedari dulu, semenjak aku tau bahwa kau dan aku ditakdirkan bersama. Aku ingin sekali melakukannya..."


Winter menatap kedua mata Arthur, sorot matanya terlihat penuh harap. "Me-melakukan apa?"


"Tapi..." Arthur menghela nafas panjang. "Aku selalu menahannya, aku ingin kau tahu. Bahwa aku dan Densha itu adalah orang yang sama, sekarang saat kau sudah tahu semuanya....."


".........."


Apa? Arthur ingin mengatakan apa? - Winter.


"Apa perasaanmu masih sama?" Arthur menundukkan wajahnya, ia merasa malu karena waktu itu sudah memarahi Winter. Kini apapun jawaban dari Winter, dia harus bersedia untuk menerimanya. "Waktu itu aku bilang padamu, untuk mengenali siapa orang yang benar-benar kau sukai, sekarang kau sudah tahu mengenaiku, lalu bagaimana keputusanmu?"


Perlahan, kedua jemari Winter menyentuh wajah Arthur. Dia menatap wajah pria yang murung di depannya, Winter menempelkan dahinya pada dahi Arthur lalu tersenyum tulus.


"Tentu yang ini" ucap Winter pelan, disambut dengan tatapan bingung dari Arthur. "Perasaan suka ini masih sama"


"Winter menyukai Arthur dalam keadaan apapun dalam bentuk apapun"


Cup!


______________________________________


Di dalam asrama para murid sedang dibuat sibuk, mereka merapikan kembali ruangan yang telah rusak akibat kedatangan Cupid waktu itu. Dengan begini, terpaksa sistem belajar mengajar harus di hentikan.


Pink terlihat paling sibuk sendiri, dengan tidak adanya Peach di asrama, penyihir itu harus mengawasi semua murid seorang diri. Bisa-bisanya Peach pergi tanpa pamit kepadanya terlebih dahulu.


Sudah jelas, bahwa Peach pasti pergi dengan Arthur mengingat hanya mereka berdua yang tidak ada di asrama saat penyerangan itu terjadi. Namun, Pink tidak pernah berpikir bahwa Peach dan Arthur menyusul ketiga temannya yang mendapat tugas dari Landon.


Sialan Peach itu! Dia kemana sih!! - Pink.


"Oh, Pink..." Sapa penyihir berkulit gelap, dia adalah Rene yang tinggal beberapa kamar dari kamar Arthur. "Dimana kembaranmu?"


"Hah...." Pink membuang nafas, "Entahlah! Aku tidak tahu"


"Ngomong-ngomong, setelah kejadian tidak terduga ini. Apakah pesta dansa yang waktu itu jadi dilaksanakan?" Rene membantu Pink mendorong sebuah meja berukuran besar. "Mengingat sekarang ini kita dalam status waspada"


"Kau benar! Aku hampir melupakan pesta itu" Pink merengut, dia jadi terpikir soal pesta ulangtahun berdirinya asrama mereka. Biasanya para murid akan berkumpul di aula dan melakukan pesta disana, itu adalah hari dimana Landon membebaskan seluruh murid-murid berbuat semaunya.


"Kenapa tidak kau tanyakan saja pada Ayahmu?"


Pink menatap Rene dengan tatapan kosong. "Apa kau ingin sekali pesta itu di adakan?"


"Ya begitulah, para penyihir ingin membuat kontes kecantikan"


"Kontes kecantikan?" Pink sama sekali tidak tahu bahwa para penyihir merencanakan hal tersebut. "Kenapa aku tidak diberitahu?"


"Sekarang kan aku sedang memberitahumu" jawab Rene dengan tawa kecil. "Bagaimana? Kau bisa ikut jika mau, kau kan cantik"


"Apa kau yakin bicara begitu padaku? Mengingat banyak sekali para penyihir yang tidak menyukaiku" Pink memutar kedua bola matanya dengan kesal. "Yah... Kalaupun tak banyak yang menyukaiku, aku yakin masih bisa menang di acara itu"


"Wah-wah, lihat ini! Betapa sombongnya dirimu" ledek Rene lalu disusul tawa keduanya. "Memang sih, pemungutan suaranya bukan hanya dilakukan para penyihir. Semua murid bisa memilih"


Pesta dansa ya?? - Pink.


"Tunggu! Bukankah itu berarti kita harus memiliki pasangan berdansa?" Pink menghentikan langkah kakinya, dia menatap Rene yang melempar senyum padanya sambil mengangguk.


"T-tapi... Aku tidak punya pasangan"


"Jangan khawatir, kalau kau masih mau mengikuti kontes, kau tidak perlu memiliki pasangan!" Jawab Rene menjelaskan. "Kecuali kalau kau ingin berdansa, kau harus mencari pasanganmu sendiri hehehe"


"Hmm, tidak masalah!" Jawab Pink santai, "Aku yakin Peach juga tidak punya teman berdansa, jadi lebih baik aku menemaninya saja"


Bohong! Pink mengatakan itu hanya sebagai pembelaan dirinya saja, mengingat belum ada pria lain yang dekat dengannya selama ini kecuali Arthur. Bukan karena ia tak cantik, tapi karena Pink hanya menatap satu orang pria saja ketika ia menyukainya.


"Kenapa kau tidak mengajak Arthur untuk menjadi teman dansa mu?" Celetuk Rene asal. "Kalian kan dekat"


"Ah! Itu... Aku rasa Arthur akan mengajak gadis lain jika dia tau akan ada pesta dansa"


"Eh! Benarkah? Siapa??" Tanya Rene penasaran, namun sepertinya Pink enggan untuk menjawabnya.


BERSAMBUNG!!!


Halo, terima kasih sudah membaca cerita ini! Jangan lupa klik Like, Favorit, Vote dan beri komentar yang mendukung! Daahh bestie ☺️🙏♥️


IG Author : NessaCimolin