THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
TINGKAH PEACH



"Bulan purnama akan berlangsung selama beberapa hari, paling lama mungkin tiga hari" Peach berjalan pelan, ia menoleh ke arah Winter seolah meminta agar gadis itu mengikuti dirinya. "Dan selama itu kau akan terjebak dalam wujud binatang mu"


"A-a-apa??"


"Aku datang kemari untuk menawarkan bantuan" Peach tersenyum manis.


Winter terlihat menunduk menatap kedua kakinya lalu mengalihkan pandangannya untuk menatap kedua tangannya, gadis itu terdiam sejenak. Ia tengah berpikir mengenai ucapan Peach mengenai bulan purnama yang sebentar lagi akan terjadi.


Kedua mata Winter terpejam sejenak. "Apa yang akan terjadi jika aku berada dalam wujud binatangku??"


"Seperti para manusia Serigala di asrama, setiap bulan purnama tiba, kami mengurung mereka selama beberapa hari. Lalu setelah mereka sudah kembali ke wujud manusianya, kami akan memberikan mereka sedikit ramuan"


"Apa alasanmu mengurung mereka??"


Peach terdiam, ia tersenyum mendengar perkataan Winter. "Pernah kah kau membunuh seseorang sebelum ini?"


"A-apa??"


Senyuman Peach sungguh mengerikan, dari balik senyumnya itu, dia seperti sedang mengintimidasi Winter. Buru-buru Winter mengajak Peach menjauh dari kerumunan manusia di dekat mereka.


Kedua gadis itu duduk disebuah bangku tepi trotoar, Winter membelikan Peach segelas kopi dingin. Gadis itu terlihat bingung menghadapi sifat Peach yang tahu segalanya mengenai kehidupannya.


"Apa kau peramal??"


Peach menoleh pelan. "Bukan, aku ini penyihir"


"Memangnya apa perbedaan penyihir dan peramal??" Winter terkekeh, gadis itu menyeruput segelas kopi di tangan kanannya.


"Peramal bisa menentukan masa depan, sedangkan penyihir tidak bisa"


"Tapi kau tahu mengenai masa laluku!!" Sahut Winter cepat.


"Kapan-----"


"Kau barusan mengatakan bahwa aku pernah membunuh seseorang!" Belum selesai Peach meneruskan kalimatnya, Winter sudah memotong pembicaraan gadis itu. "Itu benar!!"


"Kapan itu?"


"Aku tidak mengingatnya, tapi aku yakin bahwa saat aku masih kecil aku pernah membunuh seseorang"


Peach terkekeh, ia sangat senang. Ternyata gadis yang selama ini dia cari adalah Winter, kini penyihir itu tidak khawatir lagi akan saudari kembarnya yang menyukai Arthur. Peach bisa dengan mudah menjodohkan Winter dengan Arthur, karena mereka berdua memang sudah ditakdirkan untuk bersama.


"Mengenai ramuan yang aku katakan, sebenarnya ramuan itu untuk mengembalikan ingatan Werewolf ketika siklus purnama telah usai"


"Tunggu!" Winter terkejut mendengar penjelasan Peach. "Jadi, ingatanku akan hilang ketika bulan purnama tiba??"


"Benar, aku rasa itulah sebabnya kau tidak mengingat siapa saja yang telah menjadi korbanmu, kau hanya ingat membunuh seseorang tapi tak mengingat siapa yang kau bunuh" ujar Peach jelas.


"Aku ingat jelas saat aku membantai semua remaja di pesta waktu itu"


"Karena itu bukan dorongan dari bulan purnama, kau melakukannya karena ingin"


Peach menatap ke seberang jalan, betapa terkejutnya ia ketika mendapati sosok Arthur yang tengah berjalan-jalan di kota seorang diri. Gadis itu tersenyum menyeringai, dia sadar betul bahwa Winter tidak mengetahui keberadaan Arthur disekitarnya. Penyihir itu menarik pergelangan tangan Winter, membuat Winter tersentak kaget dan menumpahkan kopinya.


"Ayo ikut aku!"


"Ke-kemana??"


"Sudahlah, ayo ikut saja!" Gadis itu membawa tubuh Winter menyebrangi jalan, rupanya Arthur sudah memasuki area toko buku. Hal itu membuat Peach menggembungkan sebelah pipinya lalu menghela nafas berat.


"Hei, kau mau membawaku kemana??"


Penyihir berwajah dingin itu memberikan Winter beberapa lembar uang, ia meminta bantuan pada Winter untuk membelikan sebuah buku, di toko yang ada di depan mereka saat ini. Peach beralasan bahwa dirinya tidak terlalu menyukai tempat dengan banyak manusia di dalamnya. Tentu saja hal itu membuat Winter tak percaya, mengingat Peach sendiri yang menyusul dirinya saat di restoran.


"Kenapa bukan kau saja?" Winter menerima beberapa lembar uang kertas.


"Ayolah aku mohon! Tolong ya?"


Dengan sigap, Peach mendorong tubuh Winter ke pintu kaca toko yang langsung saja membuat Winter sudah berada di dalam toko tersebut. Dari luar, Winter bisa melihat bahwa Peach melambaikan tangannya sambil tersenyum.


Gadis cantik itu mulai menyusuri setiap rak buku yang berjejer rapi di toko itu, ia tak menemukan buku yang dimaksud oleh Peach. Jelas saja! Karena Peach mengarang judul buku yang dia inginkan, tanpa sepengetahuan Winter, Peach memasuki area toko. Penyihir dengan sihir gelap itu mengawasi Winter dari jauh, dia cukup berhati-hati agar Winter tak menyadari keberadaan dirinya.


Winter menjatuhkan beberapa buku yang di tumpuk oleh seseorang di samping rak. Segera gadis itu menunduk untuk menyusun ulang buku-buku yang tak sengaja ia robohkan.


"Maafkan aku, aku tidak melihatnya" ucap Winter sopan.


"Winter???"


Eh?? - Winter.


Gadis cantik itu menengadahkan wajahnya, ia langsung jatuh terduduk ke belakang saking kagetnya karena bertemu dengan Arthur. Mengingat dirinya terakhir kali bertemu dengan Arthur, ketika tragedi ciuman malam itu.


"A------"


"Biarkan saja buku itu, nanti akan aku kembalikan" Arthur mengulurkan tangannya untuk membantu Winter berdiri.


Winter meraih uluran tangan Arthur, tanpa ia sadari kedua pipinya merona merah. Gadis itu berusaha keras untuk menyembunyikan wajahnya dari Arthur.


"Aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini" ujar Arthur ramah.


"Anu---- Aku...."


Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan erat, ia memejamkan kedua matanya rapat karena bingung harus bersikap bagaimana di depan Arthur. Dia ingin meminta maaf, tapi sepertinya kalimat itu tidak akan keluar dengan mudah.


"Apa kau sakit??" Arthur menyentuh dahi Winter, kedua mata gadis itu langsung mendelik. Buru-buru ia menepis tangan Arthur dengan kasar.


"T-tidak!! Aku tidak sakit!!" Sergah Winter cepat. "A-aku, aku ingin kau melupakan yang waktu itu"


Terkejut? Tentu saja Arthur terkejut, bagaimana dia bisa melupakan ciuman pertamanya dengan Winter. Meskipun hal itu sangat tidak terduga, tetapi kesan pertama tidak mungkin bisa dilupakan dengan mudah. Keduanya terlihat saling diam, Arthur sendiri tidak merespon kalimat dari Winter. Melihat hal itu, Peach jadi penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


"Kenapa kau ingin aku melupakan nya??"


"Aku tidak tahu, semenjak aku bilang bahwa aku ingin menjadi temanmu waktu itu. Aku tidak merasa benar-benar menjadi temanmu, jika yang aku lakukan malam itu salah dan membuatmu membenciku. Aku sungguh minta maaf"


Arthur mengembalikan buku yang ia pegang ke dalam rak. "Kau tidak perlu minta maaf Winter!"


Duh! Sebenarnya mereka sedang membicarakan apa? - Peach.


"Eh? T-tapi..."


"Aku tidak marah dan aku tidak membencimu" Arthur tersenyum tulus memandang Winter.


Peach kesal karena rencananya untuk mendekatkan Arthur dan Winter tidak berjalan mulus. Beberapa manusia datang ke lorong tempat Winter dan Arthur berbicara, manusia itu tengah mencari buku yang akan mereka beli. Peach tertawa senang karena mendapatkan ide bagus, ia tahu betul dengan apa yang disembunyikan oleh Winter di balik topinya. Karena hal itu lumrah terjadi pada manusia Serigala saat purnama akan tiba.


Coba kita lihat! Apakah nalurimu untuk melindungi dia dari para manusia masih ada atau tidak? - Peach.


Tik!


Eh?? - Arthur.


Kedua mata Arthur membulat lebar ketika secara tiba-tiba topi yang dikenakan Winter hilang entah kemana, Phoenix itu memandang sekeliling untuk mencari apakah ada penyihir disekitar mereka atau tidak? Segera Arthur menutupi telinga Winter dengan kedua tangannya.


"Eh-- Kenapa??" Winter terkejut melihat sikap Arthur. Gadis itu segera sadar bahwa topinya telah hilang, wajah Winter mendadak menjadi sangat panik. "B-bagaimana ini??"


Winter merengek panik, ia menatap Arthur yang malah memperhatikan dirinya tanpa berkata apapun. "Hwee!! Bagaimana ini??"


"Sebaiknya kita keluar dari sini!"


"Bagaimana caranya?? Dimana topiku?" Kristal bening mulai terlihat di kedua mata Winter, bukan karena dia takut ketahuan dengan para manusia. Dia sangat takut karena topi yang ia curi telah hilang, dengan begitu ia tidak bisa menepati janjinya untuk mengembalikan topi tersebut.


"Kumohon jangan menangis Winter, aku akan menutupi telingamu!" Ucap Arthur menenangkan. "Aku janji tidak akan membiarkan identitas mu terbongkar"


Bodoh! Aku menangis karena topi curianku hilang tau!! - Winter.


Dilain sisi, Peach tertawa lebar melihat tingkah Arthur dan Winter. Gadis itu belum merasa puas dengan apa yang dilihatnya. Dia merasa, bahwa Arthur melindungi Winter karena pria itu tahu bahwa Winter adalah makhluk supernatural. Jadi dia ingin membantu gadis itu sebagai sesama makhluk supernatural.


"Ayo pergi!"


...Bersambung!!...


Halo terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk klik tombol Like ya? Komentar, Follow, Favorit dan Vote! Terima kasih!! 😘🙏