THE ORIGINAL

THE ORIGINAL
INSIDEN



Arthur termenung di tepi danau buatan, malam itu seharusnya menjadi malam perayaan pesta di sekolah. Tapi, hal itu berbeda ketika Arthur tidak bisa menemukan Winter di asrama itu.


Ditemani dengan kerikil bebatuan kecil, Arthur melempar setiap batu itu silih berganti ke arah danau. Kedua matanya tak berkedip sama sekali, ia hanya fokua melihat permukaan air yang bergelombang.


Tap!


Tap!


Tap!


Langkah kaki seorang pria bertubuh tinggi datang menghampiri Arthur dari arah belakang, itu adalah Justin. Entah ada urusan apa? Sehingga Justin yang berpakaian rapi harus meninggalkan pesta dan lebih memilih menemui Arthur.


Tatapan Justin kurang menyenangkan, tidak ada senyuman di wajah Vampir itu. Justin diam saja berdiri di balik punggung Arthur, kedua tangannya tersembunyi di balik tubuhnya.


"Hei Arthur..."


Arthur yang mendengar suara Justin lantas berdiri dari duduknya, ia menoleh ke arah Justin. Aneh! Biasanya Justin akan tersenyum atau sekedar memandang Arthur, tapi ini tidak! Kedua mata Justin terus menatap lurus ke sebrang danau.


"Kau mencariku? Ada apa?" Arthur beralih pindah dan berdiri tepat di depan Justin. "Apa kau menemukan Winter?"


Justin menggeleng pelan, kedua pupil mata Justin nampak bergetar, seolah ada perlawanan di dalam tubuh Justin. Melihat kedua tangan Justin yang ia sembunyikan, mendadak Arthur menjadi khawatir.


"Kenapa kedua tanganmu ada di belakang?"


"Maafkan aku...." Ucap Justin lirih.


Tes!


Tes!


Tes!


Kedua mata Arthur dapat melihatnya dengan jelas, tetesan darah entah darimana menetes dari balik punggung Justin. Tetesan itu mendarat tepat di atas papan kayu yang mereka pijak, meskipun cahaya lampu disana tak begitu terang tapi Arthur yakin bahwa itu adalah darah.


"Hei, kau kenapa?" Arthur yang panik segera menyentuh kedua lengan Justin, namun Vampir itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, melawan suatu gejolak di tubuhnya.


"Aku mohon! Maafkan aku...." Ucap Justin sekali lagi.


JLEB!!!!


Justin yang memang merupakan makhluk supranatural dengan gerakkan yang lebih cepat dari siapapun, segera menusukkan sebuah anak panah emas ke perut Arthur. Kedua mata Arthur terbuka lebar, ia merasakan rasa sakit yang amat sangat, rasa sakit itu melebihi ketika dirinya mencoba untuk bunuh diri. Kali ini, benar-benar sakit. Darah merembes dari perut Arthur, sedangkan Justin hanya melihatnya saja dengan tatapan kosong.


"Justin... Apa yang...."


BRUKKK!!!!


Langkah kaki seorang gadis baru saja tiba ke tempat itu, gadis cantik dengan rambutnya yang terurai. Wajah gadis cantik itu seakan menahan rasa sakit, kedua tangannya menyentuh perut yang robek dan berdarah. Sepertinya ia tidak memperdulikan rasa sakit yang menimpanya dan tetap datang ke tempat itu, berharap bisa merubah keadaan.


"TTTIIDDAAAKKKK!!!" teriak Winter sekencang-kencangnya.


Tubuh Winter terasa lemas, kedua kakinya lunglai membuat dia jatuh berlutut ke atas tanah. Air mata tak terasa mengalir deras dari kedua matanya, rasa sakit akibat luka robek di perutnya bahkan tidak terasa jika dibandingkan dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Arthur...." Gumam Winter lirih, di depan matanya Arthur sudah jatuh tersungkur di depan kaki Justin. Pria Phoenix itu bahkan tidak berubah menjadi abu atau api seperti yang biasa terjadi saat dia mencoba untuk bunuh diri.


"Hik... Hik.... Arthur!!"


Kedua mata Justin berkedip, ia mendengar suara tangis dari Winter. Buru-buru Vampir itu menoleh ke belakang, benar saja! Ia melihat Winter yang sedang jatuh terduduk di atas tanah dengan tubuh bersimbah darah. Tatapan Justin mengikuti arah mata Winter memandang, Justin jatuh terjungkal ke belakang setelah melihat temannya Arthur dengan anak panah emas yang menancap di perutnya.


"HEI, ARTHUR!!! ASTAGA! APA YANG TERJADI?"


Justin panik, ia menggoncang-goncang kan tubuh Arthur yang sudah lemas dengan banyak darah di perutnya, melihat Arthur yang sudah tidak bernafas, kedua pupil mata Justin bergetar, ia menangis. Kedua tangan Vampir itu terangkat dan melihat ada banyak darah disana.


"Ya Tuhan...."


"ARTHUR!!!" Pink berlari sekuat tenaga setelah baru sampai ke tempat itu, penyihir itu mendorong tubuh Justin dengan kesal. Ia memangku Arthur yang sudah tidak bernyawa ke pangkuannya. "Huhuhuhu..."


"Ki-kita.... Terlambat?" Peach menyentuh bahu Winter, gadis penyihir itu mencoba menangkan Winter. Satu-satunya yang tidak menangis disana hanyalah Peach, mungkin itu karena sihir gelap yang ada di tubuhnya. Landon turut sedih dengan apa yang terjadi, ia tidak menyangka dirinya tidak bisa melindungi murid-murid meskipun sudah mendirikan sekolah itu.


👉 DUA JAM SEBELUMNYA 👈


"Aku akan ke kamar mandi sebentar, kalian berdua tetaplah tenang disini. Jangan kemana-mana!" Pinta Landon tegas pada Lucy dan Maggie.


Kedua wanita itu mengangguk pelan, setelah Landon pergi, Maggie berdiri dan berjalan-jalan mengelilingi ruangan Landon, sesekali ia menatap keluar jendela seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Hei nak, bukankah profesor menyuruhmu untuk tetap tenang?"


Maggie memutar kedua bola matanya dengan kesal. "Apa?! Aku kan tetap di ruangan ini, aku juga hanya melihat-lihat! Kalau kau iri, silahkan melihat-lihat juga"


"Ketus sekali" ledek Lucy kesal, satu-satunya pemandangan yang membuat Lucy tertarik adalah bingkai foto, disana terdapat foto Landon dan kedua putrinya. Lucy berjalan kesana dan melihat foto itu dari dekat, wanita itu tersenyum bahagia melihat kedua putrinya tumbuh dengan baik.


"Hei, kau bangkit dari kematian karena ada yang memanggilmu kan?" Maggie berjalan mendekati Lucy namun Lucy tidak memperhatikannya, Lucy fokus menatap foto. "Apa kau mendengar ada suara-suara aneh di dalam pikiran mu?"


"Ya, aku mendengarnya! Suara itu menyuruhku melakukan sesuatu kepada pria bernama Arthur, tapi aku tahu itu salah"


Maggie menatap heran. "Apa maksudmu? Kau bisa mengendalikan dirimu?"


"Ya, aku menentang suara yang masuk! Itu sebabnya aku tidak menimbulkan masalah disini" ucap Lucy lalu tersenyum. "Tapi, bagaimana kau tahu mengenai hal itu?"


PRANGG!!!


Maggie menghantam kepala Lucy dengan piala penghargaan yang ada di ruangan itu, seketika Lucy jatuh pingsan. Maggie tersenyum, kedua matanya memutih, benar! Gadis itu sedang di kendalikan, ada seseorang yang merasuki tubuh Maggie.


"Kalau begitu, kau sudah tidak berguna untukku!" Ujar Maggie lirih.


Gadis itu membuka jendela di dalam kantor itu, Maggie melompat keluar dari sana, ia tahu bahwa Landon pasti mengunci pintunya dengan sihir. Tapi, profesor itu lengah dan membiarkan jendelanya tak terkunci.


Di lain tempat, Odd yang memang tak pernah mengikuti pesta, nampak sedang jalan-jalan ke suatu ruangan. Dia tiba di tempat Winter terkurung, Odd terpental saat ingin memasuki ruangan itu, pria berstatus Peri itu lantas memperhatikan sekitar. Benar saja! Ruangan itu ditutup oleh suatu sihir.


"Odd! Apa itu kau?" Winter berdiri di balik Barrier penghalang. "Tolong panggilkan Pink dan Peach, minta mereka menyerap sihir ini"


"Winter, siapa yang mengurung mu di dalam sana?"


"Winter tidak tahu, tapi tolong segera panggil si kembar!" Pinta Winter memohon.


•••


Pink dan Peach datang sesuai panggilan Odd, kedua penyihir itu menyerap sihir pengunci yang dibuat oleh seseorang untuk mengunci Winter. Tepat dari arah yang berlawanan, Maggie datang sambil berlari ketakutan, gadis penyihir berkulit gelap itu menangis dan memeluk Pink.


"Hei, kau ini kenapa?"


"T-tolong! Tolong Arthur!" Ujar Maggie dengan kikuk. Semua mata memandang Maggie heran, terutama Winter yang sudah merasakan hal buruk akan terjadi.


"Katakan dengan benar, jangan berbelit! Tenangkan dirimu dulu"


"Tidak ada waktu!" Sahut Maggie cepat. "A-aku, a-a-ada seseorang yang mengendalikan aku, aku yang mengurung Winter! Lalu a-aku entah darimana di kedua tanganku tadi a-ada anak panah emas dan a-aku memberikannya pada Justin!"


"APA?!" Teriak ketiga gadis itu, terlihat kedua mata Winter sudah berubah menjadi cokelat keemasan.


"Tapi, Justin tidak mungkin membunuh Arthur" sanggah Peach membela.


Maggie menatap Peach bingung. "Itu benar jika itu Justin, tapi aku merasa sesuatu yang berada di diriku sebelumnya pindah pada Vampir itu!" Ucap Maggie menjelaskan.


GROWL!!!


Tanpa pikir panjang, Winter berubah menjadi sosok Serigala besar berbulu abu-abu perak, gadis itu lantas segera berlari mencari keberadaan Justin. Memang benar, jika mereka semua mencari Justin dengan berjalan kaki maka akan kalah cepat, mengingat Justin adalah seorang Vampir. Namun, jika Winter berubah wujud, langkah kakinya akan jauh lebih cepat ketimbang menjadi manusia.


"Ayo Peach!" Pink segera menggandeng tangan saudari kembarnya itu, mereka berlari mengikuti Winter. Sebelum itu, Pink meminta Maggie untuk memberitahu Landon, Ayahnya.


Maggie dengan tubuh yang masih gemetaran lantas pergi kembali ke kantor Landon dan menceritakan apa yang terjadi saat ini.


BERSAMBUNG!!!


Halo, jangan lupa untuk terus mendukung Author dengan cara klik Like Favorit Vote Komentar dan folloh profil Author ♥️ Terima kasih...