The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~87



Siang itu Sofia nampak keluar hotel bersama Aril, meskipun belum menerima jawaban dari gadis itu namun Aril senang saat ia di izinkan untuk mengantarnya pulang.


"Sofia, syukurlah kamu masih di sini ?" saat hendak masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba Adams datang menghampirinya dengan menggendong bayinya, ngomong-ngomong kapan pria itu datang?


"Adams, apa yang kamu lakukan di sini? bukankah seharusnya kamu menghadiri acara kelulusan Irene di Belanda ?" tanyanya kemudian.


"Lily mencarimu dan terus-menerus menangis." ucap Adams beralasan yang langsung membuat Sofia nampak iba saat melihat bayi mungil yang baru berusia berapa bulan itu, lantas ia segera mengulurkan tangannya untuk menggendongnya.


"Tunggu !!" Alex langsung menjauhkan tangan Sofia lalu menggenggamnya dengan erat.


"Siapa bayi itu ?" tanyanya dengan menyipitkan matanya, apa bayi itu anak mereka berdua? lalu pandangannya beralih menatap mereka bergantian untuk meminta penjelasan.


"Bayi ini milikku dan istriku, Ar. Jadi kamu tak perlu cemburu seperti itu, Sofia belum ku apa-apain kamu bisa membuktikannya jika mau." sahut Adams setengah meledek yang langsung membuat Sofia seketika memukul bahunya.


"Sumpah bercandamu tidak lucu." ucapnya dengan wajah kesal.


"Tapi sepertinya kalian sudah melakukannya, apa secepat itu? apa kalian bermain kilat ?" imbuh Adams lagi saat tak sengaja melihat tanda merah di leher gadis itu dan tentu saja membuat Sofia langsung memukulinya secara membabi buta.


"Ar, apa kau tidak ingin membantuku? lihatlah calon istrimu hampir membunuhku dan putriku." teriak Adams kemudian.


"Membunuh apaan, lihatlah baby Lily justru mendukungku." ungkap Sofia saat bayi dalam gendongan pria itu nampak tergelak melihat sang ayah ia pukuli.


"Harusnya kau berterima kasih padaku, karena berkat usahaku kalian kembali bersatu." tukas Adams yang sontak membuat Sofia nampak mengernyit.


"Jadi ini semua karena ulahmu ?" ucapnya tak percaya, jadi pria itu sengaja bekerja sama dengan cabang perusahaan milik Aril agar mereka kembali bertemu?


"Tentu saja, tapi ini ide dari paman James dan juga paman William." terang Adams yang membuat Sofia semakin terkejut, lalu gadis itu beralih menatap ke arah Aril namun pria itu langsung membuka suaranya.


"Aku benar-benar tidak tahu, sayang." ucapnya sembari mengangkat kedua jarinya.


"Ehm, yang sudah sayang-sayangan jadi kapan nih ponakanku jadi ?" ledek Adams kemudian.


"Apaan sih Dams, sudahlah aku mau pulang dulu." timpal Sofia lantas segera melangkahkan kakinya untuk pergi, namun Adams lagi-lagi menahannya.


"Aku titip baby Lily dulu." ucapnya kemudian.


"Baiklah, ayo sayang pergi ke rumah aunty ya." timpal Sofia seraya menggendong bayi tersebut.


Setelah itu ia segera berlalu menuju mobil milik Aril yang terparkir tak jauh dari sana.


"Tidak bisakah kau tidak menakutinya ?" ucap Sofia saat baby Lily nampak mencebikkan bibirnya ketika melihat ke arah Aril yang sedang mengemudi.


"Aku tidak menakutinya." sahut Aril.


"Tapi baby Lily menginginkan mu tersenyum padanya." ucap Sofia yang langsung membuat Ariel menoleh ke arah bayi itu, lalu mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman kecil.


"Apa tidak bisa lebar lagi? mulai sekarang kau harus belajar menjadi ayah yang baik." tukas Sofia kemudian.


"Sepertinya kamu sudah tak sabar ingin mempunyai anak denganku." balas Aril yang sontak membuat Sofia menelan ludahnya, pria itu selalu saja bisa mematahkan ucapannya. Namun setelahnya gadis itu nampak menahan senyumnya.


Sesampainya di rumahnya Sofia langsung di sambut oleh kedua orang tuanya. "Sayang aku sangat merindukanmu." ucap Anne setelah putrinya tersebut keluar dari dalam mobilnya.


"Aku juga merindukan mu mommy." balas Sofia, setelah itu ia membuka pintu mobil belakang.


"Lihatlah siapa yang ku bawa ?" ucapnya sembari mengeluarkan baby Lily yang sedang tertidur pulas dari dalam sana.


"Ayo masuklah Mommy sudah membuat makan siang untuk kalian." ajak Anne kemudian.


Sesampainya di dalam rumah baik Sofia maupun Ariel nampak terkejut saat melihat kehadiran William dan Merry begitu juga dengan putra bungsu mereka Jose sudah berada di sana.


"Apa yang kalian lakukan di sini ?" ucap Aril seraya mendekati mereka.


"Tentu saja makan siang bersama dan membicarakan tanggal pernikahan kalian." sahut William dan sontak membuat Aril maupun maupun Sofia nampak melebarkan matanya.


"Menikah ?" ulang Sofia.


"Astaga kenapa kalian mendahuluiku dan bukankah sebelum menikah harus ada lamaran dulu? Dan aku belum sempat membeli cincinnya." tukas Aril.


"Sudah kami persiapkan lagipula menunggu kalian membuat keputusan itu sangat lama dan kami sudah tak sabar ingin menimang cucu." tegas William seraya mengambil sebuah kotak kecil dari dalam kantong celananya.


"Astaga, aku bukan anak kecil lagi yang bisa kalian atur." protes Aril, harusnya ia sendiri yang membeli cincinnya bukan kedua orang tuanya.


"Jika kakak tidak mau biar aku yang....." ucapan Jose langsung terhenti saat Aril menyelanya.


"Jauhkan tanganmu dari cincin itu Jose !!" perintah Aril hingga membuat sang adik kembali duduk di kursinya.


Kemudian Aril segera mengambilnya lalu membukanya dan nampak sebuah cincin bertahtakan permata yang sangat cantik di dalam kotak beludru tersebut.


"Setelah ini aku akan membelikan yang lebih bagus untukmu." ucap Aril seraya menatap Sofia.


"Memang aku sudah setuju menikah denganmu ?" timpal Sofia kemudian.


"Tapi aku memaksa Sofia dan takkan ku biarkan kamu menghilang lagi dariku." ucap Aril sembari menarik tangan gadis itu, lalu memasangkan cincin tersebut di jarinya dan itu membuat Sofia nampak tersipu malu.


"Cium, cium !!" teriak Jose dan Aril langsung meraih pinggang Sofia lantas mendekatkan wajahnya, saat bibir keduanya hendak menyatu tiba-tiba tangis baby Lily terdengar nyaring hingga membuat mereka urung melakukannya.


"Sial !!" umpat Aril dalam hati, Adams benar-benar sedang menguji kesabarannya.


"Aku akan menidurkannya dulu di kamar." ucap Sofia lantas mengambil baby Lily dari gendongan sang ibu, setelah itu ia segera berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Setelah di berikan sebotol susu, baby Lily kembali tertidur. lalu Sofia segera beranjak dari ranjangnya namun tiba-tiba pintu kamarnya di buka dari luar.


"A-apa yang kamu lakukan di sini ?" tanya Sofia kemudian saat melihat Aril datang lalu kembali menutup pintu kamarnya dari dalam, setelahnya pria itu melangkah mendekatinya.


"Aku ingin melanjutkan yang tadi sempat tertunda." sahut Aril kemudian.


"Melanjutkan apa ?" Sofia nampak tak mengerti, kemudian berlalu menjauh tapi pria itu langsung menarik tangannya hingga kini tak ada jarak di antara mereka.


"Ka-kau mau ngapain? ada orang tua kita di bawah." Sofia langsung mengingatkan.


"Mereka semua pergi mengurus acara pernikahan kita." sahut Aril yang tak membiarkan gadis itu lepas darinya lagi sedikitpun.


"A-ada baby Lily." Sofia kembali mengingatkan.


"Dia sedang tidur nyenyak, sayang." sahut Aril sembari melirik bayi di atas ranjang itu.


"A-aku tiba-tiba sangat gerah, bagaimana jika aku mandi dulu." ucap Sofia seraya berusaha melepaskan dirinya.


"Setelah ini kamu bisa mandi." balas Aril lantas meraih tengkuk gadis itu kemudian m3lum4t bibirnya.