The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~82



Malam itu Aril nampak meletakkan semua barang-barang kenangannya dengan Helena di dalam drum kosong. Sebuah kesalahan baginya saat membiarkan barang-barang itu tetap ia simpan bertahun-tahun sedangkan perasaannya telah lama hilang.


Setelah itu Aril menyalakan sebatang korek api lantas segera melemparnya ke dalam drum tersebut hingga kini kobaran api nampak menyala membakar semua kenangannya tersebut.


Harusnya ia sudah melakukannya sejak dulu hingga tak membuat Sofia salah paham lebih jauh, kini Aril bertekad untuk memperjuangkan gadis itu. Memperjuangkan perasaannya yang selama ini tumbuh di atas egonya.


Setelah api padam Aril segera berlalu dari gudang belakang kantornya tersebut, kemudian pria itu bersiap-siap untuk pergi ke pesta penyambutan gadis itu di rumahnya.


Saat ia hendak masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba sebuah taksi berhenti tepat di belakangnya lalu keluarlah seorang wanita dari dalam taxi tersebut.


"Ar, apa aku boleh ikut? tadi mobilku tiba-tiba mogok di tengah jalan." mohon Helena yang malam itu terlihat sangat anggun dengan gaun malam bernuansa hitam yang sedikit terbuka dan menonjolkan bentuk keseksiannya itu.


"Apa George tak bersamamu ?" timpal Aril kemudian.


"Dia bilang sudah sampai di sana." sahut Helena dengan wajah memelas.,


"Ar, wajahmu kenapa? siapa yang melakukannya? apa kau baru berkelahi ?" imbuh Helena dengan wajah terkejut menatap keadaan pria itu.


"Bukan apa-apa." sahut Aril yang sepertinya enggan membahasnya lebih jauh.


"Semoga saja begitu, jadi aku boleh ikut mobilmu kan ?" timpal Helena lagi.


Aril nampak menghela napasnya sejenak. "Baiklah." ucapnya lantas segera membuka pintu mobilnya dan Helena yang mendapatkan persetujuan tentu saja langsung girang.


Kemudian wanita itu segera masuk ke dalam mobil tersebut dan sejak mereka berpisah ini untuk pertama kalinya keduanya kembali satu mobil.


"Terima kasih." ucap Helena setelah mobil mulai melaju, namun sepertinya Aril sedang sibuk dengan pikirannya sendiri hingga mengabaikan wanita di sebelahnya tersebut.


Sepanjang jalan mereka nampak diam membisu dan Helena bisa memahami itu, mungkin pria itu sedang ada masalah dengan pekerjaannya. Pernah menjalin hubungan selama dua tahun membuatnya hafal dengan kebiasaan mantan kekasihnya tersebut.


Beberapa saat kemudian Aril menghentikan mobilnya di depan sebuah Mansion yang kini nampak telah ramai oleh para tamu yang datang.


"Terima kasih, Ar. Aku senang kita bisa kembali satu mobil." ucap Helena sembari melepaskan sefty beltnya.


"Hm, turunlah !!" ucap Aril lantas segera keluar dari mobil tersebut dan bersamaan itu sebuah mobil juga nampak berhenti tak jauh dari sana.


"Adams ?" panggil Helena saat pria itu baru keluar dari dalam mobilnya.


"Astaga, wajahmu kenapa ?" ucap Helena saat melihat wajah Adams juga nampak lebam di beberapa bagian sama seperti Aril.


"Hanya sedikit olahraga kecil." timpal Adams seraya menatap sinis ke arah Aril.


"Jadi kalian berangkat bersama? baguslah, Sofia juga mengundangku untuk di jadikan pasangannya malam ini." imbuhnya lagi seraya menatap wanita itu dan juga Aril bergantian, setelah itu Adams segera pergi dari sana.


Rasanya sangat puas sekali bisa membuat pria itu terbakar cemburu, anggap saja itu sebuah balasan atas perbuatan pria itu tadi sore. Gara-gara kejadian itu ia mendapatkan lagi sebuah pukulan dari sang ayah, sungguh sangat miris.


Helena yang melihat Aril nampak terdiam di tempatnya langsung melingkarkan tangannya di lengan pria itu. "Ayo, sepertinya acaranya akan segera di mulai." ucapnya kemudian.


Rasanya sangat asing dengan keadaan seperti ini, ia yang biasanya hanya berkumpul dengan orang-orang dari kalangan bawah kini tiba-tiba harus menyesuaikan dengan kehidupan keluarga kandungnya tersebut.


Ia khawatir jika sikapnya yang selama ini sudah melekat pada dirinya akan mempermalukan keluarganya terutama sang ibu.


"Sayang, kau sudah siap ?" ucap Anne setelah masuk ke dalam kamar putrinya tersebut.


"Aku sedikit gugup." sahut Sofia yang terlihat duduk di tepi ranjangnya.


"Ada Daddy di sini sayang, tidak perlu gugup." ucap James tiba-tiba setelah masuk ke dalam kamar gadis itu, rupanya pria tersebut menyusul sang istri saat melihat wanita itu berlalu pergi meninggalkan pesta.


Kemudian James langsung menggandeng putrinya itu keluar kamarnya dan tentu saja itu membuat Sofia nampak terharu. Sejak tahu ia adalah putrinya, pria itu selalu memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh kesabaran menghadapinya yang terkadang suka menyinggung perasaannya.


"Jangan gugup ini adalah pestamu, tetap jadi dirimu sendiri dan selamat datang di duniamu yang baru sayang." ucap James seraya mengeratkan genggamannya hingga membuat putrinya itu benar-benar merasa nyaman.


Kini mereka nampak menuruni anak tangga dan para tamu undangan pun langsung teralihkan pandangannya. "Sofia ?" Daniel nampak melebarkan matanya saat melihat gadis yang sangat mirip dengan Sofia sedang menuruni anak tangga, meskipun gadis itu terlihat lebih terawat daripada sahabatnya tersebut.


"Di-dia? apa aku tidak salah lihat ?" nyonya Margaret pun nampak terkejut dengan apa yang ia lihat bahkan wanita itu terlihat mengambil kacamatanya di dalam tasnya lalu segera memakainya.


"Tidak, ini pasti mimpi. Daniel cubit tangan mama sekarang !!" perintahnya pada sang putra.


"Apaan sih Ma ?" Daniel nampak tak mengerti dengan sikap aneh ibunya tersebut.


"Ini pasti mimpi." nyonya Margaret mencubit tangannya sendiri dengan keras dan detik selanjutnya wanita itu nampak meringis kesakitan.


Kini Sofia telah berada di tengah pesta dan pandangannya nampak tak sengaja ke arah Aril yang sedang berdiri di ujung ruangan bersama dengan George dan juga mantan kekasihnya tersebut.


Melihat itu ia jadi semakin yakin jika keputusannya sudah tepat. "Kau sangat cantik malam ini, Sof ?" puji Adams yang tiba-tiba mendekati gadis itu dan rupanya pria itu juga nampak memakai warna pakaian yang sama dengan Sofia, sepertinya mereka telah merencanakan sebelumnya.


"Terima kasih dan harusnya kau juga tampan jika saja wajahmu tak bengkak seperti itu." timpal Sofia saat melihat wajah lebam pria itu.


"Sudah jangan di pikirkan, ngomong-ngomong apa kamu sudah memikirkan baik-baik keputusanmu? lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu? apa mereka akan setuju ?" bisik Adams kemudian.


"Aku belum bicara pada mereka tapi jika aku memohon mereka pasti akan setuju." sahut Sofia, entah rencana apa yang sedang mereka bicarakan.


"Sayang, ayo Mommy perkenalkan pada semua orang." ajak Anne seraya menggandeng putrinya tersebut.


"Terima kasih pada tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang sudah meluangkan waktunya untuk datang dalam penyambutan putri kami. Dia adalah Jeslin Sofia Collins, putri kami yang telah belasan tahun menghilang dan kini kami kembali berkumpul berkat doa kita semua selama ini." ucap Anne dan nyonya Margaret yang mendengar itu nampak menelan ludahnya.


Entah kenapa kepalanya tiba-tiba terasa berputar dan selanjutnya....


Brukkk


"Mommy ?" Daniel langsung berteriak hingga membuat perhatian para tamu undangan teralihkan padanya dan sang ibu.