
"Sofia, kamu kemana saja ?"
Sofia yang melihat kehadiran Aril langsung melangkah ke balik punggung Adams berharap pria itu melindunginya, sungguh ia tidak ingin lagi berhubungan dengan CEOnya tersebut.
Melihat Sofia enggan bertemu dengan CEOnya, Adams segera pasang badan. "Dia tidak ingin bicara denganmu, Ar." ucapnya saat Aril berusaha mendekatinya.
"Adams, minggirlah apa kamu lupa siapa aku ?" geram Aril menatap bawahannya itu.
"Di kantor kamu memang atasanku Ar, namun di luar kedudukan kita sama dan ku peringatkan jauhi Sofia !!" tegas Adams melindungi gadis itu.
"Sofia, apa kamu lupa dengan perjanjian kerja itu? Kamu harus membayar ganti rugi jika melanggarnya." ujar Aril berharap gadis itu mengingatnya karena hanya dengan perjanjian itu ia bisa membuatnya tetap berada di sampingnya.
"Aku tidak mempunyai uang, nanti jika sudah punya aku janji akan menggantinya." timpal Sofia.
"Perjanjian kerja apa maksudmu, Sofia ?" Adams yang sedari tadi mendengar percakapan mereka nampak tak mengerti.
"Ceritanya panjang, intinya aku harus membayar satu tahun gajiku jika aku tiba-tiba resign." terang Sofia yang sontak membuat Adams nampak geram.
"Kamu dan calon ayah mertuamu itu benar-benar keterlaluan, Ar. Kalian bisanya hanya mengancam Sofia, sekarang katakan berapa aku harus menggantinya ?" ucap Adam kemudian.
"Tidak perlu, Adams." tolak Sofia, sekali lagi ia tak ingin berhutang budi pada pria itu. Namun sepertinya Adams tak mendengarkannya dan kini justru nampak mengirim sejumlah uang pada Aril.
"Apa segini cukup ?" ucapnya seraya menunjukkan angka nominal di sana.
"Itu sudah lebih dari cukup dan seharusnya kamu tidak melakukan itu." sela Sofia dengan nada protes.
Aril yang merasa di hina nampak mengepalkan tangannya, jika saja ayah dari pria itu tak berteman baik dengan ayahnya mungkin ia sudah menghajarnya.
"Mulai sekarang jangan ganggu Sofia lagi, biarkan dia hidup tenang tanpa merasa terancam." tegas Adams lantas segera membawa Sofia menjauh dari sana.
"Sial !!" umpat Aril, ia benar-benar di buat mati kutu oleh pemuda itu.
Ia akui memang salah karena telah menjebak gadis itu dalam permainannya, namun hanya itu yang bisa ia lakukan karena dari awal Sofia sudah sangat membencinya.
"Apa maksud dari ucapan Adam? apa paman James telah melakukan sesuatu pada Sofia ?" gumamnya saat mengingat perkataan pria itu.
"Sepertinya aku harus segera mencari tahu." imbuhnya seraya menatap kepergian Sofia yang semakin menjauh.
"Aku tidak menyangka kamu seberani itu padanya." ucap Sofia setelah mobil yang membawanya melaju kencang meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Kami kenal sejak kecil karena kedua orang tua kami bersahabat." sahut Adams yang langsung membuat Sofia tercengang menatapnya.
"Tapi kamu sangat berbeda dengannya." timpalnya kemudian, meski mereka berdua sama-sama orang kaya tapi Adams lebih sederhana dan berbeda jauh sekali dengan CEOnya itu yang sangat arogan dan.....
Sesampainya mengantar Sofia ke pedesaan Adams kembali pulang, karena masih banyak pekerjaan yang menantinya.
"Kamu akan tetap aman di sini, beristirahatlah dan jangan bekerja lagi." ucapnya sebelum pria itu pulang.
"Terima kasih Adams, entah harus bagaimana aku membalas kebaikanmu ini." sahut Sofia yang merasa bersyukur mengenal pria itu.
Adam nampak menatap lekat gadis di hadapannya itu, sejak pertama bertemu ia sudah tertarik padanya. Namun ia tak ingin terburu-buru mengungkapkan perasaannya, ia ingin gadis itu merasa nyaman dengannya terlebih dahulu.
"Jangan di pikirkan, baiklah aku harus kembali Sofia." tukas Adams kemudian.
Malam harinya James nampak tiba di kediamannya dengan wajah lelahnya, di usianya yang menginjak 46 tahun harusnya pria itu mulai mengurangi pekerjaannya hanya saja ia tak memiliki anak lelaki yang mampu menggantikannya.
Sementara Jessica yang masih berusia 19 tahun terlalu manja untuk ia berikan tanggung jawab besar hingga membuatnya mau tak mau harus bekerja keras seorang diri.
Untuk itu ia berharap putrinya segera menikah dengan Aril agar sebagian perusahaannya bisa di kelola oleh pria itu mengingat ia membangun beberapa perusahaan bersama dengan William.
"Aku sudah menyiapkan mu air hangat." ucap Anne saat melihat suaminya itu nampak menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa, lantas melepaskan beberapa kancing kemejanya.
"Aku membawa berita untukmu entah itu berita baik atau buruk bagimu." ucap James dan sontak membuat Anne yang sedang menuang air putih langsung menatapnya.
"Berita apa ?" ucapnya lalu kembali memenuhi gelas di tangannya dengan air putih lantas memberikannya pada pria itu.
James nampak menghabiskannya lalu meletakkan gelasnya di atas meja sebelum kembali bersuara. "Aku mendapatkan kabar jika Marco telah tiada." ucapnya yang langsung membuat Anne nampak melebarkan matanya terkejut.
Bagaimana pun Marco dahulu, pria itu tak pernah bersikap buruk padanya dan ia benar-benar syok saat ini. Sudah belasan tahun ia tak pernah bertemu dengan pria itu, tepatnya sejak putrinya menghilang.
Ia dan suaminya itu memang sempat mencurigai pria itu namun sosoknya benar-benar seperti di telan bumi. "Lalu bagaimana dengan putri kita, bukankah dia satu-satunya petunjuk? Marco tidak mungkin menghilang begitu saja meninggalkan kemewahannya jika bukan karena sesuatu yang sangat penting." ucapnya kemudian.
"Marco begitu menyayangi Jeslin, aku yakin di balik hilangnya dia pasti ada campur tangan pria itu." imbuhnya lagi dengan frustrasi, nampak air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.
Ia seorang ibu dan ibu mana yang tak memikirkan putrinya meskipun sudah bertahun-tahun menghilang.
"Tenanglah, aku akan mencari putri kita lagi sampai ketemu." James langsung menenangkan sang istri, ia juga begitu kehilangan putrinya bahkan untuk tersenyum pun ia tak mampu melakukannya.
Entah bagaimana keadaan putrinya sekarang, apa dia baik-baik saja? bagaimana rupanya ? karena saat menghilang, putrinya itu masih begitu kecil dan kini 18 tahun telah berlalu dan gadis itu sekarang telah berusia 20 tahun.
Di sisi lain Jessica yang baru pulang nampak bersandar di dinding mendengarkan pembicaraan kedua orangtua itu diam-diam, entah kenapa ia begitu merasa iri dengan kakaknya yang hilang itu karena begitu di cintai oleh sang ayah.
Sedangkan dirinya yang selalu berada di sekitarnya tapi seperti tak terlihat oleh pria itu, ingin sekali ia bersikap akrab dengan ayahnya itu namun nyatanya sebuah jarak seakan memisahkan mereka.
Ingin sekali ia bermanja dan memeluknya namun sifat dingin pria itu membuatnya takut untuk melakukannya dan tak terasa tiba-tiba air mata nampak memenuhi pelupuk matanya namun gadis itu langsung mengusapnya sebelum benar-benar jatuh membasahi pipinya.