
"Lucy, bisakah kita duduk di meja sana saja sepertinya aku mulai lelah." mohon Sofia seraya menunjuk meja kosong tak jauh darinya itu.
"Baiklah, tapi kamu merasa lebih baikkan sekarang ?" timpal Lucy sembari mengajak sahabatnya itu berlalu dari lantai dansa tersebut yang masih di penuhi oleh para pengunjung.
"Tentu saja, terima kasih." sahut Sofia, kemudian mereka nampak duduk di sebuah meja kosong.
Setelah itu Sofia segera memanggil pelayan untuk memesan minuman. "Tidak Sofia, jangan alkohol." tolak Lucy.
"Benar Sofia, kami mengajakmu ke sini untuk memperbaiki mood kamu bukan untuk membuatmu mabuk." tegas Juan.
"Hanya satu gelas itu takkan membuatku kehilangan kesadaran, Juan." Sofia nampak memaksa dan Lucy maupun Juan tak mampu mencegahnya.
"Baiklah hanya satu gelas." ucap mereka.
Namun sepertinya itu tak berlaku bagi Sofia karena pada akhirnya gadis itu nampak begitu tak berdaya setelah memesan beberapa gelas alkohol tanpa bisa di cegah oleh kedua sahabatnya itu.
"Sofia, stop !!" Lucy langsung mengambil gelas yang di pegang gadis itu saat hendak di minumnya kembali.
"Satu gelas lagi Luc, ku mohon." ucapnya namun Lucy segera menjauhkannya.
"Lebih baik ku antar kau pulang sekarang." Lucy dan Juan segera beranjak dari duduknya untuk membawa sahabatnya itu pulang, namun tiba-tiba....
"Tunggu !!" ucap seorang pria yang sedari tadi nampak mengawasi mereka.
"Tu-tuan CEO ?" ucap Lucy dan Juan bersamaan saat melihat kehadiran CEOnya yang tiba-tiba hadir itu, keduanya nampak terkejut karena baru kali ini langsung berhadapan dengan pria itu.
"Biar aku yang mengantarnya pulang." ucap Aril kemudian.
"Tapi tuan...." Juan nampak tak enak hati, bagaimana pun juga mereka yang membawa gadis itu ke tempat ini jadi mereka jugalah yang harus bertanggung jawab untuk mengantarnya pulang.
"Tidak apa-apa, dia asisten pribadi saya jika kalian lupa." tegas Aril, lantas pria itu beralih menatap ke arah Sofia yang nampak menenggelamkan kepalanya di atas meja.
"Ayo bangunlah !!" ucapnya seraya membantu gadis itu beranjak dari duduknya.
Sofia yang berada di ambang kesadarannya nampak menatap ke arah pria itu. "Hei tuan kulkas apa yang kau lakukan di sini ?" ucapnya dengan tubuh sempoyongan.
"Aku akan mengantarmu pulang." sahut Aril menanggapi.
"Pulang? aku tidak mau, aku masih mau di sini." tolak Sofia seraya menjauhkan dirinya dari pria itu namun tubuhnya yang tak stabil membuat gadis itu hampir terjatuh, namun beruntung Aril segera menahannya.
"Aku tidak suka penolakan." Aril nampak mulai tak sabar tapi itu justru membuat Sofia terkekeh mendengarnya.
"Hei tuan, kenapa kau pemaksa sekali? aku akan pulang bersama mereka saja." ucapnya menimpali seraya menatap ke arah Lucy dan Juan yang berada tak jauh dari hadapannya tersebut.
"Kalian berdua segera pergilah biar aku yang mengurusnya !!" perintah Aril kemudian hingga membuat kedua karyawannya itu bergegas pergi dari sana.
"Kami permisi tuan, tolong maafkan Sofia yang sedikit merepotkan anda." ucap Juan, lantas segera mengajak kekasihnya itu untuk meninggalkan bar tersebut.
"Astaga tuan kulkas, kenapa kau mengusir mereka ?" protes Sofia, ingin sekali ia mengejar mereka tapi tubuhnya terasa begitu kepayahan.
"Ayo pergi dari sini !!" perintah Aril kemudian.
"Aku tidak mau." tolak Sofia seraya menjauhkan dirinya namun tiba-tiba sebuah lengan kekar langsung mengangkat tubuhnya hingga membuatnya terasa melayang saat ini.
Kepalanya yang makin berat pun tak mampu membuatnya hanya untuk sekedar meronta.
Keesokan harinya.....
Sementara Sofia nampak terbangun saat mendengar sebuah pintu di buka dan suara samar-samar seorang pria.
Kemudian gadis itu langsung membuka matanya dan betapa terkejutnya ketika melihat CEOnya itu baru keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk sebatas pusarnya.
"Ke-kenapa aku berada di sini ?" ucapnya seraya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sementara Aril yang melihat gadis itu bersembunyi di bawah selimutnya nampak mengulas senyum tipisnya.
"Baiklah Mike, nanti ku hubungi lagi."ucapnya lantas segera mematikan panggilannya tersebut.
"Tetaplah seperti itu saya ingin berganti pakaian, tapi jika ingin mengintip silakan saja." ucapnya kemudian.
"Dasar mesum, kenapa tidak ganti pakaian di dalam kamar mandi saja ?" teriak Sofia dari balik selimutnya, namun tak ada lagi balasan dari pria itu.
Setelah menunggu beberapa saat Sofia nampak sedikit menurunkan selimutnya untuk mengintip, semoga saja pria itu sudah selesai berganti pakaian jika tidak ia bisa mati karena kehabisan napas.
"Syukurlah." gumamnya saat melihat pria itu telah memakai celana training panjang serta kaos rumahan.
"Katakan kenapa aku bisa berada di sini ?" ucapnya setelah menurunkan seluruh selimutnya.
"Kamu banyak minum semalam." sahut Aril yang kini telah duduk di sofa seraya memangku laptopnya, sepertinya pria itu sedang mengecek pekerjaannya meski hari libur sekalipun.
"Benarkah ?" Sofia nampak mengingat-ingat kejadian semalam, lalu saat pandangannya ke arah bawah gadis itu langsung melotot.
"Ba-bajuku ?" ucapnya saat menyadari pakaian yang ia kenakan bukanlah pakaiannya semalam namun sebuah kemeja kebesaran yang telah melekat di tubuhnya.
"Semua pakaianmu kotor terkena muntahanmu, lagipula aku tidak mungkin membiarkan mu tidur di ranjangku dalam keadaan seperti itu." terang Aril dengan santainya.
"Semua pakaian ?" Sofia langsung membuka selimutnya untuk mengecek seluruh pakaiannya dan seketika gadis itu menelan ludahnya saat menyadari ia hanya mengenakan ****** ******** saja, jadi semalam pria itu telah melihat seluruh tubuhnya atau bahkan.... ah tidak-tidak Sofia nampak menggeleng cepat.
"Semalam kamu tidur di mana ?" tanyanya dengan wajah penasaran.
Ariel langsung mengangkat dagunya menunjuk ke arah sebelah ranjangnya itu dan itu membuat Sofia kembali melotot, jadi semalam mereka tidur seranjang dengan pakaian seperti ini?
"Jadi kamu juga yang mengganti pakaianku ?" tanyanya lagi.
"Sudah ku bilang kamu bukan tipeku jadi jangan berpikiran macam-macam." ucap Ariel seakan mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh gadis itu.
Kemudian ia menutup kembali laptopnya lantas segera beranjak dari duduknya dan itu membuat Sofia sedikit lega.
"Kau melanggar peraturan poin 3 yaitu meminum alkohol jadi hukumanmu harus mematuhi perintahku dalam satu hari ini." ucap Aril yang langsung membuat Sofia menatapnya tak percaya.
"Apa kau sedang bercanda ?" protesnya seraya beranjak dari ranjangnya, beruntung kemeja yang ia kenakan kebesaran hingga mampu menutupi sebagian pahanya.
"Aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku, sepertinya minuman itu telah merusak otakmu hingga membuatmu pikun." tegas Aril seraya menyerahkan selembar perjanjian kontrak kerja tersebut pada gadis itu.
"Astaga." Sofia nampak merutuki dirinya sendiri, semalam ia telah melupakan perjanjian itu.
"Baiklah, aku mengaku salah. Jadi apa yang harus ku lakukan sekarang ?" Akhirnya Sofia menyerah dan tak banyak protes lagi.
"Mandilah kamu sangat bau." ucap Aril, kemudian segera berlalu meninggalkan kamarnya tersebut.
"Ba-bau ?" Sofia langsung mencium dirinya sendiri dan sisa alkohol nampak menyengat dari dalam mulutnya, apa sebelumnya pria itu telah menciumnya diam-diam?