
"Tante, jaga bicara Tante. Sofia tidak seperti yang Tante pikirkan. Dia adalah....." ucapan Adams langsung terjeda saat Sofia memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya.
"Dia siapa hah? wanita simpanan? sudahlah Dams jangan terus membelanya, ingat derajat hidupmu sudah di angkat oleh ayahmu jadi lebih baik kurangi bergaul dengan wanita yang tak sepadan dengan keluargamu." tegas Nyonya Margaret, lantas segera berlalu masuk ke dalam restoran tersebut.
Adams nampak mengepalkan tangannya. "Kenapa kamu tak mengatakan yang sebenarnya Sof, jika kamu adalah putri tuan Collins ?" ucapnya tak mengerti dengan sikap gadis itu.
"Biarkan saja, aku tak peduli dengan perkataannya karena dengan begitu aku bisa menilai mana orang yang tulus dan tidak. Aku ingin mengenal orang yang benar-benar tulus bukan tiba-tiba baik hanya karena memandang siapa keluargaku." terang Sofia.
"Kamu gadis yang begitu baik Sofia dan aku bangga bisa mengenalmu." puji Adams seraya melangkah menuju mobil gadis itu yang terparkir tak jauh dari sana.
Membuka pintu kemudinya lantas mempersilakan gadis itu untuk segera masuk. "Jangan sungkan mengabari aku jika membutuhkan sesuatu." ucapnya lantas segera menutup pintunya.
"Tentu saja dan jangan lupa untuk datang nanti malam." sahut Sofia lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan restoran tersebut.
Tak berapa lama saat Adams hendak membuka pintu mobilnya sendiri tiba-tiba seseorang menarik kerah bajunya dari belakang lantas memukulnya dengan keras hingga membuatnya hampir terjatuh.
"Kau !!" Adams langsung memicing ketika melihat Aril nampak menatapnya dengan geram.
"Ck, apa aku ada masalah denganmu ?" ucapnya kemudian seraya mengusap sudut bibirnya yang terluka dan sedikit mengeluarkan darah segar.
"Sudah berapa kali ku bilang jauhi Sofia !!" tegas Aril.
"Sofia bukan siapa-siapa kamu Ar, jadi kamu tak berhak melarangku lagipula laki-laki sepertimu tak pantas bersanding dengannya." cibir Adams dan itu semakin menyulut emosi Aril, pria itu langsung melayangkan kembali pukulannya dan begitu juga dengan Adams yang langsung membalasnya hingga keduanya kini nampak saling memukul dan tak ada yang mengalah.
"Astaga, apa yang kalian lakukan !!" nyonya Margaret yang baru keluar dari restoran langsung menghampiri dan melerai mereka.
"Adams apa yang kau lakukan pada Aril ?" tegur nyonya Margaret.
"Dia memang pantas mendapatkannya." timpal Adams lantas segera berlalu masuk ke dalam mobilnya.
Sementara Aril yang terlihat sama babak belurnya nampak mengusap sudut bibirnya yang juga terluka. "Apa kamu baik-baik saja? ayo Tante antar ke rumah sakit." ajak nyonya Margaret dengan khawatir.
"Tidak usah Tante, ini hanya luka ringan." tolak Aril.
"Tapi wajahmu lebam semua." timpal nyonya Margaret namun tak lagi di tanggapi oleh pemuda itu yang lebih memilih berlalu menuju mobilnya.
"Astaga anak-anak ini apa yang sebenarnya mereka permasalahkan ?" gerutu nyonya Margaret tak mengerti.
"Sepertinya aku harus memberitahukan ini semua pada Merry." gumamnya lantas segera masuk ke dalam mobilnya dan memerintahkan sang sopir untuk segera jalan.
Beberapa saat kemudian mobil yang membawa wanita itu nampak berhenti di sebuah Mansion yang sangat mewah. "Andai Merry punya anak perempuan pasti sudah ku suruh Daniel untuk mengejarnya." gumamnya saat menatap Mansion mewah di hadapannya tersebut.
Kemudian nyonya Margaret segera turun lantas berlalu masuk ke dalam sana. "Hei bagaimana kabarnya? bagaimana liburannya, apa sangat menyenangkan ?" ucap Merry saat melihat kedatangan temannya itu.
Para suami mereka adalah relasi bisnis dan otomatis para istrinya saling mengenal dan berteman, meskipun Merry tak begitu dekat karena pergaulannya sedikit di batasi oleh sang suami yang teramat posesif.
"Begitulah sangat menyenangkan, ku rasa lain kali kita harus pergi bersama-sama." timpal nyonya Margaret.
"Tapi aku tak janji jika itu bisa." sahut Merry.
"Kau bagaikan berlian bagi tuan William makanya di simpan terus." kelakar nyonya Margaret dan itu membuat keduanya napasnya tergelak.
"Ini sedikit oleh-oleh semoga kamu suka." imbuhnya seraya menyerahkan sebuah paper bag pada Merry.
"Harusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini." timpal wanita itu lagi.
"Tentu saja dan itu yang membuatku ingin datang kesini, ngomong-ngomong bagaimana gadis itu apa secantik Jessica ?" tukas nyonya Margaret dengan wajah penasarannya.
"Tentu saja, tapi dia terlalu banyak menderita di luar sana" sahut Merry dengan wajah ibanya.
"Tuan Marco memang benar-benar keterlaluan." timpal Nyonya Margaret.
"Oh ya ngomong-ngomong apa perjodohan Aril akan pindah ke kakaknya ?" imbuhnya penasaran, karena wanita itu berniat ingin menjodohkan putranya dengan salah satu putri Anne.
"Tidak, kami sepakat untuk tidak melakukan perjodohan itu lagi. Biarlah mereka memilih pasangan mereka sendiri." sahut Merry yang langsung membuat nyonya Margaret nampak tersenyum girang.
"Ya, kau benar." timpalnya kemudian.
"Sepertinya setelah ini aku harus menyuruh Daniel untuk kembali." imbuhnya dalam hati, karena sebelumnya ia memerintahkan putranya itu untuk mengurus cabang perusahaan ayahnya di luar kota agar tidak terus menerus mendekati gadis miskin itu.
"Oh ya Mer aku tadi melihat putramu berkelahi dengan Adams, aku tak tahu apa yang menyebabkan mereka seperti itu." ucap nyonya Margaret lagi dan sontak membuat Merry terkejut mendengarnya.
"Benarkah ?" ucapnya tak percaya.
"Hm." angguk nyonya Margaret.
"Mereka sudah dewasa jangan terlalu mengkhawatirkannya." timpal William yang baru datang.
"Sayang, kamu tahu apa yang terjadi dengan putra kita ?" Merry langsung beranjak saat melihat suaminya itu.
"Sudah ku bilang Aril sudah dewasa jadi jangan terlalu khawatir, dia tahu apa yang dia lakukan." sahut William.
"Mer sepertinya aku harus pulang, oh ya tuan William senang bertemu denganmu." ucap nyonya Margaret seraya beranjak dari duduknya, kemudian segera pamit pergi.
"Apa yang dia lakukan di sini ?" tanya William setelah kepergian wanita itu.
"Hanya mengantar oleh-oleh." sahut Merry seraya menunjuk paper bag di atas meja.
"Ku harap kamu tidak terlalu dekat dengannya, dia wanita bermuka dua." tegas William.
Merry nampak mengulas senyumnya lantas melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya itu. "Bagaimana aku bisa dekat dengan teman-temanku sedangkan kamu selalu melarangku untuk pergi menghabiskan waktu dengan mereka." ucapnya kemudian.
"Tentu saja karena aku tidak ingin kamu di lirik oleh para pria kurang ajar di luar sana." William nampak mencubit hidung istrinya itu dengan gemas.
"Ehm, tidak bisakah kalian melakukannya di kamar saja ?" tegur Aril sore itu saat baru datang dan itu membuat kedua orang tuanya terkekeh.
"Hey boy, ku dengar kau berantem dengan Adams apa ada masalah penting ?" tanya William kemudian.
"Tidak, kami hanya adu otot saja." sahut Aril.
"Dan Adams pemenangnya ?" timpal William lagi saat melihat wajah putranya itu nampak babak belur.
"Tidak, dia juga sama sepertiku." sahut Aril.
"Kau benar-benar membuatku khawatir sayang." Merry langsung mendekatinya.
"Aku baik-baik saja, baiklah sepertinya aku butuh istirahat." timpal Aril lantas segera berlalu menaiki anak tangga.
"Jangan lupa sebentar lagi kita pergi ke pesta penyambutan Sofia, Ar." teriak Merry namun putranya itu hanya mengangkat sebelah tangannya dan terus melangkah menuju kamarnya.