The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~71



"Hai sayang tumben sekali kamu pagi-pagi sudah kesini ?" Anne langsung mengulas senyumnya menatap pemuda yang baru saja duduk di hadapannya itu.


"Kebetulan aku lewat sini jadi ku pikir sekalian mampir karena aku juga tiba-tiba merasa lapar." sahut Aril beralasan, baginya sudah biasa keluar masuk rumah tersebut karena sejak kecil telah melakukannya.


"Baiklah, bibi akan menyiapkan sarapan untukmu." ucap Anne lantas memanggil pelayannya itu dan tak berapa lama seporsi salad ikan buatan Sofia sudah terhidang di hadapan pria itu.


Kemudian mereka segera menyantap sarapan paginya itu bersama-sama, saat sedang menikmati makanannya tiba-tiba Sofia merasakan sebelah tangannya yang sedang ia letakkan di atas pahanya nampak di genggam oleh seseorang hingga membuatnya langsung melirik ke arah pemuda yang sedang duduk di sampingnya itu.


Namun pemuda itu bersikap seolah sedang tak terjadi sesuatu dan justru nampak makan dengan lahap sembari berbincang dengan sang ayah.


"Lepaskan !!" lirih Sofia, ia yakin pria itu pasti mendengar perkataannya meskipun sedikit berbisik.


Namun bukannya melepaskannya Aril justru semakin erat menggenggamnya. "Diamlah, apa kamu ingin keluargamu tahu jika kita pernah tidur bersama lalu kita di nikahkan ?" balasnya tak kalah lirih hingga membuat Sofia langsung melebarkan matanya mendengar ancaman pria itu.


"Dasar licik." balas Sofia namun itu justru membuat Aril nampak tersenyum miring, padahal sebelumnya ia sudah pernah menceritakannya pada mereka semua.


Akhirnya sepanjang makan Sofia membiarkan tangannya di genggam oleh pria itu, meskipun rasanya sangat hangat dan nyaman tapi saat mengingat bagaimana pria itu berciuman dengan wanita lain membuatnya semakin kesal.


"Aku sudah selesai." ucap Sofia lalu langsung menginjak kaki Aril dengan keras hingga membuat pria itu meringis dan otomatis genggaman tangan mereka terlepas.


"Kamu baik-baik saja Ar ?" tanya James saat melihat pemuda itu nampak gelisah menahan sakit.


"Ten-tentu saja Paman, sepertinya aku di gigit semut." sahut Aril beralasan.


"Benarkah ada semut? nanti biar bibi yang membersihkan ulang." timpal Anne kemudian.


Sofia nampak tersenyum miring lalu bergegas meninggalkan meja makan tersebut dengan membawa piring bekasnya lantas segera mencucinya di dapur. "Biar bibi saja, non." ucap sang pelayan.


"Tidak apa-apa Bi, tanganku masih berfungsi dengan baik." sahut Sofia, meski bekas lukanya masih belum sepenuhnya sembuh.


Melihat putrinya berada di dapur entah kenapa tiba-tiba James merasa bangga dengannya, sepertinya gadis itu bisa ia andalkan untuk menggantikannya mengurus perusahaannya suatu hari nanti.


"Jeslin, tunggu sebentar Daddy dan mommy ingin bicara." ucapnya saat Sofia melewatinya ketika baru keluar dari dapur.


"Namaku Sofia." ucap Sofia mengingatkan.


"Ya tentu saja, nama kamu Jeslin Sofia Collins." timpal James menegaskan namun dengan bibir mengulas senyum menatap putrinya itu.


Sofia nampak terdiam enggan menanggapi, baginya ia adalah seorang Sofia Aderson putri dari Marco Anderson.


"Kami berencana membuat pesta kecil-kecilan untukmu sayang, hanya beberapa relasi terdekat kita yang akan hadir. Mommy berharap kamu tidak keberatan, Mommy ingin mereka mengetahui jika kamu telah kembali." tukas Anne kemudian.


"Terserah Mommy saja." timpal Sofia yang nampak begitu tak peduli dengan rencana mereka, ia yang sudah terbiasa hidup sederhana rasanya sangat aneh jika tiba-tiba harus hidup sesuai dengan standar mereka.


"Baiklah, terima kasih sayang sudah mengizinkan kami untuk melakukan itu. Ngomong-ngomong apa ada yang ingin kamu inginkan atau lakukan, sayang ?" tanya Anne meminta pendapat pada putrinya itu.


Lagi-lagi Sofia nampak terdiam. "Bisakah aku kuliah lagi, aku sudah berjanji pada ayah Marco untuk menyelesaikan kuliahku hingga lulus." mohonnya kemudian dan itu membuat seorang James lagi-lagi merasa tersentil.


Setiap saat putrinya itu selalu mengingat Marco dan itu benar-benar menguji kesabarannya. "Tentu saja, kamu akan kembali kuliah di universitas SG." ucapnya menimpali dan sontak membuat gadis itu langsung menatapnya.


"Kamu datang ke sana bukan sebagai mahasiswa penerima beasiswa, namun sebagai salah satu pemegang saham. Jadi tak ada yang harus kamu khawatirkan." imbuh James lagi saat melihat kecemasan di wajah putrinya itu.


"Hanya kampus itu yang menurut Daddy paling aman & bagus saat ini." sahut James.


"Hm, baiklah." Sofia mengangguk kecil.


"Aku ingin kembali ke kamar." ucapnya kemudian lantas segera berlalu pergi dari sana, sungguh ia malas berdebat dengan pria itu. Karena banyak bicara hanya akan membuat mereka semakin dekat dan ia takut posisi ayah angkatnya tergantikan lagipula ia juga belum sepenuhnya memaafkan ayah kandungnya tersebut.


Sesampainya di kamarnya Sofia nampak membuka pintu balkon lalu melangkah menuju pembatas pagar, gadis itu terlihat menikmati oksigen pagi yang di hasilkan oleh pohon-pohon rindang di hadapannya itu.


Memejamkan matanya lalu menghirup dalam-dalam karunia Tuhan yang begitu berharga bagi makhluk hidup sepertinya, namun tiba-tiba ia merasakan sebuah lengan kekar melingkar di perutnya dan itu membuatnya langsung membuka matanya lalu menoleh ke belakang.


"A-apa yang sedang kamu lakukan di sini ?" ucap Sofia sembari berbalik badan menatap ke arah Aril, berani sekali pria itu masuk ke dalam kamarnya.


"Aku hanya ingin tahu keadaanmu." sahut Aril yang nampak mengurung gadis itu dengan kedua tangannya yang ia letakkan di sisi kanan dan kiri pagar.


"Aku baik-baik saja, sekarang pergilah." sahut Sofia yang merasa risih saat menyadari jarak mereka terlalu dekat bahkan nafas mint pria itu terasa menyapu hangat wajahnya.


"Tidak, Sofia yang ku kenal sangat galak dan banyak bicara bukan Sofia yang pendiam seperti sekarang." tukas Aril.


"Aku memang seperti ini, kamu saja tak mengenalku." sela Sofia sembari menoleh ke sampingnya, ia takut khilaf jika terus menerus menatap wajah tampan di hadapannya itu.


"Jadi secara tidak langsung kamu mengakui jika mempunyai kepribadian ganda ?" cibir Aril.


"Begitulah dan sekarang pergilah dari sini." sahut Sofia lalu mengusir pria itu dan tiba-tiba terdengar seseorang memanggil.


"Kak Aril !!"


"Kak Aril !!"


Mendengar suara Jessica, Aril langsung menarik tangan Sofia untuk menjauh dari balkon dan bersembunyi di balik dinding pembatas antara balkon kamar gadis itu dan sang adik.


"Apa yang kamu lakukan, sekarang pergilah aku tidak mau Jessica melihatmu di sini." protes Sofia, meskipun itu tidak mungkin karena balkon mereka di batasi oleh dinding yang sangat tinggi kecuali sang adik tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya tapi ia juga telah menguncinya dari dalam.


"Baiklah, aku pergi." ucap Aril lantas berlalu menaiki pagar balkon tersebut dan tentu saja itu membuat Sofia langsung melotot.


"A-apa yang kamu lakukan ?" ucapnya tak percaya dengan apa yang sedang pria itu lakukan.


"Tentu saja kembali ke kamar Jessi, karena aku tadi beralasan ingin pinjam kamar kecilnya." sahut Aril.


"Lalu kenapa kamu kesini ?"


"Bukankah sudah ku bilang aku ingin mengetahui keadaanmu." sahut Aril lagi dan itu membuat hati Sofia seketika menghangat, benarkah pria itu melakukan semuanya demi dirinya?


Namun saat mengingat bagaimana pria itu berciuman dengan wanita lain, Sofia kembali kesal.


"Kak Aril !!"


Teriak Jessica lagi yang langsung membuat Aril terkejut dan sontak hampir jatuh ke bawah mengingat mereka kini berada di lantai dua mansion tersebut.


Melihat itu Sofia nampak tak bereaksi, entah ia harus menolong pria itu atau membiarkannya jatuh begitu saja.