
"Tunggu !!"
Sofia yang baru keluar dari kelasnya langsung menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggilnya, kemudian gadis itu segera berbalik badan.
"Jadi kau benar putri pertama tuan Collins yang hilang belasan tahun yang lalu ?" ucap Rebeca menatap ke arah gadis itu.
Sofia mengangguk kecil lantas kembali menatap datar gadis di hadapannya itu, salah satu mahasiswa yang dahulu sering membullynya.
"Apa ada yang ingin kau ketahui lagi ?" ucapnya dengan pandangan tegas, dahulu ia memilki perasaan takut untuk menghadapinya mengingat mereka anak orang-orang kaya yang bisa saja menggunakan hartanya untuk menindasnya.
Namun sekarang kedudukannya lebih tinggi dan ia akan melawan mereka yang berani berlaku tak adil pada siapapun yang lemah.
"Ti-tidak." Rebeca langsung melangkah mundur lantas segera berbalik badan dan berlalu dari pergi sana, entah kenapa ia melihat aura berbeda dari gadis itu. Tatapannya sangat tegas dan dalam seakan ingin melenyapkan lawan hanya dengan melihatnya saja.
"Bersikaplah sedikit ramah, kamu menakutinya." ucap Jessica tiba-tiba saat gadis itu baru datang.
"Aku sudah bersikap biasa saja Jessy, jika dia tak bersalah untuk apa takut." timpal Sofia dengan mengulas senyumnya menatap sang adik.
"Kau lebih cantik jika tersenyum begitu." ucap Jessica lagi dan itu membuat Sofia langsung mengacak gemas rambut adiknya tersebut, meskipun usia mereka hanya berbeda satu tahun tapi adiknya itu terlewat manja dan kekanakan berbeda sekali dengannya yang harus di paksa dewasa oleh keadaan.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu ?" tanya Jessica kemudian.
"Tentu saja." sahut Sofia seraya melangkahkan kakinya yang di iringi oleh Jessica di sebelahnya.
"Apa kau menyukai kak Aril ?" tanya Jessica yang sontak membuat Sofia menatap gadis itu sejenak lalu kembali melihat koridor di depannya tersebut.
"Kenapa kamu berkata seperti itu ?" ucapnya menanggapi.
"Katakan saja kau menyukainya atau tidak ?" desak Jessica.
Sofia nampak terdiam beberapa saat kemudian kembali membuka suaranya. "Kami pernah dekat tapi hanya sebatas rekan kerja dan tidak lebih." dustanya kemudian, ia tidak ingin adiknya itu terlalu ikut campur urusannya terlebih dengan perasaannya.
"Baiklah, karena ku rasa Helena sedang berusaha mendekati kak Aril kembali." timpal Jessica.
"Itu urusan mereka bukan urusan kita, Jessy." tegas Sofia agar adiknya itu tak terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.
Lagipula jika memang Aril menyukainya pria itu pasti akan berjuang mendapatkannya bukan justru memberikan wanita lain kesempatan untuk dekat dengannya.
Siang harinya sepulang kuliah Sofia langsung pergi ke kantor sang ayah sesuai permintaannya tadi pagi dan gadis itu mulai di perkenalkan pada semua karyawan yang ada di sana.
Lingkungan kantor yang hangat membuat Sofia merasa betah dan nyaman di sana, rupanya sang ayah sangat memanusiakan semua karyawannya dan diam-diam ia bangga dengan pria itu.
"Daddy ada meeting penting di luar, apa kau mau ikut ?" tawar James sore itu, ia sengaja ingin mengajak putrinya itu agar mereka memiliki banyak waktu berdua. Berbicara dari hati ke hati untuk membangun sebuah ikatan batin yang selama ini tak pernah mereka miliki.
"Kenapa harus mengajak aku ?" tanya Sofia tak mengerti.
"Agar kamu banyak belajar." sahut James, karena ia tahu putrinya itu sangat menyukai hal-hal baru.
Sofia mengangguk kecil pertanda jika ia setuju, kemudian mereka segera berlalu pergi meninggalkan kantornya tersebut.
"Tidak ada sopir ?" Sofia terkejut saat ayahnya itu membuka pintu kemudi sendiri.
"Maka dari itu duduklah di depan bersama Daddy." sahut James saat putrinya hendak membuka pintu belakang.
Sepanjang perjalanan Sofia hanya mendengarkan ayahnya berbicara, rupanya di balik wajah dingin dan kakunya itu sang ayah juga memilki selera humor yang tinggi meski tak selucu ayah angkatnya.
James juga nampak menceritakan bagaimana masa mudanya yang begitu penuh penderitaan sampai pada akhirnya pria itu bertemu dengan William.
Sofia jadi mengerti jika ayahnya adalah seorang pria yang penuh dengan pengabdian, pria itu takkan melupakan sosok seorang William yang teramat penting baginya.
"Ayo turunlah, Daddy akan mengenalkan mu dengan klien bisnis kita." ajak James setelah menghentikan mobilnya di sebuah restoran.
Kemudian mereka segera turun dan berlalu masuk ke dalam restoran tersebut, nampak dua orang pria sedang menunggu mereka dan langkah Sofia langsung terhenti saat melihat salah satu pemuda yang ada di sana.
"Selamat sore, tuan James." sapa seorang pria paruh baya ketika James datang.
"Oh ya tuan Mark perkenalkan ini putriku, Sofia. Ku rasa kau sudah mendengar semua berita yang beredar." ucap James memperkenalkan Sofia.
"Sayang, ini tuan Mark. Beliau orang kepercayaan tuan William untuk mengurus beberapa hotel miliknya dan itu George putranya, dia juga sahabat Aril." James nampak memperkenalkan mereka pada Sofia.
Sementara Sofia dengan ragu mengulurkan tangannya, entah kenapa ia kurang menyukai dua pria di hadapannya tersebut, terutama pemuda itu di mana dulu pernah membullynya habis-habisan saat di kampus.
"Sofia." ucap Sofia memperkenalkan dirinya, lantas gadis itu segera menarik tangannya kembali ketika merasakan genggaman tangan George yang sedikit kuat.
Sepanjang pembicaraan bisnis, Sofia merasa risih saat George tak berhenti mencuri pandang padanya. "Dad, sepertinya aku ingin ke belakang." ucapnya kemudian.
"Tentu saja, sayang." sahut James.
Kemudian Sofia segera beranjak dan berlalu menuju toilet yang berada di ujung restoran tersebut, setelah menunaikan hajatnya dan merapikan penampilannya gadis itu segera keluar namun tiba-tiba ia berjingkat kaget saat melihat George nampak berdiri tepat di depan pintu toilet.
"Ini toilet khusus wanita." ucap Sofia mengingatkan, lantas ia segera melewati pria itu begitu saja.
"Tunggu !!" ucap George yang langsung menghentikan langkah Sofia.
"Aku ingin bicara denganmu." imbuh George lagi dan sontak membuat gadis itu berbalik badan menatapnya.
"Sepertinya tak ada hal penting yang harus kita bicarakan." tegas Sofia.
"Tentu saja ada." sahut George.
"Cepat katakan, karena aku harus kembali sebelum Daddy mencariku !!" perintah Sofia kemudian, meskipun kedua ayah mereka berteman baik tapi tidak baginya.
"Kenapa terburu-buru sekali dan kamu tahu aku hampir tak percaya jika kamu adalah putri paman James yang hilang belasan tahun lalu." timpal George.
"Apa kau hanya ingin mengatakan hal itu ?" ujar Sofia, meskipun ia berharap pria itu mau meminta maaf atas perbuatannya dahulu yang telah mempengaruhi semua teman-teman kampusnya untuk membullynya.
"Tentu saja tidak." sahut George.
"Baiklah sepertinya kamu lebih suka to the point, aku tahu selama ini Aril di jodohkan dengan Jessica dan setelah kau hadir pasti perjodohan itu akan beralih padamu." imbuh George dan Sofia nampak mendengarkan ucapan pria itu.
"Tapi alangkah sulit jika menikah dengan orang yang tidak menyukaimu, bukan ?" ucap George lagi.
"Aku tak mengerti maksud kamu." sahut Sofia.
"Ariel sudah memiliki Helena, cinta pertama dan terakhirnya. Jadi ku harap kamu cukup tahu diri." tegas George.