
"Jadi perusahaan tempatmu bekerja adalah milik Aril ?" ulang Daniel saat Sofia menceritakan semuanya.
"Hm." Sofia mengangguk kecil.
"Lalu dia memintamu untuk menjadi asisten pribadinya setelah kamu membantunya mengungkapkan dalang korupsi di kantornya ?" ucap Daniel lagi.
"Hm." Sofia kembali mengangguk.
"Astaga Sofia, kamu keren sekali." puji Daniel.
"Harusnya dari awal aku bertanya padamu tentang perusahaan itu, jika aku tahu perusahaan itu milik tuan muda SG tentu saja aku tidak akan bekerja di sana." ucap Sofia kemudian.
"Sofia, apa kamu sangat membenci Aril ?" tanya Daniel ingin tahu.
"Hm, tentu saja. Kamu tahukan apa yang sudah dia perbuat padaku selama ini, sepertinya hidupku selalu sial jika dekat-dekat dengannya." terang Sofia dengan nada kesal.
"Sofia kamu hanya belum mengenal dekat Aril saja, percayalah dia tidak seperti yang kamu pikirkan. Lagipula selama ini dia telah...." ucapan Daniel langsung terjeda saat gadis itu memotongnya.
"Diamlah, aku tidak mau dengar apapun tentang dia lagi." ucapnya kemudian.
Daniel nampak menghela napasnya sejenak. "Andai saja kamu tahu jika selama ini Aril lah yang telah memberikan mu beasiswa dan selalu mengunjungi makam ayahmu karena perasaan bersalahnya dahulu." gumamnya dalam hati.
"Baiklah, kamu bilang tadi sedang ingin membeli pakaian kerja. Apa mau ku temani ?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Kamu mau ?" timpal Sofia seraya menatap ke arah pria itu.
"Tentu saja, aku hari ini free." sahut Daniel kemudian.
"Baiklah, aku memang butuh seseorang untuk membantuku. Jujur aku tidak pernah berbelanja di mall semewah ini." terang Sofia dengan jujur dan itu membuat pria itu nampak tersenyum kecil.
Kepolosan gadis itulah yang membuat Daniel sangat mengangguminya, Sofia tipe gadis apa adanya dan berbeda sekali dengan gadis di luaran sana yang lebih suka berpura-pura baik hanya demi bisa mencari perhatiannya.
Setelah itu mereka segera berlalu menuju beberapa toko yang menjual pakaian kantoran yang modis dan kekinian.
"Astaga." Sofia langsung meletakkan kembali sebuah kemeja dengan harga sebulan gajinya menjadi office girl, barang-barang di sana benar-benar sangat mahal dan tak sesuai dengan isi dompetnya.
Karena sebagian dari separuh gajinya yang di berikan oleh Aril sudah ia bayarkan sewa rumahnya.
"Kenapa Sofia ?" Daniel nampak mengernyit saat melihat gadis itu hanya melihat-lihat saja tanpa berniat membelinya.
"Di sini sangat mahal, Dan. Bisakah kita pergi ke toko yang lebih murah saja ?" bisik Sofia dengan polosnya dan bersamaan itu nampak seorang gadis mendekati mereka.
"Kak Daniel di sini juga ?" ucapnya hingga membuat Daniel maupun Sofia langsung menoleh ke sumber suara.
Tak jauh dari mereka nampak Jessica sudah berdiri di sana dengan seorang bodyguard yang sedang menenteng beberapa tas dengan logo merk-merk ternama.
"Hai Jessy." sapa Daniel kemudian.
"Dia bukankah mahasiswa yang di keluarkan dari kampus waktu itu? astaga kak Daniel, apa kalian berhubungan ?" tanya Jessica dengan wajah penasarannya.
"Tidak, kami hanya berteman." sela Sofia sebelum gadis itu menjadi salah paham.
"Sayang, apa kau ingin berbelanja di sini juga ?" ucap seorang wanita tiba-tiba yang baru masuk ke dalam toko tersebut.
"I-ibu ?" gumam Sofia saat melihat Anne berjalan mendekat, meskipun ia tak memiliki bukti namun ia yakin jika wanita itu adalah ibu kandungnya.
"Daniel, kamu di sini juga ?" Anne sedikit terkejut saat melihat Daniel juga berada di sana.
"Hai tante, bagaimana kabarnya ?" Daniel segera menyapa teman baik ibunya tersebut.
"Tante baik, kamu sedang apa di sini ?" timpal Anne lantas pandangannya beralih ke arah gadis di sebelah pria itu, ia masih mengingat jelas peristiwa beberapa waktu lalu di rumah sakit saat gadis itu bertemu dengan ibunya Daniel.
"Aku sedang jalan-jalan tante." sahut Daniel menanggapinya.
Sementara Sofia langsung memberikan salam dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Hai, kamu gadis waktu itu kan ?" sapa Anne, entah kenapa ia merasa ada yang aneh saat menatap gadis di hadapannya itu.
Dua kali mereka berjumpa dan dua kali pula ia merasakan sesuatu yang tak biasa, seandainya putrinya masih ada mungkin sudah sebesar gadis itu sekarang.
"Sofia, nyonya." sahut Sofia yang langsung membuat Anne melebarkan matanya, sungguh ia tiba-tiba mengingat putrinya yang juga mempunyai nama yang sama.
Hmm
Tiba-tiba terdengar suara bariton seseorang hingga membuat mereka langsung menoleh.
"Apa masih lama ?" ucap pria itu.
"Sayang? entahlah putri kita tiba-tiba masuk ke toko ini dan rupanya ada Daniel juga di sini." tukas Anne seraya berjalan mendekati sang suami yang baru datang itu.
"Hai, paman James." sapa Daniel yang langsung di angguki oleh pria itu.
Kemudian James yang melihat keberadaan Sofia di sana nampak menatap datar gadis itu. "Jessy, apa kamu masih ingin berbelanja lagi ?" ucapnya setelah beralih menatap Jessica yang berada tak jauh darinya itu.
"Tentu saja Dad, tapi aku ingin ke toko lain saja." sahut Jessica.
"Baiklah, ayo." James segera berbalik badan lantas meninggalkan toko tersebut yang di ikuti oleh anak dan istrinya itu.
Namun baru beberapa langkah pria itu kembali berbalik badan. "Dan, jangan pernah sia-siakan masa mudamu. Contohnya Ariel, dia sangat bekerja keras dan yang paling penting jangan bergaul dengan orang yang salah. Karena bisa jadi dia hanya akan memanfaatkanmu saja." ucapnya pada Daniel lantas sedikit melirik ke arah Sofia.
"Baik, paman James. Terima kasih banyak nasihatnya." timpal Daniel sebelum pria paruh baya itu kembali melangkah meninggalkan toko tersebut.
Sementara Sofia yang menyadari ucapan pria itu di tujukan padanya nampak tersenyum miris, jika pria itu benar-benar ayah kandungnya entah ia bisa memaafkannya atau tidak.
Namun ia berharap ayahnya hanyalah Marco seorang dan bukan pria itu maupun pria-pria lain di luaran sana.
"Dan, sepertinya aku akan mencari pakaian di tempat lain saja." ucapnya seraya mengajak pria itu untuk pergi dari toko tersebut.
"Tapi Sofia, apa kamu tidak jadi membeli pakaian kerjamu ?" timpal Daniel menanggapinya.
"Aku akan cari di pasar murah saja." sahut Sofia kemudian.
"Tidak Sofia, selera Aril sangat tinggi kamu harus mempunyai beberapa pakaian branded." Daniel langsung mengambil beberapa pakaian yang gadis itu tadi pilih dan tak peduli akan di protesnya.
Hingga kini nampak beberapa pasang pakaian kerja di tangannya tersebut.
"Dan, ini terlalu berlebihan." protes Sofia.
"Kamu tenang saja, aku yang akan membayarnya." Daniel segera berlalu ke kasir dan tentu saja langsung di kejar oleh gadis itu.
"Biar aku saja yang membayarnya." Sofia langsung mengeluarkan kartu debetnya saat melihat nominal belanjaannya, meskipun setelah ini ia takkan memilki tabungan lagi dan harus berhemat sampai akhir bulan nanti.
"Tapi Sofia...."
"Ku mohon, Daniel." sela Sofia dengan wajah memohonnya dan mau tak mau pria itu menurutinya.
Setelah membayar mereka segera keluar dari toko tersebut. "Sepertinya, aku harus segera pulang Dan." ucap Sofia kemudian.
"Tidak, aku ingin memberikanmu sebuah hadiah dulu." tolak Daniel.
"Hadiah ?" ucap Sofia tak mengerti.
"Tentu saja, tolong kali ini jangan di tolak. Anggap saja ini hadiah karena kamu berhasil mendapatkan pekerjaan baru dan ku rasa saat mendapatkan gaji pertamamu nanti kamu harus mentraktirku." terang Daniel menimpali.
"Tentu saja, kamu orang pertama yang ku traktir." sahut Sofia dengan terkekeh.
"Baiklah, ayo !!" Daniel segera mengajak Sofia berlalu pergi dari sana dan setelah sampai di tempat tujuan gadis itu langsung membola.
"Un-untuk apa kita ke sini Daniel ?" tanyanya tak mengerti saat melihat salon kecantikan di hadapannya tersebut.
"Aku mempunyai beberapa voucher perawatan gratis di sini, karena aku bingung mau memberikannya pada siapa jadi sepertinya kamu lebih memerlukannya." dustanya, karena gadis itu pasti menolak jika tahu ia yang akan membayarnya.
"Benarkah ?" Sofia nampak tak percaya.
"Hm, jadi kamu maukan atau ku biarkan saja vouchernya sampai kadaluarsa." timpal Daniel kemudian.
"Itu sangat mubazir, Dan. Baiklah aku akan memakainya." sahut Sofia kemudian dan itu membuat pria itu nampak tersenyum lebar, namun tanpa mereka sadari lagi-lagi beberapa pria berjas mengawasi mereka.