
Malam itu Aril nampak memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya meski malam telah larut.
"Tuan, apa tidak sebaiknya di lanjutkan besok pagi saja ?" ucap Mike saat baru masuk ke dalam ruangan atasannya itu.
"Jika mau pulang duluan, pulanglah Mike aku akan mengerjakan pekerjaanku hingga selesai." sahut Aril, sejak mendapati Sofia menjalin hubungan dengan Adams pria itu nampak menghabiskan waktunya dengan bekerja dan bekerja.
Seakan ingin mengalihkan rasa kecewanya karena gadis itu lebih memilih pria lain daripada dirinya, harusnya jika memang benar-benar mencintainya dia mau berjuang bersamanya untuk menghadapi kesulitan yang akan mereka hadapi nantinya.
"Saya akan menunggu, anda tuan. Apa ada yang bisa saya bantu ?" timpal Mike berharap tuannya itu mau membagi pekerjaannya.
"Aku bisa sendiri Mike, pulanglah. Aku akan menginap di sini jika belum selesai." perintah Aril kemudian.
Mike nampak memgangguk kecil. "Baik tuan, jika membutuhkan sesuatu kapan pun silakan menghubungi saya." timpal Mike lantas segera berlalu meninggalkan ruangan CEOnya itu.
Aril yang sebenarnya merasa lelah nampak menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya, menghela napasnya sejenak lalu kembali bekerja lagi.
Sementara itu di tempat lain James nampak syok saat mendapatkan kabar dari orang suruhannya perihal Sofia. Terlihat sebuah album di tangannya, di mana asistennya itu menemukannya di bekas rumah sewa milik gadis itu.
Di dalam album tersebut nampak banyak sekali foto putri kecilnya bersama rival lamanya yaitu Marco Anderson, bahkan di sana juga ada foto putrinya dari masa ke masa hingga menjadi seorang gadis yang sangat cantik.
"Sofia." ucap James seraya menatap album terakhir di mana gadis itu nampak berpose bersama Marco dengan wajah bahagianya.
"Ja-jadi benar dia adalah putriku yang selama ini hilang, Jack ?" ucapnya dengan wajah yang benar-benar di penuhi rasa sesal.
Seketika bayangan perbuatannya di masa lalu terhadap gadis itu menari-nari di ingatannya, di mana saat pertama kali ia bertemu dengannya ketika putrinya itu tak sengaja tertabrak oleh asistennya itu.
Bagaimana saat itu ia mengatainya sebagai seorang gadis berandalan karena berani sekali memaki pria itu, James juga mengingat bagaimana dengan kejamnya ia telah mengusirnya dari kampus SG waktu itu dan tak hanya itu bahkan belum lama ini ia telah mengusirnya dari kota ini.
"Ya Tuhan, ayah macam apa aku ini." James nampak menjatuhkan album tersebut ke lantai dan seketika pria itu bersimpuh di sana.
Terlihat air matanya mengalir begitu deras, rupanya selama ini putrinya itu berada di dekatnya namun tanpa sadar ia telah menyakitinya begitu dalam.
"Maafkan ayah Nak, maafkan ayahmu yang bodoh ini." ucapnya dengan penuh penyesalan, ia yang selama ini selalu menggunakan logikanya daripada perasaannya masih benar-benar tak menyangka jika gadis itu adalah putrinya.
"Tuan...." Jack nampak begitu kasihan melihat tuannya itu, atasannya itu tanpa sengaja telah menyakiti putri kandungnya sendiri hanya demi sebuah pengabdian pada sang tuan yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Pergilah Jack, aku ingin sendiri !!" perintah James kemudian, meski malam telah larut namun pria itu masih enggan kembali ke rumahnya.
Entah apa yang harus ia katakan pada istrinya itu karena akibat dari perbuatannya, ia telah membuat putri kesayangannya begitu menderita dan entah berada di mana gadis itu saat ini.
Di luar sana udara begitu dingin, apa gadis itu mendapatkan selimut yang layak? Apa perutnya juga sudah terisi makanan? mengingat saat terakhir melihatnya gadis itu terlihat begitu kurus.
Kemudian pandangan pria itu tak sengaja ke arah beberapa lembar kertas yang terjatuh di atas lantai bersama album foto tersebut, kemudian ia segera memungutnya lalu membukanya.
Kepada James Colinns,
Dulu aku pikir dapat merebut putri kesayanganmu adalah sebuah kemenangan bagiku, namun aku salah karena segala sesuatu yang kita perbuat pasti akan mendapatkan karmanya.
Dan harapanku untuk menguasai putrimu seorang diri rupanya tidak mendapatkan restuNya hingga membuatku benar-benar hancur, aku terjatuh begitu dalam akibat perbuatanku selama ini.
Sungguh aku sangat menyesal karena tidak mampu membuat putrimu bahagia, dia yang tak berdosa pun juga ikut merasakan penderitaan akibat kesalahanku.
Tapi ketahuilah putrimu tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat pemberani, dia sangat pintar dan juga selalu hormat pada orang yang lebih tua namun juga sedikit keras kepala.
Tapi cintanya padaku begitu besar dan aku pasti akan merasa senang saat melihatmu iri padaku, karena putrimu pasti lebih menyayangiku dari pada kau ayah kandungnya sendiri dan sampai kapanpun kau takkan bisa menggantikan ku sepenuhnya di hatinya.
Marco Anderson
James nampak membaca tulisan tangan Marco bait demi bait, ia tak menyangka rupanya pria itu begitu licik karena telah merencanakan penculikan terhadap putrinya itu.
Pria itu benar-benar ingin membuatnya hancur dengan mengambil sesuatu yang paling berharga baginya yaitu putri kesayangannya, meskipun ia sangat marah saat ini namun ia juga bersyukur putrinya itu di besarkan dengan penuh kasih sayang oleh pria itu meski di tengah kesederhanaan dan ia benar-benar merasa iri saat ini.
"Ya, aku iri. Sangat iri padamu Marco Anderson." gumamnya saat menatap beberapa potret kebersamaan putrinya dengan pria itu yang terlihat begitu bahagia di setiap momen.
Putrinya itu terlihat begitu mencintai pria itu, binar matanya dan senyumannya menujukkan seolah sangat bersyukur jika telah memiliki ayah seperti Marco dan itu membuat seorang James benar-benar sangat iri.
Apalagi saat mengingat perbuatannya pada gadis itu selama ini, ia merasa tidak layak menjadi ayahnya karena telah begitu banyak menyakitinya.
Kemudian James kembali menatap selembar kertas yang lainnya, lalu ia segera mengambilnya lantas membukanya.
Dear Anne Wijaya,
Ku harap saat membaca pesanku ini kamu dalam keadaan sehat dan bahagia, karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaan ku juga.
Aku ingin mengucapkan banyak terima kasih padamu karena telah melahirkan seorang putri yang begitu cantik, kamu tahukan dari dulu aku sangat menyayangi putrimu yang lebih suka ku panggil Sofia.
Aku menganggap Sofia adalah putri kita, meski dia bukan darah dagingku tapi aku sangat menyayanginya sama seperti aku mencintaimu.
Anne, perlu kamu tahu bahkan di saat aku menulis ini perasaan ku padamu tak pernah berubah sedikitpun. Aku masih seperti dulu masih sangat mencintaimu dalam kesepian dan mungkin itu adalah bentuk hukuman dari Tuhan atas perbuatanku selama ini.
Sungguh aku meminta maaf karena telah membuatmu bersedih atas hilangnya putri kesayanganmu, tapi ketahuilah meski aku tak bisa memberikannya banyak harta tapi aku mencurahkan seluruh kasih sayangku pada Sofia putri kita.
Kini ku kembalikan dia padamu, tolong jaga dia untukku. Aku mencintaimu, mencintai kalian berdua.
Marco Anderson
James nampak mencengkeram kertas itu dengan kuat setelah membacanya, setiap kalimat yang pria itu tulis sungguh sangat membuatnya cemburu.
Kemudian James segera mengambil ponselnya. "Jack, segera temukan putriku di manapun berada !!" perintahnya kemudian.