The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~60



"Ar, kamu di sini ?" Daniel langsung menyapa ramah saat sahabatnya itu datang ke kantornya.


"Aku mencari Sofia." sahut Aril to the point.


"Sofia? bukankah dia pergi ke kantormu ?" Daniel nampak mengernyit tak mengerti mengingat tadi Sofia mengatakan jika akan menemui pria itu setelah ia menceritakan semuanya.


"Ke kantorku? tapi Sofia tidak ada di kantor. Apa dia mengatakan sesuatu padamu ?" Aril nampak penasaran karena sahabatnya itu pasti tahu sesuatu tentang gadis itu.


"Aku sudah mengatakan semuanya perihal beasiswa yang kau berikan pada Sofia....."


"Apa dia marah karena itu ?" sela Aril.


"Ku rasa dia sedang memiliki masalah lain Ar, tapi aku tidak tahu apa. Aku lihat dia begitu putus asa tapi enggan untuk cerita." terang Daniel yang juga ikut frustrasi.


Aril nampak mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa dia tidak mengatakan akan pergi kemana ?" ucapnya kemudian.


Daniel menggelengkan kepalanya. "Dia hanya mengatakan akan menemuimu di kantor." sahutnya.


"Baiklah Dan, aku harus pergi mengeceknya." Aril nampak menepuk bahu sahabatnya itu lantas segera berlalu pergi dari sana.


"Ar, Helena sudah kembali apa kamu tahu ?" ucap Daniel hingga menghentikan langkah Aril, lantas pria itu berbalik badan menatapnya.


"Hubungan kami sudah lama berakhir, jika kamu lupa itu." ucapnya dengan tegas lalu kembali melangkahkan kakinya pergi.


"Tapi kamu dulu sangat mencintainya, Ar. Apa itu karena Sofia ?" gumam Daniel seraya melihat kepergian pria itu.


Beberapa saat kemudian Aril kembali ke kantornya, namun ia tak menemukan sosok Sofia di sana. Bahkan layar cctv pun tak memperlihatkan kehadiran gadis itu meskipun hanya di luar kantornya.


"Kamu pergi kemana Sofia ?" ucapnya dengan frustrasi.


Sementara itu Sofia yang masih berasa di dalam taksi, nampak melebarkan matanya saat taksi yang membawanya tak melewati alamat tujuannya.


"Tuan, ini bukan jalan yang ku tuju." protesnya kemudian.


Sofia yang sedari tadi terlalu meratapi kesedihannya tak menyadari jika sopir taksi itu telah membawanya pergi ke arah lain.


"Sudahlah nona, lebih baik kamu ikut denganku. Di sana kamu bisa bersenang-senang, gadis secantik kamu tidak pantas bersedih terus." timpal sang sopir sembari terkekeh.


"Tidak, aku tidak mau. Sekarang turunkan aku dari sini !!" tolak Sofia dengan sedikit berteriak, namun sepertinya itu terdengar seperti lelucon di telinga pria itu.


"Rupanya kau sedikit liar, teman-temanku pasti akan sangat suka itu." ucapnya sembari tertawa nyaring.


Merasa hidupnya dalam bahaya, Sofia segera beranjak dari duduknya lantas merebut kemudi pria itu. "Turunkan aku, jika tidak kita akan mati bersama-sama dan ku rasa kamu akan langsung masuk neraka saat itu juga." teriaknya seraya berebut kemudi di hadapannya itu.


"Hei nona apa yang kau lakukan ?" sang Sopir langsung panik saat mobilnya oleng kesana kemari karena perbuatan gadis itu.


"Lihatlah sepertinya di depan sana ada jembatan dan ku rasa kita akan jatuh." ucap Sofia menakuti dan itu membuat sang sopir nampak menelan ludahnya lantas segera menginjak remnya dengan kuat hingga mobilnya langsung berhenti tepat di depan pembatas jembatan.


"Sial, keluarlah gadis gila kamu hampir saja membuat nyawaku melayang !!" perintah pria itu dengan wajah pucat pasi.


Sementara Sofia nampak tersenyum sinis menatapnya lantas segera keluar dari mobil tersebut. "Semoga harimu beruntung !!" teriaknya sembari menendang mobil tersebut saat hendak pergi.


"Sial !!" umpatnya.


Kini Sofia nampak duduk di pembatas jembatan dan entah berada di mana ia sekarang, semoga saja ada orang baik yang bisa ia tumpangi.


Setelah hampir satu jam menunggu mobil lewat tiba-tiba ada sebuah kendaraan yang berhenti tak jauh darinya. "Sofia, apa yang kau lakukan di sini ?" teriak pria itu saat membuka kaca mobilnya.


Kemudian pria itu segera keluar dari mobilnya. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Sofia? bukankah harusnya kamu ada di kantor saat ini ?" tanyanya seraya memperhatikan penampilan gadis di hadapannya itu, hanya mengenakan sebuah hoody lusuh dan celana jeans yang menempel di tubuhnya.


Kemudian pandangannya beralih ke tas ransel besar yang ada di sisinya tersebut. "Kamu seperti ingin pergi jauh." imbuhnya lagi.


"Hm, aku memang ingin pergi tapi sopir taksi malah membawaku kesini dan aku tidak tahu berada di mana saat ini." sahut Sofia.


"Pergi? apa yang sebenarnya terjadi Sofia? aku tahu kita baru kenal tapi aku tak masalah jika kamu ingin cerita, siapa tahu aku bisa membantumu." ucap Adams kemudian.


Sofia nampak menatap lekat pria di hadapannya itu, terlihat tulus dan ia bisa merasakan itu. "Baiklah." ucapnya lantas segera menceritakan semuanya bagaimana calon ayah mertua CEOnya itu telah mengancamnya.


"Astaga Sofia, kenapa kamu tak mengatakannya pada CEO dia pasti akan melindungimu ?" timpal Adams dengan wajah iba.


Sofia menggelengkan kepalanya saat mengingat bagaimana CEOnya itu telah mencium wanita lain saat ia hendak mengatakan semuanya. "Aku tak ingin membuat masalah jadi rumit." ucapnya beralasan.


"Jadi sekarang kamu mau pergi kemana ?" tanya Adam kemudian.


"Aku tidak tahu, aku hanya ingin mencari tempat untuk berteduh sementara waktu sampai mendapatkan pekerjaan lagi." sahut Sofia, karena ia memang tak memiliki tempat tujuan dan ia juga tidak ingin merepotkan para sahabatnya dengan menumpang di tempat mereka.


Adams nampak berpikir sejenak lantas kembali membuka suaranya. "Aku punya bibi yang tinggal di pedesaan sekitar sini Sofia, kamu bisa tinggal di sana sementara waktu jika mau." tawar Adams kemudian.


"Pedesaan ?" ulang Sofia yang nampak sedikit tertarik, karena sebelumnya ia dan ayahnya itu juga tinggal di sebuah pedesaan terpencil di Belanda.


Entah apa tujuan ayahnya itu mengajaknya tinggal di sana, karena setelah ia mencari tahu lebih jauh rupanya ayahnya dulu adalah seorang pengusaha kaya raya di kota ini.


"Baiklah, aku mau." ucapnya setuju dan hari itu juga Adams langsung mengantar gadis itu ke tempat bibinya yang berada di sebuah pedesaan tak jauh dari tempat itu.


"Ku harap kamu tak mengatakan pada siapapun keberadaanku di sini." ucap Sofia setelah mereka sampai.


"Kamu tenang saja Sofia, oh ya meski bibi sedikit galak tapi dia wanita yang baik. Kehilangan suami dan anaknya karena kecelakaan beberapa tahun silam membuatnya memilih menyendiri di sini." terang Adams.


"Hm, terima kasih sudah membantuku." Sofia sangat bersyukur mengenal pria itu.


"Baiklah aku harus kembali ke kota Sofia, masih banyak pekerjaan yang harus ku urus." timpal Adams lantas segera pamit pergi.


Setelah itu Sofia kembali masuk ke dalam rumah sederhana yang berada di tengah-tengah ladang itu.


"Apa kau mempunyai banyak uang ?" tanya wanita paruh baya sang pemilik rumah tersebut.


"Uang ?" ulang Sofia, lantas menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya punya segini, ambillah." ucapnya setelah mengambil uang sisa di dompetnya.


"Bagaimana kamu bisa makan jika tidak memilki uang ?" ucap wanita itu lagi.


Sofia nampak melihat ladang yang terhampar begitu luas di hadapannya itu. "Aku bisa membantumu menanam kentang jika kamu mau, bibi." sahutnya kemudian.


"Kamu memang harus melakukan itu karena aku juga tak memilki uang untuk biaya makanmu setiap hari." ucap wanita itu.


"Baiklah, terima kasih." ucap Sofia.


"Sekarang istirahatlah, besok pagi bantu aku mencabut semua rumput itu untuk kita tanami kentang dan sayuran." ucap wanita itu.


Sofia nampak bersyukur masih ada orang baik yang mau menolongnya. "Terima kasih ayah, mungkin ini berkat kebaikanmu selama ini." gumamnya malam itu seraya menatap bintang di langit yang begitu indah di atas sana.