The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~70



"Bagaimana keadaanmu, apa kamu baik-baik saja ?" ucap Aril sembari melangkah mendekati ranjang Sofia, namun gadis itu langsung berteriak.


"Stop, jangan mendekat !!" ucapnya dan tentu saja membuat pria itu seketika berhenti dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan gadis di hadapannya itu.


"Aku tidak ingin bertemu denganmu, pergilah dari sini." perintah Sofia kemudian.


"Sofia, aku hanya ingin tahu keadaanmu dan aku juga ingin meminta maaf padamu karena sebelumnya telah memberimu banyak sekali kesulitan tapi seandainya aku tahu dari awal aku tidak mungkin melakukan hal itu." timpal Aril dengan perasaan bersalah.


"Aku bilang pergi, aku tidak ingin melihatmu lagi dan berikan bungamu itu pada wanita lain saja yang lebih pantas menerimanya." sinis Sofia lantas membuang mukanya seakan enggan menanggapi pria itu lagi.


Aril terdiam di tempatnya, kemudian mengangguk kecil. "Baiklah, aku pergi jika itu membuatmu merasa lebih baik." ucapnya lantas segera berlalu meninggalkan gadis itu, sesampainya di luar pria itu nampak memasukkan bunga yang ia bawa ke dalam tempat sampah.


Setelah mendengar pintu di tutup dari luar, Sofia kembali menoleh dan nampak air mata sudah memenuhi pelupuknya. Gadis itu mulai terisak dan tak berapa lama sang ibu datang namun wanita itu hanya sendirian dan tak membawa Jessica sesuai janjinya untuk mempertemukan mereka.


"Sayang, kamu baik-baik? tadi aku bertemu dengan Aril di luar, apa dia berbuat sesuatu padamu? kenapa kamu menangis sayang ?" ucapnya seraya terburu-buru mendekati putrinya itu untuk menenangkannya, kemudian membawanya ke dalam pelukannya.


"Bisakah antar aku pulang ke perkebunan lagi? aku tidak ingin di sini." mohon Sofia kemudian.


"Perkebunan? tidak sayang, tempatmu bukan di sana tapi di rumahmu rumah kita semua." sela Anne, tentu saja ia takkan membiarkan putrinya kembali ke perkebunan dan tinggal dengan kakak Margaret yang sedikit mengalami gangguan jiwa itu.


"Aku ingin pulang sekarang." mohon Sofia lagi.


"Baiklah, Mommy bicara dengan dokter dulu ya." bujuk Anne lantas segera menemui dokter yang merawat putrinya selama di rumah sakit tersebut.


Setelah bernegoisasi dengan berbagai alasan akhirnya Sofia di perbolehkan untuk pulang dan itu membuat Anne sangat senang akhirnya ia bisa membawa kembali putrinya itu ke rumahnya.


"Jessica tidak bisa menjemputmu karena dia ada kuliah malam." ucap Anne saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Hm." Sofia hanya mengangguk kecil menanggapi perkataan ibunya itu.


Beberapa saat kemudian mobil yang membawa mereka nampak berhenti di sebuah mansion yang luar biasa besarnya, sebelumnya Sofia hanya bisa menatapnya dari luar saat ia menjadi kurir surat kabar. Namun kini ia bahkan menjadi salah satu penghuninya.


Gadis itu nampak mengedarkan pandangannya saat baru menginjakkan kakinya di dalam mansion tersebut, terlihat beberapa foto terpatri di dinding termasuk foto miliknya saat masih kecil.


"Nanti kita membuat foto keluarga yang baru lagi, sayang." ucap Anne saat putrinya itu menatap sebuah foto keluarga yang tanpa dirinya.


"Ayo ke kamarmu !!" Anne langsung mengajak gadis itu naik ke kamarnya, kamar yang memang telah ia siapkan sebelumnya.


"Jika tidak suka kamu bisa mendekorasinya ulang." ucap Anne setelah mereka masuk ke dalam sebuah kamar yang di dominasi dengan warna putih dan biru itu, karena itu adalah warna kesukaan gadis itu saat masih kecil dahulu.


"Aku suka warnanya." timpal Sofia.


"Baiklah, beristirahatlah sayang." Anne nampak menuntun gadis itu ke ranjangnya, setelah itu menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya.


Kini Sofia berada seorang diri di kamarnya yang lumayan luas dengan lampu yang nampak temaram, lantas gadis itu segera memejamkan matanya yang sedari tadi terasa sangat berat karena efek obat yang ia konsumsi sebelumnya.


Saat kesadarannya mulai menghilang tiba-tiba Sofia merasakan sebuah kecupan di dahinya. "Selamat tidur sayang, tidurlah yang nyenyak. Kamu pantas mendapatkan tempat terbaik di sini, Daddy sangat menyayangimu. Tolong maafkan perbuatan Daddy selama ini." ucap James lirih, lantas kembali mengecup kening putrinya itu. Memperbaiki selimutnya lalu beranjak meninggalkan kamar tersebut.


Setelah pintu kembali di tutup dari luar Sofia nampak mengerjapkan matanya, pandangannya datar menatap langit-langit kamarnya. Lalu gadis itu kembali tidur.


Keesokan harinya....


"Selamat pagi ?" sapa Sofia saat melihat beberapa pelayannya sedang menyiapkan sarapan.


"Selamat pagi nona muda." sahut mereka.


"Apa ada yang bisa ku bantu ?" ucap Sofia seraya melangkah mendekat.


"Tidak perlu nona, kami bisa melakukannya sendiri. Lebih baik nona muda menunggu di meja makan saja." timpal salah satu pelayan di sana.


"Tapi aku ingin membantu kalian dan aku tidak suka di protes." tegas Sofia lantas ikut membaur bersama para pelayannya itu dan mereka hanya bisa pasrah jika sang nyonya besarnya akan memarahinya nanti karena membiarkan putri kesayangannya itu berada di dapur.


Beberapa saat kemudian Anne dan James nampak tiba di meja makan, mereka langsung terkejut saat melihat pemandangan di mana putrinya itu dengan cekatan memasak di dapur.


"Sayang, apa yang kamu lakukan di sana ?" tegur Anne, harusnya putrinya itu beristirahat saja di kamar atau menunggu di meja makan sampai sarapan paginya selesai di buat.


"Aku sudah sehat dan aku ingin membuatkan sarapan spesial buatmu." timpal Sofia menatap ibunya itu.


"Apa untuk Daddy juga ada ?" ucap James dengan mengulas senyumnya menatap putrinya tersebut, entah kenapa suasana rumah terasa lebih hangat dan ramai sejak kehadiran gadis itu.


Sofia menatap datar ayahnya itu. "Buat semuanya." sahutnya lantas kembali menyiapkan makanan yang sedang ia buat itu.


"Terima kasih sayang." sahut James, meski putrinya itu masih bersikap dingin padanya namun itu tak masalah baginya. Masih banyak waktu untuk menunjukkan kasih sayangnya itu.


"Selamat pagi." sapa Jessica tiba-tiba yang sepertinya baru bangun tidur dengan piyama yang masih melekat di badannya.


Lalu pandangannya ke arah Sofia yang nampak membawa beberapa piring makanan di tangannya.


"Hai, aku tak menyangka rupanya kita bersaudara dan apa yang kau lakukan di dapur? itu tempat para pelayan berada." ucapnya sembari menatap kakak perempuannya itu.


"Pelayan juga manusia, makanlah jika tidak keberatan." timpal Sofia seraya meletakkan sepiring salad di hadapan adiknya itu.


Lantas meletakkan sepiring lagi di hadapan sang ayah, Sofia hanya menatap datar pria itu tanpa menawarinya untuk makan dan itu tak masalah bagi James.


"Untuk Mommy dan untukku." ucap Sofia setelah kembali dengan dua porsi salad di tangannya itu lantas memberikannya pada sang ibu.


"Terima kasih, sayang." ucap Anne.


"Ini pasti sangat enak." puji wanita itu.


"Tentu saja, itu salad ikan kesukaan ayah Marco." sahut Sofia yang seketika membuat James nampak menghentikan kunyahannya, namun sepertinya pria itu mencoba untuk berbesar hati meskipun saat ini rasa cemburu telah memenuhi rongga dadanya.


"Daddy juga suka, terima kasih sayang." timpalnya kemudian dan itu membuat Sofia nampak menatapnya. Awalnya Sofia ingin melihat pria itu kesal dengan ia menyebut ayah angkatnya tersebut namun reaksi pria itu tak sesuai dugaannya dan perlahan hati Sofia sedikit luluh.


"Daddy !!" gumamnya dalam hati dan bersamaan itu tiba-tiba sosok pria yang tidak ia harapkan muncul di hadapan mereka.


"Boleh aku ikut sarapan disini ?" ucap Aril lantas tanpa permisi pria itu menghempaskan bobot tubuhnya di kursi sebelah Sofia dan tentu saja membuat gadis itu seketika kesal, padahal ia sengaja meminta pulang dari rumah sakit lebih cepat agar tak di ganggu oleh pria itu namun rupanya dugaannya salah besar.