
"Aku tidak bisa Dams, aku belum siap kembali ke Amerika." tolak Sofia saat sahabatnya itu mengajaknya bicara di ruang kerjanya sore itu.
"Ayolah Sofia ini demi perusahaan kita." mohon Adams.
"Kenapa tidak kamu saja yang pergi ?" Sofia langsung memberikan saran.
"Tidak Sofia, putriku tidak akan ada yang menjaga lagipula aku juga harus menghadiri acara wisuda istriku." tolak Adams beralasan.
"Irene akan wisuda? secepat itu ?" Sofia langsung memicing tak percaya.
"Begitulah bukankah jaman sekarang serba digital jadi kurasa semua bisa di lakukan dengan cepat." timpal Adams.
Sofia nampak menghela napasnya. "Baiklah dan mungkin saat aku pulang ke Amerika aku tidak akan kembali ke sini lagi." ucapnya dengan tak bersemangat.
"Itu yang ku inginkan Sofia." timpal Adams dan sontak membuat gadis itu melebarkan matanya.
"Maksudku kamu bisa fokus mengurus cabang perusahaan kita di samping kamu membantu ayahmu." Adams langsung meralat perkataannya.
"Baiklah." Sofia kembali terduduk di kursinya, rasanya ia belum mampu menghadapi semuanya.
Beberapa hari kemudian....
Pagi itu Sofia nampak mendarat di bandara Amerika, ia terlihat menghirup dalam-dalam udara di negara kelahirannya itu setelah dua tahun kepergiannya.
Kemudian gadis itu langsung menuju tempat pertemuannya dengan kliennya tersebut, entah siapa kliennya itu karena Adams tak menyebutnya dengan detail. Bahkan nama perusahaannya pun terdengar asing di telinganya, namun ia tak punya waktu lagi untuk mencari tahu.
Setelah melakukan perjalanan beberapa menit kini gadis itu telah tiba di sebuah hotel dan dahinya langsung mengernyit.
"Apa aku tidak salah, pertemuan bisnis di hotel bintang 5 ?" gumamnya.
Namun tak ingin berpikir terlalu jauh, ia segera turun dari mobilnya lantas bergegas masuk ke dalam hotel tersebut. Melangkah menuju resepsionis untuk menanyakan tempat meetingnya berlangsung.
Setelah mendapatkannya Sofia segera berlalu masuk lift lalu menuju tempat meeting yang di adakan di lantai teratas hotel tersebut, ia jadi penasaran seberapa kaya calon relasi bisnisnya itu hingga rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk melakukan sebuah pertemuan bisnis.
Ia jadi menyesal kenapa sebelumnya tak mencari tahu dulu calon kliennya tersebut, hingga tak membuatnya harus bertanya-tanya seperti sekarang.
Ting
Bunyi lift terbuka dan Sofia segera keluar, gadis itu nampak di sambut oleh seorang wanita cantik. "Selamat pagi nona, apa saya boleh tahu anda mewakili perusahaan apa ?" tanya wanita itu.
"A&S." sahut Sofia.
"Baiklah, silakan menunggu di ruangan meeting bersama yang lainnya. Kebetulan CEO kami sedang dalam perjalanan, mungkin beberapa menit lagi akan sampai." ucap wanita itu seraya membuka sebuah pintu dan mempersilakan Sofia untuk segera masuk.
"Baiklah, terima kasih banyak." sahut Sofia lantas segera melangkah masuk, di dalam sana sudah banyak peserta tender yang datang. Sepertinya ia datang paling akhir mengingat jatah kursi hanya tinggal untuknya.
Sepertinya di sana tak ada yang mengenalinya sebagai putri James Collins hingga membuatnya bisa bersikap sebagai dirinya sendiri, lalu sembari menunggu kedatangan CEO perusahaan tersebut Sofia nampak memainkan ponselnya.
Tak berapa lama pintu ruangan di buka dari luar dan nampak seorang pria melangkah masuk bersama asistennya.
Sementara Sofia yang terlalu asyik dengan ponselnya nampak tak memperhatikan pemilik perusahaan itu datang, hingga sebuah deheman sedikit nyaring membuatnya langsung mengangkat wajahnya lalu menoleh ke arah pria tersebut.
"Kau !!" ucap Aril dan Sofia bersamaan, keduanya nampak terkejut karena di pertemukan pada tempat dan waktu yang tak pernah mereka kira sebelumnya.
Sofia langsung menelan ludahnya lantas segera memalingkan wajahnya. Sial, kenapa Adams tidak mengatakan jika perusahaan itu adalah cabang perusahaan milik Aril. Jika tahu sebelumnya ia takkan sudi datang kemari.
"Atau jangan-jangan ini semua rencana Adams ?" gumamnya, awas saja jika itu benar ia takkan memberikan ampun pada pria itu. Rasanya sia-sia sekali ia jauh-jauh menghindari pria itu jika pada akhirnya mereka bertemu lagi dengan mentalnya yang benar-benar belum cukup siap.
"Baiklah, meeting kita mulai." ucap Aril dan seketika membuat ruangan tersebut nampak hening.
"Saya sudah mempelajari semua tender kalian dan sebelum saya mengumumkan siapa yang berhasil mendapatkan bagian proyek yang sedang kami kerjakan maka saya ingin kalian semua memperkenalkan perusahaan masing-masing." ucap Aril.
"Silakan di mulai dari anda." ucapnya lagi sembari menunjuk seorang pria yang duduk di kursi sebelah kanannya untuk memulainya.
Mereka semua nampak memperkenalkan perusahaannya masing-masing hingga akhirnya giliran Sofia yang mendapatkan giliran terakhir karena wanita itu memang datang di urutan terakhir.
"Perkenalkan kami dari perusahaan A&S." ucap Sofia dan tentu saja membuat Aril langsung mengernyit, jadi perusahaan tempat gadis itu bekerja yang sempat mempermalukan perusahaannya kemarin.
"Apa bisa di jelaskan itu singkatan dari apa ?" tanya Aril ingin tahu.
"Baik." Sofia mengangguk kecil.
"A&S singkatan dari Adams & Sofia." terangnya dan tentu saja itu membuat pria itu langsung mengepalkan tangannya, jadi selama dua tahun ini mereka benar-benar menjalin hubungan?
"Baiklah, saya sudah memutuskan siapa yang akan bekerja sama dengan perusahaan kami di proyek baru itu." ucapnya dan itu membuat mereka yang hadir nampak harap-harap cemas menantikannya, bekerja sama dengan anak perusahaan dari perusahaan terbesar di kota ini siapa yang tidak akan bangga.
Namun tidak dengan Sofia, gadis itu berharap perusahaannya tidak terpilih dan ia akan segera pergi dari sini.
"Saya memutuskan perusahaan A&S yang mendapatkan proyek kami." tegas Aril dan sontak membuat Sofia melotot, apa dia sedang tidak salah dengar? sepertinya tidak, karena tempat duduknya pun sangat dekat dengan pria itu.
"Baiklah, selain dari perusahaan A&S kalian bisa pergi dan terima atas partisipasinya semoga lain waktu kita bisa bekerja sama kedepannya." ucap Aril.
Kemudian semua peserta meeting nampak satu persatu meninggalkan ruangan tersebut hingga kini tersisa Sofia dan Aril, bahkan Mike yang sedari tadi berdiri di belakang atasannya itu nampak melangkah pergi meninggalkan mereka berduaan di dalam ruangan itu.
"Ehm, jadi apa yang mau di bahas ku rasa semuanya sudah jelas tertuang di dalam tender dan selanjutnya aku akan mengirim orang suruhanku datang kesini untuk mengurus semuanya." ucap Sofia dengan sedikit kaku, rupanya mentalnya benar-benar belum siap bertemu dengan pria itu.
"Bagaimana kabarmu ?" ucap Aril yang langsung membuat gadis itu menatapnya.