
"Daddy, Daddy !!"
Panggil seorang anak perempuan berusia 2 tahun saat melihat ayahnya itu.
"Daddy !!"
Panggilnya lagi sembari tergelak dan berlari menjauh seakan menyuruh sang ayah untuk mengejarnya.
"Jeslin sayang, sini sama Daddy Nak." ucap seorang pria memanggilnya.
"Daddy !!" panggil bocah kecil itu lagi yang semakin menjauh.
"Sayang, jangan pergi Nak. Ayo kemarilah !!" panggil pria itu lagi namun bocah kecil itu semakin berlari dan tiba-tiba tergantikan oleh seorang gadis.
"Daddy !!" ucap gadis itu lantas menghilang bersama kabut yang menyelimutinya.
"Tidak, Jeslin !!
Teriak James pagi buta itu dalam tidurnya hingga membuat sang istri yang sedang terlelap di sisinya langsung terbangun. "Sayang, apa kamu bermimpi buruk ?" tanyanya karena tak biasa suaminya seperti itu.
Apalagi kini nampak keringat dingin membasahi dahi pria itu dan nafasnya sedikit tak beraturan seakan baru saja lari puluhan kilometer.
Kemudian James bersandar di bahu ranjangnya, lalu mengambil segelas air putih yang di ulurkan oleh istrinya itu. "Aku memimpikan Jeslin." ucapnya kemudian.
"Jeslin? putri kita ?" ulang Anne.
James nampak memejamkan matanya, masih teringat jelas di mimpinya bagaimana putri kecilnya itu tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis dan gadis itu adalah Sofia.
Gadis yang beberapa hari lalu ia usir dari kota ini karena telah berani masuk ke dalam kehidupan tuan muda SG.
"Jeslin memanggilku." ucapnya kemudian.
"Itu hanya bunga tidur, tenanglah." Anne mencoba menenangkan suaminya meskipun ia sendiri kembali merasa sedih saat mengingat putrinya yang hilang itu.
"Mungkin saja." sahut James, lantas segera beranjak dari tidurnya.
"Pagi ini aku ada meeting penting dengan tuan William, akhir-akhir ini kesehatan beliau kurang baik jadi banyak pekerjaan yang tertunda." ucapnya kemudian.
Cup
James nampak mengecup kening istrinya itu lantas segera berlalu ke dalam kamar mandi.
Sementara itu di tempat lain, Sofia sudah berada di tengah ladang. Meski hari masih sangat pagi, tapi gadis itu sudah berjibaku dengan rumput-rumput tebal yang harus ia cabut.
Seandainya ia memiliki uang lebih mungkin akan membeli mesin pencabut rumput untuk memudahkan pekerjaannya, namun sekarang jangankan uang untuk makan pun ia harus menumpang hidup pada orang lain.
"Sofia, sarapanlah dahulu. Nanti saja lanjutkan pekerjaanmu, aku tidak mau kamu pingsan dan mati di kebunku ini !!" teriak sang bibi pemilik ladang itu, meskipun ucapannya sedikit pedas namun sebenarnya wanita tua itu cukup baik.
Sofia segera beranjak lalu menuju kran yang ada di samping rumah itu untuk membersihkan tangan dan kakinya, melepaskan sarung tangannya dan segera mencucinya.
Wajahnya nampak sedikit meringis saat telapak tangannya yang sedikit melepuh itu terkena air, selama beberapa hari membersihkan rumput membuat tangannya banyak sekali meninggalkan luka di sana.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu." ucap Bibi saat melihat luka di tangan gadis itu.
"Tidak apa-apa Bi, kita harus segera menyelesaikannya agar bisa di tanam secepatnya dan semoga bisa di panen sebelum musim dingin tiba." sahut Sofia yang kini nampak memakan sarapan paginya.
Beberapa potong kentang rebus dengan potongan telur di atasnya, terasa nikmat setelah ia bekerja keras sejak pagi buta.
Meskipun mulai betah tinggal di sana namun Sofia masih berharap Adams bisa mencarikannya pekerjaan di kota, pekerjaan apapun yang penting tak berhubungan dengan keluarga Smith maupun Collins.
...----------------...
"Sayang, apa kamu sedang sibuk ?" ucap Helena saat tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Aril hingga membuat pria itu langsung melebarkan matanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Helena ?" timpalnya kemudian.
"Tentu saja mengunjungimu dan mengajakmu makan siang." sahut Helena seraya melangkah mendekat.
Pakaian wanita itu yang teramat seksi dan sedikit terbuka langsung membuat Aril memalingkan pandangannya, sepertinya 4 tahun tak bertemu banyak sekali perubahan pada dirinya.
Dahulu di mata Aril, Helena adalah sosok gadis manis dan manja namun kini wanita itu telah berubah menjadi wanita dewasa dan berani.
Sepertinya kehidupannya yang bebas dan jauh dari orang tuanya telah mengubah sosok gadis manis yang dahulu pernah ia sayangi itu.
"Aku sedang tidak ingin kemana-mana Helena, lihatlah pekerjaanku sangat banyak." tolak Aril.
"Baiklah kalau begitu, aku pesankan makanan saja dan kita bisa makan siang bersama di sini." ucap Helena yang sepertinya tak mudah menyerah untuk mendapatkan perhatian pria itu lagi.
"Helena, please jangan bertingkah seolah kita masih memiliki hubungan. Sadarlah Helena kita sudah berakhir sejak kamu memilih pergi waktu itu." tegas Aril.
"Ya aku tahu aku salah, tapi tidak adakah sedikit saja kesempatan untukku? aku sudah kembali Ar dan aku janji takkan meninggalkan mu lagi." mohon Helena.
"Takkan ada kesempatan untuk seorang penghianat." sarkas Aril menatap tajam wanita di hadapannya itu.
Helena yang tak terima langsung mendekatinya. "Aku tidak pernah menghianatimu Ar, bahkan sejak 4 tahun yang lalu hingga kini aku tak pernah berhubungan lagi dengan Daniel." terang Helena tak menyerah dan bersamaan itu pintu ruangan Aril di buka dari luar.
"Ar, apa kamu sedang sibuk ?" tanya William sang ayah.
Pria itu nampak memicing saat melihat ada seorang wanita bersama putranya itu, posisi mereka yang saling berdekatan menandakan jika mereka mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman.
"Papa, paman James." Aril langsung menelan ludahnya lantas segera beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan sang ayah dan juga calon ayah mertuanya itu.
Sementara James yang melihat pemandangan itu nampak menatap datar keduanya.
"Hai om William, om James bagaimana kabarnya ?" sapa Helena saat memalingkan wajah melihat mereka.
Tentu saja mereka semua saling mengenal karena ayah Helena adalah relasi bisnis William dan juga James.
"Helena, apa yang sedang kamu lakukan di sini ?" tanya William penuh selidik, pria itu tahu putranya pernah memilki hubungan dengan gadis itu beberapa tahun silam namun sejak mereka berpisah ia segera menjodohkan Aril dengan Jessica.
"Aku baru pulang dari Paris Om dan aku ingin mengunjungi Aril." sahut Helena menjelaskan.
"Baiklah, apa kalian sudah selesai karena sebentar lagi ada meeting." ucap William penuh dengan penekanan.
"Tentu saja Om, kalau begitu aku permisi dulu." sahut Helena.
"Ar, aku pulang dulu sampai jumpa lagi." imbuhnya menatap Aril lantas bergegas pergi dari sana.
Setelah kepergian Helena, William nampak menatap penuh tanya putranya itu. "Wanita lain lagi? kemarin gadis tak jelas asal usulnya itu dan hari ini Helena, sepertinya lebih baik Papa akan mempercepat tanggal pernikahanmu dengan Jessica." tegas William, meskipun ia mengenal keluarga Helena namun menurutnya wanita itu kurang pantas bersanding dengan putranya.
"Sofia jelas asal usulnya, Pa." tegas Aril tak terima.
"Benarkah? lalu katakan siapa dia ?" balas William ingin tahu, karena baru kali ini putranya itu membela mati-matian seorang gadis yang sama.
Sebenarnya siapa gadis itu dan apa kelebihannya hingga membuat putranya tak dapat melupakannya meskipun mereka pernah ia pisahkan sebelumnya.