
Brakk
Ariel nampak menggebrak sebuah meja di ruang meeting pagi itu saat mengetahui perbuatan curang sebagian karyawan di kantor cabangnya tersebut.
"Jadi apa yang di katakan oleh gadis itu benar jika selama ini kalian telah memanfaatkan jabatan untuk memeras para karyawan ?" ucapnya yang langsung membuat beberapa karyawannya itu diam tak berkutik.
"Maafkan kami tuan, kami sungguh sangat khilaf dan kami berjanji takkan mengulanginya lagi." ucap seorang wanita yang bekerja sebagai manager keuangan, namun...
Brakkk
Ariel kembali menggebrak mejanya. "Khilaf? apa mungkin Khilaf sampai berkali-kali ?" ucapnya seraya melemparkan data-data yang sudah ia cari tahu sebelumnya ke hadapan mereka.
Sebenarnya Ariel telah mengendus tindak korupsi yang di lakukan oleh beberapa karyawannya, namun ia mencari waktu yang tepat untuk mengungkapnya sembari mengumpulkan data-data.
Dan di saat ia telah siap tiba-tiba ada seorang gadis dengan lantang menyuarakan ketidakadilan pada dirinya, benar-benar momen yang tepat pikirnya.
"Tuan, mohon ampuni kami." ucap mereka setelah melihat bukti-bukti kejahatan mereka sendiri.
"Benar tuan, tolong pertimbangkan jasa kami yang ikut memajukan perusahaan anda selama bertahun-tahun." timpal nona Brigitta kemudian.
"Kejahatan kalian sudah sangat luar biasa terstruktur jadi silakan pertanggung jawabkan perbuatan kalian pada hukum." tegas Ariel tak ingin banyak berbicara lagi dan bersamaan itu nampak petugas kepolisian masuk ke dalam ruangan tersebut yang membuat mereka semua nampak panik.
Dengan bukti-bukti yang ia miliki Ariel yakin bisa menjebloskan mereka ke dalam penjara dan sepertinya mulai detik ini ia harus fokus dengan perusahaannya tersebut.
Selain karena tak ingin mengecewakan sang ayah, ia juga menyadari jika ayahnya itu tidaklah mudah membangun bisnisnya selama ini hingga sesukses sekarang.
Sementara Sofia yang sedari tadi enggan ke ruangan sang CEO, akhirnya setelah memikirkan dengan matang gadis itu memutuskan untuk datang ke sana.
"Sofia, kamu hebat sekali tadi. Aku tidak menyangka ternyata nona Brigitta seperti itu padahal ku kira dia wanita yang baik." ucap Audrey saat melihat Sofia baru datang.
"Hm." Sofia mengangguk kecil, rasanya sangat aneh sekali saat wanita di hadapannya itu yang biasanya bersikap ketus padanya kini berubah 180 derajat dengan memujinya.
"CEO menyuruhu untuk menunggu di ruangannya." ucapnya kemudian.
"Tentu saja, CEO pasti akan memberikanmu penghargaan Sofia." timpal Audrey menanggapi.
"Entahlah." sahut Sofia tak ingin tahu apa yang akan CEOnya itu lakukan padanya, tapi mengingat surat kontrak kerja yang pria itu berikan tadi pasti akan ada sesuatu yang kurang mengenakan baginya.
Kemudian Sofia segera berlalu masuk ke dalam ruangan CEOnya tersebut, namun baru di ambang pintu Audrey kembali memanggilnya.
"Sofia, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu ?" ucapnya hingga membuat gadis itu berbalik badan menatapnya.
"Hm, tentu saja." sahutnya kemudian.
"Ku rasa kamu sepertinya mengenal baik CEO hingga membuatmu sedikit pun tak canggung saat menegurnya tadi." ucap Audrey dengan wajah penasaran karena selama ini semua karyawan selalu tunduk dan patuh pada pria tersebut bahkan para petinggi perusahaan sekalipun.
"Hm, kami dulu satu kampus." sahut Sofia hingga membuat Audrey langsung melebarkan matanya tak percaya.
"Sepertinya CEO sebentar lagi akan datang nona Audrey, aku harus segera menunggunya di dalam." imbuh Sofia lagi setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Kemudian gadis itu segera masuk ke dalam ruangan CEOnya tersebut lalu menutup pintunya dengan rapat dari dalam.
Sedangkan Audrey yang masih terkejut mendengar perkataan Sofia nampak berpikir keras.
"Sa-satu kampus? jadi mereka adalah kawan lama? tunggu, jadi Sofia pernah kuliah di universitas SG yang sangat terkenal elit itu? bagaimana bisa? apa sebenarnya Sofia dulu adalah anak orang kaya yang tiba-tiba bangkrut? Tidak-tidak, akhir-akhir ini aku tak pernah mendengar seorang pengusaha yang bangkrut. Ku rasa Sofia mahasiswa jalur khusus di sana dan kenapa dia keluar karena pasti minder dengan gaya hidup orang-orang kaya di sana." gumamnya berspekulasi.
"Astaga tuan, anda membuat saya kaget." ucapnya kemudian.
"Saya sudah beberapa menit berdiri di sini Audrey dan kamu tak menyadarinya ?" ucap Ariel lagi dengan nada protes hingga membuat wanita itu merasa tak enak hati.
"Maafkan saya, tuan." Audrey segera membungkukkan sedikit badannya meminta maaf.
"Sofia sudah menunggu anda di dalam." imbuhnya kemudian berharap pria itu tak lagi membahas kelalaiannya tadi yang sama sekali mengabaikan kedatangan pria itu karena sedang asik berbicara dengan pikirannya sendiri.
Ariel nampak melirik ke ruangannya. "Hm, baiklah." ucapnya lantas segera melangkah menuju ke sana dan itu membuat Audrey bisa bernafas lega.
Rupanya Sofia berguna juga ia jadikan tameng, ngomong-ngomong ia masih sangat penasaran dengan hubungan mereka berdua.
Pantas saja CEOnya itu tak pernah protes saat gadis itu mengubah isi ruangannya bahkan mengganti aroma parfum yang selama ini menjadi favorit pria itu.
"Apa sebelumnya mereka memiliki hubungan seperti seorang pangeran dan Cinderela? astaga itu sangat sweet sekali tapi dalam kehidupan nyata itu sangat mengenaskan apalagi CEO telah memilki seorang tunangan." gumamnya kembali berspekulasi dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu Sofia yang melihat kedatangan Ariel langsung beranjak dari duduknya. "Katakan, apa yang kamu inginkan ?" ucapnya kemudian.
"Duduklah tidak perlu terburu-buru !!" perintah Ariel seraya berjalan mendekat.
"Katakan apa yang telah kamu lakukan dengan surat kontrak itu? aku masih ingat dengan jelas isi sebelumnya." tanya Sofia dengan tak sabar.
"Ck, rupanya kau begitu tak sabaran." ucap Ariel menanggapi.
"Jadi kau ingin mempermainkanku ?" Sofia langsung melangkah mendekati pria itu hingga kini jarak di antara mereka tinggal beberapa senti saja.
"Dengar ya tuan Crazy Rich, aku tahu kamu punya segalanya tapi sepertinya kamu salah cari lawan." imbuh Sofia dengan menunjukkan jarinya di depan wajah pria itu.
Jarak yang begitu dekat membuat Aril bisa menatap dengan jelas wajah gadis itu, terlihat jutek tapi entah kenapa sangat menggemaskan baginya. Apalagi saat menatap bibirnya tiba-tiba terbesit perasaan ingin mencicipinya kembali, apa rasanya masih sama seperti dulu atau lebih manis lagi?
"Ah, sial !!"
Ariel langsung mengumpati pikirannya sendiri, karena entah kenapa setiap berada dekat gadis itu pikirannya selalu kotor. Kemudian pria itu segera berlalu menjauh sebelum lepas kendali lantas menerkamnya tanpa sadar.
"Aku tidak ingin membahasnya sekarang, tapi aku ingin berterima kasih padamu karena berani menyuarakan ketidakadilan di perusahaan ini dan kini mereka semua telah mendapatkan hukumannya." ucap Ariel yang kini telah duduk di sebuah sofa single bed.
"Ja-jadi mereka telah di tangkap? maksudku nona Brigitta telah di tangkap ?" ucap Sofia menimpali, nampak keterkejutan di wajahnya.
"Mereka telah melakukan tindakan korupsi jadi sudah sewajarnya mendapatkan hukuman." sahut Ariel menjelaskan.
"Mereka ?" Sofia nampak tak mengerti karena setahunya ia hanya bermasalah dengan nona Brigitta saja.
"Manager keuangan dan beberapa bawahannya, HRD dan juga nona Brigitta telah bersekongkol melakukan korupsi di perusahaan ini." terang Ariel dan itu membuat Sofia nampak kembali terkejut dan bersamaan itu asisten CEOnya itu masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Tuan, ini berkas-berkas yang anda minta." ucap Mike seraya menyerahkan sebuah dokumen pada tuannya tersebut.
Ariel segera mengambilnya lalu kembali mengeceknya, setelah itu menyerahkannya pada Sofia.
"Bacalah dan segera pelajari, ingat kamu tidak bisa resign tanpa seizinku !!" perintahnya kemudian.
Tanpa berpikir panjang Sofia segera mengambil dokumen tersebut lalu membukanya, namun tak berapa lama gadis itu langsung melebarkan matanya.
"Apa kamu sudah gila ?" protesnya dengan bersungut-sungut.