The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~52



"Sayang, tenangkan dirimu !!" Anne langsung memeluk sang suami saat hendak menampar putrinya tersebut.


"Jessy pergi ke kamarmu, Nak !!" imbuhnya lagi seraya menatap sang putri yang nampak terisak, sepertinya ia harus segera menyudahi perdebatan ini.


"Dia tidak akan pergi kemana-mana !!" tegas James tak ingin di bantah.


"Tapi sayang...."


"Dia harus tahu kenapa aku melakukan ini semua." sela James seraya menatap wanita itu.


"Jessy, dengarkan Daddy. Daddy dulu bukanlah siapa-siapa, Daddy hanya seorang anak jalanan yang hampir tewas karena kelaparan dan kamu tahu kenapa Daddy bisa seperti ini sekarang? Itu semua karena tuan William. Daddy berhutang nyawa padanya dan Daddy telah bersumpah untuk selalu mengabdikan diri padanya." terang pria itu kemudian hingga membuat putrinya itu langsung menatapnya.


"Seandainya tuan William tidak menginginkanmu sebagai menantunya, Daddy pasti akan membebaskan mu untuk memilih pasangan hidupmu sendiri. Tapi kali ini Daddy tidak bisa menolak Jessy, bagi Daddy perintah tuan William adalah mutlak." imbuhnya lagi dan itu membuat Jessica nampak terdiam, baru kali ini ia melihat ayahnya begitu emosi namun juga menyimpan kesedihan yang begitu mendalam.


"Benar itu Nak tolong pahami keadaan ayahmu, Aril pria yang baik aku yakin dia pasti bisa membuatmu bahagia." timpal Anne membujuk putrinya tersebut.


"Kenapa harus aku, apa seandainya kak Jeslin masih ada apa dia yang akan kalian jodohkan ?" ucap Jessica seraya menatap ibunya tersebut.


"Hm." Anne mengangguk kecil, sejak kecil Aril begitu menyayangi Jeslin. Mereka seperti tak pernah terpisahkan meskipun saat itu Aril juga telah memiliki seorang adik laki-laki dan sejak saat itu terbesit ide tuan William untuk menjodohkan mereka.


Putri pertamanya itu telah di ikat oleh sebuah hubungan sejak kecil, namun takdir berkata lain dan hingga kini putrinya itu entah di mana berada. Masih hidup atau sudah tiada, sungguh sepanjang hidup Anne dan James selalu di landa keresahan.


"Aku ingin beristirahat." Jessica nampak bangkit dari duduknya, lantas melangkah gontai menuju kamarnya.


"Ini semua gara-gara kak Jeslin, aku harus segera menemukanmu dan kakak harus bertanggung jawab sebagai putri pertama keluarga ini." gumamnya sepanjang ia melangkah.


Keesokan harinya....


Pagi itu Sofia langsung berangkat ke kantornya karena semalam CEOnya itu mengabarkan jika mulai hari ini ia tak perlu lagi datang ke Apartemennya untuk membangunkannya setiap pagi dan tentu saja itu membuat Sofia nampak senang.


Mungkin saja pria itu tak ingin ada kesalahan pahaman lagi dengan tunangannya, memikirkan hal itu entah kenapa sudut hatinya tiba-tiba nyeri.


Tidak, tidak mungkin ia menyukai pria itu hanya karena sebelumnya mereka tak sengaja berciuman.


"Sofia, apa ada masalah ?" ucap Hannah saat melihat gadis itu nampak termenung di kursinya.


Sofia nampak menggeleng pelan. "Semalam aku tidak bisa tidur." dustanya kemudian.


"Jika kamu mau, aku bisa pesankan kopi di pantry." tawar Hannah seraya beranjak dari duduknya.


"Tidak Hannah, terima kasih." tolak Sofia yang merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa, sepertinya aku juga sedang ingin meminum secangkir kopi." sahut Hannah lantas segera berlalu meninggalkan kubikelnya tersebut.


Beberapa saat kemudian terdengar bunyi lift terbuka hingga membuat Sofia segera mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang dan benar saja CEOnya itu nampak keluar dari lift tersebut.


Pria itu datang ke kantor tepat waktu, lalu siapa yang membangunkannya? apa Mike? atau justru tunangannya itu?


Tak ingin bertanya-tanya Sofia segera beranjak dari duduknya untuk menyambutnya. "Selamat pagi, tuan CEO." ucapnya seraya sedikit membungkukkan badannya memberikan salam.


"Hm." Aril menatap gadis itu sekilas lantas segera masuk ke dalam ruangannya, tatapannya datar seperti biasa dan Sofia sama sekali tak bisa menebak bagaimana suasana hati pria itu saat ini.


Hingga siang hari Sofia belum melihat CEOnya itu keluar dari ruangannya, ia merasa pria itu seakan sedang menghindarinya.


"Sofia, kenalkan ini Adam manager personalia di sini." ucap Hannah saat bertemu dengan seorang pria ketika mereka hendak pergi ke Cafetaria.


"Hai, Sofia. Hannah banyak bercerita tentangmu." ucap Adam menimpali.


"Benarkah? apa Hannah cerita tentang keburukanku juga ?" timpal Sofia sembari terkekeh, ia yang selalu ramah pada siapapun langsung terlihat akrab dengan pria itu.


"Selamat siang, Tuan William." sapa Hannah dan Adam bersamaan.


"Kau !!" William nampak mengernyit saat melihat keberadaan Sofia di antara mereka.


"Selamat siang, Tuan." sapa Sofia dengan sedikit membungkukkan badannya memberikan hormat pada pria itu.


"Bukankah, kau...." ucap William, namun tiba-tiba Aril datang lalu menyela sang ayah.


"Dia asistenku, Pa." ucapnya kemudian dan tentu saja itu membuat William nampak terkejut.


"Bagaimana bisa Ar, bukankah...." ucapan William lagi-lagi di potong oleh putranya itu.


"Kalian semua pergilah ke kantin sekarang !!" perintahnya seraya menatap ke arah Sofia.


Sofia yang merasa sedang di lindungi oleh pria itu nampak lega, kemudian ia segera berlalu dari sana.


"Jelaskan padaku, Ar !!" perintah William, lantas segera melangkah ke arah lift yang di ikuti oleh putranya itu.


Sesampainya di ruangan sang ayah, Aril segera menjelaskan. Bagaimana pun juga cepat atau lambat ayahnya itu pasti akan tahu.


"Jadi benar gadis itu yang mengungkap tindakan kecurangan di kantor cabang ?" ulang William setelah mendengar penjelasan dari sang putra.


"Benar Pa, selain ulet dan cekatan Sofia juga gadis pemberani jadi karena itu aku memilihnya menjadikannya sebagai asistenku." sahut Ariel.


"Ya kau benar, dia tidak hanya berani tapi sangat berani. Jika tidak, bagaimana mungkin dia mengajak tuan muda SG balapan liar." cibir William mengingat kejadian waktu itu, entah kenapa gadis itu mengingatkannya pada sang istri kala masih muda dahulu.


"Tapi dia tak sebrutal pikiran Papa." timpal Aril kemudian.


"Baiklah Papa percaya padamu Ar dan ku harap hubungan kalian hanya sebatas rekan kerja, karena bagaimana pun juga hanya Jessica yang pantas menjadi istrimu." tegas William mengingatkan putranya itu.


"Tapi aku sudah menganggap Jessy seperti adikku sendiri, Pa. Tidak bisakah Papa memikirkan lagi perjodohan ini." mohon Aril lagi.


"Ini semua demi kebaikanmu Ar, karena aku tidak yakin di luar sana ada gadis yang baik. Harusnya kamu menikah dengan Jeslin hanya saja entah di mana dia sekarang. Papa dan paman James sudah berusaha mencarinya tapi belum menemukan titik terang." ucap William dan sejenak membuat putranya itu terdiam.


"Jeslin." gumamnya, mengingat bayi lucu berusia dua tahun yang pernah begitu ia sayangi dahulu.


"Apa kalian masih mencarinya hingga sekarang ?" tanya Aril penasaran, mengingat peristiwa itu sudah belasan tahun yang lalu.


William nampak menggelengkan kepalanya. "Sudah lama kami menghentikan pencarian karena benar-benar tak menemukan titik terang." sahutnya.


Sementara itu di tempat lain Sofia nampak sedang makan di Cafetaria bersama Hannah dan Adam, rupanya Adam pria yang sangat ramah hingga membuat mereka cepat akrab.


"Jadi kamu belum memilki kekasih, Sofia ?" tanya Adam kemudian.


"Tidak, aku belum memikirkan hal itu." sahut Sofia.


"Kenapa tidak? hidupmu akan lebih berwarna jika kamu memilki seorang kekasih, Sofia." tukas Adam lagi.


"Waktuku habis hanya untuk kuliah dan bekerja Dams, rasanya kasihan sekali pria yang akan menjadi kekasihku nanti." timpal Sofia sembari tersenyum kecil hingga memperlihatkan lesung di kedua pipinya dan sontak membuat Adams terpaku menatapnya.


"Pria yang menyukaimu pasti tidak akan mempermasalahkan hal itu." ucap Adam lagi yang terlihat sangat tertarik dengan gadis di hadapannya itu, namun tiba-tiba....


Ehmm...


Terdengar deheman seseorang hingga membuat mereka langsung menoleh ke sumber suara.


"CEO !!" ucap mereka bersamaan saat melihat Aril sudah berdiri tak jauh dari mereka, sejak kapan atasannya itu berada di sana gumamnya.