
"Aku hanya becanda, kenapa hidupmu datar sekali." tukas Aril saat Sofia duduk memunggunginya menghadap jendela sampingnya.
Sementara Sofia yang mendengar itu nampak mencibir, bukankah pria itu yang wajah dan hidupnya sama-sama datar lalu kenapa jadi menyalahkannya?
Namun ia enggan menanggapinya lagi karena pasti akan berakhir dengan perdebatan.
Beberapa saat kemudian mobil yang membawa mereka nampak berhenti di sebuah hotel bintang lima. "Tunggu, mau ngapain kita datang ke sini? kamu bilang sedang tidak ada meetingkan ?" Sofia enggan turun dari mobil tersebut, jangan-jangan pria itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk padanya.
Membawanya check in dan terjadilah sesuatu yang tak ia inginkan, tidak-tidak ia takkan membiarkan hal itu terjadi.
"Berhentilah berpikiran kotor seperti itu, ayo cepat turun !!" ucap Aril saat Sofia tak kunjung turun dari mobilnya.
"Si-siapa yang berpikiran kotor ?" Sofia langsung bersungut-sungut.
"Aku sedang ingin makan siang di sini, memang apa yang sedang kamu pikirkan? check in berdua di sini? jika kamu tak keberatan, aku juga tak masalah." sahut Aril bernada ledekan yang tentu saja membuat Sofia kembali bersungut-sungut, bagaimana bisa pria itu membaca pikirannya?
Akhirnya Sofia keluar dari mobil tersebut dan saat hendak melangkah tiba-tiba tangannya di genggaman oleh CEOnya itu.
"A-apa yang kamu lakukan ?" protesnya kemudian.
"Kenapa? bukankah ini yang di lakukan oleh sepasang kekasih? atau kamu ingin lebih? baiklah kita bisa melakukannya di dalam sana." timpal Aril dan sontak mendapatkan cubitan di pinggangnya oleh gadis itu, astaga kenapa jadi mesum begitu CEOnya itu.
"Aku belum menyetujui jika aku mau menjadi kekasihmu." tukas Sofia, enak saja pria itu mengklaim hubungan mereka tanpa persetujuannya.
"Aku tidak minta persetujuanmu, aku hanya ingin kamu tahu jika mulai sekarang kamu adalah kekasihku." ucap Aril yang langsung membuat Sofia melotot menatapnya.
"Ba-bagaimana bisa...."
"Diamlah, sudah ku bilang aku tidak meminta persetujuanmu. Jadi bersikaplah sebagai seorang kekasih yang baik." potong Aril lantas membawa gadis itu berlalu menuju lobby hotel tak jauh di hadapannya itu.
"Dasar pria pemaksa dan tidak romantis, bagaimana bisa menembak seorang gadis seperti itu. Gagal sudah impianku mendapatkan kekasih yang romantis seperti di film-film." gerutu Sofia dengan kesal, karena pada nyatanya ia harus berhubungan dengan pria dingin dan kaku jauh dari kata romantis itu.
"Kamu mengatakan sesuatu ?" tanya Ariel saat mendengar samar-samar gerutuan gadis itu.
"Tidak, tapi bagaimana jika ada yang melihat kita. Orang-orang pasti akan salah paham." timpal Sofia dengan wajah khawatirnya, mengingat pria itu telah memilki tunangan dan ia tak ingin di tuding sebagai orang ketiga dalam hubungan mereka.
"Jangan mendengarkan omongan orang, lagipula sudah berada jauh dari tengah kota dan ku pikir takkan ada yang mengenali kita." sahut Aril tanpa beban, lagipula jika ada yang melihat mereka ia begitu tak peduli.
"Tapi tetap saja aku...."
"Diamlah atau akan ku gendong masuk." potong Aril bernada ancaman dan itu membuat Sofia nampak mencebikkan bibirnya, tentu saja ia tak mau itu terjadi karena pasti akan menjadi perhatian banyak orang.
Akhirnya Sofia pasrah saat CEOnya itu menggandengnya masuk ke dalam hotel tersebut, namun tanpa mereka berdua sadari James terlihat mengawasi dari dalam mobilnya yang kebetulan berada tak jauh dari sana.
"Apa anda akan turun, tuan ?" tanya sang sopir dari balik kemudinya.
"Tidak, kembali ke kantor saja dan perintahkan anak buahmu untuk terus mengawasi mereka." sahut James lantas segera menutup kaca mobilnya dan setelah itu mobil yang membawanya melaju meninggalkan tempat tersebut.
"Untuk anda, nona Sofia." ucap wanita itu yang di ketahui sebagai manager hotel.
"Un-untukku ?" Sofia langsung terkejut saat menerima buket tersebut.
"Ambillah jika tidak akan ku buang." tukas Aril seraya mengulurkan tangannya namun Sofia segera menjauhkannya, enak saja di buang karena baru kali ini ia mendapatkan bunga apalagi sebesar itu.
Setelah itu mereka di arahkan oleh manager hotel tersebut ke sebuah ruangan VIP yang ada di sana, sepanjang jalan Sofia nampak fokus dengan bunga yang sedang ia pegang itu dan saat melihat sebuah kartu ucapan yang tersemat ia segera membacanya.
"Untuk Sofia dari Aril." gumamnya.
"Ja-jadi bunga ini dari dia." imbuhnya lagi dalam hati, ia tak menyangka pria dingin itu memiliki sedikit sisi romantis dan itu membuatnya nampak menahan senyumnya.
Sesampainya di sebuah ruangan yang di tuju, manager hotel tersebut segera mempersilakan mereka untuk masuk dan seketika Sofia langsung tercengang saat melihat banyak sekali bunga di ruangan itu.
Apa ia sedang bermimpi? Jika ya, maka ia tak ingin segera bangun. Namun suara Aril langsung membuyarkan lamunannya itu.
"Duduklah, matamu hampir melompat keluar melihat bunga-bunga itu." cibir pria itu.
"Tentu saja, ini salah satu hal terindah dalam hidupku." sahut Sofia seraya menghempaskan bobot tubuhnya di kursi seberang pria itu.
"Jika mau aku akan memberikan mu setiap hari." tukas Aril dan tentu saja itu membuat Sofia langsung menatapnya.
"Benarkah ?" ucapnya tak percaya.
"Jadi kamu masih meragukanku? bahkan tokonya pun bisa aku beli jika kamu mau." tegas Aril.
"Tidak, itu sangat pemborosan lagipula aku tidak akan ada waktu untuk merawatnya. Ngomong-ngomong terima kasih untuk semua bunga-bunga ini tapi sepertinya aku tidak bisa menerimanya." terang Sofia seraya meletakkan buket bunga tersebut di hadapan pria itu.
"Tunanganmu lebih pantas mendapatkannya, tuan CEO." imbuhnya lagi menatap tegas pria itu, mungkin ia hampir saja terlena dengan kejutan yang di berikan oleh pria itu namun ia cukup sadar diri.
Mendapatkan penolakan tentu saja membuat Aril langsung marah, bahkan pria itu kini nampak mengeraskan rahangnya. Kemudian mengambil bunga di atas meja itu dan hendak membuangnya tapi tiba-tiba Sofia menahan tangannya.
"Aku bilang berikan pada tunanganmu bukan membuangnya." ucap Sofia kemudian.
"Kamu tahu apa arti mawar merah ini ?" tanya Ariel kemudian.
"Tentu saja, bunga yang melambangkan sebuah cinta." sahut Sofia.
"Lalu untuk apa aku memberikannya pada orang yang tidak pernah ku cintai ?" ucap Aril lagi dan itu membuat Sofia nampak tercengang.
"Aku tidak pernah mencintai Jessica, hubungan kami hanya sebuah perjodohan." imbuh pria itu lagi.
"Tapi kamu bisa berusaha untuk mencintainya bukan? karena pada akhirnya kalian akan menikah." tukas Sofia mengingatkan.
"Jika kamu adalah gadis yang ku inginkan, apa kamu mau menikah denganku ?" ucap Aril tiba-tiba dan tentu saja itu membuat mata Sofia langsung membola, apa ia sedang bermimpi? di hari yang sama seseorang yang telah menyatakan cinta padanya bahkan juga memintanya untuk menikah.