
"Helena bilang dia sangat merindukanmu." ucap George lagi saat Aril hanya memberikan respon datar, padahal ia tahu sebelumnya pria itu sangat mencintai mantan kekasihnya itu bahkan hingga beberapa tahun kemudian sahabatnya itu belum juga mencari penggantinya.
"Aku harus segera kembali ke kantor, George." timpal Aril mengalihkan pembicaraan, lantas bergegas pergi dari sana.
"Aku tahu hingga kini kamu masih mencintainya Ar, tolong turunkan egomu sedikit. Bukalah matamu karena Helena dan Daniel tak memilki hubungan apapun. Ku rasa dulu kalian hanya salah paham." ucap George lagi yang sontak membuat Aril menghentikan langkahnya sejenak, namun kemudian pria itu kembali berlalu pergi meninggalkan sahabatnya itu.
"Aku harus melakukan sesuatu agar mereka kembali bersatu, karena ku rasa hanya Helena wanita yang tepat untuk Aril tak perduli dia sudah bertunangan dengan gadis kekanakan itu." gumam George yang notabennya adalah saudara sepupu dari Helena mantan kekasih Aril itu.
Sementara itu di tempat lain Sofia dan Jose nampak semakin akrab, sifat mereka yang sama-sama ramah dan mudah bergaul membuat keduanya nampak cocok.
"Baiklah, sepertinya aku harus pergi sebelum sopirku datang." ucap Jose kemudian.
"Tentu saja, bosku juga sepertinya akan kembali dari meeting." timpal Sofia setelah menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lantas pandangannya beralih ke arah Cafe di mana CEOnya itu berada.
"Oh ya Sofia, apa aku boleh minta nomor kontakmu. Ku rasa lain kali kita bisa pergi nonton." mohon Jose kemudian.
"Maaf Jose aku tak biasa memberikan nomor kontakku pada orang asing." tolak Sofia to the point.
"Kita sudah lebih dari satu jam mengobrol dengan akrab Sofia, jadi kamu masih menganggapku pria asing ?" Jose nampak tak habis pikir dengan gadis cantik di hadapannya itu.
"Tentu saja, bahkan keluarga yang tinggal bersama kita selama bertahun-tahun pun kadang juga seperti orang asing." sahut Sofia kemudian.
"Baiklah, sepertinya kamu masih menganggapku seorang kriminal tapi aku yakin di pertemuan kedua kita nanti pandanganmu akan berubah terhadapku." ucap Jose dengan nada sedikit kecewa.
"Oh ya ini buatmu, semoga kita bertemu lagi lain waktu." imbuhnya lagi sembari memberikan sebuah lolipop lagi pada gadis itu, setelah itu Jose segera pergi dari sana.
"Dasar menyebalkan." gerutu Sofia sembari menatap lolipop kesukaannya di tangannya itu, sepertinya ia akan menyimpannya dan memamerkannya pada Lucy dan Juan nanti.
Setelah itu Sofia segera berbalik badan untuk pergi, namun tiba-tiba CEOnya itu sudah berada di belakangnya hingga membuatnya hampir menabraknya dan entah sejak kapan pria itu ada di sana.
"Astaga." teriaknya dengan wajah terkejut.
"Apa sudah selesai meetingnya ?" imbuhnya ingin tahu.
"Kau mengenal pemuda tadi ?" ucap Aril kemudian.
"Siapa? yang baru saja pergi itu? namanya Jose aku juga baru kenalan dengannya karena tadi dia tak sengaja menabrakku. Dia orangnya sangat asyik." terang Sofia mengalir begitu saja.
"Jangan sembarangan berkenalan dengan orang asing." tegur Aril kemudian.
"Walaupun dia orang asing tapi terlihat baik." sela Sofia, lagipula apa hak pria itu melarangnya berkenalan dengan seseorang.
"Tak semua orang yang kamu anggap baik itu sebenarnya baik." tegur Aril dengan nada sedikit kesal, lalu saat melihat lolipop di tangan gadis itu ia segera mengambilnya.
"Astaga, kembalikan." Sofia segera merebut lolipopnya tersebut hingga hampir terjatuh beruntung Aril segera menahan pinggangnya hingga kini gadis itu berada dalam pelukan pria itu.
Pandangan keduanya nampak terkunci beberapa saat hingga tanpa sadar Aril mendekatkan wajahnya saat melihat bibir merah alami gadis itu yang seakan sedang menggodanya.
Namun saat bibir mereka hendak bersentuhan, seketika Aril mengingat perjanjian dalam kontrak kerja itu lalu ia segera menjauhkan wajahnya lalu melepaskan pelukannya di pinggang wanita itu.
Ehm
Pria itu nampak berdehem kecil lantas kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Sofia yang masih mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba tak beraturan.
"Kembalikan lolipopku." ucapnya setelah mengejar pria itu, namun bukannya mengembalikan Aril justru melemparnya ke tempat sampah.
"Astaga, lolipopku ?" Sofia langsung tercengang saat melihat permennya itu tiba-tiba di buang oleh pria itu.
"Apa yang kamu lakukan dengan lolipopku ?" teriak Sofia tak terima.
"Tapi itu lolipop dari Jerman." sela Sofia yang masih tak rela.
"Kamu tidak boleh menerima sembarang makanan dari orang yang baru saja kamu kenal." ucap Aril seraya menatap gadis itu tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
"Itu bukan urusanmu." Sofia terlihat sangat kesal sekali, karena baru kali ini dia bisa makan lolipop buatan luar negeri.
Kemudian gadis itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan CEOnya tersebut.
"Bagaimana jika ada sesuatu yang berbahaya di dalam makanan tersebut ?" ucap Aril saat melihat gadis itu pergi begitu saja lalu ia segera menyusulnya.
"Aku sudah memakannya dan lihatlah aku masih hidup." sela Sofia seraya menghentikan langkahnya menatap pria itu sejenak lalu ia kembali melangkah menuju mobilnya berada.
"Tentu saja efeknya tidak secepat itu." tegas Aril, namun sepertinya asisten pribadinya itu tetap mengabaikannya.
Sial, baru kali ini ia di abaikan oleh karyawannya sendiri. Lagipula makanan pinggir jalan bukankah tidak higenis gumamnya membenarkan argumennya.
Sepanjang perjalanan Sofia terlihat kesal, gadis itu nampak diam bahkan Mike yang biasanya ia sapapun kini di abaikan begitu saja hingga membuat pria itu nampak melirik melalui ekor matanya. Kemudian pandangannya beralih ke arah spion depannya di mana sang tuan pun juga terlihat diam dan sesekali melirik ke arah gadis itu.
"Sebenarnya ada apa dengan tuan dan nona Sofia ?" gumam pria itu yang tak mengetahui ada apa di antara mereka, karena sebelumnya ia pamit ke kamar kecil.
"Ya, mom ?" ucap Aril saat mengangkat panggilan teleponnya.
"Sayang malam ini kamu pulang ya, adik kamu sudah datang. Kamu pasti sangat merindukannya bukan ?"
"Akan ku usahakan." sahut Aril menjawab perkataan ibunya itu.
"Baiklah nanti ku hubungi lagi." ucapnya, lalu segera mematikan panggilannya tersebut.
Malam harinya setelah pulang dari kantornya, Aril bergegas pulang ke rumahnya sebelum sang ibu banyak protes.
"Hai kak Aril aku sangat merindukanmu." ucap seorang pemuda saat melihat kakaknya itu datang, lalu segera memeluknya.
"Astaga, kamu bukan anak kecil lagi Jose." ucap Aril saat adiknya itu tak kunjung melepaskan pelukannya.
"Jadi mana oleh-oleh buatku ?" tanya Aril kemudian.
"Kamu sudah mempunyai segalanya untuk apa meminta oleh-oleh lagi dariku." timpal Jose yang kini kembali duduk di sisi sang ibu.
"Tapi aku punya ini ambillah." Jose nampak melempar sebuah lolipop yang masih terbungkus rapi itu dan sang kakak langsung menangkapnya.
Saat melihat lolipop di tangannya itu seketika Aril mengingat sosok Sofia yang hingga jam kerja selesai pun gadis itu masih mendiamkannya.
"Hanya satu ?" ucapnya kemudian.
"Tentu saja, yang dua sudah ku berikan pada seorang gadis yang ku temui di jalan tadi." sahut Jose menjelaskan.
"Gadis? gadis siapa Jose? apa kamu sedang menggoda seorang gadis ?" kali ini Merry sang ibu ikut menimpali.
"Seorang gadis yang ku temui tadi siang Mommy, dia sangat cantik dan juga menggemaskan." terang Jose mengingat bagaimana Sofia tadi sedikitpun tak tertarik padanya, padahal di kampusnya ia menjadi idola para gadis.
"Benarkah? coba ceritakan pada mommy." timpal sang ibu lagi dengan wajah penasaran.
Sementara Ariel yang mendengar percakapan mereka tiba-tiba merasa kesal lantas segera berlalu dari sana.
"Sayang, kamu mau kemana ?" teriak sang ibu.
"Lelah." sahut Aril sembari menaiki anak tangga menuju kamarnya.