The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~64



"Daddy !!"


"Daddy !!"


Panggil seorang anak kecil sembari tergelak dan berlari kesana kemari berharap ayahnya mau mengejarnya.


"Kejar aku Daddy !!" ucapnya lagi sembari berlari semakin menjauh.


"Jeslin jangan jauh-jauh sayang !!" teriak seorang pria, namun bocah kecil itu justru semakin menjauh hingga menghilang tertelan kabut di depannya itu.


"Jeslin !!" teriak pria itu lalu tiba-tiba muncullah seorang gadis lalu memanggilnya.


"Daddy !!" ucapnya dengan wajah penuh kesedihan lalu kembali menghilang bersama kabut yang menyertainya.


"Jeslin !!"


"Jeslin !!"


Teriak James dalam tidurnya hingga membuatnya dan sang istri langsung terbangun malam itu. "Sayang, kamu bermimpi lagi ?" tanya Anne sembari mengusap keringat yang membasahi dahi suaminya itu.


"Hm." James mengangguk kecil lantas segera beranjak dari ranjangnya.


"Sayang kamu mau kemana ?" Anne yang di tinggal begitu saja nampak bertanya-tanya, ada apa dengan pria itu.


"Tidurlah lagi, hari masih petang." sahut James, lalu kembali mendekati wanita itu dan mengecup keningnya.


Setelah itu James segera berlalu keluar dari kamarnya menuju ruang kerjanya, entah ada apa dengan mimpi yang akhir-akhir ini hadir dalam tidurnya.


Mimpi yang sama di mana putrinya yang telah lama hilang tiba-tiba hadir kembali lalu berubah menjadi seorang gadis, gadis yang akhir-akhir ini mencoba mengganggu hubungan putrinya dengan tunangannya.


"Gadis itu? Sofia ?" gumamnya mengingat bagaimana wajah gadis itu yang terus-menerus masuk ke dalam mimpinya, gadis itu seolah menjadi reinkarnasi sang putri kecilnya yang kini telah tumbuh dewasa.


Kemudian James mengambil bingkai foto yang ada di atas meja kerjanya, di mana foto putri kecilnya nampak di sana. Seorang bocah berusia dua tahun yang teramat cantik dan menggemaskan itu.


Rambutnya berwarna keemasan seperti dirinya dan matanya terlihat begitu cantik seperti mata ibunya, James nampak mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah putrinya itu dan tiba-tiba bayangan wajah Sofia kembali menari-nari di kepalanya.


Gadis itu juga memiliki rambut keemasan dan mata yang sama dengan sang istri, bagaimana bisa kebetulan seperti itu?


"Atau jangan-jangan dia....." gumamnya, lantas segera meletakkan bingkai itu kembali ke tempatnya lalu ia segera menghubungi seseorang.


"Jake cari tahu informasi tentang Sofia sekarang juga !!" perintahnya pada sang asisten tak perduli hari masih malam.


"Sofia mantan asisten tuan muda Aril, tuan ?" sahut sang asisten memastikan dari ujung telepon.


"Hm, aku ingin mendapatkan informasi itu secepatnya." perintah James dengan tegas.


"Baik tuan, akan segera saya cari tahu."


Setelah menutup teleponnya, James nampak mengusap wajahnya dengan kasar, jika benar gadis itu adalah putri kecilnya yang selama ini hilang maka ia adalah seorang ayah yang paling kejam di dunia ini.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" tiba-tiba Anne datang ke ruang kerja suaminya itu.


"Hm, kemarilah !!" panggil James agar istrinya itu datang mendekat, lalu menarik wanita itu agar duduk di pangkuannya.


"Kenapa kamu tidak tidur lagi, hm ?" tanyanya kemudian.


"Aku mana bisa tidur jika tidak ada kamu." sahut Anne dan itu membuat pria itu nampak tersenyum kecil lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Maaf jika aku belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik buat kalian." ucapnya kemudian.


"Kamu ayah dan suami yang baik." sela Anne.


Anne tak lagi menimpalinya, ia hanya memeluk suaminya itu dengan erat seakan sedang memberikan semangat pada pria itu.


Keesokan harinya....


"Helena, apa yang kau lakukan di sini ?" ucap Aril pagi itu saat melihat wanita itu sudah berada di dalam ruangannya.


"Sayang, kau sudah datang ?" Helena yang sedang duduk di kursi kerja pria itu langsung beranjak dari duduknya.


"Hanna, siapa yang mengijinkannya masuk !!" tanya Ariel yang masih berdiri di ambang pintunya itu pada sang sekretaris.


"Maafkan saya tuan, nona Helena mengancam saya jika tidak di izinkan masuk maka beliau akan memecat saya." terang Hannah kemudian.


"Memecatmu? memang apa hak dia di perusahaan ini ?" Aril langsung mengeraskan rahangnya, ia tidak suka jika orang luar ikut campur dengan urusannya.


"Beliau mengatakan sebagai kekasih anda, beliau juga menujukkan foto kebersamaan anda dengannya sebagai bukti." terang Hannah lagi.


Aril nampak berdecak kesal. "Lain kali jangan biarkan orang lain masuk ke dalam ruanganku tanpa seijinku langsung !!" tegasnya kemudian.


"Baik tuan, maafkan saya." timpal Hannah dengan wajah bersalahnya.


Kemudian Aril segera masuk ke dalam ruangannya lalu menutup pintunya dengan sedikit kasar dari dalam. "Apa yang kau inginkan Helena? bukankah sudah ku katakan jangan ganggu aku lagi ?" ucapnya kemudian.


"Aku akan terus mengganggumu sampai kita baikan lagi seperti dulu dan kamu tahukan aku bukan wanita yang mudah menyerah." sahut Helena sembari mendekati pria itu.


"Sadarlah Helena sejak kau pergi 4 tahun yang lalu sejak saat itu hubungan kita telah berakhir dan sesuatu yang sudah berakhir takkan bisa di kembalikan lagi." tegas Aril.


"Tapi kenapa tidak bisa, bukankah kamu tidak menyukai Jessica? Jessica bilang kalian akan segera mengakhiri pertunangan kalian jadi ku mohon kembalilah padaku. Aku tahu aku salah karena telah meninggalkanmu dulu tapi kamu juga harus mengerti keadaanku, aku adalah pewaris tunggal di perusahaan ayahku untuk itu aku harus belajar banyak hal di luar negeri." mohon Helena dengan memegang kedua tangan mantan kekasihnya itu dengan mata berkaca-kaca, dahulu pria itu tak bisa sedikit saja melihatnya bersedih dan pasti akan luluh.


Ariel langsung menjauhkan dirinya. "Keputusanku sudah bulat, sekarang pergilah dan jangan pernah menggangguku lagi." ucapnya lalu melangkah membuka pintu ruangannya.


"Tunggu Ar, kamu mau kemana ?" Helena langsung mengejarnya.


"Meeting." sahut Aril lalu benar-benar pergi dari sana.


Helena yang masih berdiri di ambang pintu nampak sangat kesal karena di tinggal begitu saja, lantas segera menghentakkan kakinya pergi dari sana.


Saat berada di lobby kantornya Aril tak sengaja berpapasan dengan Adams hingga membuatnya langsung berhenti. "Katakan di mana kamu menyembunyikan Sofia ?" tanyanya to the point.


"Ini di kantor Ar, bisakah kita membahas masalah pekerjaan saja." timpal Adams mengalihkan pembicaraan karena ia ingin bekerja dengan profesional tanpa mencampur adukkan masalah pribadi.


"Sofia asisten ku jadi aku berhak tahu di mana keberadaannya." tegas Aril lagi dan itu membuat Adams langsung tersenyum miring.


"Dia bukan asistenmu lagi sejak kemarin jika kamu lupa itu." timpalnya kemudian, mengingat ia sudah memberikan pria itu nominal dalam jumlah yang tak sedikit untuk mengganti rugi.


"Bedebah, katakan di mana kamu menyembunyikan ?" ucap Aril yang mulai tak sabar.


"Apa pantas seorang pria yang telah bertunangan mengejar-ngejar kekasih orang lain ?" cibir Adams yang langsung membuat Ariel melebarkan matanya.


"Apa maksudmu ?" ucapnya kemudian.


"Sofia adalah kekasihku, jadi ku peringatkan jangan pernah mengganggunya lagi." tegas Adams dengan menatap tajam CEOnya itu, lantas segera berlalu dari sana.


Aril yang mendengar itu nampak mengepalkan tangannya, jadi apa karena lebih memilih pria itu Sofia tiba-tiba pergi darinya?


"Sial !!" umpatnya tak terima.


Sementara itu tak jauh dari sana Helena nampak menguping perdebatan mereka. "Sofia? siapa wanita itu? apa dia wanita yang di sukai oleh Aril? tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku kaya aku punya segalanya dan aku akan melakukan apapun agar Aril kembali padaku."