
Pagi itu Sofia nampak menatap setiap sudut kamar sang ayah, kamar yang menyimpan banyak sekali kenangan pria itu. Lalu setelah memastikan semua barang-barangnya tak ada yang ketinggalan gadis itu segera keluar dari sana.
"Bibi, ada beberapa pakaian bekas ayahku yang masih bagus dan aku tak bisa membawanya bisakah tolong berikan pada para tunawisma." ucapnya pada seorang wanita tua pemilik rumah tersebut.
"Sofia, kamu akan pergi kemana Nak? Tinggalkan lebih lama di sini, bibi tak masalah jika kamu suka telat bayar sewanya." ucap wanita itu.
"Terima kasih Bi, tapi aku harus pergi. Bibi jaga kesehatan ya semoga di lain waktu kita berjumpa lagi." tukas Sofia lantas memeluk wanita pemilik rumah tersebut.
Setelah itu ia segera meninggalkan rumah itu setelah taksi yang ia pesan datang.
Sedangkan sang pemilik rumah segera masuk ke dalam rumahnya tersebut, mengambil beberapa pakaian yang di berikan oleh gadis itu.
"Ini semuanya masih bagus." gumamnya saat mengeluarkan satu persatu dari dalam lemari.
Setelah semua pakaian di keluarkan dan lemari kembali kosong, kemudian wanita itu nampak membuka sebuah laci yang letaknya sedikit tersembunyi di sana. Siapa tahu gadis itu lupa mengeceknya sebelum pergi.
"Astaga, Sofia meninggalkan barang-barangnya." gumamnya saat melihat sebuah album di dalam laci tersebut.
Lantas wanita itu segera membukanya di mana banyak sekali foto masa kecil gadis itu. "Aku akan menyimpannya di sini, mungkin dia akan kembali lagi untuk mengambilnya." ucapnya lantas meletakkannya kembali di dalam lemari.
Toh wanita itu tak berniat untuk menyewakan rumahnya itu lagi dan suatu saat akan menjualnya saja jika ada yang berminat.
Sebelum pergi meninggalkan kotanya tersebut, Sofia nampak mengunjungi makam sang ayah. Namun dari kejauhan ia melihat seseorang sedang duduk di samping makam.
Karena penasaran Sofia segera melangkah mendekat, apa itu pria misterius yang selama ini suka meletakkan bunga di atas makam sang ayah? jika benar ia ingin mengucapkan banyak terima kasih padanya.
"Kau !!" Sofia langsung terkejut saat melihat pemuda di hadapannya itu, rupanya pria yang selama ini diam-diam mengunjungi makam sang ayah adalah Daniel.
"Dan-Daniel, bagaimana kau bisa di sini ?" tanya Sofia dengan wajah tak percaya.
"Hai Sof, kamu datang sendirian ?" sapa Daniel seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling gadis itu.
"Hm." Sofia mengangguk kecil.
"Apa yang kau lakukan di sini, Dan ?" tanyanya kemudian.
"Apa selama ini kamu pria asing itu yang selalu mengunjungi makam ayahku? siapa sebenarnya kamu Dan dan hubunganmu dengan ayahku? apa kalian saling kenal ?" imbuh Sofia lagi dengan banyak pertanyaan yang selama ini tersimpan di benaknya.
"Sofia, kamu jangan salah paham. Pertama aku tidak mengenal ayahmu dan aku tidak ada hubungan apapun dengan beliau." terang Daniel.
"Lalu apa ini semua Dani ?" Sofia masih tak mengerti, banyak sekali bekas bunga yang berada di atas makam sang ayah.
"Aril yang menyuruhku." ucap Daniel pada akhirnya.
"A-aril ?" Sofia nampak tercengang mendengarnya.
"Selama ini Aril sangat bersalah padamu Sofia, dia merasa penyebab kematian ayahmu karena dia. Untuk itu selama melanjutkan kuliahnya di luar negeri, dia menyuruhku untuk merawat makam ayahmu." terang Daniel dan itu membuat Sofia semakin terkejut.
"Tapi dia sudah kembali, lalu kenapa masih menyuruhmu untuk datang kesini ?" tanya Sofia kemudian.
"Dia juga datang berkunjung Sofia, lihatlah bunga-bunga itu sepertinya dia yang membawanya." Daniel menunjuk beberapa bunga yang telah layu di atas makam tersebut.
"Sebenarnya sebelah makam ayahmu adalah makam sahabat kecilku, dia putri dari pelayan di rumah kami. Dia meninggal tertabrak mobil saat menyelamatkan ku di jalan, waktu itu kami masih kanak-kanak dan dia sudah menjadi superwomen untukku." imbuhnya lagi seraya menunjuk sebuah makam kecil yang terletak di sebelah makam sang ayah.
"Setiap bulan aku selalu mengunjunginya dan ku pikir sekalian saja aku juga mengunjungi makam ayahmu, bukankah mereka sedang bertetanggaan? siapa tahu di atas sana mereka juga sedang bersama Sofia." ucapnya lagi.
"Aku mengerti." Daniel mengangguk kecil, lantas pandangannya beralih ke arah tas besar di punggung gadis itu.
"Kamu mau kemana dengan tas sebesar itu, Sofia ?" tanyanya penasaran.
"Aku akan pergi." sahut Sofia.
"Pergi? kemana? bukankah harusnya hari ini kamu kerja ?" Daniel nampak tak mengerti dengan keadaan gadis itu akhir-akhir ini, sejak di ancam sang ibu ia berusaha menjauhinya.
"Entahlah, aku hanya ingin mencari tempat yang tenang untuk tinggal." sahut Sofia.
"Lalu bagaimana dengan kuliah dan pekerjaanmu, Sofia ?" Daniel benar-benar tak paham dengan keadaan gadis itu.
"Aku sudah berhenti kuliah dan kerja." sahut Sofia kemudian.
"Apa ini ada hubungannya dengan Aril? aku tahu kamu membencinya Sofia tapi asal kamu tahu dia menyukaimu bahkan biaya kuliahmu selama ini dia juga yang membayarnya." terang Daniel dan sontak membuat Sofia melebarkan matanya.
"Ta-tapi bukankah itu semua adalah beasiswa ?" tanyanya memastikan.
"Bukan Sofia, Aril sudah membayarnya penuh hingga kamu lulus nanti." terang Daniel.
"Ke-kenapa dia melakukan itu semua ?" Sofia nampak tak mengerti dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Dia merasa bersalah padamu dan ku rasa dia juga tertarik padamu sejak pertama kali kalian bertemu, karena tak biasanya dia menaruh perhatian begitu besar pada seorang gadis hanya saja dia seorang tuan muda SG yang gengsinya terlalu tinggi." timpal Daniel.
"Jadi dia benar-benar serius dengan perasaannya ?" gumam Sofia mengingat sebelumnya pria itu memintanya untuk menjadi kekasihnya dan ia pikir itu hanya bualannya semata.
"Sofia percayalah, jika Aril menyukai seseorang maka dia benar-benar tulus. Dia bukan tipe pria yang suka mempermainkan seorang wanita." ucap Daniel lagi, meski ia juga menyukai gadis itu tapi sampai kapanpun mereka tak mungkin bersama mengingat ibunya pasti tidak akan setuju.
Sofia nampak terdiam di tempatnya dan seketika perkataan Aril kembali terngiang di kepalanya.
"Aku yang akan menikah bukan keluargaku dan aku yakin keputusanku tidak akan salah."
"Aku hanya butuh kepastianmu, masalah keluargaku itu akan menjadi urusanku."
Jadi apa benar pria itu serius dengan perasaannya dan ingin berjuang bersamanya? Ia juga menyukai pria itu, ia telah jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
"Terima kasih, Dan." ucapnya kemudian pada Daniel.
Kemudian Sofia meletakkan bunga yang ia bawa ke atas makam sang ayah. "Ayah, aku akan mencoba berjuang jika ini memang takdir ku." gumamnya.
Setelah itu Sofia segera beranjak dari sana. "Sofia, aku akan mengantarmu." ucap Daniel namun langsung di tolak oleh gadis itu.
"Terima kasih Dan, aku sudah memesan taksi." ucapnya lalu segera pergi meninggalkan pria itu.
Sepanjang jalan menuju kantornya Sofia nampak mengulas senyumnya, meski ke depannya akan sulit tapi ia yakin Aril akan melindungi dan berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.
Beberapa saat kemudian taksi yang membawa Sofia nampak berhenti di depan kantornya, saat hendak membuka pintu tiba-tiba ia tak sengaja melihat CEOnya itu sedang berciuman dengan seorang wanita di dekat mobil milik pria itu.
Deg!!
"Si-siapa wanita itu ?" gumamnya, seorang wanita dengan tubuh semampai seperti seorang model.