The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~78



Attention, ini bab bikin sedikit gerah jadi mohon saat baca sambil ngemut es batu. Matur thank you.


...----------------...


"Lepaskan, jika tidak aku akan berteriak !!" ancam Sofia, sungguh ia tak dapat melihat siapa yang mengurungnya saat ini. Seperti sebuah lengan kekar yang terasa liat dan juga kuat.


Ia hanya bisa mendengar deru napas yang tak beraturan seakan sedang menahan emosi yang siap meledak, lalu siapa pria itu dan apa salahnya padanya? Apa dia salah satu pria yang tak terima dengan ketegasannya perihal peraturan di kampus?


"Lepaskan atau aku akan benar-benar berteriak !!" ancam Sofia mengingat di luar pasti banyak mahasiswa yang sedang berkeliaran di koridor.


"Kenapa kamu membuatku seperti ini ?" ucap pria tersebut mulai membuka suaranya yang langsung membuat Sofia nampak melebarkan matanya di tengah kegelapan ruangan itu.


"Kau ?" ucapnya, ia sangat mengenal suara pria itu.


"Kenapa, Sofia ?" teriak Aril dengan menaikkan oktaf suaranya.


"A-aku tak mengerti apa maksudmu dan tolong lepaskan aku." mohon Sofia kemudian, ia merasa lega saat ini karena pria itu ternyata seorang Ariel Smith bukan pria asing yang menakutkan.


"Apa benar kamu menyukai Adams ?" tanya Aril to the point.


Mendengar perkataan pria itu Sofia kembali mengingat perkataan George.


"Aril sudah memilki gadis impiannya, cinta pertamanya sudah kembali dan ku harap kamu tak mengganggu hubungan mereka. Namun begitu, Aril sangat patuh pada keluarganya. Jika mereka menginginkan kalian berjodoh, dia pasti tak bisa menolaknya. Tapi, kamu juga tidak inginkan menikah dengan pria yang belum move on dengan masa lalunya? karena bagaimanapun cinta pertama akan selalu memiliki tempat tersendiri di hatinya."


"Ya, cinta pertama akan selalu memiliki tempat tersendiri." gumam Sofia membenarkan perkataan George padanya kemarin, apalagi saat mengingat bagaimana mereka berciuman dan sering bersama membuatnya semakin tak ingin menjalin hubungan di atas bayang-bayang masa lalu mereka.


"Ya, aku menyukai Adams." sahut Sofia pada akhirnya, lebih baik ia membohongi perasaannya meskipun dadanya terasa sangat sesak.


Selain karena tidak ingin ia kecewa nantinya, Sofia juga masih ingin menunaikan janjinya pada mendiang sang ayah angkatnya untuk fokus menyelesaikan kuliahnya dan juga ia adalah satu-satunya putri yang bisa di andaikan oleh ayah kandungnya tersebut. Jadi ia tak ingin hanya karena masalah ini maka akan menghancurkan keinginan dua pria kesayangannya itu.


"Katakan sekali lagi !!" perintah Aril dengan suara bergetar.


"Aku mencintai Adams, sangat mencintainya." tegas Sofia dengan lantang dan itu membuat Aril seketika mengeraskan rahangnya.


"Jadi tolong lepaskan aku sekarang !!" perintah Sofia kemudian.


"Melepaskanmu? jadi itu yang kau harapkan ?" timpal Aril yang terdengar sinis di telinga Sofia.


"Tentu saja dan ku rasa kau sedang banyak minum Ar, tolong jangan seperti ini." mohon Sofia lagi saat mencium aroma alkohol yang menyengat dari napas pria itu.


"Jadi benar kau ingin aku melepaskan mu ?" tanya Aril lagi.


"Hm, ku mohon." sahut Sofia, ia tak ingin menjadi bahan pelampiasan kemarahan pria itu yang entah karena apa.


"A-apa yang kau lakukan...." ucapan Sofia langsung terjeda saat tiba-tiba bibirnya di bungkam oleh bibir pria itu.


Aril nampak mencekal kedua tangan gadis itu lalu membawanya ke atas kepalanya, kemudian m3lum4t bibirnya dengan sedikit kasar tak perduli gadis itu meronta.


Aril semakin memperdalam ciumannya dengan menggigit bibir bawah gadis itu hingga terbuka dan ia langsung menelusupkan lidahnya masuk. Menari-nari dan saling membelit di dalam sana hingga membuat napas keduanya nampak berat dan tak beraturan.


Sedangkan sebelah tangan Aril nampak menelusup masuk ke dalam kaos yang gadis itu kenakan, membelai lembut perutnya lantas merayap semakin ke atas hingga menemukan dua buah gundukan kenyal yang masih terbungkus oleh br4.


Sofia nampak mendesah tertahan saat merasakan tangan pria itu telah melepaskan pengait br4nya lantas m3r3m4s bergantian kedua aset berharga miliknya itu.


Ingin rasanya ia meronta dan memaki pria itu, namun tenaganya yang tak seberapa membuatnya hanya bisa pasrah saat pria itu tak sedetikpun melepaskan cekalan di kedua pergelangan tangannya dan kini justru pria itu menciumnya dengan begitu berhasrat. Bahkan gerakan tangannya mempermainkan kedua bongkahan dadanya juga membuatnya semakin terlena namun sekaligus merasa tak berharga lagi.


Sofia terus mendesah saat bibir pria itu mulai menelusuri setiap inci lehernya lantas sedikit menggigitnya hingga mungkin akan meninggalkan bekas kemerahan di sana nanti.


Puas bermain-main di sana Aril nampak menyingkap kaos yang gadis itu kenakan hingga kedua gundukan indah itu terpampang di depan matanya, mata pria itu langsung menggelap lantas tak berpikir panjang Aril langsung m3r3m4snya sembari m3lum4tnya bergantian seperti bayi yang sedang kehausan hingga membuat Sofia semakin terlena di buatnya.


Namun saat merasakan cekalan pria itu di kedua tangannya mulai mengendur Sofia segera menghempaskannya dengan kuat lalu mendorong pria itu menjauh.


"Pergi, pergi dari sini !!" teriak Sofia di tengah isak tangisnya, sungguh ia merasa kotor saat ini.


Sementara Aril yang tak menyangka akan melakukan hal gila itu nampak menyesal, sungguh ini pertama kali baginya menyentuh seorang gadis sejauh ini.


Sepertinya pengaruh alkohol yang ia minum sebelumnya membuat akalnya tak terkendali hingga mampu melakukan hal-hal di luar nalarnya.


Kemudian pria itu segera menyalakan lampu ruangan tersebut dan di lihatnya gadis itu nampak terduduk di lantai dengan keadaannya yang mengenaskan. Rambutnya yang tadinya di iket ke belakang kini sudah tak rapi lagi, pakaiannya pun nampak berantakan dan terlebih air mata yang mengalir deras di wajahnya membuat Aril merasa semakin menyesal.


"Tolong maafkan aku, Sofia." ucapnya dengan perasaan bersalah lantas mendekatinya.


"Pergi, pergi dari sini !!" teriak Sofia dengan menatapnya penuh kebencian.


"Tolong maafkan aku, Sofia. Ayo aku antar pulang." Aril langsung berjongkok untuk membantunya bangun, namun Sofia segera mendorongnya kuat hingga membuat pria itu jatuh ke atas lantai.


"Aku bilang pergi, pergi dari sini !!" teriak Sofia dengan menatap nyalang pria itu hingga membuatnya mau tak mau beranjak dari duduknya, lantas segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.


Sebuah ruangan yang dahulu pernah menjadi markasnya saat masih kuliah dulu dan kini hanya menjadi sebuah gudang tua karena tak pernah di rawat.


"Tolong maafkan aku." ucap Aril lagi saat menatap pintu ruangan yang sudah ia tutup tersebut dan tiba-tiba seseorang menghampirinya.


"Tuan muda, anda di sini ?" tanya seorang dosen yang kebetulan melewati koridor tersebut dan itu membuat Aril langsung terkejut di buatnya.


"Anda baik-baik saja ?" ucap dosen itu lagi saat melihat penampilan berantakan putra pemilik universitas tempatnya mengajar tersebut.