
"Aril sudah memilki gadis impiannya, cinta pertamanya sudah kembali dan ku harap kamu tak mengganggu hubungan mereka. Namun begitu Aril sangat patuh pada keluarganya, jika mereka menginginkan kalian berjodoh dia pasti tak bisa menolaknya. Tapi kamu juga tidak inginkan menikah dengan pria yang belum move on dengan masa lalunya? karena bagaimanapun cinta pertama akan selalu memilki tempat tersendiri di hatinya."
Perkataan George di restoran tadi sore begitu terngiang-ngiang di kepala Sofia, meskipun kini ia dan sang ayah telah berlalu menuju kediamannya.
"Sayang, kau baik-baik saja ?" tanya James yang nampak khawatir saat melihat putrinya itu terlihat diam saja di kursinya.
"Hm, aku hanya lelah." sahut Sofia beralasan.
"Baiklah, sebentar lagi kita sampai. Kamu bisa berendam dengan air panas nanti." timpal James.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu ?" tanya Sofia kemudian.
"Katakan, jika Daddy tahu pasti akan Daddy jawab." sahut James seraya menoleh sejenak menatap putrinya itu di tengah ia mengemudikan mobilnya.
"Apa kalian sudah saling mengenal dengan baik? maksudku tuan Mark dan George putranya." terang Sofia dengan wajah sedikit penasaran.
"Tentu saja kami kenal sudah puluhan tahun bahkan sebelum kalian lahir, tuan Mark karyawan yang sangat loyal hingga membuat tuan William mempercayakan beberapa hotel miliknya padanya. Karena Daddy sendiri juga sibuk dengan bisnis Daddy." sahut James kemudian.
"Apa kamu ada masalah ?" imbuhnya sembari menatap putrinya tersebut.
Sofia menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin mengenal lebih jauh relasi bisnis perusahaan kita." sahutnya kemudian.
"Baiklah, Daddy mengerti. Terima kasih sudah peduli dengan perusahaan, karena bagaimana pun semua usaha Daddy akan menjadi milik kalian nanti terutama kamu. Kamu tahu sendiri bagaimana manjanya adikmu itu, jadi hanya kamu yang bisa Daddy andalkan saat ini." James nampak mengulurkan tangannya lantas mengusap puncak kepala putrinya tersebut dan itu membuat Sofia terharu, ia tak menyangka begitu besar harapan ayahnya itu padanya dan ia janji akan belajar dengan lebih giat lagi.
"Maafkan aku Dad yang sampai hari ini belum bisa memanggilmu Daddy." gumamnya kemudian, entah kenapa rasanya belum rela saat panggilan ayah itu ia sematkan untuk pria selain ayah angkatnya.
Keesokan harinya.....
"Ar, apa kau sedang sibuk ?" tanya George saat baru masuk ke dalam ruangan Aril.
"Lumayan." sahut Aril dari kursi kerjanya.
George nampak menarik kursi lantas menghempaskan bobot tubuhnya di sana. "Kamu tahu, aku masih belum percaya jika gadis lumpur itu putri dari paman James." ucapnya kemudian.
"Begitulah kenyataannya." timpal Aril di tengah kesibukannya memeriksa pekerjaannya pagi itu.
"Jadi ngomong-ngomong apa kalian akan di jodohkan kembali ?" tanya George dengan wajah penasaran.
"Tidak, Papa memutuskan untuk membebaskan kami memilih pasangan hidup masing-masing." sahut Aril.
"Baguslah jadi kamu tidak akan terbebani dengan keinginan orang tuamu." timpal George memberikan pendapatnya.
"Maksudmu ?" tanyanya tak mengerti.
"Dahulu aku memang menolak perjodohan itu dan kamu tahu aku hanya menganggap Jessica sudah seperti adikku sendiri, tapi tidak dengan Sofia sepertinya aku menyukainya." terang Aril dan itu membuat George nampak terkejut.
"Apa kamu sedang becanda? ingatlah dia gadis lumpur yang pernah kau benci Ar, bahkan kamu juga yang telah membuat semua orang membullynya." George langsung mengingatkan masa lalu mereka.
"Aku tidak pernah merasa tertarik seperti ini dengan seorang gadis, bahkan mungkin itu terjadi sejak pertemuan pertama kami waktu itu." sahut Aril yang nampak mengingat pertemuan pertamanya dengan Sofia, bagaimana gadis itu dengan berani memakinya hanya karena ia tak sengaja melewati kubangan air lalu mengenai pakaiannya.
"Ku rasa kamu hanya merasa bersalah padanya Ar, kamu harus bisa membedakan mana rasa kasihan atau suka dan ku rasa hanya Helena wanita yang kau sukai hingga membuatmu rela menolak beberapa gadis yang menyukaimu selama ini hanya demi mengharapkan dia kembali dari Paris." ucap George yang berusaha meyakinkan sahabatnya itu, ia telah mengenalnya sejak di bangku kanak-kanak dan ia tahu pria itu selalu percaya padanya.
"Lagipula Sofia sudah memiliki kekasih dan hatinya sudah menjadi milik pria lain bukan kamu." imbuh George lagi.
"Itu semua belum tentu benar sebelum aku mendengar dari bibirnya sendiri." timpal Aril, karena ia merasa gadis itu memiliki perasaan yang sama dengannya bahkan di saat ia menciumnya dia terlihat begitu menikmatinya.
"Tapi dia mengatakan semuanya padaku Ar, bagaimana dia menyukai Adams yang selama ini selalu ada di sisinya. Bukankah perasaan perempuan memang seperti itu, selalu terbawa perasaan jika ada seorang lelaki yang baik padanya ?" sela George dengan sedikit mengarang cerita.
"Dari mana kamu tahu ?" Aril langsung mengernyit menatap sahabatnya itu.
"Kemarin aku ada meeting dengannya dan juga paman James, karena kami ada kesempatan untuk mengobrol berdua maka aku bertanya padanya tentang hubungannya dengan Adams karena waktu itu mereka terlihat dekat dan apa kamu tahu dia bilang apa? dia sangat mencintai Adams dan ingin menikah dengan pria itu." sahut George berdusta yang tentu saja membuat Aril menatapnya tak percaya.
Entah ia harus mempercayai perasaannya sendiri atau perkataan sahabatnya itu yang selama puluhan tahun mereka berteman selalu loyal padanya.
Dahulu ia pernah sangat mempercayai perasaannya namun nyatanya kekasihnya itu berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, lalu bagaimana ia sekarang bisa meyakini kembali perasaannya lagi?
Kemudian Aril beranjak dari duduknya lantas mengambil jasnya yang sebelumnya ia sampirkan di sandaran kursinya. "Ar, kamu mau kemana ?" tanya George kemudian.
"Aku ada meeting pagi ini, jika kau masih mau menungguku di sini silakan saja." sahut Aril seraya melangkah meninggalkan ruangannya tersebut.
Melihat kepergian pria itu, George nampak menatapnya datar. "Maafkan aku Ar, sebagai sahabatmu selama 20 tahun ini tentu saja aku menyayangimu tapi aku juga harus memikirkan masa depanku. Jika kamu menikah dengan Helena, maka otomatis kita akan menjadi saudara dan masa depanku akan lebih terjamin." gumamnya kemudian, mengingat ayahnya hanya seorang karyawan di perusahaan Smith dan posisinya kapanpun bisa di gantikan oleh orang lain.
Siang harinya Sofia nampak baru keluar dari kelasnya setelah jam kuliahnya usai dan semenjak di perkenalkan oleh sang ayah, ia melihat banyak sekali perubahan pada teman-temannya dulu yang tiba-tiba bersikap akrab dengannya, kecuali Rebeca dan beberapa sahabatnya yang terlihat selalu menghindarinya.
Namun itu tak masalah baginya, karena ia yakin gadis itu dan teman-temannya takkan berani macam-macam padanya mengingat mereka hanya seorang mahasiswa dan ia pemilik separuh saham di sini.
Setelah itu Sofia memutuskan untuk segera pulang dan pergi ke kantor sang ayah, saat berjalan menyusuri koridor tiba-tiba tangannya di tarik oleh seseorang lalu di bawanya masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Lepaskan !!" teriak Sofia saat tiba-tiba seseorang mengurung tubuhnya di belakang pintu di sebuah ruangan yang sangat gelap hingga membuatnya tak dapat melihat siapa pria tersebut.