
Sayangnya Sofia bukan gadis yang memiliki sifat tega dan pada akhirnya ia menarik tubuh Aril yang hampir oleng di pembatas pagar itu hingga keduanya kini nampak jatuh ke atas lantai dengan posisi pria itu berada di atasnya.
Pandangan mereka nampak bertemu sesaat dan Aril mulai mendekatkan wajahnya, kemudian tanpa berpikir panjang pria itu langsung menyatukan bibir mereka, m3lum4t lembut bibir tipis gadis itu dengan penuh perasaan.
Sungguh ia sangat merindukannya dan tak ingin momen ini segera berakhir, menyadari tak ada perlawanan yang berarti membuatnya semakin memperdalam ciumannya hingga kini pertukaran saliva keduanya tak bisa di elakkan lagi.
"Kak Sofia !!"
Namun tiba-tiba suara seseorang memanggil gadis itu hingga membuat keduanya langsung terkejut lalu segera menjauhkan tubuhnya masing-masing.
"Kak Sofia, apa kak Aril di dalam ?" teriak Jessica lagi sembari mengetuk pintu kamar kakaknya itu.
Mendengar itu Sofia segera beranjak bangun. "Pergilah, aku tidak ingin adikku melihatmu di sini !!" perintah Sofia kemudian.
"Astaga, tidak bisakah aku keluar dengan cara normal ?" mohon Aril.
"No." tegas Sofia.
"Bagaimana jika aku jatuh ?" bujuk Aril lagi.
"Aku tidak peduli." tegas Sofia lagi, karena pria itu selalu saja mencari kesempatan untuk menyentuhnya. Kemudian gadis itu segera masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu balkonnya dari dalam.
"Astaga, dia benar-benar mengunciku." gerutu Aril saat pintu yang menghubungkan kamar gadis itu tak dapat ia buka.
Sementara itu Sofia yang baru membuka pintu kamarnya nampak melihat Jessica sudah menunggunya di sana. "Apa kau melihat kak Aril ?" ucapnya pada kakaknya itu.
"Tidak, lagipula untuk apa dia di kamarku ?" sahut Sofia menimpali.
"Siapa tahu, bukankah sebelumnya kalian pernah satu kamar..."
"Aku asistennya waktu itu, jika kamu lupa Jessy." sela Sofia entah kenapa hingga kini ia masih belum memilki ikatan batin sebagai saudara dengan adiknya itu.
"Hm, baiklah. Tapi aku akan percaya jika memeriksanya sendiri." tanpa permisi Jessica langsung masuk ke dalam kamar kakaknya, gadis itu nampak memeriksa setiap sudut ruangan tersebut bahkan sampai ke balkon kamarnya.
Sofia yang melihat adiknya ke arah balkon nampak menelan ludahnya, lantas segera mengikutinya semoga saja pria itu sudah berlalu pergi dari sana entah bagaimana caranya.
"Syukurlah." gumamnya saat adiknya tak menemukan siapapun di sana.
"Baiklah, aku percaya." ucap Jessica sembari berlalu keluar dari kamar tersebut.
"Tentu saja dan mulai sekarang belajarlah untuk mempercayaiku." tegas Sofia sembari mengikuti langkah sang adik, lalu gadis itu nampak berdiri di ambang pintunya dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
"Hm." Jessica mengangguk kecil, lalu segera pergi ke kamarnya sendiri yang berada di sebelah kamar kakaknya itu.
"Benar-benar seperti Daddy." gerutunya sembari membuka pintu kamarnya, ia berharap saudara perempuannya memilki sifap seperti ibunya yang lembut dan perhatian namun nyatanya kakaknya itu benar-benar seperti ayahnya yang keras hati dan tatapannya itu seolah sedang menghakiminya.
"Astaga, kak Aril." Jessica langsung berjingkat kaget saat melihat Aril baru masuk dari balkon kamarnya.
"Kak Aril darimana saja, sedari tadi aku mencarimu ?" tanyanya kemudian.
"Aku dari balkon, kamu saja yang kurang benar mencari. Baiklah, aku harus pergi ke kantor." sahut Aril lalu mengacak pelan rambut gadis itu dan bergegas pergi dari sana.
"Perasaan tadi di balkon tidak ada." gumam Jessica setelah kepergian pria itu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Siang harinya Sofia yang tak tahu harus melakukan apa nampak keluar dari kamarnya, entah kapan ayahnya itu akan mengijinkannya untuk kembali kuliah.
"Mommy ingin pergi ?" tanya Sofia, rasanya ia masih asing tinggal di rumah tersebut.
"Iya sayang, Mommy ingin mengajakmu jalan-jalan." sahut Anne.
"Ke-kemana ?" Sofia langsung menatap waspada ibunya itu, entahlah terkadang ia masih belum percaya jika wanita di hadapannya itu adalah ibu kandungnya.
"Jalan-jalan ke mall, kita bisa beli pakaianmu di sana atau melakukan perawatan tubuh juga." terang Anne.
"Apa itu tidak pemborosan ?" timpal Anne mengingat waktu itu Daniel menghabiskan banyak uang saat membawanya ke salon dan berakhir ia di tegur habis-habisan oleh ibunya.
Anne tersenyum kecil menatap putrinya yang polos itu. "Percayalah, selama ini Daddy mu sangat bekerja keras untuk kita." terangnya kemudian.
"Baiklah, ayo." Anne langsung menggandeng putrinya itu keluar dari mansionnya.
Sofia melihat dua mobil sedang menunggu mereka dan satu mobil di belakangnya terlihat beberapa pria berpakaian hitam, gadis itu masih ingat sekali mereka pernah bersama sang ayah mengintimidasinya.
Meski waktu itu hanya ayahnya saja yang memperingatkannya namun tatapan beberapa bodyguard di belakangnya seolah sedang ingin melenyapkannya.
Seketika Sofia langsung berhenti, sungguh ia masih sangat trauma dengan kejadian waktu itu. "Sayang, kamu kenapa ?" tanya Anne tak mengerti lantas ia mengikuti arah pandang gadis itu yang terlihat menatap beberapa bodyguardnya.
"Mereka yang akan menjaga kita sayang." terang Anne seraya melingkarkan tangannya di bahu putrinya itu hingga membuat Sofia seketika merasa terlindungi.
Para bodyguard nampak sedikit membungkukkan badannya memberikan hormat pada kedua wanita kesayangan atasannya itu.
"Lihatlah mereka akan menjagamu, jadi jangan takut ya." ucap Anne lagi lalu segera membawa putrinya itu masuk ke dalam mobilnya.
Sesampainya di sebuah mall, Anne langsung membawa putrinya itu ke sebuah klinik kecantikan di mana klinik tersebut pernah ia datangi bersama Daniel.
"Selamat siang nyonya Collins, apa anda akan melakukan perawatan seperti biasanya ?" sapa manager klinik tersebut menyambut mereka.
"Tidak, putriku yang akan melakukan perawatan di sini. Berikan perawatan yang terbaik untuknya." sahut Anne.
"Nona yang waktu itu pernah datang kemari dengan tuan Daniel kan ?" rupanya manager itu masih mengingat gadis itu.
"Benarkah ?" Anne nampak terkejut.
"Hm dan berakhir ibunya Daniel menghajarku habis-habisan, jika bukan karena dia berbohong memiliki voucher mungkin aku takkan mau di ajak ke sini." terang Sofia dengan polos dan itu membuat Anne nampak iba.
"Semua akan baik-baik saja sayang, percayalah." ucapnya menenangkan putrinya itu.
"Apa aku bisa pinjam uang Mommy? aku memiliki hutang pada Adams karena itu." ucap Sofia kemudian.
"Uang Mommy adalah uangmu juga sayang, pakailah sesuka hatimu. Nanti Mommy akan meminta Daddy membuat beberapa kartu untukmu." terang Anne.
Saat mereka hendak memulai perawatan tiba-tiba seorang gadis menghampiri mereka. "Hai, tante." sapanya.
"Helena ?" Anne nampak terkejut melihat kedatangan gadis itu, begitu juga dengan Sofia. Entah kenapa ia seolah tak asing saat menatap wajahnya.
"Bukankah, dia wanita yang ada di bingkai foto bersama Aril waktu itu." gumamnya mengingat ia pernah menemukan foto mereka berdua di apartemen pria itu, lantas Sofia menatap wanita itu dari ujung kaki hingga rambut.
Bentuk tubuhnya sama seperti wanita yang sedang berciuman dengan Aril di parkiran kantornya waktu itu dan itu tiba-tiba membuat Sofia merasa sesak. Pantas pria itu masih menyimpan fotonya karena mantan kekasihnya itu benar-benar sangat cantik.
Mantan? atau mungkin kini mereka telah kembali bersama, pikirnya kemudian.