The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~47



"Anne, lihatlah lagi-lagi gadis murahan ini menggoda putraku dan sekarang dia sudah mulai berani mengajaknya ke hotel." Margaret langsung mengadu ke sahabatnya itu, namun Sofia nampak menggelengkan kepalanya cepat karena itu semua tidak benar.


"Dasar gadis kurang ajar, berkacalah siapa dirimu !!" hardik Margaret lagi lantas hendak memukul kembali Sofia tapi Anne langsung menahan tangannya.


"Margaret tolong, jangan melakukan kekerasan." ucapnya dengan nada memohon, entah kenapa ia sangat tidak tega melihat gadis di hadapannya itu menderita.


"Tapi dia memang pantas mendapatkannya, kamu lihat perubahan penampilannya itu? dia telah membuat tagihan putraku membengkak karena membiayainya di klinik kecantikan yang mahal." ucap Margaret lagi mengingat laporan beberapa pengawalnya yang mengawasi putranya tersebut.


"Mama, stop !!" bentak Daniel dengan suara yang di naikkan beberapa oktaf, jangan sampai Sofia tahu jika ia bukan menggunakan voucher diskon saat membawa gadis itu ke klinik kecantikan beberapa waktu lalu.


Sebab jika tidak maka gadis itu pasti akan sangat membencinya karena telah membohonginya.


"Kamu berani membentak mama demi gadis murahan ini, Daniel ?" Margaret langsung melebarkan matanya tak percaya, putranya yang penurut dan pendiam kini tiba-tiba berani padanya.


Kemudian wanita itu kembali menatap ke arah Sofia. "Dasar gadis murahan ini pasti gara-gara kamu, sudah berapa kali kamu melempar tubuhmu yang hina itu ke ranjang putraku hah ?" ucapnya seraya menjambak rambut gadis itu.


"Margaret ku mohon, hentikan !!" Anne langsung menarik kembali tangan wanita itu yang kini telah mencengkeram rambut Sofia dengan kuat hingga membuat gadis itu nampak meringis kesakitan.


Kini penampilan Sofia terlihat sangat berantakan, tidak hanya pipinya saja yang nampak lebam namun rambutnya juga terlihat rontok beberapa helai.


"Ingat jangan pernah dekati putraku lagi !!" tegas nyonya Margaret kemudian.


"Ma, bukan dia yang mendekatiku tapi aku yang mendekatinya. Sofia tidak pernah salah, Ma." sela Daniel tak terima dengan tuduhan sang ibu.


"Diamlah Daniel, banyak wanita di luaran sana yang jauh lebih baik dan terhormat dari pada gadis murahan itu." nyonya Margaret langsung menarik tangan putranya itu agar menjauh dari sisi Sofia.


"Ma....." Daniel nampak tak berkutik.


"Menurut sama mama atau segala fasilitasmu mama cabut." tegas nyonya Margaret penuh ancaman yang makin membuat putranya itu tak berkutik.


"Anne, kami pergi dahulu dan lebih baik menjauhlah dari gadis pembawa sial itu." ucap Margaret lantas bergegas membawa putranya itu masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Sofia segera beranjak pergi dari sana. "Nak tunggu !!" panggil Anne hingga menghentikan langkah gadis itu lantas berbaik badan menatapnya.


Sofia nampak berkaca-kaca saat melihat orang yang ia duga sebagai orang tua kandungnya itu, ingin sekali ia berlari mendekatinya lalu memeluknya dengan erat. Mengadukan segala kegetiran hidupnya yang begitu tak adil padanya selama ini.


"Maaf, saya harus pergi." Sofia kembali berbalik badan lantas segera berlalu pergi.


Ia tidak mungkin melakukan hal itu karena sama saja ia akan mempermalukan dirinya sendiri tanpa bukti yang ia miliki.


Sedangkan Anne yang hendak mengejarnya langsung di halangi oleh sang suami. "Bukan urusan kita, lagipula dia pantas mendapatkan peringatan atas perbuatannya. Tidak sepantasnya seorang gadis pergi ke hotel berdua dengan seorang pria bukan ?" ucapnya membujuk sang istri.


"Tapi aku yakin dia tak seperti itu." timpal Anne, entah kenapa ia selalu merasa iba setiap melihat gadis itu.


"Ayo, sepertinya akan turun hujan." James segera mengajak istrinya itu melangkah ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana setelah menatap langit yang nampak mendung menjelang petang itu.


Sementara Sofia terus saja melangkah menyusuri jalanan tak peduli hujan rintik-rintik mulai turun membasahi tubuhnya, belum lagi hari yang mulai petang dan angin kencang yang semakin membuat harinya menyedihkan.


Sofia langsung menoleh. "Lucy ?" ucapnya lirih.


Lucy segera keluar dari mobil tua milik kekasihnya itu. "Sofia apa yang terjadi padamu, kenapa penampilanmu berantakan seperti ini? astaga pipimu juga sangat lebam." Lucy nampak menatap nanar sahabatnya itu.


"Katakan Sofia, siapa yang melakukannya ?" Kali ini Juan ikut geram setelah melihat keadaan gadis itu yang sangat mengenaskan.


"Aku baik-baik saja, bisakah aku menumpang kalian ke kampus." sahut Sofia kemudian.


"Kau akan pergi ke kampus dengan keadaan seperti ini Sofia? Tidak-tidak, lebih baik aku akan membawamu ke rumah sakit saja." tolak Lucy.


"Aku baik-baik saja Luc." tolak Sofia.


"Baiklah, tapi tidak untuk ke kampus okey? aku akan mengobatimu di rumahku saja." tegas Lucy lantas membawa sahabatnya itu masuk ke dalam mobilnya.


Beberapa saat kemudian Sofia telah selesai membersihkan dirinya dan gadis itu nampak mengenakan pakaian sang sahabat.


"Sakit sekali ya ?" ucap Lucy saat melihat sahabatnya itu nampak meringis ketika ia mengompres pipinya dengan air hangat.


Sofia menggeleng kecil, hati kecilnya jauh lebih sakit saat di tuding dengan berbagai perkataan buruk oleh ibunya Daniel.


"Apa aku boleh tahu siapa yang melakukannya ?" tanya Lucy kemudian namun Sofia langsung menggeleng kecil.


"Aku baik-baik saja Luc, semua hanya salah paham." sahut Sofia lantas sedikit mengulas senyumnya berharap sahabatnya itu tak terlalu khawatir padanya.


"Baiklah jika kamu tak mau cerita, oh ya malam ini aku dan Juan akan merayakan Anniversary kami di bar dekat sini apa kamu mau ikut ?" tawar Lucy kemudian, kehidupannya yang bebas tentu saja membuat gadis itu sudah terbiasa datang ke tempat hiburan malam.


Sofia nampak berpikir sejenak, meski sang ayah selalu melarangnya mengunjungi tempat itu namun kali ini ia ingin melanggarnya. Ia ingin protes pada kehidupan yang selalu mempermainkannya.


Tak berapa lama kini ketiga sahabat itu telah berada di sebuah bar, Lucy yang sudah terbiasa pun nampak mengajak Sofia ke lantai dansa lantas menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan masuk yang keras dan cepat itu.


"Asyik bukan Sofia? kamu tenang saja aku dan Juan akan selalu menjagamu di sini." ucap Lucy dengan sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh sahabatnya itu.


Nampak beberapa pria mulai mendekati Sofia lantas mengajak gadis itu bergoyang bersama. "Hei cantik, boleh kenalan ?" ucap seorang pria kemudian.


"Minggirlah dia datang bersama kami dan jangan berani mengganggunya !!" teriak Lucy dengan galak.


"Kau sangat galak Luc." Sofia nampak terkekeh menatap sahabatnya itu.


"Sudah ku bilang aku akan menjagamu, bukan begitu sayang ?" timpal Lucy seraya menatap ke arah sang kekasih.


"Tentu saja." sahut Juan lantas menarik tengkuk kekasihnya itu dan mulai m3lum4t bibirnya dengan rakus.


Sofia yang melihat kemesraan mereka nampak memalingkan wajahnya, kemudian gadis itu terus bergoyang mengikuti alunan musik berharap dapat melupakan kesedihannya sejenak.


Namun tanpa ia sadari terlihat seorang pria sedang mengawasinya dari kejauhan.