The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~68



"Kau mengenalnya, Margaret ?" ucap Bibi saat melihat interaksi sang adik dan Sofia.


"Tentu saja, dia sudah berusaha menggoda Daniel. Apa dia datang kesini untuk merayumu juga ?" timpal nyonya Margaret dengan nada mencibir.


"Ck, sampai kapan pun aku tidak akan setuju putraku berhubungan denganmu." imbuhnya lagi dengan tegas menatap gadis itu.


"Adams yang membawanya kemari." terang Bibi kemudian.


"Adams? jadi dia menggoda Adams sekarang ?" nyonya Margaret nampak tak percaya, berani sekali gadis itu berulah di keluarga besarnya.


"Itu tidak benar nyonya, kami hanya berteman dan Adams lah yang memberikan ku tumpangan di sini." tukas Sofia yang tak terima dengan tudingan wanita itu terhadapnya.


"Benarkah Adams melakukan itu? Asal kamu tahu dia mau membantumu juga pasti karena kamu sudah melempar tubuh murahanmu itu padanya, sungguh sangat menjijikkan !!" cibir nyonya Margaret dengan tersenyum mengejek.


"Sudah hentikan, Margaret !!" tegas Bibi yang tidak ingin ada keributan di rumahnya, karena ia sangat paham dengan karakter adik kandungnya yang keras kepala dan tak pernah mau mengalah itu.


"Sofia, pergilah ke ladang dan lanjutkan pekerjaanmu." perintahnya kemudian pada Sofia.


"Hm." Sofia mengangguk kecil, lantas segera berlalu dari sana.


"Itu memang pekerjaan yang cocok denganmu gadis miskin, banyak-banyaklah berkaca biar tahu diri siapa kamu sebenarnya." teriak nyonya Margaret dengan nada hinaan melihat kepergian gadis itu dari sana.


"Aku tidak menyangka kamu menampung gadis tak berguna seperti dia." ucapnya lagi pada sang kakak.


"Ngomong-ngomong apa yang sedang kau lakukan di sini, Margaret ?" tanya Bibi kemudian.


"Aku kebetulan lewat sini jadi apa salahnya aku mengunjungimu." sahut nyonya Margaret seraya mengedarkan pandangannya melihat tempat tinggal kakaknya yang sangat tidak layak itu.


"Jika kesini setidaknya kau membawa sesuatu yang bisa kau berikan padaku." cibir Bibi.


"Apa keluarga mendiang suamimu itu tidak pernah membantu keuanganmu ?" tanya nyonya Margaret penasaran, karena ipar dari kakaknya itu adalah seorang kepala rumah sakit di kota.


"Aku bukan pengemis, tapi sejak ada gadis itu Adams banyak mengirimi kami makanan." terang Bibi.


"Gadis itu pembawa sial, jangan terlalu dekat dengannya." ucap nyonya Margaret mengingatkan.


"Paling tidak dia bisa ku manfaatkan." timpal Bibi.


"Dasar licik." cibir nyonya Margaret dengan tersenyum miring, kemudian wanita itu nampak mengeluarkan dompetnya.


"Ambillah, aku tidak bisa memberimu lebih karena perusahaan lagi ada sedikit masalah." imbuhnya seraya memberikan beberapa lembar uang pada kakaknya itu.


Setelah itu nyonya Margaret segera berlalu pergi, tentu saja wanita itu tidak betah berlama-lama di sana. Selain panas tempat tersebut juga sangat tidak layak untuk ia tempati.


Sementara itu Sofia yang terus mencabuti sisa rumput yang tersisa tinggal sedikit itu nampak meringis ketika merasakan kedua telapak tangannya kembali terasa perih.


Matahari yang menyengat membuat wajahnya nampak memerah bercampur keringat yang mengucur, belum lagi perutnya yang terasa perih karena sejak pagi hanya air putih saja yang ia konsumsi.


"Ayah, bisakah aku ikut ayah saja." gumamnya saat merasakan bagaimana getirnya hidup sejak ayahnya itu tiada.


Ia sudah berjuang keras tapi kebahagiaan tak kunjung menghampirinya, namun justru caci makilah yang ia dapat setiap hari.


"Sakit." desisnya saat hendak membuka perban di tangannya itu.


"Sofia !!" panggil bibi tiba-tiba hingga membuat gadis itu langsung menoleh ke belakang.


Saat melihat siapa yang datang bersama wanita tua itu, Sofia nampak ketakutan. Ia sudah sejauh ini bersembunyi tapi kenapa pria itu masih saja menemukannya.


"Tolong jangan sakiti saya, saya janji akan pergi sejauh mungkin." ucapnya seraya beranjak berdiri, namun tiba-tiba kepalanya terasa berputar hebat dan detik selanjutnya gadis itu jatuh tak sadarkan diri.


"Jeslin, kau baik-baik saja. Ini Daddy sayang." James langsung berlari mendekati gadis itu yang di ikuti oleh sangat istri serta William dan juga Aril.


James langsung mengangkat tubuh ringkih putrinya tersebut, gadis itu terlihat makin kurus dari terakhir mereka bertemu dan itu membuat pria itu semakin merasa bersalah.


Keesokan harinya.....


Pagi itu Sofia nampak tersadar dari pingsannya saat merasakan sebuah kecupan mendarat di keningnya, apa ia sedang bermimpi. Ia merasakan sang ayah datang lalu menciumnya.


"Ayah, jangan tinggalkan aku. Jangan pergi lagi ayah aku takut sendirian." ucapnya, gadis itu sepertinya enggan untuk membuka matanya seolah takut jika akan kembali pada kenyataan.


"Daddy di sini sayang, Daddy janji takkan meninggalkan mu lagi." ucap James seraya menggenggam tangan putrinya yang di bungkus perban itu.


Mendengar sayup-sayup suara pria asing, Sofia segera mengerjapkan matanya dan gadis itu langsung berjingkat kaget saat melihat pria yang sedang duduk di sampingnya itu, kemudian ia menarik paksa tangannya dari genggaman pria itu dan menjauhkan tubuhnya dengan wajah ketakutan.


"Jangan tangkap aku, tuan. Aku janji akan menghilang dari hidup kalian." ucapnya lantas segera turun dari ranjangnya dan mencabut paksa jarum infus yang berada di punggung tangannya itu.


"Nak, tidak ada yang menangkapmu sayang." Anne langsung mendekati gadis itu.


"Suami anda akan menangkapku nyonya, tolong biarkan aku pergi." mohon Sofia dengan menangkupkan kedua tangannya di depan wanita itu.


James yang melihat itu hatinya seperti teriris, rupanya ancamannya selama ini meninggalkan sebuah ketakutan pada putrinya itu.


"Dia ayahmu Nak dan aku ibumu. Kami tidak mungkin menyakitimu." bujuk Anne, hatinya rasanya sakit sekali melihat putri yang ia lahirkan begitu menderita.


Sofia menggelengkan kepalanya. "Tidak, ayahku sudah tiada. Biarkan aku pergi dari sin,i ku mohon nyonya." ucapnya dengan memaksa untuk pergi.


Sepertinya gadis itu belum bisa menerima kenyataan yang baru saja ia dengar itu, meski sejak lama ia telah yakin mereka adalah kedua orang tua kandungnya. Namun sikap semena-mena dan ketidakpedulian mereka selama ini membuatnya dengan perlahan menanam sebuah kebencian dalam hatinya.


Melihat putrinya histeris James langsung memerintahkan dokter untuk memberikannya obat penenang hingga membuat gadis itu kembali tak sadarkan diri.


"Maafkan aku, selama ini aku sudah membuat hidupnya sulit. Mungkin sampai kapan pun putriku takkan pernah memaafkanku." ucap James yang nampak terduduk di kursi dengan wajah penuh penyesalan.


"Aku yang salah James, harusnya dari awal aku tak memaksakan perjodohan ini hingga membuatmu harus memikul beban yang berat." timpal William, ia sangat paham bagaimana loyalnya pria itu terhadapnya. Selain harus mengurus keluarganya sendiri, pria itu juga selalu memastikan keamanan dan ketenangan keluarganya juga hingga jika ada sesuatu hal buruk pria itu selalu rela pasang badan membelanya.


"Mulai hari ini aku memutuskan biarkan anak-anak kita memilih jodohnya sendiri." imbuh William lagi.


"Tapi Pa...." Aril langsung menyela, dahulu ia memang menolak perjodohannya dengan Jessica namun saat ini ia berharap perjodohan itu terus berlanjut mengingat gadis itu bukanlah Jessica lagi tapi seorang gadis yang memang dari awal sudah menjadi takdirnya.


"Berusahalah sendiri, Ar." William nampak menepuk bahu putranya itu memberikan semangat.