The Missing SOFIA

The Missing SOFIA
Bab~46



"Aku ingin resign." ucap Sofia siang itu setelah masuk ke dalam ruangan sang CEO.


Aril yang sedang duduk di kursi kerjanya langsung mengangkat wajahnya menatap kedatangan gadis itu.


"Dan kau tak bisa melarangku." imbuh Sofia lagi sebelum pria itu membalas perkataannya.


"Baiklah, apa kamu sudah siap dengan konsekuensinya ?" tukas Aril seraya beranjak dari duduknya.


"Tentu saja." Sofia sepertinya sudah bulat dengan keputusannya.


"Ku harap kamu tidak mengingkari isi perjanjian kontrak kerja itu, karena kamu telah lancang menyentuhku." imbuh gadis itu lagi.


"Apa kamu sudah benar-benar membaca surat perjanjian itu dengan jelas ?" Aril yang kini bersandar di meja kerjanya nampak melipat tangan di depan dadanya.


"Tentu saja." sahut Sofia dengan yakin.


"Baiklah, silakan baca lagi poin nomor 5." Aril nampak mengambil sebuah dokumen di atas meja kerjanya lalu segera memberikannya pada gadis itu dan tentu saja Sofia langsung membacanya.


"Perjanjian akan di batalkan jika pihak pertama dengan sengaja menyentuh pihak kedua, namun perjanjian akan tetap berlaku jika pihak kedua yang menggoda duluan." ucap Sofia membaca surat perjanjian tersebut.


"Dan aku tidak pernah menggodamu." ucapnya kemudian namun itu justru membuat Aril nampak tersenyum miring lantas berjalan mendekatinya.


"Tidak menggoda kamu bilang ?" timpalnya lantas mengulurkan tangannya untuk menyentuh bibir gadis itu yang nampak kemerahan.


"Dengan menggigit bibirmu ini, itu sama saja dengan menggodaku." imbuhnya seraya mengusap bibir Sofia dengan ibu jarinya dan sontak membuat gadis itu langsung menahan napasnya.


"Jadi jangan pernah lakukan hal itu lagi apalagi di depan para pria di luaran sana." tegas Aril lantas kembali menarik tangannya dan segera berlalu menuju kursi kerjanya.


"Jika memang ingin resign silakan, tapi kamu tetap harus membayar denda satu tahun gajimu." ucapnya lagi dengan nada santai, namun mampu membuat Sofia nampak meradang.


"Kamu..." ucapnya tak terima, lantas gadis itu langsung berjalan mendekati mejanya.


"Dasar bos tak berperasaan dan semena-mena." protesnya seraya mulai memukuli pria itu secara membabi buta, jika memang tidak bisa resign baik-baik maka ia akan melakukan sebuah kesalahan yang akan membuatnya di pecat.


"Kamu benar-benar pria kurang ajar, pikirkan bagaimana perasaan tunanganmu sebelum mencium gadis lain." Sofia terus saja memukuli dada bidang pria itu, sungguh ia sangat kesal saat ini.


Namun tiba-tiba tangannya di tarik hingga kini Sofia langsung terjatuh ke pangkuan sang CEOnya itu.


Lantas pandangan keduanya nampak terkunci, namun kali ini pria itu tak menciumnya seperti sebelumnya. "Lihatlah kamu yang selalu menggodaku." ucapnya bernada ledekan.


"Aku tidak menggodamu tapi sedang memukulimu." sela Sofia meralat tuduhan pria itu terhadapnya.


"Tapi menurutku itu bentuk sebuah godaan." timpal Aril tak mau kalah.


"Dasar sinting, sungguh kasihan sekali gadis yang menjadi tunanganmu." cibir Sofia dengan tersenyum miring.


"Benarkah ?" tukas Aril dengan menaikkan sebelah alisnya menggoda gadis tersebut.


"Sudahlah lepaskan aku sekarang juga, tak ada gunanya bicara dengan pria tak berperasaan sepertimu !!" perintah Sofia kemudian.


Ia yang masih berada dalam pelukan dan pangkuan pria itu rasanya sangat kesulitan sekali bernapas, detak jantungnya yang tak beraturan pun semakin membuat tubuhnya susah untuk bergerak.


"Siapa kamu sebenarnya ?" ucap Aril tiba-tiba yang membuat Sofia nampak tercengang, entah kenapa pandangan pria itu begitu dalam padanya.


"Kenapa kamu membuatku jadi seperti ini ?" ucap Aril lagi namun kali ini lebih pelan, pria itu nampak memejamkan matanya lantas segera mendorong tubuh gadis itu agar menjauh darinya.


"Segera pergi dari ruanganku !!" perintahnya kemudian, suaranya kembali dingin dan itu membuat Sofia nampak tercengang.


Entah kenapa pria di hadapannya itu seolah memiliki dua kepribadian, terkadang hangat namun terkadang juga sangat dingin.


Hingga sore hari dan jam pulang kerja pun telah tiba, Sofia belum melihat CEO itu keluar dari ruangannya. Sementara ia harus mengejar jam kuliahnya, setelah menunggunya hampir satu jam akhirnya Sofia memutuskan untuk segera pulang saja.


"Sofia !!" teriak Daniel saat melihat Sofia baru keluar dari kantornya.


"Daniel? apa yang kamu lakukan di sini ?" Sofia segera melangkah mendekati pria yang kini nampak bersandar di bahu mobilnya tersebut.


"Aku ingin menjemputmu." sahut Daniel dengan tersenyum lebar dan itu membuat Sofia juga membalasnya dengan senyuman manisnya.


Pria di hadapannya itu adalah seorang pria yang sangat baik, seandainya mereka dari kalangan yang sama mungkin gadis itu sudah mencoba untuk membuka hatinya.


"Tidak usah repot Dan, aku bisa naik kereta saja." tolak Sofia dengan halus.


"Tapi sayangnya aku tidak suka penolakan Sofia, sekarang ayo ikut dan duduk dengan manis. Lagipula kamu akan terlambat kuliah jika naik kereta." Daniel langsung menarik pergelangan tangan gadis itu lantas membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Aril yang baru keluar dari kantornya nampak tak sengaja melihat mereka hingga membuat pria itu terlihat mengepalkan tangannya.


"Ar, kami duluan." teriak Daniel sembari melambaikan tangannya pada sahabatnya itu, kemudian pria itu segera mengemudikan mobilnya pergi dari sana.


"Tuan, apa perlu saya melakukan sesuatu ?" Mike yang melihat arah pandang sang tuan langsung mengerti apa yang sedang pria itu pikirkan saat ini.


"Tidak, langsung pulang ke apartemen saja." sahut Aril lantas segera berlalu menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


Sementara mobil yang membawa Sofia nampak berhenti di sebuah hotel. "Dan, untuk apa kita ke sini ?" Sofia langsung menatap waspada pria itu.


"Aku harus mengambil beberapa berkas Sofia, kebetulan klien bisnisku sedang menginap di sini." sahut Daniel seraya melepas sefty beltnya.


"Astaga Dan, jika kamu memang sibuk aku tidak apa-apa naik kereta saja." Sofia jadi merasa tak enak hati dengan pria itu.


"Santai saja Sof, kebetulan searah juga. Lagipula hari ini aku sedang free." sahut Daniel lantas segera membuka pintu mobilnya.


"Kamu mau ikut atau menunggu di sini saja ?" tawar Daniel sebelum pria itu benar-benar keluar.


"Aku tunggu di sini saja ya." sahut Sofia, ia tidak mungkin berkeliaran di sekitar hotel apalagi berduaan dengan pria itu.


"Baiklah." Daniel segera keluar lantas bergegas masuk ke dalam hotel tersebut.


Sementara Sofia nampak mengambil ponselnya namun tiba-tiba dua buah mobil berhenti mendadak di samping kiri dan kanan mobilnya lalu beberapa orang langsung keluar dari sana.


"Hei wanita j4l4ng, segera keluar dari mobil putraku !!" teriak seorang wanita sembari menggedor kaca mobil milik Daniel hingga membuat Sofia langsung menoleh terkejut.


"Cepat keluar !!" teriak wanita itu lagi dan mau tak mau membuat Sofia langsung melepaskan sefty beltnya lantas segera keluar dari sana, namun tiba-tiba....


Plak


Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi gadis itu dengan keras hingga membuatnya seketika terjatuh di atas lantai.


"Sofia !!" Daniel yang baru keluar dari hotel langsung berlari mendekati gadis itu saat melihat sang ibu dan beberapa pengawalnya berada di sana.


"Sofia bangunlah." Daniel segera membantu Sofia untuk bangun, pipi gadis itu terlihat sangat memar dan itu membuatnya geram.


"Ma, apa yang sedang kamu lakukan padanya ?" protes Daniel tak terima dan bersamaan itu nampak seseorang datang mendekati mereka.


"Margaret apa yang telah terjadi ?" tanya Anne seraya melangkah cepat mendekati sahabatnya itu bersama sang suami.


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan terawat itu langsung menatap ke arah Sofia yang nampak memegangi pipinya dengan wajah menahan air mata dan itu membuat sudut hatinya tiba-tiba terasa sakit saat melihat keadaan gadis itu.