
"Berdasarkan data yang terdaftar di negara, Nona Sofia lahir dan besar di Belanda, tuan. Tapi saya tidak dapat menemukan nama ibu kandungnya, hanya ayahnya yang bernama tuan Marco Anderson yang tercantum di sana." terang Mike.
"Lalu ?" Aril nampak belum puas dengan keterangan asistennya tersebut.
"Setelah saya selidiki lagi rupanya nona Sofia bukanlah putri kandung dari tuan Marco." terang Mike lagi dan sontak membuat Aril nampak mengernyit.
"Benarkah? jadi Sofia anak angkat pria itu ?" ucapnya tak mengerti.
"Sepertinya tuan, karena tuan Marco baru melaporkan keberadaan nona Sofia pada negara saat gadis itu sudah menginjak usia 8 tahun di mana akan mulai mengenyam pendidikan di sekolah." terang Mike lagi.
"Apa kamu sudah mencari tahu di mana orang tua kandung Sofia, Mike? apa masih hidup atau telah tiada ?" tanya Ariel kemudian.
"Masa kecil nona Sofia sebelum berusia 8 tahun benar-benar tertutup rapat tuan, karena tuan Marco selalu berpindah-pindah tempat di Belanda hingga tak banyak yang mengetahui kehidupannya." sahut Mike.
"Benarkah ?" Lagi-lagi Aril nampak belum puas dengan keterangan pria itu.
"Tapi ada satu hal yang mungkin akan membuat anda terkejut, tuan." ucap Mike kemudian.
"Katakan !!"
"Rupanya tuan Marco Anderson adalah musuh lama ayah anda." sahut Mike yang sontak membuat Aril menatapnya tak percaya.
"Kamu serius ?" ucapnya kemudian.
Mike langsung menunjukkan ipad miliknya, di mana kisah masa lalu William dan Marco terdata di sana. Nampak beberapa foto kebersamaan mereka, bahkan berbagai bisnis William yang di sabotase oleh pria itu.
"Astaga, kenapa kebetulan sekali." gumam Aril.
Jika ayahnya tahu pasti akan semakin membenci Sofia mengingat gadis itu di besarkan oleh musuh bebuyutannya, sepak terjang Marco yang begitu licik membuat ayahnya itu begitu kerepotan di masa lalu.
"Mike, bukankah tuan Marco pada saat itu sangat sukses dengan usahanya kenapa tiba-tiba pergi ke Belanda dan meninggalkan semuanya ?" tanya Ariel kemudian.
"Untuk masalah itu saya kurang tahu, tuan. Tapi apa anda percaya jika seseorang bisa bertobat setelah melakukan kejahatan panjangnya ?" timpal Mike.
"Aku kurang yakin jika dia benar-benar bertobat, pasti ada sesuatu hingga membuatnya rela meninggalkan semua kemewahannya dan hidup pas-pasan selama ini." ucap Aril menerka-nerka.
"Sesuatu yang berharga ?" ucap Mike memberikan pendapatnya.
"Hm, bisa jadi." Aril langsung mengangguk setuju.
"Jadi menurutmu apa yang sangat berharga bagi seorang Mafia seperti tuan Marco, Mike ?" imbuh Aril lagi.
"Seorang wanita? cinta sejati? atau..." Mike nampak menjeda ucapannya.
"Atau...?" ulang Aril dengan wajah penasarannya.
"Seorang anak, karena bagi seorang pria anak adalah segalanya." terang pria itu.
"Anak? tapi tuan Marco tidak memiliki seorang anak kandung, Mike." tegas Aril.
"Kehidupan beliau begitu misterius, sepertinya saya harus mencari tahu lebih dalam lagi tuan dan saya harap tuan William tidak mengetahui siapa nona Sofia yang sebenarnya jika tidak...."
"Aku akan melindunginya bagaimana pun keadaannya, Mike." sela Aril kemudian.
"Sepertinya anda sangat peduli pada nona Sofia, tuan." timpal Mike.
"Tentu saja, dia karyawanku dan sudah semestinya seorang atasan melindungi karyawannya." kilah Aril.
"Jangan sok tahu kamu Mike." kilah Aril yang nampak salah tingkah di buatnya.
"Tapi saya senang anda jatuh cinta pada orang yang tepat, tuan. Nona Sofia gadis yang baik, sangat pemberani dan pantang menyerah menghadapi kesulitan hidup. Beliau benar-benar cocok menjadi pendamping anda kelak." ucap Mike lagi.
"Keluarlah Mike, saya harus melanjutkan pekerjaan saya !!" perintah Aril yang sepertinya enggan menanggapi ocehan asistennya itu.
"Baik tuan." Mike mengangguk kecil lantas segera berlalu dari sana.
Siang harinya saat Sofia dan Hannah sedang bersiap-siap untuk pergi makan siang di Cafetaria yang ada di kantornya tersebut tiba-tiba di hampiri CEOnya di kubikelnya.
"Ikut saya !!" perintahnya menatap ke arah Sofia.
"Apa ada meeting mendadak ?" tanya Sofia mengingat tak ada jadwal meeting siang ini.
"Hm." Aril hanya mengangguk kecil lantas segera berlalu dari sana.
"Astaga, kenapa mendadak sekali ?" gerutu Sofia sembari menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa.
"Tenanglah Sofia, aku yakin kamu bisa." Hannah langsung memberikan semangat pada gadis itu.
"Semoga saja, terima kasih Hannah." sahut Sofia lalu segera berlari mengejar CEOnya itu yang kini telah berdiri di depan lift menunggunya.
Beruntung ada beberapa petinggi perusahaan yang ikut masuk ke dalam lift tersebut hingga tak membuat Sofia kembali canggung jika harus berduaan dengan CEOnya itu.
Sesampainya di tempat parkir mereka sudah di tunggu oleh Mike, lalu Sofia segera membuka pintu bagian depan namun saat hendak masuk Aril langsung bersuara.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di sana ?" ucapnya kemudian.
"Bukankah....."
"Duduk di belakang bersamaku !!" sela pria itu lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
Sofia langsung menatap ke arah Mike, seakan sedang bertanya pada pria itu ada apa dengan CEOnya tersebut.
"Silakan, nona." Mike langsung menyuruh gadis itu untuk segera masuk hingga membuat Sofia mau tak mau masuk dan duduk di sebelah atasannya tersebut.
"Aku tidak tahu jika hari ini CEO ada meeting di luar karena tidak ada di jadwal." ucap Sofia setelah mobil yang membawa mereka mulai melaju meninggalkan kantornya tersebut.
"Memang tidak ada." sahut Ariel yang pandangannya nampak ke arah ipad di tangannya, sepertinya pria itu sedang sibuk membalas beberapa email yang masuk.
"Apa? bukankah kamu tadi bilang ada ?" protes Sofia, jika tidak ada meeting lalu ia akan di bawa kemana oleh pria itu?
Seketika Sofia mendadak berpikiran buruk, lantas segera menjauhkan tubuhnya namun pria itu justru menariknya kembali hingga kini tak ada lagi jarak di antara mereka.
"Apa aku seperti kriminal hingga membuatmu tak mau dekat denganku ?" ucap Aril kemudian.
"Tapi aku bukan kekasihmu yang bisa seenaknya kamu dekati." tegas Sofia.
"Maka dari itu jadilah kekasihku." timpal Aril dan tentu saja membuat Sofia langsung melotot, apa ia tak salah dengar?
"Tapi aku bukan tipemu." ucap Sofia mengingatkan, kali saja kepala pria itu habis terbentur lalu lupa ingatan mendadak.
"Dulu kamu memang bukan tipeku, kamu terlalu kurus seperti papan dan tidak ada yang menarik untuk di lihat tapi setelah sering aku suapin kamu terlihat jauh lebih menarik dari yang aku bayangkan." ucap Aril bernada candaan seraya menatap nakal gadis itu dan tentu saja itu membuat Sofia langsung kesal.
"Dasar mesum, sana carilah gadis montoxx, semoxx dan bohay seperti tipemu itu." cibir Sofia sembari menjauhkan tubuhnya dan membuang wajahnya ke arah jendela sampingnya.