
"Apa kabar tante ?" sapa Helena saat melihat Anne di salon yang sama dengannya.
"Tante baik-baik saja, bagaimana denganmmu? tante titip salam ya sama ibu kamu." timpal Anne membalas sapaannya.
"Baik tante." sahut Helena.
"Oh ya apa tante sendirian di sini ?" imbuhnya lagi.
"Tante sedang bersama putri tante, oh ya kenalin ini Sofia putri pertama tante." Anne langsung mengenalkan Sofia dengan putri salah satu temannya itu.
"Ja-jadi kalian sudah menemukannya ?" Helena nampak menatap gadis di hadapannya itu dari ujung kaki hingga ujung rambut, cantik alami meski kurang perawatan pikirnya dan sontak pikirannya langsung melayang ke arah mantan kekasihnya itu.
Jika putri pertama keluarga Collins di temukan otomatis mereka akan menjodohkannya pada mantan kekasihnya itu karena memang itulah yang seharusnya terjadi.
"Sofia." Sofia langsung mengulurkan tangannya hingga membuyarkan lamunan Helena, lalu wanita itu membalas uluran tangan gadis itu.
Pandangan keduanya terkunci beberapa saat dan Helena nampak menatap Sofia dengan pandangan kurang suka sedangkan Sofia justru mengulas senyum tipisnya menatap wanita itu.
"Baiklah, ayo sayang kita mulai perawatanmu." ajak Anne kemudian.
"Oh ya Helena, aku titip ini untuk ibumu ya kebetulan tante akan membuat syukuran kecil-kecilan ku harap kalian datang." Anne nampak mengambil sebuah undangan di dalam tasnya lantas memberikannya pada wanita itu.
"Tentu saja tante, kami pasti akan datang." sahut Helena setelah menerima undangan tersebut.
Beberapa saat kemudian mereka berpisah karena harus melakukan perawatan di ruangan masing-masing.
"Anak Mommy memang benar-benar cantik." puji Anne saat melihat putrinya itu keluar dari ruang perawatan sore itu.
"Sebenarnya uangnya Mommy yang lebih cantik." timpal Sofia sembari terkekeh, mengingat semua orang akan menjadi cantik jika mempunyai banyak uang untuk melakukan perawatan seperti dirinya.
"Tapi kamu memang sangat cantik sayang, meski wajahmu seperti ayahmu tapi paling tidak mata kamu seperti Mommy." ujar Anne dan itu membuat Sofia nampak melirik ke arah cermin, entah kapan ia bisa ikhlas memaafkan ayah kandungnya itu.
"Baiklah ayo, Mommy ingin mengajakmu membeli beberapa pakaian." ajak Anne kemudian.
Sementara itu di tempat lain, Aril yang sedang sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba pintunya di buka dari luar. "Astaga Helena, tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu ?" tegur Aril dari tempat duduknya.
"Apa kamu tahu jika putri pertama keluarga Collins sudah di temukan ?" tanya Helena to the point.
"Hm." Aril mengangguk kecil seraya menatap layar monitor di hadapannya itu.
"Dan apa itu berarti perjodohan kalian akan berlanjut ?" tanya Helena dengan wajah penasarannya.
Ariel langsung menggeleng kecil. "Papa memutuskan tidak akan ada perjodohan di antara kami." ucapnya kemudian yang langsung membuat Helena mengulas senyumnya lega.
"Syukurlah, aku khawatir sekali karena ku pikir kamu akan setuju dengan perjodohan itu mengingat gadis itu lebih cantik daripada Jessica." terang Helena dengan suara kelegaan dan sontak membuat Aril menatapnya.
"Kau sudah bertemu dengannya ?" ucapnya dengan dahi mengernyit.
"Tadi kami bertemu di salon." sahut Helena.
"Oh." Aril hanya ber oh ria menanggapi.
"Ku rasa dia juga sedang dekat dengan Adams." imbuh Helena lagi dan itu membuat Aril kembali menatapnya.
"Darimana kamu tahu ?" tanyanya kemudian.
"Tadi saat di salon gadis itu melakukan panggilan video dan ku lihat wajah Adams di sana, ku rasa malam ini mereka akan bertemu." terang Helena.
"Hm, tapi aku tidak tahu mereka akan bertemu di mana lagipula itu bukan urusanku juga." sahut Helena, namun tidak dengan Aril pria itu nampak mengepalkan tangannya.
"Oh ya aku dapat undangan dari tante Anne, bisakah kita datang bersama nanti ?" imbuh Helena lagi dengan suara memohon.
"Aku belum tahu bisa hadir atau tidak kita lihat saja nanti." timpal Aril kemudian.
"Ku harap kamu bisa hadir, aku rindu saat kamu membawaku pergi ke beberapa pesta lalu mengenalkan ku pada relasi bisnismu." ucap Helena mengingat masa-masa indah mereka dahulu.
"Semua sudah berlalu Helena." timpal Aril.
"Tapi kita bisa memulainya lagi Ar, apa salahnya jika kita kembali menjalin hubungan. Aku sendiri dan kamu juga sendiri, aku janji takkan meninggalkanmu lagi seperti dahulu." mohon Helena menatap pria di hadapannya itu, begitu juga dengan Aril ia nampak membalas tatapan wanita itu.
"Sebaiknya kamu pulang, aku ada meeting malam ini." ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Karena itu juga aku datang kemari, Papa menyuruhku untuk datang mewakilinya." timpal Helena kemudian.
"Tapi kau bisa pergi duluan jika mau, karena aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku." ujar Aril.
"Tapi aku sudah menyuruh sopirku untuk pulang, bisakah aku menumpang padamu ?" mohon Helena.
Aril nampak menghela napasnya sesaat. "Baiklah, kau bisa menunggu karena aku harus memeriksa berkas-berkas ini dulu." ucapnya kemudian yang langsung membuat Helena tersenyum girang.
"Baiklah." ucapnya lalu segera menghempaskan bobot tubuhnya di sofa yang ada di sana.
Sementara Aril di tengah memeriksa pekerjaannya nampak sesekali menatap mantan kekasihnya itu, bagaimana pun juga mereka pernah menjalin kasih, ia juga pernah mencintai wanita itu dengan setulus hatinya dan kesempatan untuk kembali itu pun terbuka lebar jika ia menginginkannya.
Malam harinya Sofia nampak berada di sebuah cafe bersama Adams. "Aku tak menyangka jika kamu adalah putri tuan James yang hilang belasan tahun lalu." ucap pria itu.
"Begitulah, terkadang kehidupan itu seperti drama." sahut Sofia.
"Apa itu berarti perjodohan Jessica akan berpindah padamu ?" tanya Adams penasaran.
Sofia menggelengkan kepalanya. "Kedua keluarga kami sepakat untuk tidak melakukan itu." terang Sofia dan itu membuat Adams nampak lega.
"Benarkah? Syukurlah." timpalnya kemudian dan itu membuat Sofia langsung mengernyit menatap pria yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Maksudku sebuah pernikahan bukankah harus di landasi dengan perasaan cinta dan ku rasa Aril belum sepenuhnya move on dari mantan kekasihnya. Apalagi Helena sering sekali mengunjunginya di kantor, seperti tadi sore. Bahkan mereka pulang bersama-sama." ujar Adams dan itu membuat Sofia nampak menatapnya pias.
"Bagaimana pun juga mereka pernah menjalin hubungan selama dua tahun dan pasti banyak kenangan indah di antara mereka." imbuh Adams lagi.
"Hm." Sofia hanya mengangguk kecil menanggapinya.
"Dan apa kamu tahu? mereka dulu sangat romantis dan itu membuat kami merasa iri karena waktu itu Helena adalah gadis tercantik di kampus SG." terang Adams lagi.
"Ya dia memang cantik." timpal Sofia, kemudian gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Oh ya, ini uang yang dulu ku pinjam padamu." Sofia nampak mengulurkan sebuah cek ke hadapan pria itu.
"Itu tidak perlu Sof." tolak Adams.
"Ku mohon terimalah, jika tidak aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." tegas Sofia dan mau tak mau Adams langsung mengambilnya lalu segera menyimpannya.
Tak berapa lama kemudian nampak beberapa orang datang dan itu membuat Sofia melebarkan matanya, karena salah satu dari mereka ada sosok pria yang enggan ia temui.
"Sepertinya mereka panjang umur, lihatlah mereka sangat serasi bukan ?" timpal Adams seraya menatap Aril dan juga Helena yang baru datang lantas mengambil tempat duduk di meja yang tak jauh dari mereka.