
Nyonya Margaret yang tadinya sempat pingsan hingga membuat panik para tamu undangan kini nampak kembali siuman setelah ayahnya Adams memeriksanya.
"Apa aku sedang bermimpi ?" ucapnya lantas segera beranjak bangun, saat melihat Anne wanita itu segera melangkah mendekatinya.
"An, bagaimana bisa gadis itu tiba-tiba menjadi putrimu ?" ucapnya yang masih belum mempercayai kenyataan di depan matanya tersebut.
"Dia memang putriku, Margaret. Putri kandungku yang di mana di depan mataku sendiri kau menghinanya habis-habisan karena dia miskin. Sungguh aku sakit hati padamu Margaret, rupanya selama ini harta telah membutakanmu hingga membuatmu tak pernah memanusiakan orang lain." terang Anne hingga membuat semua orang langsung menatap ke arah nyonya Margaret.
"Ke-kenapa kalian menatapku seperti itu ?" protes wanita itu kemudian.
"Nyonya Margaret perbuatanmu benar-benar keterlaluan, ku rasa di luar sana takkan ada gadis yang ingin menjadi menantumu." ucap salah satu relasi bisnis suami wanita itu yang langsung di angguki oleh para putri mereka dan tentu saja itu membuat nyonya Margaret langsung panik.
Sungguh ia tidak ingin jika mereka semua akan menjauhinya, bahkan mengeluarkan dari pergaulan para kalangan elit itu.
"Tidak, itu tidak benar. Sofia tolong maafkan tante sayang, tante khilaf dan tante bersalah padamu." nyonya Margaret langsung mendekati Sofia namun James segera pasang badan.
"Tuan Max lebih baik bawa istrimu dari sini sebelum kami semua merasa terganggu !!" perintah James kemudian dan tentu saja membuat tuan Max seketika merasa malu, sungguh perbuatan sang istri telah mencoreng nama baiknya di depan para koleganya sendiri.
"Sofia, tolong maafkan ibuku dan aku senang rupanya kau adalah putri paman James." ucap Daniel sebelum pergi.
Sofia mengangguk kecil lantas mengulas senyumnya menatap pemuda yang juga banyak sekali membantu hidupnya selama ini.
Setelah nyonya Margaret di bawa pergi oleh sang suami dan juga putranya, pesta kembali berjalan dengan lancar.
"Sofia, aku ingin bicara padamu." Aril yang melihat Sofia sudah tak lagi sibuk dengan para tamunya langsung menarik tangan gadis itu lantas membawanya ke tempat sepi.
Sesampainya di tepi kolam renang samping rumahnya, Sofia langsung menghempaskan cekalan tangan pria itu. "Ku rasa sudah tak ada yang perlu kita bicarakan lagi." ucapnya kemudian.
"Sofia ku mohon, dengarkan aku. Aku menyukaimu Sofia, maafkan aku karena selama ini egoku berada di atas segalanya." ucap Aril dengan bersungguh-sungguh dan Sofia nampak menatap ketulusan di matanya.
Namun sikap pria itu yang selama ini kurang tegas membuatnya tak begitu mempercayainya, ia tak ingin terlena hanya karena sebuah ucapan manis di bibirnya namun pada nyatanya pria itu masih belum sepenuhnya move on dari mantan kekasihnya tersebut.
Bahkan mereka pun datang bersama ke pestanya, benar kata George cinta pertama akan selalu memiliki tempat tersendiri di hatinya dan ia tak ingin menjalin hubungan dengan bayangan orang lain.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah memiliki kekasih." tegas Sofia seraya melangkah menjauh dari pria itu.
"Siapa? apa pria itu Adams ?" tanya Aril dan bersamaan itu Adams nampak datang mendekat.
"Sofia kau baik-baik saja ?" ucapnya seraya menatap gadis itu.
"Hm." Sofia mengangguk lantas segera mengajak pria itu pergi dari sana meninggalkan Aril tanpa jawaban yang pasti.
Melihat itu membuat Aril nampak terbakar cemburu, pria itu langsung mengeraskan rahangnya lantas mengusap wajahnya dengan kasar.
"Semua akan baik-baik saja Sofia, percayalah. Ada aku yang akan selalu mendukungmu." ucap Adams menenangkan, lantas Sofia segera memeluk pria itu dengan isakan tangis yang tak bisa ia tahan.
Beberapa jam setelah pesta usai, James yang sedang berada di ruang kerjanya bersama sang istri nampak menatap datar putrinya tersebut.
"Tidak, Daddy tidak setuju." ucapnya dengan tegas.
"Aku mohon, aku hanya ingin belajar bukan meninggalkan kalian selamanya." mohon Sofia.
Mengingat pria itu membuatnya kembali kesal, bahkan saat sudah tiada pun tapi masih mampu mengendalikan putrinya dengan kenangan-kenangan mereka.
"Apa ini semua karena Marco ?" ucap James dengan wajah kecewanya, akhir-akhir ini ia sudah berusaha keras untuk menjadi ayah yang baik namun sepertinya putrinya itu belum bisa memaafkannya.
Melihat wajah kecewa sang ayah, Sofia langsung menggeleng cepat. "Dad, sekarang kamu adalah ayahku. Satu-satunya ayahku." ucap Sofia dengan tulus dan itu membuat James nampak tercengang mendengar pengakuan gadis itu.
Untuk pertama kalinya putrinya itu memanggilnya dengan sebutan ayah yang telah ia nantikan dengan begitu sabar.
Lantas pria itu segera memeluk gadis itu. "Katakan sekali lagi sayang, Daddy ingin mendengarnya." ucapnya mengingat selama ini gadis itu tak pernah memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Daddy, aku menyayangimu Dad." sahut Sofia yang semakin membuat ayahnya itu mengeratkan pelukannya.
"Tolong percaya padaku, aku hanya ingin belajar di sana. Aku ingin suatu saat menjadi putri yang bisa Daddy andalkan." ucap Sofia lagi dengan nada memohon.
"Bahkan Daddy dan Mommy bisa mengunjungiku setiap saat di sana." bujuknya lagi.
James nampak menghela napas panjangnya, sungguh ia tidak rela jika harus kembali berpisah dengan putrinya tersebut.
"Hanya untuk belajarkan bukan karena hal lain ?" ucapnya memastikan.
"Hm." Sofia langsung mengangguk cepat, ia tidak mungkin mengatakan jika salah satu alasannya karena ingin menghindari Aril.
"Baiklah." dengan berat Hati James menyetujuinya, meskipun sangat berat namun alasan putrinya itu sangat masuk akal dan ia percaya gadis itu bisa menjaga dirinya.
"Tapi bolehkan kami yang memilih tempat tinggalmu di sana, sayang ?" Mohon Anne kemudian.
Sofia kembali mengangguk. "Terima kasih, Mommy." ucapnya lantas segera memeluk ibunya itu.
"Apa aku boleh meminta kalian untuk berjanji ?" ucap Sofia yang sontak membuat kedua orang tuanya nampak saling berpandangan.
"Tentu saja, katakan apa itu sayang ?" timpal James kemudian.
"Selama aku di Belanda, bisakah kalian merahasiakan keberadaanku? termasuk pada Aril." tukas Sofia dan itu lagi-lagi membuat kedua orang tuanya itu nampak saling menatap. Apa ini semua ada hubungannya dengan pemuda itu?
"Tentu saja sayang, anak buah Daddy akan mengatur kepergianmu tanpa bisa di deteksi oleh siapapun." sahut James kemudian.
Ia tidak tahu apa yang terjadi antara putrinya dan putra orang yang ia anggap sangat penting dalam hidupnya tersebut, namun ia percaya putrinya pasti memiliki tujuan yang baik.
Keesokan harinya.....
Dini hari itu Sofia nampak menatap fajar yang mulai menyingsing dari dalam pesawat terbang yang membawanya ke Belanda.
Semoga kepergiannya akan membuat keadaan jauh lebih baik, akhir-akhir ini ia sering melihat sang adik sedikit murung saat melihat kebersamaannya dengan sang ayah dan semoga dengan kepergiannya hubungan mereka kembali hangat.
Sofia juga ingin mengabulkan keinginan ayah angkatnya untuk menyelesaikan kuliahnya, di mana pria itu sejak dulu ingin ia masuk ke salah satu universitas impiannya di negara kelahirannya tersebut dan ia bertekad akan lulus dengan nilai yang terbaik hingga suatu saat nanti ia bisa di andalkan oleh sang ayah kandungnya meskipun terlahir sebagai seorang anak perempuan.
Dan untuk Aril, jika memang mereka berjodoh suatu saat pasti akan bertemu dengan keadaan yang lebih baik. Di mana keduanya telah menjadi dua orang manusia dewasa yang sudah melalui berbagai pengalaman pahit hingga pasti ke depannya akan lebih menghargai sebuah hubungan.
"Semoga saja....."